Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Teratai Di Atas Abu
Bab 10 — Seribu Anak Tangga
Di balik kediaman murid luar, menjulanglah jalan setapak batu yang terukir curam di sisi tebing, berkelok-kelok menuju ke puncak gunung tempat berada aula utama Sekte Gunung Awan Putih. Jalan itu disebut Tangga Seribu Anak, bukan karena jumlahnya pas seribu, melainkan karena curam dan sulitnya pendakian itu—bahkan pendekar yang sudah memiliki dasar kuat pun harus bersusah payah menaikinya, apalagi pemuda pemula yang baru saja menapaki jalan kultivasi.
Setiap tahun, ujian wajib bagi murid baru adalah membawa sebongkah Batu Roh seberat lima puluh kati dari kaki bukit hingga ke puncak. Batu ini bukan sekadar batu biasa, ia menyimpan hawa dingin yang menusuk tulang, semakin berat dan menyakitkan saat dibawa naik ke tempat yang makin tinggi. Bagi sekte ini, ujian ini bukan sekadar menguji kekuatan fisik, melainkan ketahanan, tekad, dan seberapa besar semangat seseorang dalam menempuh jalan yang sulit.
Pagi itu, langit cerah namun angin gunung bertiup cukup kencang. Ratusan murid baru berkumpul di kaki tangga, masing-masing sudah memanggul batu roh yang dingin dan berat di punggung. Di antaranya ada Zhang Hao, yang dengan mudah mengangkat bebannya dan tersenyum sombong, merasa tugas ini terlalu ringan baginya. Ada pula Gu Qing Cheng, yang meski perempuan, tetap mengangkat bebannya dengan tenang, wajahnya tak tampak kesulitan berarti berkat bakat dan tenaga dalam yang ia miliki.
Di ujung barisan, Lian Hua berdiri diam. Di punggungnya terikat sebongkah batu roh yang ukurannya sama dengan yang lain, namun ada hal yang berbeda. Saat orang lain menggerakkan sedikit tenaga dalam untuk menahan hawa dingin dan mengurangi beban, Lian Hua justru membiarkan hawa dingin itu menyusup masuk ke dalam tubuhnya. Baginya, rasa dingin dan berat ini bukan siksaan, melainkan sarana latihan lain. Sesuai ajaran Seni Teratai Langit, segala penderitaan dan tekanan adalah cara menempa raga serta memurnikan tenaga.
"Baiklah, kalian boleh berangkat! Siapa yang sampai di puncak sebelum matahari tegak lurus, dinyatakan lulus," seru penguji yang berdiri di sisi jalan.
Para murid pun mulai bergerak. Awalnya langkah mereka masih cepat dan ringan. Namun semakin lama, semakin curam jalanan, semakin tajam hawa dingin menusuk, dan semakin terasa berat beban di punggung. Napas mereka mulai memburu, keringat bercucuran deras, dan banyak yang mulai melambat, wajah mereka merah padam menahan siksaan.
Zhang Hao berjalan di barisan paling depan, sesekali menoleh ke belakang dengan pandangan meremehkan. Ia melihat banyak teman seangkatannya berhenti beristirahat, ada yang bahkan sudah menyerah dan duduk terengah-engah di pinggir jalan, tak sanggup melanjutkan. Saat pandangannya jatuh ke arah belakang, ia melihat Lian Hua berjalan perlahan namun mantap, tak berhenti sedikit pun.
"Hah, lihatlah siapa itu. Si murid sampah," cibir Zhang Hao dalam hati. "Berjalan saja sudah seperti kura-kura, mau sampai kapan dia? Pasti nanti di tengah jalan dia akan menyerah juga."
Namun apa yang dilihatnya berbeda dari dugaan. Lian Hua memang berjalan lambat, tapi langkahnya tak pernah goyah, tak pernah terhenti. Meski keringat membasahi seluruh tubuh, meski wajahnya semakin pucat karena hawa dingin yang menusuk, ia terus melangkah satu demi satu, seolah tak mengenal rasa lelah.
Bagi Lian Hua, rintangan ini tak ada apa-apanya dibanding apa yang ia lalui selama tiga tahun terakhir di pegunungan utara. Dulu ia harus menahan hantaman air terjun sedingin es berjam-jam, mengangkat batu seberat ratusan kati naik turun bukit, dan menahan nyeri tulang yang rasanya seperti direbus api setiap malam. Beban lima puluh kati ini, meski ditambah hawa dingin, hanyalah latihan ringan baginya. Namun ia tak memamerkan kekuatan. Ia tetap berjalan dengan kecepatan yang terlihat wajar, tak ingin menarik perhatian berlebih.
Namun seiring waktu berlalu, perbedaan mulai terlihat jelas. Murid-murid yang tadi berjalan di depannya satu per satu jatuh tertinggal. Ada yang tersandung dan terjerembap, ada yang muntah-muntah karena kehabisan tenaga, ada yang menangis putus asa dan melepaskan batu bebannya. Bahkan Zhang Hao pun mulai terengah-engah hebat, bahunya terasa nyeri luar biasa, dan kakinya gemetar hebat saat mendekati pertengahan jalan.
Sementara itu, di belakang, Lian Hua terus melaju. Rasa dingin dari batu roh itu kini sudah meresap hingga ke tulang sumsum, namun aliran tenaga dalam tubuhnya bergerak perlahan membasmi hawa dingin itu, mengubahnya menjadi tenaga murni yang memperkuat urat dan dagingnya. Darah mulai menetes dari pori-pori kulitnya—bekas gesekan tali, bekas tusukan hawa dingin, dan akibat tekanan hebat di dalam tubuh. Jubah biru tuanya perlahan berubah menjadi merah di bagian punggung dan bahu.
Ia tak peduli. Di matanya hanya ada satu tujuan: puncak gunung.
Saat sisa dua ratus anak tangga terakhir, jalan menjadi sangat curam dan berbahaya. Angin gunung bertiup kencang seolah hendak merobohkan siapa saja yang berani lewat. Banyak murid yang sudah menyerah sepenuhnya, duduk terkulai lemas di pinggir jalan, hanya mampu menatap sisa pendakian dengan pandangan kosong.
Zhang Hao yang dulunya angkuh, kini harus merangkak dengan tangan dan kaki, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal hebat. Ia menoleh ke belakang lagi, dan kali ini matanya membelalak tak percaya.
Lian Hua sudah melewati banyak orang, kini berada tak jauh di belakangnya. Tubuh pemuda itu penuh noda darah, wajahnya pucat hingga nyaris tak ada rona, darah menetes dari hidung dan sudut bibirnya. Kakinya berdarah karena terus menapak batu kasar tanpa alas yang layak. Namun matanya tetap terbuka lebar, tajam, dan penuh tekad yang tak tergoyahkan. Ia tak berjalan terhuyung, tak merangkak, melainkan tetap melangkah tegak satu per satu, seolah rasa sakit dan darah itu sama sekali tak ia rasakan.
"Dia... dia manusia apa?!" gumam Zhang Hao terbelalak, rasa angkuhnya seketika lenyap digantikan rasa takut dan takjub.
Gu Qing Cheng yang berjalan tak jauh di depan juga melihat pemandangan itu. Hatinya bergetar hebat. Ia tahu pendakian ini berat, ia sendiri harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya agar sanggup bertahan. Namun pemuda yang dianggap sampah ini, yang katanya tak punya bakat dan tenaga dalam lemah, justru bertahan paling lama, menahan siksaan yang bahkan orang kuat pun mungkin tak sanggup menanggungnya.
Langkah demi langkah, Lian Hua terus naik. Tubuhnya terasa mau hancur berkeping-keping, setiap hembusan napas terasa menyakitkan, darah terus mengalir membasahi jalan batu yang ia lalui. Namun ia tak berhenti, tak sekali pun ia berpikir untuk melepaskan bebannya.
Akhirnya, setelah berjam-jam pendakian yang menyiksa, kaki Lian Hua menginjakkan tanah datar di puncak gunung.
Ia berdiri tegak di sana, di hadapan para tetua dan penguji yang sudah menunggu. Seluruh tubuhnya berlumuran darah dan keringat, jubahnya robek di sana-sini, wajahnya pucat pasi seolah nyawanya bisa melayang kapan saja. Beban batu roh masih terikat kuat di punggungnya, tak pernah ia lepaskan sejak awal hingga akhir.
Di belakangnya, masih ada puluhan anak tangga yang belum dilalui banyak peserta lain, dan sebagian besar bahkan belum sampai setengah jalan.
Para tetua saling pandang dengan takjub. Mereka telah melihat ribuan murid mengikuti ujian ini, namun jarang sekali ada yang mencapai puncak dalam keadaan penuh darah seperti ini, namun tetap berdiri tegak dengan kepala terangkat tinggi, tak ada sedikit pun bayangan kekalahan di wajahnya.
Lian Hua perlahan melepaskan ikatan di punggungnya, membiarkan batu roh itu jatuh berdentang keras ke tanah. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke depan, dan diam berdiri di sana meski kakinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa.
Di kejauhan, Gu Qing Cheng yang baru sampai beberapa langkah di belakang, menatap sosok itu lekat-lekat. Di dalam hatinya, keyakinan itu makin kuat: pemuda bernama Lian Hua ini, jauh lebih dalam, jauh lebih hebat daripada apa pun yang bisa dilihat oleh mata orang biasa.