Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
022~ 30 Poin Diterima
"Nyonya Lin, anda cukup mengikuti arahan kami saja." ujar guru pemandu.
Lin Xia Mei mengerutkan dahi.
"Guru, anda berkecimpung di dunia pendidikan bukan hanya satu bulan, harusnya ucapan saya bisa dijadikan bahan evaluasi untuk diri anda sendiri, jika anda tidak bisa menerima kritikan saya, artinya gelar sarjanamu adalah hasil suap."
Semua orang saling bertukar pandang. Guru pemandu hanya diam menahan malu dan amarah dalam satu waktu.
"Nyonya Lin, kita menjunjung tinggi kesopanan, jika ingin menasihati guru pemandu, sebaiknya anda lakukan saat berdua saja." bela guru lainnya yang baru tiba.
"Anda sendiri bagaimana? Menegur dan memberi saya saran di tempat umum. Kita sama saja, hanya beda toping." Lin Xia Mei tersenyum mengejek.
"Entah apa yang merasuki suamiku, mungkin otaknya tidak berfungsi dengan benar sampai dia menyekolahkan anaknya di sekolah kalian. Tidak bermutu!" cecarnya tanpa rasa bersalah dan menampilkan mimik sombong.
"Nyonya Lin, jangan melewati batas!"
Lin Xia Mei menghela napas dan melipat tangan di depan dada, menciptakan aura angkuh, matanya melirik sekilas ke arah Wei Ji Xiang.
"Pantas saja Wei Ji Xiang otaknya tidak encer, ternyata ini akibat dari didikan gurunya."
Guru Pemandu kehilangan kesabaran, ia maju dan mengangkat tangan bersiap menampar Lin Xia Mei.
Dengan kecepatan kilat, Lin Xia Mei menendang lutut guru pemandu hingga ia terjatuh sebelum tamparan mendarat di wajah Lin Xia Mei.
"Bodoh jangan dipelihara." sindir Lin Xia Mei.
Sontak semua orang terkejut.
Bip!
Bao muncul dan menunjukkan layar transparan di udara.
"Selamat inang, kau berhasil memancing emosi guru pemandu. 10 poin diterima."
Lin Xia Mei memasang wajah malas.
"Hanya 10 poin? Pelit sekali!"
"Sudahlah, aku tidak mau berurusan dengan guru lambat sepertimu lebih lama lagi. Pukul 8 pagi kita ikut jadwal saja, jika kau yang terlambat maka keluargaku akan berjalan sendiri ke Museum." Lin Xia Mei berbalik kemudian merapihkan ujung rambutnya.
"Jika masih mengirim pesan tidak berguna di grup, lebih baik kau resign saja. Jika ada yang tidak setuju denganku, maka orang tersebut sama bodohnya dengan guru itu." ucapnya dengan sinis, ia berjalan melenggang meninggalkan kerumunan.
Beberapa wali murid yang lebih pro pada guru pemandu merasa tersindir oleh ucapan Lin Xia Mei, mereka memberikan tatapan penuh kebencian pada Lin Xia Mei yang menghilang dibalik pintu lift.
"Selamat inang, beberapa tokoh lainnya mulai kesal padamu, 30 poin diterima." ucap Bao.
"Tuan Wei, apakah kau ada penjelasan atas hal ini?" tanya wali murid lainnya.
"Tidak, kurasa istriku sudah menyampaikan kebenaran."
Wei Ji Xiang tersenyum kecil.
"Ini cukup memalukan Tuan Wei, seorang wali murid berani merendahkan guru dari anaknya. Ini namanya tidak tahu diri dan tidak tahu balas budi."
"Istriku tidak merendahkan siapapun, dia sedang memberi satu pelajaran tentang fungsi akal." balas Wei Zhu Chen.
"Kau-" Guru lainnya mulai geram.
"Ji Xiang, tidak disangka memiliki Ibu seperti itu. Menghina guru itu perbuatan tidak baik." tegur salah satu teman kelas Wei Ji Xiang.
"Aku tidak mau ambil pusing. Selama perkataan Ibu benar, maka pendapat orang lain tidak penting." belas Wei Ji Xiang.
"Sudah-sudah, menurutku perkataan Nyonya Lin juga tidak sepenuhnya buruk, ini bisa dijadikan bahan evaluasi supaya kita lebih efisien memanfaatkan teknologi." ujar wali murid lainnya.
Wei Zhu Chen menggandeng tangan anaknya dan mundur dari kerumunan.
Wei Ji Xiang tersenyum lebar sambil menatap lurus ke depan.
"Ibu memang benar, Ayah."
"Ya, Ayah tahu itu." sahut Wei Zhu Chen.
"Yang pintar akan berpikir, yang bodoh akan marah. Bukankah itu yang harusnya Ibu katakan sebelum pergi tadi?"
...****************...
Di kamar, Lin Xia Mei sedang duduk santai di balkon.
"Bao, harusnya toko juga menyiapkan semacam obat atau benda lainnya yang bisa membuka aib target."
"Mohon maaf inang, saat ini Bao belum bisa menyediakan barang seperti itu. Tapi ini saran yang cukup bagus."
"Nah! Karena menurutmu ini saran yang bagus, harusnya ada hadiah poin." Lin Xia Mei menyeringai.
"Tidak ada."
Lin Xia Mei memasang ekspresi jelek sebagai balasan.
"Pelit."
"Inang! Tokoh utama datang."
"Biarlah, aku belum punya stok makian untuknya." sahut Lin Xia mei.
"Ibu." panggil Wei Ji Xiang, ia membuka pintu balkon dan menghampiri Lin Xia Mei.
Lin Xia Mei tidak merespon.
"Ibu, Ji Xiang sudah memikirkan ucapan Ibu. Sepertinya lebih baik Ji Xiang pindah sekolah." ungkap Wei Ji Xiang, Lin Xia Mei tersenyum tipis.
Lin Xia Mei berdiri dan menoleh, dengan wajah datarnya ia menatap Wei Ji Xiang.
"Kau pikir uang itu hasil dari kentut?! Pindah sekolah butuh biaya, jangan menyusahkanku Ji Xiang."
"Ibu, Ji Xiang ada tabungan."
"Ji Xiang, lebih baik ikuti perkataan Ibumu saja." sambung Wei Zhu Chen.
"Pindah sekolah sepertinya ide bagus juga, kelak anak ini pasti dibully jika tidak pindah, aku akan mencari sekolah yang biayanya tinggi dan sering mengeluarkan uang! Karena mau pindah, lebih baik aku buat semua wali murid di kegiatan hari ini marah padaku. Ide bagus Lin Xia Yi, hahaha." batinnya.
"Karena aku masih punya hati nurani, aku akan mempertimbangkan permintaanmu ini Ji Xiang, tapi kau tidak boleh ikut campur, aku yang akan memilih sekolahnya."
Wei Ji Xiang tersenyum senang, ia mengangguk patuh.
"Pilihan Ibu pasti akan jadi pilihan terbaik."
"Sekarang kalian jangan ganggu aku!" bentak Lin Xia Mei tiba-tiba, hal ini mengejutkan Ayah dan anak itu.
Melihat perubahan suasana hati Lin Xia Mei, Wei Zhu Chen mengajak anaknya berkemas. Lin Xia Mei kembali duduk di kursinya dan menghirup udara pagi yang segar.
"Inang, kali ini apa rencanamu?" tanya Bao yang terus melayang di samping Lin Xia Mei.
"Tentu saja mencaci orang, memangnya apa lagi?"
Bao mengacungkan jempol mungilnya disertai senyum lucu.
"Aku sudah ada ide, mungkin kali ini akan lebih menyakitkan."
"Tidak apa-apa inang, semakin jahat semakin bagus. Pastikan tokoh utama pria menyaksikan aksimu."
Pukul 8 pagi, semua orang kembali berkumpul di depan hotel, masing-masing membawa perlengkapan seperti karpet dan perintilan lainnya.
Lin Xia Mei menatap Wei Zhu Chen yang ikut membawa gulungan tikar.
"Memangnya mau piknik?" sindir Lin Xia Mei.
"Ibu, setelah ke Museum kita akan istirahat diluar museum, jadi Ayah bawa karpet untuk alas duduk." bisik Wei Ji Xiang.
"Hm, terlihat sangat miskin."
Wei Zhu Chen terbelalak mendengar sindiran istrinya.
"Apa kau tersinggung? Bukankah perkataanku benar? Kau membawa tikar dan kita akan duduk dibawah pohon, terlihat tidak punya uang. Padahal bisa menyewa set tenda dan meja plus kursi."
Benar juga yang dikatakan Lin Xia Mei, Wei Zhu Chen tidak marah, ia justru merasa bersalah, merasa lalai dalam menjalankan tugasnya.
"Ini sudah bucin akut, Inang. Dia malah merasa bersalah dan tidak marah sedikitpun." ujar Bao yang tiba-tiba muncul.