"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Antara Dua Nyawa
Detik pada jam digital di koridor itu tampak seperti mata pisau yang menghujam jantung Tian. 55 detik. Bau gas oksigen yang bocor memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang siap meledak hanya dengan satu percikan kecil. Di depannya, Paman Hasan terbaring bersimbah darah, sementara di balik kaca, Mega surganya menatapnya dengan mata yang basah oleh air mata ketakutan.
"Macan... bawa... bawa Mega pergi," bisik Hasan, suaranya tersedak darah. "Paman sudah... cukup... sampai di sini."
"TIDAK!" raung Tian. Suaranya bergema di koridor yang sunyi dan mencekam. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mati hari ini! Tidak satu pun!"
Tian menatap sekeliling dengan mata liar. 40 detik. Otaknya berputar cepat melampaui batas kewarasan manusia. Ia melihat brankar besi di dekatnya dan tabung pemadam api di dinding. Sebuah rencana gila melintas di kepalanya rencana yang hanya memiliki peluang keberhasilan satu banding seribu.
Ia menerjang pintu ICU, menarik Mega bersama seluruh peralatan monitornya ke atas brankar dengan satu sentakan kuat. Mega merintih, namun Tian mendekapnya sejenak. "Pegang erat tanganku, Sayang. Jangan pernah lepaskan."
30 detik. Tian menyeret brankar Mega keluar, lalu dengan tenaga yang meledak, ia mengangkat tubuh Paman Hasan yang besar dan meletakkannya di bagian bawah brankar, di antara kaki Mega. Ia menyatukan dua orang yang ia cintai dalam satu tumpukan manusia di atas satu ranjang besi.
"Apa... apa yang kau lakukan, Tian?" tanya Hasan lemah.
"Kita akan terbang, Paman," jawab Tian dingin.
Tian mengambil dua tabung pemadam api, mengikatnya di ujung brankar menggunakan kabel medis. Ia tidak menuju lift atau tangga darurat jalur itu sudah pasti akan menjadi perangkap api. Tian berlari menuju jendela besar di ujung lorong yang menghadap langsung ke kolam renang besar di lantai dasar rumah sakit.
15 detik. Aristha tertawa melalui pengeras suara. "Sepuluh... sembilan... selamat tinggal, Macan. Kau akan hancur bersama cintamu."
"Cinta tidak pernah hancur, Aristha!" teriak Tian.
Ia menghantamkan tabung pemadam api ke kaca hingga pecah berantakan. Angin malam 2026 menderu masuk. Tian memposisikan brankar di bibir jendela. Ia melihat ke bawah jarak lima belas meter menuju permukaan air.
5 detik. Tian menarik tuas tabung pemadam api secara bersamaan sebagai dorongan tambahan, lalu ia menendang lantai sekuat tenaga.
Wuuush!
Brankar itu meluncur bebas ke udara tepat saat ledakan pertama menghancurkan ruang ICU di belakang mereka. Bola api raksasa menjilat punggung Tian saat ia melompat, mendekap Mega dan Hasan dalam satu pelukan pelindung di tengah gravitasi yang menarik mereka jatuh.
BYUUUUURRRR!
Hantaman air dingin menyambut mereka. Gelombang ledakan di atas menciptakan tekanan udara yang dahsyat, namun air kolam yang dalam menyerap sebagian besar benturan. Tian berjuang di dalam air yang gelap, menarik brankar itu ke permukaan.
Saat mereka muncul di permukaan, Tian melihat lantai empat RS Harapan telah berubah menjadi neraka api. Namun di dalam dekapannya, Mega terbatuk, menghirup udara malam yang segar. Hasan masih bernapas meski sangat lemah.
Tian menyandarkan kepalanya di tepi kolam, air matanya bercampur dengan air kolam dan darah. Ia telah melakukannya. Ia telah melawan waktu, ledakan, dan hukum alam demi keluarganya.
Tiba-tiba, lampu sorot dari helikopter Jenderal Yudha mendarat tepat di atas mereka. Pasukan medis terjun dari ambulans yang sudah menunggu di pinggir kolam.
"Selamatkan mereka!" teriak Tian dengan suara yang hampir habis.
Saat petugas medis mengangkat Mega ke atas tandu, Mega meraih tangan Tian. "Mas... kau terluka..."
Tian melihat punggungnya yang melepuh terkena api, namun ia tersenyum. "Ini hanya luka kecil, Sayang. Yang penting kau masih di sini."
Saat Tian hendak keluar dari kolam, Jenderal Yudha berlari mendekat dengan wajah penuh kepanikan. "Tian! Aristha melarikan diri dari helikopter penahanan saat ledakan terjadi! Dia tidak pergi ke luar negeri... dia menuju ke bunker rahasia di bawah gedung ini! Dia membawa protokol pemusnah massal yang akan meledakkan seluruh jaringan gas rumah sakit ini dalam sepuluh menit!" Tian menatap ke arah pintu bawah tanah yang tersembunyi di balik taman. Aristha ingin meratakan seluruh rumah sakit beserta ribuan pasien di dalamnya sebagai aksi terakhirnya. Tian meraih pisau hitamnya yang terselip di pinggang. "Jaga mereka, Pak Jenderal. Aku akan menyelesaikan ini selamanya."