Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. NONA QUEEN
Pagi menyelinap perlahan ke dalam rumah mewah itu, membawa cahaya pucat yang jatuh di lantai marmer mengilap. Jam dinding di lorong utama baru menunjukkan pukul lima. Rumah masih sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran bangunan sebesar itu. Sejak semalam, rumah ini resmi kembali hanya dihuni oleh tuannya dan seorang anak kecil serta para pelayan yang bekerja dalam diam.
Sari Ayunda sudah terbangun sejak setengah jam lalu.
Ia duduk di tepi ranjang kecil kamarnya, merapikan selimut dengan gerakan rapi seperti kebiasaannya di desa. Udara pagi terasa dingin, membuatnya mengusap kedua lengannya sebentar sebelum mengenakan seragam pelayan berwarna abu muda yang sudah disiapkan oleh pihak rumah.
Dengan langkah pelan, Sari keluar kamar. Ia memastikan kamar Queen masih tenang. Anak kecil itu masih terlelap, memeluk boneka kelinci kesayangannya. Sari tersenyum tipis, lalu menutup pintu perlahan.
Langkahnya berbelok ke arah dapur. Dapur rumah Ammar Abraham sangat luas, hampir sebesar rumah Sari di desa. Peralatan modern berjajar rapi, bersih, dan mengilap. Seorang pria paruh baya dengan topi koki sudah berdiri di depan meja kerja, memeriksa bahan-bahan makanan.
“Oh, kamu sudah bangun?” ujar pria itu ramah saat melihat Sari.
“Iya, Pak,” jawab Sari sopan. “Saya mau membantu.”
Pria itu tersenyum. “Bagus. Saya Pak Rudi, koki di rumah ini. Biasanya Nyonya Sabrina jarang sarapan di rumah, tapi Tuan Ammar dan Nona Queen harus tepat waktu.”
Sari mengangguk. “Apa yang bisa saya lakukan?”
“Potong buah dan siapkan susu hangat untuk Queen. Untuk Tuan Ammar, saya akan buatkan menu standar roti gandum, telur, dan kopi hitam.”
Sari langsung bergerak. Tangannya cekatan, meski peralatan dapur itu masih terasa asing baginya. Ia memotong apel, pisang, dan stroberi dengan hati-hati, menatanya cantik di piring kecil. Sesekali ia tersenyum sendiri, membayangkan Queen menyukai warna-warni buah itu.
“Queen suka buah?” tanya Sari sambil bekerja.
“Kadang,” jawab Pak Rudi. “Kalau sedang mood. Anak itu… agak tertutup.”
Sari terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana semalam Queen tertidur di sampingnya tanpa berkata apa pun. Sebuah keajaiban kecil yang bahkan ia sendiri belum pahami.
Sarapan hampir siap ketika suara langkah berat terdengar dari arah lorong.
Tuan Ammar.
Sari refleks menegakkan tubuh. Dari sudut matanya, ia melihat sosok tinggi itu memasuki dapur. Ammar mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, rambutnya rapi, wajahnya serius seperti biasa.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Pak Rudi hormat.
Ammar mengangguk singkat. “Pagi.”
Pandangan Ammar sama sekali tidak tertuju pada Sari. Seolah gadis itu hanyalah bayangan yang kebetulan ada di sana. Sari menunduk, menahan rasa kikuk yang tiba-tiba muncul.
“Kopi saya seperti biasa,” ujar Ammar datar.
“Baik, Tuan.”
Sari menggeser piring buah ke atas nampan kecil. Tangannya sedikit gemetar, namun ia berusaha tetap tenang. Ia tidak berharap disapa, apalagi diperhatikan. Tapi sikap dingin Ammar tetap saja membuat dadanya terasa aneh seperti ada jarak yang terlalu nyata.
Ammar duduk di meja makan, membuka tablet berisi jadwal kerjanya. Pak Rudi menyajikan kopi dan sarapan di hadapannya.
“Queen belum bangun?” tanya Ammar tanpa mengalihkan pandangan.
“Belum, Tuan,” jawab Sari pelan.
“Bangunkan dia lima belas menit lagi.”
“Iya, Tuan.”
Itu saja. Tidak ada kata lain. Tidak ada tatapan.
Sari kembali ke dapur kecil untuk membersihkan sisa potongan buah. Ia menghela napas pelan. Dingin sekali, batinnya. Jauh berbeda dari kehangatan Pak Rudi atau bahkan Queen yang mulai perlahan membuka diri.
Tak lama kemudian, Sari naik ke kamar Queen. Ia duduk di tepi ranjang, menepuk pelan bahu kecil itu.
“Nona… sudah pagi,” ucapnya lembut.
Queen meringis, lalu membuka mata perlahan. Saat melihat Sari, ekspresinya bukan marah atau menolak. Hanya datar.
“Mama?” tanya Queen lirih.
Sari terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Mama sedang kerja, sayang.”
Queen memalingkan wajah, memeluk bonekanya lebih erat. Tidak menangis, tapi ada kesunyian yang menyayat.
“Ayo sarapan. Ada buah dan susu hangat.”
Queen diam sejenak, lalu bangkit perlahan. Itu sudah lebih dari cukup bagi Sari.
Di ruang makan, Ammar masih duduk di tempatnya. Saat Queen masuk sambil menggenggam tangan Sari, Ammar menoleh sekilas.
Hanya sekilas. Namun cukup untuk membuat langkah Sari sedikit terhenti. “Papa,” sapa Queen pelan.
Ammar berdiri. “Ayo duduk.”
Queen duduk di kursinya, Sari membantu menyuapi buah. Ammar melanjutkan sarapannya, matanya kembali ke layar tablet. Tak sekalipun ia menatap Sari, bahkan ketika gadis itu berdiri begitu dekat.
“Queen, habiskan susunya,” ujar Ammar.
Queen menurut.
Sari memperhatikan mereka berdua. Ayah dan anak, duduk berhadapan namun terasa jauh. Rumah ini terlalu besar untuk dua jiwa yang sama-sama kesepian.
Setelah sarapan selesai, Sari membawa Queen kembali ke kamar untuk bermain. Ammar sudah beranjak pergi, jasnya disampirkan di lengan.
“Sari,” panggilnya tiba-tiba.
Sari refleks menoleh. “Iya, Tuan?”
Ammar berhenti sejenak, namun tetap tidak menatapnya. “Pastikan Queen tidak rewel. Saya tidak ingin masalah.”
“Iya, Tuan.”
Ammar melangkah pergi.
Sari berdiri terpaku beberapa detik. Ada perasaan aneh yang mengendap antara lega dan kecewa, meski ia sendiri tak tahu mengapa ia berharap lebih.
Di kamar Queen, tawa kecil mulai terdengar. Queen menyusun balok warna-warni, sesekali melirik Sari.
“Kak Sari,” panggilnya tiba-tiba.
Sari tersenyum lebar. “Iya, Nona?”
“Temenin Queen.” Pinta gadis kecil itu.
Hati Sari menghangat. Ia duduk di lantai, menyingkirkan semua rasa lelah dan dingin yang ia terima pagi itu. Di rumah megah ini, mungkin hanya Queen yang benar-benar melihatnya.
Sementara di lantai bawah, Ammar berdiri di dekat jendela besar, memandang halaman yang lengang. Tanpa sadar, pikirannya melayang ke pemandangan pagi tadi gadis desa dengan tatapan tulus, dan putrinya yang tampak sedikit lebih hidup.
Namun Ammar segera menepisnya. Ia memilih kembali menjadi pria dingin di rumah mewah yang sunyi, tak tahu bahwa pagi sederhana itu adalah awal dari perubahan yang tak bisa ia hindari.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
lembek🙃
kaulah ,...bodoh!
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...