melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.
kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.
setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.
arc ini juga memperkuat beberapa character
dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertarungan masa lalu
Menara High Magnus
Gedung High Magnus menjulang tinggi menembus langit.
Di puncaknya berdiri Iglesias Elice.
Rambut putihnya tergerai tertiup angin, kontras dengan tatapan matanya yang merah dan tajam.
Wajahnya datar—namun di balik ketenangan itu, pikirannya bergolak.
“Kai…”
Dua tahun lalu, namanya telah ia hapus dari dunia ini.
“Aku mengalahkanmu di titik penghabisan.”
“Namun sekarang kau bebas kembali.”
Elice mendengus kecil.
“Jika situasi ini memburuk…”
“Dunia sihir akan membutuhkan bantuan penyihir dari benua lain untuk kedua kali nya.”
Kenangan itu kembali menghantamnya.
Dua Tahun Lalu — Tanah Terlantar
Jauh dari pemukiman, tanah itu telah hancur.
Aura kehancuran menyelimuti udara.
Ratusan high magnus kini tergeletak tak berdaya dan luka luka parah.
Bahkan high magnus yang sedang naik nama nya kini hanya tergeletak.
Seraphina tergeletak begitu saja wajah dan jubah nya kini sangat sangat kotor.
ignavia tak bisa berdiri lagi dan darah menetes dari tubuh nya.
vermila juga sama, sabit darah nya tertancap dan duri duri darah merah yang mengeras pelan pelan mulai hilang.
nerissa yang tergeletak dan banyak sekali ratusan ikan ikan sihir yang lenyap.
violet dengan boneka seseorang yang sudah di tancap paku dan mustahil bisa berdiri kembali.
julian dengan bola bola sihir energi nya yang tak mengambang kembali.
daziel dengan tingkat sihir yang sudah patah dan luka dan tergeletak.
Elice terengah-engah dengan darah menetes pelan dari kepala ke pelipis kiri dan kanan nya.
“Hah… hah…”
Keringat nya pun kini bercampur darah mengalir di wajahnya.
Tangannya masih menggenggam kipas emas, senjata kebanggaannya.
Di hadapannya, Kai berjalan perlahan.
Tap– Tap– Tap
Tenang.
Tanpa ekspresi.
Seolah kehancuran di sekitarnya hanyalah latar belakang.
“Iglesias Elice,” ucap Kai datar.
“Tak kusangka hanya kau yang masih berdiri.”
Ia melirik sekeliling nya yang penuh dengan kehancuran para high magnus.
“Sekua high magnus sudah tak ada yang bisa bertarung.”
“Tim-mu tumbang.”
“Bantuan dari benua lain masih lama tiba.”
Kai itulah nama nya sang penyihir kegelapan yang jahat, penuh ketamakan akan sihir sihir yang kuat.
Tujuan nya hanya satu yaitu ingin menghancurkan dunia sihir ini dan jatuh dalam kegelapan dan kehancuran.
“Kau tahu,” lanjutnya,
“aku bisa saja memutar waktu.”
“Tapi tidak.”
“Aku ingin bertarung.”
Kai menatap Elice lurus dengan senyum.
“Aku yakin… kau tak akan bisa menang melawan ku.”
Dari lengannya, tentakel hitam menjulur cepat.
Elice bergerak seketika dan berlari.
Tap—tap—tap!
Langkahnya nyaris tak terdengar saat ia menerjang.
CLANK! CLANK! CLANK!
Tebasan kipas emas menghantam tubuh Kai—namun tak satu pun menggoyahkannya.
Bahkan menciptakan sebuah es yang membeku dan menusuk seperti duri tajam.
Namun kai hanya menghindar dengan sangat santai seolah olah Elice hanya serangga kecil yang sebentar lagi akan menjemput ajal nya.
Kai menoleh sedikit.
“Menyedihkan sekali,” katanya.
“Iglesias Elice.”
“Kau meninggalkan adikmu demi menjadi yang terkuat.”
Kata-kata itu menusuk.
“Pasti sangat menyakitkan bagi mu ya,” kata nya sambil memprovokasi perasaan Elice
“Atau justru kau menikmati menjadi yang terkuat namun tak memikirkan adik mu.”
Tatapan Elice mengeras.
“Jangan kau bawa bawa adik ku.” Teriak Elice dengan kesal dan serius
“Tujuan ku hanya satu yaitu mengalahkan mu dan menghancurkan mu, dasar parasit dunia sihir.”
Lucyfer.
Orang yang tak seharusnya kai bawa ke masalah ini.
Kini Elice amarahnya mulai meledak.
Udara di sekeliling mereka mendingin.
Embun es menyebar, mencoba membekukan Kai.
Swoooosh—
Namun Kai sedikit tak seimbang namun tetap berdiri.
Bahkan… Kai tanpa mengaktifkan sihirnya sepenuhnya.
Ia mampu membuat Elice hanya seperti mainan boneka.
“Aku bosan,” ujar Kai.
“Kau menarik… hanya untuk sementara.”
Kedatangan Sang Pemimpin
Tiba-tiba—
Sosok lain melangkah masuk ke medan pertempuran.
Adam Zapata.
Tubuhnya jelas tak sekuat Elice, namun sorot matanya tegas.
Ia berdiri di depan—tanpa ragu.
“Kai,” ucap Adam tenang.
“Sudah waktunya aku menghentikanmu.”
Ia mengangkat tangannya.
Sihir Makhluk Kuno — Vigo.
Tanah bergetar.
Dari cahaya putih muncul makhluk raksasa bermata satu merah, dengan empat lengan besar.
“GRRAAAHHH—!!”
Raungannya mengguncang langit.
Hewan-hewan liar berhamburan menjauh.
Untuk pertama kalinya—
Kai tampak terkejut.
“Vigo…” gumamnya.
“Makhluk kuno milik keluarga Zapata.”
Ia tersenyum—penuh ketamakan.
“Luar biasa, Adam.”
“Kau memberiku hadiah yang menarik.”
Vigo menerjang tanpa pola.
DUUGH!
Satu hantaman melontarkan Kai jauh ke belakang.
Namun Kai tertawa.
“Jika kekuatan ini bisa kuserap…”
“Aku akan menjadi tak terkalahkan.”
Ia memanggil sihirnya.
Sihir Manipulasi Monster — Naga Emas Kembar.
Dua sosok naga cahaya muncul, menyerang Vigo dari sisi berbeda.
Vigo membalas dengan tendangan keras, memaksa naga itu terpental.
Di saat itulah—
Elice melihat celah.
Dengan tubuh penuh luka, ia berdiri kembali.
Darah mengalir di pelipisnya, namun tekadnya tak goyah.
Vigo melompat tinggi.
DUUURGH!!
Hantaman demi hantaman menghujani Kai tanpa henti.
DUG! DUG! DUG!
Namun—
Serangan itu berhenti mendadak.
Kai bergerak cepat.
Tubuhnya berputar seperti bor hitam, menembus pertahanan Vigo, lalu mengangkat makhluk itu ke udara.
"Cih makhluk ini ku akui kuat dan membuat ku jengkel."ucap kai yang sedikit jengkel
Kai melayang.
"Tapi setidaknya aku dapat kekuatan sihir makhluk kuno yang terkuat... Vigo."
Mulutnya terbentuk—
senyum ketamakan dan kekejaman.