NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Ayah Datang

​Sekolah terasa berbeda di bawah kepemimpinan Rian. Jika Julian memimpin dengan disiplin militer yang kaku namun efektif, Rian memimpin dengan arogansi yang berantakan.

​Baru dua hari menjabat sebagai Ketua Pelaksana Pensi, Rian sudah mengubah tiga vendor sound system demi harga yang lebih murah (dan selisihnya entah lari ke mana), membatalkan sesi latihan gabungan, dan memecat seksi dekorasi karena masalah sepele.

​Di koridor, Julian berjalan seperti hantu. Ia masih memakai ban lengan OSIS, tapi auranya redup. Ia tidak lagi menegur siswa yang bajunya keluar. Ia tidak lagi memeriksa kebersihan kelas. Ia hanya berjalan lurus menuju kelas atau perpustakaan, menghindari kontak mata dengan siapa pun—terutama Alea.

​Sementara itu, Alea mengamati dari jauh. Hatinya panas melihat Rian berjalan membusungkan dada seolah dia pemilik sekolah.

​"Sabar, Le," bisik Raka, menyadari tangan Alea yang terkepal. "Lo nonjok Rian sekarang, Julian yang kena getahnya."

​"Gue tau," desis Alea. "Gue cuma nunggu waktu. Orang serakah biasanya kesandung kakinya sendiri."

​Tiba-tiba, suasana lobi sekolah yang riuh mendadak senyap.

​Satpam berlarian membuka gerbang utama lebar-lebar. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap—jenis mobil pejabat atau CEO—masuk perlahan, membelah kerumunan siswa yang sedang istirahat.

​Plat nomornya: B 1 PRD.

​Wajah Julian yang sedang berdiri di dekat mading pucat pasi seketika. Ia kenal mobil itu. Ia hafal suara mesinnya.

​Mobil itu berhenti tepat di depan lobi utama. Supir berseragam turun, membukakan pintu belakang.

​Keluarlah sosok Dokter Prasetyo.

​Ayah Julian memakai setelan jas abu-abu mahal, rambutnya disisir rapi tanpa cela, dan kacamata berbingkai emas bertengger di hidungnya. Aura dominasinya begitu kuat hingga Pak Burhan (Kepala Sekolah) yang kebetulan lewat sampai berhenti dan merapikan dasinya secara refleks.

​"Julian," panggil Dokter Prasetyo. Suaranya tidak keras, tapi memotong udara seperti pisau bedah.

​Julian menelan ludah, melangkah maju dengan kaki gemetar.

​"Siang, Pa. Ada... ada apa Papa ke sini?" tanya Julian.

​"Papa menerima email pengunduran diri kamu dari Komite Sekolah. Tembusan dari Kepala Sekolah," kata Dokter Prasetyo dingin. Ia tidak peduli bahwa mereka sedang berada di lobi terbuka di mana puluhan siswa menonton. "Jelaskan."

​"Itu... saya..." Julian tergagap. "Saya ingin fokus Olimpiade, Pa. Seperti yang Papa mau. Pensi cuma mengganggu."

​PLAK!

​Suara tamparan itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat seluruh lobi menahan napas. Dokter Prasetyo tidak menampar pipi Julian, tapi ia menepuk map tebal yang dipegangnya ke dada Julian dengan keras.

​"Jangan jadikan saya alasan untuk kegagalanmu," desis Dokter Prasetyo.

​"Pa, ini di sekolah..." bisik Julian, matanya memohon agar ayahnya tidak membuat keributan.

​"Justru karena di sekolah," Dokter Prasetyo menaikkan volume suaranya. "Kamu pikir Papa membesarkan kamu untuk jadi pengecut yang lari dari tanggung jawab? Kamu sudah ambil jabatan itu, selesaikan! Kalau kamu mundur di tengah jalan cuma karena 'ingin fokus', itu artinya kamu tidak mampu manajemen waktu. Kamu lemah."

​Julian menunduk. Kata-kata itu lebih sakit daripada pukulan fisik. Lemah. Pengecut.

​"Rian lebih kompeten, Pa," bohong Julian, hatinya hancur berkeping-keping. "Dia lebih bisa mengatur waktu."

​"Omong kosong," potong ayahnya. "Papa dengar desas-desus lain. Katanya kamu mundur karena ada masalah pribadi. Masalah perempuan?"

​Darah Julian membeku. Apakah Rian sudah mengirim email itu?

​Rian, yang berdiri di balkon lantai dua bersama Doni, tersenyum lebar melihat pertunjukan itu. Ia memang sengaja membocorkan sedikit info ke komite sekolah agar sampai ke telinga Dokter Prasetyo.

​"Jawab, Julian. Apa benar kamu main-main dengan perempuan tidak jelas sampai nilaimu terganggu?"

​"Tidak, Pa! Nilai Julian bagus!"

​"Lalu kenapa mundur?!" bentak Dokter Prasetyo. "Pradana tidak pernah mundur! Kamu mempermalukan nama keluarga!"

​Julian diam. Ia tidak bisa menjawab. Kalau ia menjawab jujur, Rian akan menyebarkan foto Phantom. Kalau ia diam, ia dipermalukan ayahnya. Skakmat.

​Julian memejamkan mata, siap menerima amukan lebih lanjut.

​"Permisi, Om."

​Suara perempuan yang lantang memecah ketegangan.

​Julian membuka mata. Jantungnya nyaris berhenti.

​Alea.

​Gadis itu berjalan mendekat, menembus kerumunan siswa yang menonton. Ia berdiri tepat di samping Julian, menghadap Dokter Prasetyo. Wajahnya tenang, tidak ada rasa takut sedikit pun, meski Julian tahu lutut Alea pasti gemetar berhadapan dengan pria sedingin ayahnya.

​"Siapa kamu?" tanya Dokter Prasetyo, matanya menyipit menilai penampilan Alea yang (untungnya hari ini) cukup rapi.

​"Saya Aleandra, Om. Teman sekelas Julian. Dan murid bimbingan Julian," jawab Alea sopan tapi tegas.

​"Oh, gadis yang waktu itu hujan-hujanan," Dokter Prasetyo mengingatnya. "Ada urusan apa kamu ikut campur?"

​"Saya cuma mau meluruskan, Om," kata Alea. Ia melirik Julian sekilas—tatapan yang menyiratkan 'Tenang, gue yang handle'.

​"Julian mundur bukan karena dia lemah. Dan bukan karena perempuan," lanjut Alea. "Julian mundur justru karena dia terlalu bertanggung jawab sama janjinya ke Om."

​Dokter Prasetyo mengangkat alis. "Maksud kamu?"

​"Julian targetin Emas di Olimpiade tahun ini kan, Om? Kemarin pas dia jadi Ketua Pensi, dia tidur cuma 2 jam sehari. Dia tetep ngajarin saya Fisika, dia tetep ngerjain tugas OSIS, dia tetep latihan soal. Dia robot, Om, tapi robot juga butuh baterai."

​Alea maju selangkah, menatap mata Dokter Prasetyo berani.

​"Dia mundur karena dia nggak mau ngecewain Om dengan dapet Perak. Dia milih ngorbanin jabatan kerennya demi menuhin standar Om yang tinggi itu. Kalau itu dibilang lemah... berarti saya nggak tau lagi definisi kuat itu apa."

​Hening.

​Semua orang ternganga. Tidak ada yang pernah berani menjawab Dokter Prasetyo seperti itu. Bahkan guru-guru pun segan.

​Julian menatap Alea dengan campur aduk. Takut, tapi juga kagum setengah mati. Alea berbohong demi melindunginya, menggunakan logika ayahnya untuk memutarbalikkan situasi.

​Dokter Prasetyo menatap Alea lama. Tatapannya tajam, mencari kebohongan. Tapi mata Alea jernih dan mantap.

​Akhirnya, Dokter Prasetyo mendengus pelan.

​"Kamu pandai bicara, Nona," katanya dingin.

​Ia beralih menatap Julian lagi. Kemarahannya sedikit surut, tergantikan oleh aura dingin yang biasa.

​"Benar begitu, Julian? Kamu mundur demi Emas?"

​Julian menelan ludah. Ini satu-satunya jalan keluar.

​"I-iya, Pa. Target saya Emas mutlak."

​"Baik," kata Dokter Prasetyo. Ia merapikan jasnya. "Kalau begitu, buktikan. Kalau kamu pulang bawa Perak, jangan harap pintu rumah terbuka buat kamu."

​Ayahnya berbalik badan tanpa pamit, berjalan kembali ke mobil mewahnya. Supir membukakan pintu, dan mobil itu melaju pergi meninggalkan debu.

​Julian menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. Kakinya lemas. Ia hampir jatuh kalau saja tidak berpegangan pada pilar lobi.

​Siswa-siswa mulai bubar, berbisik-bisik. Pertunjukan selesai.

​Julian menoleh ke Alea. Mereka berdiri berdua di tengah lobi yang mulai sepi.

​"Kamu gila," bisik Julian. "Kamu nekat. Kalau Ayah marah sama kamu gimana?"

​"Biarin," jawab Alea santai, meski tangannya dingin. "Seenggaknya dia pergi kan?"

​"Alea, Rian liat ini," kata Julian cemas, melirik ke balkon lantai dua. "Dia bisa salah paham. Dia pikir kita masih deket."

​"Biar dia mikir apa yang dia mau mikir," kata Alea. Ia mencondongkan tubuh sedikit, berbisik cepat. "Nanti sore, dateng ke studio. Jangan pake mobil lo. Pake ojek. Lewat pintu belakang ruko."

​"Alea, risikonya—"

​"Dateng aja, Jul. Gue punya rencana buat jatuhin Rian. Gue butuh otak lo buat nyempurnain rencana ini."

​Sebelum Julian sempat membantah, Alea sudah berbalik dan berjalan pergi, bergabung dengan Raka yang memberinya tepuk tangan pelan dari kejauhan.

​Julian berdiri terpaku.

​Ancaman Rian masih berlaku. Tapi hari ini, Julian melihat sesuatu yang penting: Ayahnya bisa dilawan. Bukan dengan teriakan, tapi dengan argumen yang tepat. Dan Alea baru saja mengajarkannya.

​Di balkon lantai dua, Rian meremas kaleng soda di tangannya sampai penyok.

​"Sialan si Alea," gerutu Rian. "Dia ngebela Julian di depan bokapnya. Mereka pasti masih ada main."

​"Kirim videonya sekarang?" tanya Doni bersemangat.

​Rian berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Jangan dulu. Bokapnya tadi keliatan luluh dikit. Kalau kita kirim sekarang, efeknya kurang dramatis."

​"Terus kapan?"

​Rian menyeringai jahat.

​"Tunggu pas Pensi. Pas Julian ngira semuanya udah aman. Pas semua orang lagi ngumpul. Kita hancurin dia di panggung yang dia bangun sendiri."

​Sore harinya, Studio Bising.

​Julian datang mengendap-endap lewat pintu belakang, memakai topi dan masker medis biasa. Dia merasa seperti buronan interpol.

​Di dalam studio, anak-anak The Rebels sudah berkumpul. Suasananya serius. Tidak ada gorengan atau game Ludo.

​"Oke, Junaedi udah dateng," kata Raka saat Julian masuk.

​"Rencananya apa?" tanya Julian langsung, masih was-was.

​Alea duduk di atas amplifier, memegang stik drum.

​"Rian itu korup," kata Alea. "Gue denger dari anak seksi perlengkapan, dia minta cashback gede dari vendor sound yang baru. Vendornya murah, kualitasnya jelek. Rian ambil selisihnya buat beli motor baru."

​Mata Julian menyipit. "Korupsi dana sekolah? Itu pelanggaran berat. Bisa dikeluarkan."

​"Masalahnya, kita nggak punya bukti," sela Dito. "Kuitansinya pasti dipalsuin."

​"Di situlah peran lo, Pak Mantan Ketua," Alea menunjuk Julian. "Lo tau seluk beluk anggaran Pensi kan? Lo tau standar harga vendor. Lo tau cara baca laporan keuangan."

​Julian mengangguk perlahan. Otak analitisnya mulai bekerja. "Saya masih punya akses read-only ke cloud penyimpanan data OSIS. Rian bodoh kalau dia pikir dia bisa menghapus jejak digital sepenuhnya tanpa mengubah history revisi."

​"Nah!" Alea menjentikkan jari. "Kita butuh bukti transaksi aslinya. Gue denger dia komunikasi sama vendor lewat email pribadi, bukan email OSIS."

​"Kita nggak bisa retas email pribadi orang. Itu ilegal," kata Julian otomatis.

​"Siapa bilang retas?" Raka nyengir. "Beni punya sepupu yang kerja di vendor sound itu. Namanya Bang Jago (beneran namanya Jago). Kita bisa minta bukti chat atau invoice asli dari sisi vendor."

​"Beni?" Julian menatap keyboardist pendiam itu.

​Beni mengangguk. "Udah gue kontak. Bang Jago kesel sama Rian karena Rian minta komisi gede banget, jadinya Bang Jago untungnya tipis. Dia mau bantu kita asal nama vendornya nggak di-blacklist sekolah."

​Julian terdiam, berpikir. Ini berisiko. Tapi jika mereka berhasil membuktikan Rian korupsi, Rian akan dikeluarkan dari OSIS, bahkan dari sekolah. Jika Rian dikeluarkan, ancamannya tidak lagi valid. Doni tidak akan berani bergerak tanpa bekingan Rian.

​Ini satu-satunya cara untuk membebaskan diri.

​"Oke," putus Julian. Matanya berkilat tajam di balik kacamata. "Kita susun rencana. Beni, amankan bukti dari vendor. Saya akan audit laporan keuangan OSIS malam ini untuk mencari ketidakcocokan data. Alea..."

​"Ya?"

​"Kamu pancing emosi Rian. Buat dia merasa di atas angin sampai dia lengah. Buat dia merasa dia menang mutlak."

​Alea menyeringai. "Keahlian gue tuh. Bikin orang kesel."

​"Tapi ingat," Julian menatap Alea serius. "Jangan sampai dia tau kita kerja sama. Di depan umum, kita tetap musuh. Saya akan tetap dingin ke kamu. Kamu tetap benci saya."

​"Siap, Bos," jawab Alea.

​"Oh, satu lagi," tambah Julian. "Soal kejadian tadi siang..."

​Ruangan hening. Anak-anak band pura-pura sibuk nyetem alat musik.

​"Makasih," ucap Julian pelan. "Kamu nyelamatin nyawa saya di depan Papa."

​Alea turun dari amplifier, berjalan mendekati Julian. Dia berhenti di jarak aman, tidak menyentuh, tapi tatapannya hangat.

​"Gue nggak suka liat orang baik diinjek-injek, Jul. Apalagi orang itu lo."

​Julian menahan diri untuk tidak tersenyum. "Kita menangkan perang ini. Demi Pensi. Demi... kita."

​"Demi kita," ulang Alea.

​Mereka kembali ke posisi masing-masing.

​Julian mengambil gitar hitamnya, memakai masker tengkorak Phantom-nya.

​"Latihan dimulai," kata Phantom. "Kali ini, mainkan dengan amarah."

​Musik menghentak keras. Lebih keras, lebih emosional, dan lebih bertenaga dari sebelumnya. The Rebels bukan lagi sekadar band sekolah. Mereka adalah pasukan pemberontak yang siap menggulingkan tirani.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!