Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi bulan-bulanan ayah dan bunda
Altezza berjalan kearah mama dan papanya berada, bocah tiga tahun tersebut masih dengan gaya coolnya menyerupai pria dewasa.
“Sudah jalan-jalannya, abang?” tanya sang mama pada Altezza.
“Abang bocan. Aunty cama uncle belantem telus,” jawabnya.
Alvaro terkekeh, dia lantas menghampiri putranya. Alvaro berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan sang putra. “Aunty sama uncle kita nikahkan saja, yuk boy!” Alvaro mengangkat tubuh kecil sang putra.
“Lumah nanti jadi belicik,” ucapnya dingin.
Haziel si baby gemoy memiring-miringkan kepalanya, dia memperhatikan aktifitas abang dan papanya tersebut. Seolah ingin ikut nimbrung obrolan dua pria beda generasi itu.
“Bu...bu...ba,” tanganya Haziel bergerak terulur dengan mata yang fokus menatap abang dan papanya.
“Adek mau di gendong papa juga?”
Altezza dan Alvaro langsung menoleh kearah Haziel yang duduk di pangkuan sang mama. Senyum mengembang membuat dua lesung pipi Alvaro terlihat jelas, CEO perusahaan start up psikologi berbasis teknologi tersebut meraih Haziel dari pangkuan sang istri. Haziel dia gendong di tangan kirinya, sedang Altezza di tangan kanannya. Bersamaan dengan itu Nana menghampiri keluarga kecil tersebut.
“Pulang yuk, kak!” dengan napas sedikit ngos-ngosan Nana datang dari arah depan.
Di belakang Nana, tidak jauh Alvin berjalan dengan satu tangan berada di saku celana. Gaya coolnya tersebut persis dengan sang keponakan, atau memang dialah yang mengajari Altezza jadi dingin dan datar? Entahlah.
“Ck...tukang kabur,” celetuk Alvin, dia berjalan melewati Nana begitu saja.
Pletak
“Ih...dasar si kaku, sakit tahu.” Kesal Nana menghentakkan kakinya saat mendapatkan satu jitakan kepala dari Alvin.
Ayzel hanya bisa menghela napas. “Perasaan berantem mulu berdua,” celetuknya.
“Dia yang mulai, kak. Ngeselin banget, pantas tidak punya cewe. Dingin kayak es batu,”
Alvin langsung menoleh, Nana langsung sembunyi di balik badan Alvaro. Dia kira Alvin bakal kembali mendatanginya dan berulah, namun anehnya Alvin hanya tersenyum. Namun senyum penuh seringai, pria itu kemudian kembali berjalan pulang menuju rumahnya. Begitu juga dengan Nana, Ayzel dan keluarga kecilnya juga memutuskan untuk menyudahi acara jalan pagi hari itu.
Mereka sampai kembali di rumah keluarga Devran sekitar jam setengah tujuh, mereka melihat ayah Devran duduk di teras. Pria paruh baya tersebut ngobrol dengan penjaga keamanan rumah sambil ngopi dan makan camilan.
“Awas! Asam lambung naik,” celetuk Alvin saat melihat sang ayah ngopi pagi.
“Ayah bukan kamu, Vin. Lagaknya kerja keras, makan telat. Ngopi, jadwal tidur amburadul. Asam lambung langsung panjat pinang, tidak perlu tunggu besok. Kamu langsung masuk UGD,” balas ayah Devran meledek putra bungsunya.
Nana langsung menutup mulutnya, dia menahan tawa saat Alvin di skakmat sang ayah.
“Itu karena ayah ada bunda,” Alvin tak mau kalah.
“Makanya nikah!” ucap ayah Devran bersamaan dengan ucapan buda Anara yang keluar dari rumah setelah mendengar suara suami dan putranya adu debat.
Ayzel bahkan sampai menertawakan sang adik, Alvaro pura-pura bermain dengan Haziel karena dia juga tidak bisa menahan tawanya. Sedangkan Nana seperti Alvaro, gadis itu memalingkan wajahnya dan langsung tertawa.
Alvin hanya bisa menghela napas kasar, sepagi itu dia sudah menjadi bulan-bulanan ayah dan bundanya. Apalagi ada Nana dan juga Alvaro, wajah Alvin bahkan sudah semerah tomat karena malu.
“Uwow! Uncle cepelti tomat,” Altezza menunjuk wajah Alvin, tak ayal mereka semua tambah menertawakan calon CEO tampan tersebut.
Ralat...dia sudah menjadi CEO semenjak Ayzel menyerahkan Jazganara Tech pada sang adik. Hanya tinggal mengumumkan secara resmi bahwa Alvin sekaligus menjadi penerus Jazganara Tech and Corp, di mana Ayzel telah menyerahkan kepemimpinan generasi pertama pada anak ke dua keluarga Devran.
Ayzel dari awal memang hanya ingin fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan profesinya, dia juga lebih suka mengurus keluarganya dari pada harus mengepakkan sayap di dunia bisnis.
“Sableng semua,” ucapnya dingin, lalu Avin meninggalkan mereka semua yang masih ada di teras.
“Unclemu ngambek, boy. Kasih permen dulu, sana!” sahut Nana.
“Onty caja yang belikan,” jawab Altezza.
Nana merotasi bola matanya. “Uncle sama keponakan sebelas dua belas,”
Sungguh! Hati bunda Anara menghangat, hari-hari seperti itulah yang dia rindukan semenjak anak-anaknya beranjak dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Pagi itu sejenak bunda Ayzel dan Alvin tersebut melupakan masalah yang mungkin akan menyeret putra bungsunya nanti, dia menatap punggung Alvin yang menghilang di balik pintu.
“Bunda akan dukung apapun keputusanmu nanti, nak. Semoga kamu bisa mengambil langkah bijak,” monolognya dalam hati, kemudian bunda Anara menatap putri sulungnya yang sedang membujuk Altezza untu segera mandi. “Maafkan bunda, Zeze sayang. Kakek Zekai selalu membedakanmu dari kecil,” rasa bersalah masih ada dalam hati bunda Anara saat melihat putri sulungnya yang tidak merasakan kasih sayang sang kekak.
***
Nana sudah ada di kamarnya, dia mulai membersihkan diri setelah tadi selesai jalan pagi. Hari ini dia tidak ada agenda apapun, jadi dia mengenakan baju casual namun tetap sopan. Mengingat semua keluarga kakak iparnya tersebut berhijab, sedangkan Nana memang belum berhijab untuk saat ini.
Untuk hari itu Ayzel memang sengaja tidak membawa Nana maupun ke dua putranya keluar rumah. Ayzel ingin suaminya sejenak mengistirahatkan tubuhnya, karena Alvaro tetap sambil bekerja dari jarak jauh. Dia ingin sang suami bisa menikmati waktu santai, meskipun sejenak.
Terlebih Alvin juga baru saja kembali dari perjalanan jauh, Ayzel juga bisa memahami kalau adiknya akhir-akhir ini sedikit tertekan. Akan lebih baik mereka semua hari itu istirahat di rumah, masih ada hari esok untuk mereka jalan-jalan nanti.
Nana duduk di depan layar leptopnya, dia tetap profesional meskipun bekerja di perusahaan Alvaro sang kakak sepupu. Statusnya memang cuti, namun Nana tidak lupa dengan tanggung jawabnya di perusahaan.
Ayzel menempatkan Nana di bagian tim research agar sepupu suaminya tersebut mulai terbiasa bertemu dengan banyak orang, bisa mengembangkan public speakingnya dan menambah wawasan yang luas. Selain itu Nana juga bekerja paruh waktu di sebuah klinik atau rumah konsul milik Ayzel yang ada di Korea, di sana Nana menjadi asisten kakak iparnya tersebut. Dia kadang ikut saat Ayzel sedang menerima konsultasi dari klien-kliennya.
Beeb ... Beep
Layar leptopnya berkedip dan berbunyi, Nana menyadari ada yang salah dengan hal tersebut. Dia kemudian segera mengamankan datanya lebih dulu, memasang perisai untuk berjaga-jaga jika ada yang ingin menyusup dan meretas server miliknya.
IPS (Intrusion Prevention System) yang terdapat pada NGFW (Next-Gen Firewall) milik Nana mendeteksi adanya ancaman malware tersembunyi, Nana tersenyum dengan seringainya.
“Tidak semudah itu kamu bisa main-main denganku, kawan.” Nana mulai memainkan jari-jarinya diatas keyboard, sistem IPS mendeteksi malware pihak musuh. Tanpa menunggu lama sistem tersebut langsung memblokir serangan malware yang tersembunyi.
Nana mulai mengirimkan malware buatannya pada pihak lawan, untungnya dia sempat menyembunyikan IP addressnya. Hampir saja Nana lupa untuk menyembunyikan koordinat titik lokasi dia berada. Itulah kenapa saat Alvin dan Nana saling serang, mereka berdua sama-sama terkecoh dengan IP address yang satu sama lain.
“Dia kira mengirim malware seperti ini berguna? Dasar amatiran,” oceh salah satu orang yang mengirim malware tersembunyi pada server Nana.
“Coba saja kalau bisa masuk mengobrak-abrik serverku,” deretan warna hijau terlihat pada layar, Nana masih santai dan tenang. Hingga lima menit kemudian Nana tidak ada ampun membuat pihak lawan kocar kacir, malware yang di kirim Nana mereka sepelekan tanpa tahu kalau malware tersebut membuat leptop mereka mati seketika. Malware milik Nana memang tidak langsung bekerja, dia pelan tapi pasti, begitu sudah tepat sasaran. Barulah malware tersebut berubah menjadi monster untuk mengalahkan lawan.
Nana tersenyum saat bisa membuat musuhnya kembali tumbang. “Yess! Ngebul-ngebul deh itu PC,” ucapnya setelah berhasil merusak leptop dan PC milik lawan.
Namun tanpa Nana sadari, ternyata ada seseorang yang terus memantau pergerakannya. Orang tersebut berjarak tak jauh darinya, Alvin dari tadi memantau pergerakan K.Nara. Alvin ingin tahu, sejauh mana hacker bernama K.Nara itu. Untungnya Nana masih sempat menyembunyikan IP addressnya, terlewat sedetik saja identitasnya akan di ketahui.
Di dalam kamar, Alvin duduk di kursi meja kerjanya. “K.Nara...K.Nara, sebenarnya apa yang kamu incar? Dia juga selalu mengangguku saat beraksi,” guman Alvin yang masih memantau pergerakan musuh bebuyutannya tersebut.
Alvin mulai melacak IP address K.Nara, Alvin tertawa. “Hebat juga dia. Aku bahkan tidak bisa menembus di mana koordinatnya sekarang,” Alvin masih berusaha mencari koordinat K.Nara. Namun orang di balik nama K.Nara tersebut sudah lebih dulu menghentikan aktifitasnya di dunia cyber untuk hari itu, hal tersebut membuat Alvin tidak bisa melacak keberadaan musuhnya tersebut.
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣