"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.
Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.
"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin...
Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jauhadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Bab 21
Hari berganti, dan Arina serta Rania sudah siap untuk liburan ke Rusia. Negeri beruang itu memang menjadi pilihan keduanya sebab mereka ingin melihat indahnya Rusia dengan mata kepala sendiri.
Mereka tidak akan banyak berkeliling kali ini, mereka akan lebih ke museum, dan menikmati sejarah di sana. Terlebih sekarang sudah saatnya natal, meski keduanya muslim, tapi mereka berdua penasaran dengan pohon natal yang katanya cemaranya berusia seratus tahun lebih, dan di pajang di alun-alun kota Moskow.
Pada akhirnya setelah pesawat turun Arina, dan Rania pergi tidur di hotel. Keduanya sangat lelah, dan tidak ingin pergi kemanapun sebab rasa lelah yang menerpa mereka. Arina membuka tasnya, dan mengambil boneka kesayangannya hadiah dari almarhum ibunya Riana yang di tinggalkan ayahnya sebelum dia di taruh di panti asuhan. Boneka itu cukup besar, dan pas untuk di peluk seorang seusia Arina.
Rania juga sama dengan Arina, dia punya boneka pemberian almarhum ayahnya yang di bawa ke mana-mana ukurannya cukup kecil. Meski Rania lebih sering menggunakannya sebagai bantal.
Kedua sahabat itu tidur dengan nyenyak di temani udara dingin yang masuk dari jendela. Arina yang merasa kedinginan itu pun, langsung saja menutup jendela. Tampak salju di bawah sana membuat Arina tersenyum. Dia tidak membenci ataupun menyukai salju. Sebab sejak kecil Arina hidup di daerah tropis, dia lebih suka hujan. Sebab hujanlah yang menetralkan suara tangis Arina, hujanlah yang menemani masa kecil bahagia Arina, dia bermain hujan di bulan Desember, di saat anak-anak lain sama dengannya, bermain hujan untuk kesekian kalinya.
Arina kembali tidur, tidak di lihatnya hujan di luar sana, baik hujan air maupun hujan salju. Arinaemilih untuk tidur, dan menikmati malamnya. Dia memang sengaja memilih penerbangan sampai malam agar paginyaereka sudah segar, dan bisa bermain ke museum.
....
Esok paginya Arina terbangun, dengan nyawa penuh dia pergi gontai ke kamar mandi. Dia mandi dengan tenangnya tanpa membangunkan Rania. Dia lalu memesan makanan pada pelayan hotel. Setelahnya dia bangunkan Rania yang masih saja tidur. Padahal tidur paling awal, tapi bangunnya paling akhir. Rania lalu pergi ke kamar mandi dengan perasaan yang sama seperti orang baru bangun tidur pada umumnya, bukan seperti Arina yang selalu bersemangat saat bangun tidur, meski dengan ekspresi datarnya.
Rania selesai mandi, dia lalu menghampiri Arina yang tengah mengambil sarapan mereka dari pelayan.
"Makan dulu, nanti baru kita ke museum." Ujar Arina pada Rania yang tengah duduk. Arina dan Rania lalu sarapan bersama.
Menunya sederhana, tapi momentumnya yang istimewa. Tiap gigitan berasa surga tersendiri di mulut. Hingga beberapa menit kemudian makanan mereka habis.
Arina, dan Rania langsung saja olahraga singkat sejenak di dalam kamar. Mereka berdua olahraga singkat, lalu turun ke lobi. Mereka pergi ke museum setelahnya.
Banyak barang-barang unik di museum, mulai dari patung, lukisan hingga benda-benda unik yang tidak bisa di sebutkan. Arina tidak lupa mengambil gambar mereka berdua di depan museum.
Mereka berdua berkeliling hingga merasa bosan akhirnya tanggal 25 Desember, Arina, dan Rania melihat pohon natal yang tinggi menjulang. Kabarnya pohon itu di ambil dari hutan, dan usianya sudah lebih dari seratus tahun.
Arina mengucapkan salam perpisahan pada pohon itu dengan berdoa sesuai agamanya. Dia mungkin bukan umat Kristiani, tapi dia kagum dengan betapa megahnya perayaan Natal.
Arina lalu mengambil gambar lagi di dekat pohon natal. Rania juga memasang senyum melihat lampu-lampu berwarna warni di sana.
Hari semakin siang, mereka berdua pun lapar, dan memutuskan untuk makan siang.
"Perjalanan ke Moskow benar-benar mengesankan." Ujar Rania pada Arina. Arina hanya tersenyum saja mendapati sahabatnya senang.
Mereka makan di restoran, dan tidak kembali ke hotel sebelum selesai berkeliling. Moskow memang tempat yang indah. Tapi mereka rindu pada masakan rumahan. Rania mendorong bumbu lada di hadapannya. Dia rindu pada micin, saus sambal, dan saus kecap agaknya.
Rania, dan Arina pun lanjut berkeliling setelah selesai makan siang. Mereka banyak berfoto di sepanjang perjalanan. Hingga mereka merasa lelah, dan hari pun sudah tidak terang, hari sudah menunjukkan tanda-tanda gelap. Arina, dan Rania pun bergegas untuk kembali ke hotel. Besok mereka berdua akan pulang lagi ke Indonesia.
Arina, dan Rania melihat-lihat foto yang mereka ambil hari ini. Semuanya tampak bagus. Mereka lalu mengirim kan foto ke pada ayah mereka Thomas Andrews.
Di Indonesia, Thomas Andrews tampak menunggu kabar dari putri kandungnya, dan putri angkatnya. Ya, Rania tidak hanya putri dari Ibu Kepala Panti sekarang, dia juga Putri dari Thomas Andrews meski tidak secara resmi. Tak lama berselang, handphone milik Thomas Andrews berbunyi, dia memang meminta Rania agar anak itu mengabari Thomas Andrews, jika Arina tentu saja akan cuek saja.
"Fotonya bagus, kurasa mereka berdua bersenang-senang." Ujar Thomas Andrews yang mendapatkan chatting dari Rania.
Sarah yang sedang tidak sibuk pun ikut penasaran. Dia menghampiri suaminya yang tengah memegang ponsel itu.
"Lihat apa sayang?" Tanya Sarah pada Thomas Andrews.
"Ini gambar kedua sahabat, Arina, dan Rania. Anak kembar yang tidak kembar ini mereka bersenang-senang sepertinya, mereka sudah dewasa sekarang bisa berpergian sendiri." Ujar Thomas Andrews pada istrinya.
Sarah mengangguk sambil memeluk lengan suaminya. Thomas Andrews juga memeluk Sarah dengan kelembutan.
"Sayangnya aku tidak bisa menjaga mereka berdua saat sedang liburan." Ujar Thomas Andrews yang punya banyak pekerjaan di Indonesia, dan Malaysia. Dia lebih sering di dua negara ini dari pada harus pergi ke bisnisnya di negara lain.
"Jangan kecewa begitu sayang, anak-anak sudah dewasa, dan sudah saatnya mereka berpergian sendiri." Uhar Sarah pada Thomas Andrews. Sarah tahu Thomas Andrews selalu khawatir, dan merasa anak-anak masih kecil, Sarah pun sama seperti itu, hanya saja Sarah berpikir sudah saatnya anak-anak untuk mandiri. Meski dalam hal keuangan tentunya akan selalu di dukung oleh Thomas Andrews.
Kelak Arina juga akan mewarisi perusahaan, itulah yang Thomas Andrews harapkan. Tapi Arina Andrews ingin menjadi dosen. Dia tidak tertarik dengan bisnis, begitu juga dengan Tion Andrews yang lebih tertarik dengan percintaannya dengan Alexa Lin, dan cita-cita nya menjadi seorang polisi, dan detektif.
Meski begitu Arina Andrews bukan seorang yang tidak peka, begitu juga dengan Tion, mereka berdua diam-diam belajar bisnis.
Mereka berharap suatu saat bisa membantu ayah mereka. Cita-cita mereka juga penting, tapi perusahaan ayah mereka juga penting.
Di sisi lain Arina, dan Rania tengah makan malam. Mereka berdua menikmati makan malam dengan lahap, hanya saja seperti tadi siang, kurang micin.
Arina lalu melihat foto-foto itu lagi, dan melihat Rania yang fokus dengan ponselnya sendiri.
"Kamu kenapa cengar-cengir?" Tanya Arina pada sahabatnya.
"Aku mengirimkannya pada ayah, dia ternyata masih menganggap kita anak kecil." Ujar Rania pada Arina.
Arina yang masih kecewa dengan ayahnya yang membuang Arina sewaktu kecil hanya tersenyum getir.
"Hemm.." Ujar Arina pada Rania. Respon singkat yang sulit di artikan.