Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 Gemuruh Setelah Badai
Malam ini, kamar terasa semakin sempit. Aku duduk di sudut ranjang, wajahku tertutup kedua tangan.
Air mata siang tadi masih jatuh, membasahi jemari. Aroma dari jamur yang hancur belum hilang, menempel di udara seperti luka yang tak mau pergi.
Di luar kamar, suara kursi kayu bergeser. Lalu terdengar bapak dan ibu mulai berbicara. Awalnya pelan, tapi kemudian meninggi.
"Kenapa harus begitu caranya, Pak?!" suara ibu terdengar jelas, penuh nada marah bercampur sedih.
Suara bapak menyusul, lebih berat, tapi tidak sepenuhnya bisa kutangkap. Hanya potongan kata yang masuk ke telingaku "Ajari… bukan tempatnya… Mira…"
Aku menahan napas, mencoba mendengar lebih jelas, tapi suara mereka bercampur dengan derit lantai dan angin malam yang masuk lewat celah jendela.
"Dia cuma mau bantu! Kamu pikir dia ngelawan?!" suara ibu kembali terdengar, kali ini lebih keras.
Bapak menjawab, tapi suaranya pecah, tidak sampai jelas. Hanya nada berat yang membuat dadaku semakin sesak.
Aku menunduk, air mata jatuh lagi. Kenapa jadi begini… aku cuma mau ikut festival seperti dulu. Sebagaimana aku kecil dulu, kami selalu berdagang ketika festival akhir tahun diselenggarakan.
Suara argumen itu terus bergema, kadang meninggi, kadang mereda. Tidak ada kata yang benar‑benar jelas, hanya nada yang menusuk. Seakan ada penghalang tak kasat mata yang memisahkan aku dari mereka.
kini aku menutup telinga dengan kedua tangan, tak kuasa menahan tangis mendengarkan mereka bertengkar. Tapi suara itu tetap menembus.
Di sela tangis, aku merasa seperti anak kecil yang mendengar badai di luar rumah.
hingga akhirnya, suara mereka mereda, berganti dengan keheningan panjang.
Pertikaian tidak lagi terdengar. Hanya suara rokok keretek yang bapak hisap, hingga suaranya membawa aroma tembakau ke dalam kamar.
*kriyet~* Pelan‑pelan, pintu kamar berderit terbuka. Aku segera memejamkan mata, berpura‑pura tidur.
Nafasku kutahan agar terdengar teratur, meski dada masih berdegup kencang.
Langkah kaki ibu terdengar masuk perlahan, sandal karetnya nyaris tak bersuara di lantai.
Ia berhenti di sisi ranjang, menatapku lama. Aku bisa merasakan tatapannya, hangat sekaligus penuh iba.
Tangan kasarnya yang biasa menampi beras kini menyentuh rambutku dengan lembut.
Jemarinya mengelus pelan, seakan ingin menghapus sisa tangis yang masih menempel di wajahku.
"Mira," bisiknya lirih, nyaris seperti doa. "Jangan sedih terus ya, anak ibu."
Aku tetap diam, berpura‑pura terlelap. Tapi setiap kata itu menembus telinga, membuat air mata baru menggenang di sudut mata yang tertutup.
Ibu menunduk lebih dekat, suaranya semakin lembut. "Apa pun yang terjadi, kamu tetap cahaya di rumah ini. Jangan takut… jangan merasa gagal. Ibu tau perjuangan kamu, dan itu cukup untuk ibu."
Belaiannya berlanjut, ritmis seperti ayunan. Aroma tembakau dari luar bercampur dengan kehangatan tubuh ibu di dekatku.
Ia menarik napas panjang, lalu berbisik sekali lagi, "Tidurlah, Nak. Besok pasti lebih baik. Ibu ada di sini."
Aku menggenggam erat kain selimut, menahan diri agar tidak bergerak. Tapi di dalam hati, kata‑kata itu seperti pelukan yang menenangkan badai.
Ibu akhirnya berdiri, menatapku sebentar sebelum melangkah keluar. Pintu ditutup perlahan, meninggalkan kamar dalam keheningan.
Aku masih terbaring, mata terpejam, tapi hati berdenyut tak henti. Kata‑kata ibu tadi berputar di kepalaku, seperti bisikan yang menempel di dinding kamar.
Cahaya di rumah ini… katanya, apakah benar aku bisa menjadi itu?
Aku merasa kecil, rapuh, seperti jamur yang tumbuh di ruang gelap. Mudah hancur, mudah layu.
Tapi ibu melihatku berbeda. Ia melihat cahaya, meski aku sendiri hanya melihat bayangan.
Bapak di luar sana, dengan rokoknya, dengan diamnya. Aku tahu ia tidak akan pernah berkata maaf.
Tapi mungkin, orang tua punya cara lain untuk bicara.
Aku ingin percaya, bahwa usaha kecilku ini bukan sia‑sia. Bahwa jamur yang kutanam bisa jadi tanda kalau aku masih bisa memberi.
Meski gagal di kota, meski tangan ini pernah ditolak, aku ingin tetap mencoba.
Festival akhir tahun tinggal sebentar lagi. Aku membayangkan keramaian, suara gamelan, aroma kue, dan orang‑orang yang datang.
Di antara semua itu, aku ingin berdiri dengan jamurku, meski hanya sedikit, meski sederhana.
Aku ingin bapak melihatku di sana. Tidak perlu bicara, tidak perlu memuji. Cukup hadir, cukup tahu bahwa aku tidak menyerah.
Aku menarik napas panjang, menahan sisa tangis. Kata‑kata ibu tadi menjadi selimut kedua, menenangkan badai yang masih berputar di dadaku.