NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Kecurigaan Aurora II

Aurora berjalan masuk sambil melihat ke sekelilingnya.

"Di mana Alexia?" tanyanya dan mengalihkan pandangan matanya pada setiap pelayan di kamar Alexia. "Kenapa kalian semua ada di sini? Dan kain merah bekas apa itu?"

Mereka semua langsung terdiam dan mulai panik.

Tidak ada yang memberikan jawaban. Suasana semakin canggung hingga membuat mereka menunduk bingung.

'Bagaimana ini?'

'Apa yang harus kita katakan pada nona Aurora?'

Itulah yang mereka pikirkan ketika saling memandang.

Mereka tidak bisa membuat alasan ketika kain berwarna merah dan alat pel masih ada di tangan. Bau darah juga tetap bisa tercium samar meski kamarnya terlihat bersih.

'Gerak-gerik mereka terlihat janggal.' pikir Aurora, curiga.

Aurora dari tadi juga mencium bau busuk di sekitarnya, dan baunya mirip seperti bangkai. Jendela terbuka, tapi entah kenapa ia merasa baunya bukan berasal dari luar.

Melihat mereka diam saja membuat Aurora sedikit kesal.

"Ada apa? Kenapa kalian diam? Jawab pertanyaanku!"

Nadanya sedikit ditekan hingga membuat mereka takut.

"Rhea, pegang ini dulu." bisik Siria pada seorang pelayan.

"B-baik, kak Siria." jawabnya dengan suara yang bergetar.

Siria yang berada di belakangnya langsung menyerahkan kotak kayu kepada pelayan lain dan menghampiri Aurora.

"Nona Aurora, bisakah kita bicara—"

"Siria, apa ini?" Aurora tiba-tiba memotong perkataannya dan berbalik. "Katamu tadi Alexia sedang tidur siang, tapi mana? Dia saat ini bahkan tidak ada di dalam kamarnya!"

Raut wajahnya seperti orang yang sedang marah, namun Siria tetap memasang ekspresi tenang agar Aurora tidak makin curiga. Apalagi, dia belum tahu yang sebenarnya.

Dengan rasa percaya diri, Siria kemudian berkata,

"Nona Aurora, tenanglah. Saya bisa menjelaskannya."

Entah kenapa, hanya kalimat itu yang bisa Siria pikirkan.

"Benarkah?" Aurora mulai ragu dan berpikir sejenak.

Dia lalu menghela nafas dan berkata, "Kalau begitu, coba jelaskan padaku. Aku akan mendengarkan dengan baik."

Siria mengatakan hal itu untuk membuat Aurora tenang, tapi ia sendiri bingung dan tidak tahu harus memberikan penjelasan seperti apa agar dia berhenti mencari Alexia.

"Aku menunggumu, tapi kenapa kamu malah diam saja?"

Situasinya kini benar-benar tidak berpihak padanya.

'A-aku harus memberikan alasan seperti apa?!' pikir Siria dengan hati gelisah. 'Kapan anda kembali, nona Alexia?!'

Tak lama kemudian, suasana yang tegang itu berubah.

Suara langkah kaki yang semakin mendekat pun menarik perhatian mereka. Dan saat pintu kamar di buka, Aurora dan semua pelayan di dalam kamar menoleh ke arahnya.

"A-Alexia?!" panggil Aurora setelah melihat sosoknya.

Aurora terkejut, tapi para pelayan menghela nafas lega.

"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di kamarku?"

Alexia melangkah masuk dengan raut wajah bingung.

"Kakak ..." Alexia lalu menoleh ke arah para pelayan. "Dan kalian juga. Apa yang sedang kalian lakukan di kamarku?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Dan daripada mendapat jawaban, Alexia justru mendapat pertanyaan.

"Kamu dari mana saja? Kenapa kamu tidak beristirahat?"

Alexia pun menjawab, "Aku bosan terus berada di kamar, jadi aku pergi ke taman belakang untuk cari udara segar."

Setelah mendengar jawabannya, Aurora terdiam.

'Apa tadi hanya perasaanku saja?' batin Aurora, heran.

Meski hanya sekilas, tapi beberapa saat yang lalu Aurora merasa bahwa Alexia sedang berada dalam bahaya. Dia tidak tahu bahaya seperti apa itu, tapi dia sangat gelisah.

"Lalu, kenapa kakak ada di kamarku?" tanya Alexia.

"Ah... aku sebenarnya ingin mengajakmu makan siang di ruang tamu, tapi ..." Aurora berhenti bicara ketika melihat tongkat kayu di tangan Alexia. "Apa itu? Untuk apa kamu membawa tongkat kayu yang aneh itu ke dalam rumah?"

Aurora sangat jeli mengenai bentuk suatu benda. Dalam sekali lihat, ia tahu kalau tongkat kayu yang dibawa oleh Alexia itu berbentuk menyerupai seperti pedang panjang.

"Kalau kamu butuh pedang kayu, di tempat pelatihan ada banyak pilihan. Aku bisa mengambilnya satu kalau kamu memintanya, jadi kamu tidak perlu mencari lagi." katanya.

Mendengar hal itu tentu membuat Alexia cukup terkejut.

'Apa orang ini semacam «Penilai» atau sejenisnya?'

Alexia bahkan sampai berpikir seperti itu.

"Ya," Alexia mengangguk. "Aku akan memintanya kalau sudah sembuh. Untuk sekarang, apa kita makan siang?"

Aurora tersenyum bahagia setelah mendengarnya.

"Benarkah? Kalau begitu, aku yang akan membawamu ke ruang tamu." ucapnya sambil berjongkok dan langsung menggendong Alexia dengan posisinya berada di depan.

Alexia terkejut dan berkata,

"Kakak, apa yang kamu lakukan?!"

"Turunkan aku sekarang! Aku bisa jalan sendiri." lanjutnya sambil memberontak dan ingin melepaskan diri darinya.

Namun, usahanya sia-sia. Alexia lupa kalau Aurora telah membangkitkan Aura yang meningkatkan kekuatan fisik, jadi pegangannya cukup kuat hingga susah tuk bergerak.

Aurora menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, serahkan ini padaku. Kamu sedang sakit, jadi jangan terlalu banyak bergerak. Lagipula ini sudah kewajibanku sebagai kakak."

Aurora membawanya pergi sambil tersenyum.

Sementara itu, para pelayan saling bertukar pandangan.

"Apa kita perlu menyiapkan makan siang untuk mereka?"

Siria menghela nafas dan menjawab, "Itu tidak perlu. Ada pelayan lain yang bertugas untuk dapur, jadi kalian lanjut membersihkan ini. Aku akan pergi sebentar ke belakang."

"Baik, kak Siria." jawab mereka bersamaan.

Dia mengambil kotak kayu dari Rhea dan langsung pergi lewat jendela. Mereka semua menghela nafas lelah dan lanjut untuk bersih-bersih kamar sebelum sore hari tiba.

****

Beberapa hari yang lalu...

Setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan dari pemilik warisan Sky Sword berikutnya, instruktur tim 4 yang bernama Dio meninggalkan rumah keluarga Swan.

Dia pergi ke kota secara diam-diam sambil mengenakan jubah hitam agar tidak ketahuan. Penjaga kota juga tidak ada yang mengenalinya, jadi penyamarannya sempurna.

Tempat yang dia tuju adalah sebuah vila besar dan luas di tengah kota Rossvale, yaitu kediaman seorang Count.

Setelah tiba, instruktur Dio mengatakan bahwa dia punya sesuatu yang penting untuk dikatakan pada Count, jadi penjaga gerbang memperbolehkannya masuk ke dalam.

"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba datang kemari? Apa kau ingin meminjam uang lagi? Kalau hanya masalah sepele seperti itu, kau bisa berbicara dengan kepala pelayanku."

"Maafkan saya, Count, tapi saya memiliki informasi yang sangat penting, yang harus saya sampaikan pada anda."

"Informasi penting?"

Instruktur Dio pun langsung menceritakan semuanya.

"Jadi itulah yang saya temukan, Count Belio." kata Dio setelah bercerita mengenai informasi yang dia temukan.

Pria paruh baya dengan kumis melingkar duduk di kursi sambil memegang segelas wine. Ekspresinya tetap tidak berubah meski telah mendengar informasi besar darinya.

"Apakah kau yakin kalau gadis itu adalah penerusnya?"

Count Belio bertanya sekali lagi untuk memastikannya.

"Y-ya," kata Dio dengan percaya diri. "Saya tidak mungkin salah lihat. Lambang sepasang sayap putih benar-benar muncul di tangannya. Saya sungguh melihatnya sendiri."

Keyakinan yang tetap itu membuat Count mulai percaya.

"Kalau kau seyakin itu, sepertinya aku tidak punya pilihan selain mempercayaimu." balas Count sambil tersenyum.

Instruktur Dio tersenyum lebar mendengar hal itu.

"Terima kasih banyak, Count Belio." ucapnya, senang.

Count yang bernama Belio berdiri dan berkata, "Ayolah, harusnya aku yang berterima kasih. Dengan informasi yang kau berikan, aku akan mendapatkan keuntungan."

Instruktur Dio senang semuanya berjalan dengan baik.

Namun, tidak semuanya berjalan sesuai keinginannya.

"Aku akan memberimu hadiah kalau apa yang kau bilang itu benar." ucapnya dengan ramah, tapi ekspresinya pun tiba-tiba berubah menjadi menakutkan. "Tapi kalau yang kau katakan ini omong kosong, kau tahu akibatnya, 'kan?"

Instruktur Dio langsung gemetar ketakutan. Rasanya dia ditodong dengan puluhan pedang mengarah ke lehernya.

"Y-ya, saya mengerti."

Count Belio yang tadi menakutkan kembali jadi ramah.

"Baguslah jika kau mengerti." sambil menepuk bahunya.

Siapakah Count Belio yang bicara dengan instruktur Dio?

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!