NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Orang di Balik Rencana

Pagi itu, suasana warung berjalan seperti biasa.

Para pekerja proyek mulai berdatangan sebelum jam kerja dimulai.

Sebagian membeli paket hemat.

Sebagian membeli kopi dan gorengan secara terpisah.

Maya sudah mulai membantu tanpa harus terus-menerus diarahkan.

Ia bahkan sudah hafal letak sebagian besar barang di warung.

Melihat itu, Bu Rina tampak lega.

"Aku bilang juga apa."

"Apa?" tanya Arga.

"Maya cepat belajar."

Maya yang sedang menyusun kemasan langsung memutar mata.

"Bibi, jangan bicara seolah aku tidak ada di sini."

Semua orang tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak bergabung, gadis itu mulai terlihat lebih santai.

Arga memperhatikannya sesaat.

Rambut sebahunya diikat sederhana ke belakang.

Kulitnya sedikit lebih gelap dibanding kebanyakan gadis seusianya, tanda bahwa ia terbiasa membantu pekerjaan di luar rumah.

Cara bicaranya lugas.

Kadang sedikit keras kepala.

Namun justru itu yang membuatnya berbeda.

Tidak seperti Bu Rina yang cenderung mengalah.

Maya lebih suka mengatakan apa yang dipikirkannya.

"Mas."

Suara Maya membuyarkan pikirannya.

"Iya?"

"Kalau stok kopi tinggal sedikit kenapa tidak langsung beli banyak?"

Pertanyaan itu membuat Arga tersenyum.

Beberapa bulan lalu, ia mungkin akan menjelaskan panjang lebar.

Sekarang ia hanya bertanya balik.

"Menurutmu kenapa?"

Maya berpikir sejenak.

"Lagi menghemat uang?"

"Itu salah satu alasannya."

"Lalu?"

"Karena kalau prediksi kita salah, uang bisa terjebak di stok."

Maya mengangguk pelan.

Masih belum sepenuhnya mengerti.

Namun setidaknya mulai memahami pola berpikir yang digunakan Arga.

Menjelang siang, jumlah pelanggan mulai berkurang.

Cuaca hari itu cukup panas.

Arga memanfaatkan waktu luang untuk mengantar pasokan gorengan ke minimarket Rudi.

Begitu masuk, ia langsung melihat pria itu sedang berbicara dengan seseorang.

Dan kali ini, orang tersebut bukan orang asing.

Arga mengenal wajahnya.

Pria yang sama.

Pria yang pernah dilihatnya beberapa kali sejak beberapa bulan lalu.

Pria yang datang malam hari.

Pria yang berbicara serius dengan Rudi.

Pria misterius yang terus muncul.

Untuk sesaat, Arga hampir berbalik.

Namun sudah terlambat.

Rudi melihatnya lebih dulu.

"Arga."

Pria itu melambaikan tangan.

"Masuk."

Sekarang tidak mungkin menghindar.

Arga berjalan mendekat sambil membawa kotak gorengan.

Pria misterius itu memperhatikannya beberapa saat.

Kemudian tersenyum ramah.

"Ini Arga?"

Rudi mengangguk.

"Yang selama ini kuceritakan."

Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.

Diceritakan?

Tentang apa?

Pria itu mengulurkan tangan.

"Nama saya Damar."

Arga menyambut uluran tersebut.

"Arga."

"Dengar-dengar warung keluargamu berkembang cukup cepat."

Nada bicaranya santai.

Namun Arga tetap berhati-hati.

Karena orang seperti ini biasanya tidak datang hanya untuk basa-basi.

Setelah gorengan ditata di rak, Rudi menawarkan minuman.

Mereka bertiga akhirnya duduk di salah satu sudut minimarket.

Untuk beberapa saat, pembicaraan hanya berisi hal-hal ringan.

Tentang proyek jalan.

Tentang cuaca.

Tentang kondisi lingkungan sekitar.

Sampai akhirnya Arga memutuskan bertanya langsung.

"Pak Damar bekerja di bidang apa?"

Pria itu tersenyum.

Seolah sudah menunggu pertanyaan tersebut.

"Saya pengembang properti."

Arga langsung memahami.

Jadi bukan investor.

Bukan mafia.

Bukan rentenir.

Melainkan pengembang properti.

Namun jawaban itu justru menimbulkan pertanyaan baru.

Kenapa seorang pengembang properti sering datang ke daerah mereka?

Seolah bisa membaca pikirannya, Damar melanjutkan.

"Kami sedang mempertimbangkan beberapa proyek setelah pembangunan jalan selesai."

Rudi menyandarkan tubuh ke kursi.

"Makanya dia sering datang ke sini."

Arga mengangguk pelan.

Potongan-potongan puzzle mulai tersusun.

Namun belum lengkap.

"Proyek seperti apa?"

Damar tersenyum tipis.

"Kami belum bisa membicarakan semuanya."

Jawaban diplomatis.

Artinya memang ada sesuatu yang sedang direncanakan.

Tetapi belum bisa diumumkan.

Lalu Damar menunjuk ke arah jalan utama.

"Kamu tahu kenapa jalan itu diperlebar?"

Arga menggeleng.

"Salah satu alasannya karena daerah ini akan berkembang."

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Karena bagi kebanyakan orang, proyek jalan hanya berarti kemacetan dan debu.

Namun bagi pengembang, proyek jalan sering menjadi pertanda sesuatu yang lebih besar.

Pusat pertumbuhan baru.

Kawasan perdagangan.

Perumahan.

Atau peluang bisnis lainnya.

Untuk pertama kalinya, Arga melihat proyek jalan dari sudut pandang berbeda.

Bukan hanya ancaman.

Tetapi juga peluang.

Saat pulang ke warung, pikiran Arga terus bekerja.

Kalau daerah ini benar-benar berkembang...

Apa dampaknya bagi warung mereka?

Apakah pelanggan akan bertambah?

Apakah persaingan akan meningkat?

Apakah harga tanah akan naik?

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan.

Namun kali ini, ia tidak langsung membicarakannya kepada keluarga.

Sebaliknya, ia memutuskan mengamati lebih dulu.

Sebuah kebiasaan yang mulai terbentuk.

Tidak semua ide harus langsung dibahas di meja makan.

Kadang-kadang perlu diuji terlebih dahulu.

Sore harinya, Maya sedang membantu menyusun stok ketika tanpa sengaja menjatuhkan beberapa bungkus makanan ringan.

"Astaga."

Ia langsung berjongkok untuk mengambilnya.

Arga yang melihat kejadian itu ikut membantu.

"Maaf."

"Tidak apa-apa."

Maya menghela napas.

"Aku masih sering membuat kesalahan."

"Semua orang begitu."

"Bahkan kamu?"

Arga tertawa kecil.

"Terutama aku."

Maya terlihat tidak percaya.

"Serius?"

"Kalau kamu melihat hidupku sebelumnya, kamu pasti lebih tidak percaya lagi."

Tentu saja ia tidak bisa menjelaskan maksud sebenarnya.

Namun jawaban itu membuat Maya tertawa.

Untuk beberapa saat mereka bekerja dalam diam.

Lalu tiba-tiba Maya berkata,

"Aku sebenarnya ingin kuliah."

Arga menoleh.

Ini pertama kalinya gadis itu berbicara tentang dirinya sendiri.

"Tapi?"

Maya tersenyum pahit.

"Biayanya mahal."

Kalimat sederhana.

Namun cukup menjelaskan banyak hal.

Kini Arga mulai memahami motivasi gadis itu.

Ia tidak bekerja hanya untuk mengisi waktu.

Ia memiliki tujuan.

Mimpi.

Sesuatu yang ingin dicapai.

Dan hal itu langsung membuat karakternya terasa lebih hidup di mata Arga.

Malam hari, warung sudah tutup.

Arga duduk sendirian sambil membuka buku catatannya.

Di halaman baru, ia menulis beberapa poin.

Pak Damar \= Pengembang Properti.

Daerah akan berkembang setelah proyek jalan selesai.

Peluang baru akan muncul.

Kemudian ia berhenti menulis.

Karena ada satu hal yang lebih menarik.

Selama ini ia selalu fokus mempertahankan warung.

Menyelamatkan usaha keluarga.

Memperbaiki arus kas.

Mengelola produksi.

Namun untuk pertama kalinya, ia mulai melihat sesuatu yang lebih jauh.

Bagaimana jika warung mereka tidak hanya bertahan?

Bagaimana jika warung itu tumbuh bersama perkembangan daerah ini?

Pertanyaan tersebut membuat dadanya berdebar.

Karena ia tahu.

Kalau perkiraannya benar, beberapa tahun ke depan akan menjadi periode yang sangat penting.

Bukan hanya bagi keluarganya.

Tetapi bagi seluruh kawasan tempat mereka tinggal.

Angin malam bertiup pelan.

Di kejauhan, lampu proyek masih terlihat menyala.

Tanda bahwa pembangunan terus berjalan.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arga merasa dirinya tidak lagi sekadar bereaksi terhadap masalah.

Ia mulai mencoba melihat masa depan.

Bukan masa depan yang ia ingat.

Melainkan masa depan yang sedang dibangun tepat di depan matanya.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!