NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Bos menyeramkan

Di dalam ruang rapat utama...

Dara melangkah pelan di belakang Aldi. Jantungnya berdegup semakin cepat ketika pintu ruang rapat yang besar itu terbuka.

Ruangan tersebut jauh lebih megah daripada yang ia bayangkan. Meja rapat panjang dari kayu hitam mengkilap memenuhi bagian tengah ruangan. Di sepanjang meja sudah duduk para direktur dan kepala divisi perusahaan.

Begitu Dara masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Membuat langkahnya hampir tersandung sendiri. Astaga... kenapa semuanya lihat aku?

Aldi yang berjalan di sampingnya berbisik pelan. "Tenang."

"Saya tidak bisa tenang."

"Iya sangat terihat."

Dara hampir menangis.

Di ujung meja, Alexander sudah duduk di kursi utama. Tangannya memegang sebuah tablet. Tatapannya tertuju pada laporan yang sedang dibaca. Tidak ada satu orang pun yang berani berbicara sebelum ia membuka rapat. Suasana begitu hening.

Sampai akhirnya Alexander meletakkan tabletnya di atas meja. "Baik Saya mulai."

Baru berkata saja seluruh peserta rapat langsung bergerak. Dara yang berdiri di dekat pintu langsung bingung. Aku harus ngapain?

Alexander mengangkat kepala. Tatapannya tertuju padanya. "Apa kau ingin berdiri di sana sampai rapat selesai?"

Dara langsung tersentak. "Eh?"

"Tempatmu di sini." Alexander menunjuk kursi kosong yang berada tepat di sebelah kirinya.

Seluruh ruangan mendadak sunyi. Beberapa direktur bahkan saling berpandangan. Dara membeku. Sebelah CEO...?

Aldi yang melihat ekspresinya langsung menahan tawa. "Duduk, Dara."

Dara berjalan dengan langkah kaku. Rasanya seperti sedang menuju kursi terdakwa. Begitu duduk, ia bisa merasakan puluhan pasang mata masih memperhatikannya.

Alexander membuka sebuah map.

"Laptop."

Dara langsung panik.

"Laptop?"

"Notulen rapat."

"Oh!"

Dara buru-buru membuka laptop. Tangannya sampai gemetar.

Alexander melirik sekilas. "Lemaskan bahumu."

"Hah?"

"Kau terlihat seperti sedang menghadapi hukuman mati."

Beberapa direktur langsung menunduk menahan senyum.

Dara ingin menghilang saat itu juga. "Saya gugup, Tuan."

"Saya tahu."

Alexander kembali menatap dokumen di depannya. "Tapi gugup tidak akan membantu pekerjaanmu."

Dara mengangguk pelan. "Iya, Tuan."

Rapat pun dimulai. Satu demi satu direktur mulai menyampaikan laporan. Dara berusaha fokus mencatat semuanya. Awalnya sulit, namun perlahan ia mulai masuk ke ritme rapat.

Sampai hampir satu jam berlalu. Seorang direktur pemasaran berdiri dan mempresentasikan laporan penjualan kuartal terakhir.

Alexander mendengarkan tanpa ekspresi. Hingga akhirnya pria itu berhenti berbicara.

Ruangan kembali sunyi.

Alexander menatap layar presentasi beberapa detik. Lalu berkata singkat. "Angka bulan Februari salah."

Direktur itu langsung membeku. "Maaf, Tuan?"

"Baris ketiga."

Semua orang melihat layar.

Dan benar, ada satu data yang tidak sesuai. Direktur tersebut langsung pucat. Dara yang melihatnya ikut merinding. Ya Tuhan... dia bisa sadar cuma dalam sekali lihat?

Alexander kemudian mengalihkan perhatian ke laporan berikutnya. Seolah menemukan kesalahan sebesar itu adalah hal biasa. Dara tanpa sadar menatap pria di sampingnya. Kini ia mulai mengerti. Kenapa semua orang begitu segan pada Alexander W. Dirgantara.

Bukan karena suaranya keras, melainkan karena kemampuannya yang luar biasa. Kini Dara merasa pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi CEO mungkin akan jauh lebih menantang daripada yang pernah ia bayangkan.

Sementara itu, tanpa Dara sadari, Alexander sempat melirik ke arahnya. Hanya beberapa detik. Melihat bagaimana wanita itu begitu serius mencatat setiap detail rapat.

Setelah berminggu-minggu mencari pengganti sekretaris lamanya. Ia mulai berpikir bahwa mungkin pilihan Aldi kali ini tidak buruk.

Rapat akhirnya berakhir hampir dua jam kemudian. "Kalau tidak ada tambahan, rapat selesai."

Suara Alexander terdengar tenang, namun cukup membuat seluruh peserta rapat langsung bergerak membereskan dokumen masing-masing.

"Terima kasih, Tuan."

"Selamat siang, Tuan."

Satu per satu para direktur keluar dari ruang rapat.

Dara mengembuskan napas panjang. Akhirnya selesai, ia merasa otaknya hampir penuh karena harus mencatat begitu banyak hal. Tangannya bahkan sedikit pegal karena terus mengetik sejak tadi.

Namun saat ia hendak menutup laptop, suara Alexander kembali terdengar.

"Aldi."

Direktur Operasional itu yang baru saja berdiri langsung menoleh.

"Iya, Bos?"

Alexander menutup map di depannya.

"Tinggal."

Ruangan yang tadi mulai ramai mendadak kembali sunyi.

Dara yang sedang memasukkan dokumen ke dalam map langsung membeku. Tinggal? Maksudnya siapa? Beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa yang masih berada di ruangan hanya dirinya dan Aldi.

Jantungnya langsung turun ke perut. Astaga... kenapa harus tinggal? Apa aku salah mencatat? Apa ada notulen yang kurang? Apa tadi aku salah duduk?

Aldi yang melihat wajah Dara yang mulai pucat justru terlihat santai. "Bos mau bicara sebentar."

Dara menelan ludah. "O-oh."

Tak lama kemudian seluruh peserta rapat sudah keluar.

Pintu besar tertutup perlahan.

Klik.

Kini hanya ada tiga orang di dalam ruangan itu. Alexander. Aldi. Dan Dara. Suasana mendadak terasa jauh lebih menegangkan dibanding saat rapat berlangsung.

Alexander masih duduk di kursi utamanya sambil membaca beberapa dokumen. Sedangkan Dara duduk tegak seperti siswa yang sedang menunggu hasil ujian.

Beberapa detik berlalu, tidak ada yang berbicara. Dara semakin gugup. Sampai akhirnya Alexander meletakkan dokumen yang dibacanya.

Tatapan tajam itu beralih kepada Aldi. "Pendapatmu?"

Dara berkedip bingung.

Aldi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bagus."

Alexander mengangkat alis. "Bagus?"

"Iya."

Alexander menatap Dara sekilas. "Lambat."

Dara langsung tersedak udara.

Aldi tertawa kecil. "Itu karena hari pertama."

"Terlalu gugup."

"Masih bisa diperbaiki."

Alexander tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali tertuju pada Dara. "Kau gugup setiap saat?"

Dara langsung duduk lebih tegak. "Tidak, Tuan."

"Baru saja kau hampir menjatuhkan pulpen tiga kali."

Wajah Dara langsung merah. Aldi menunduk sambil menahan tawa.

Alexander melanjutkan dengan nada datar. "Dan kau mengetik dua kali lebih cepat setelah tiga puluh menit pertama."

Dara membelalak. Beliau memperhatikan itu?

Alexander melipat tangan di depan dada. "Artinya kemampuanmu cukup baik."

Dara terdiam.

"Tapi kepercayaan dirimu buruk."

Dara tidak bisa membantah. Karena itu memang benar.

Alexander lalu mengalihkan pandangan pada Aldi. "Kau yakin?"

Aldi mengangguk mantap. "Sangat yakin."

Alexander memperhatikan Dara beberapa saat. Cukup lama hingga Dara kembali tegang. Kemudian akhirnya CEO itu berdiri. Posturnya yang tinggi membuat aura wibawanya semakin terasa.

Ia berjalan mendekati jendela besar di belakang ruangan. "Tiga bulan."

Dara berkedip. "Tuan?"

Alexander menoleh sedikit. "Masa percobaan hanya tiga bulan?"

Jantung Dara langsung berdebar. Itu berarti, ia belum ditolak.

Alexander melanjutkan. "Dalam tiga bulan, saya akan menilai kemampuanmu sendiri."

"Iya, Tuan."

"Kalau hasilnya memuaskan, kau tetap bekerja di sini."

Dara menggenggam kedua tangannya erat. "Baik, Tuan."

"Kalau tidak."

Dara langsung menegang.

Alexander menatapnya tanpa ekspresi. "Kau akan dipindahkan ke divisi lain."

Dara terdiam beberapa detik. Lalu tanpa sadar mengembuskan napas lega. Setidaknya bukan langsung dipecat.

Aldi yang melihat reaksinya langsung tertawa. "Hahaha!"

Dara menoleh bingung. "Kenapa?"

"Saya kira kamu bakal pingsan."

"Saya kira juga begitu."

Bahkan Alexander tampak memandang mereka berdua beberapa saat sebelum menggeleng pelan. Entah kenapa kini ruang rapat utama yang biasanya selalu kaku terasa sedikit berbeda.

Dan saat Dara meninggalkan ruangan bersama Aldi beberapa menit kemudian, ia tidak menyadari satu hal. Alexander masih berdiri di dekat jendela. Memperhatikan pintu yang baru saja tertutup.

Lalu tanpa sadar mengingat kembali bagaimana wanita itu tetap berusaha tenang meski jelas ketakutan setengah mati sejak pagi.

Sementara di koridor...

Dara berjalan cepat mengikuti Aldi. "Astaga..."

Aldi tertawa. "Kenapa lagi?"

"Saya akhirnya selamat," Dara menatapnya. "Ternyata Bos Anda menyeramkan."

"Memang."

"Tapi beliau juga aneh."

Aldi langsung tertawa keras. "Hahaha!"

"Serius!"

"Kalau kalimat itu sampai terdengar Bos, saya nggak bisa nolong kamu."

Dara langsung menutup mulutnya. Kini ia tersenyum, karena meskipun hari pertamanya penuh ketegangan, setidaknya satu hal sudah pasti. Ia resmi menjadi sekretaris pribadi CEO PT Dirgantara Group. Dan petualangannya di perusahaan itu baru saja dimulai.

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!