NovelToon NovelToon
CINTA HABIS DI MANTAN

CINTA HABIS DI MANTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: AssaZahara

Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalur Alternatif

Malam merayap turun di sepanjang jalur alternatif yang membelah lereng Gunung Ciremai. Jalanan aspal bergelombang ini sepi dari lalu lintas kendaraan besar, gelap tanpa lampu penerangan. Jalan yang hanya sesekali dilewati oleh truk pengangkut sayur atau sepeda motor penduduk lokal yang melaju tanpa lampu belakang. Di kanan dan kiri jalan, hamparan pohon pinus dan jurang yang gelap gulita berpadu dengan kabut tebal yang mulai turun, membatasi jarak pandang hingga kurang dari sepuluh meter.

Di dalam kabin SUV hitam, keheningan terasa begitu padat. Entah mereka canggung atau memang tegang dalam perjalanan ini. Suara deru mesin mobil yang halus beradu dengan bunyi gesekan karet wiper yang menyapu embun di kaca depan. Indikator di dasbor menunjukkan pukul 23.40 WIB. Kebanyakan orang udah melabuhkan mimpi pada jam ini.

Berkat alat pengacak sinyal (jammer) yang terpasang di bawah kursi, tidak ada satu pun gelombang elektromagnetik yang bisa menembus keluar. Di dalam mobil ini, mereka berdua seperti berada di dalam kapsul waktu yang terisolasi dari peradaban.

Zahran fokus menatap jalanan di depannya, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan waspada. Otot-otot rahangnya menegang setiap kali lampu sorot mobilnya menangkap siluet kendaraan lain dari arah berlawanan. Ia tahu, ketenangan ini hanyalah ilusi. Di luar radius lima puluh meter dari mobil ini, dunia sedang memburu mereka dengan segala cara.

Alea perlahan menegakkan duduknya. Ia menatap ke luar jendela yang berembun, lalu melirik ke arah dasbor di mana sebuah peta fisik wilayah Jawa Barat terbentang sebuah tindakan pencegahan dari Zahran yang tahu bahwa navigasi digital Google Maps akan langsung mengkhianati posisi mereka jika diaktifkan.

"Kita tidak akan menuju ke kota besar, kan?" tanya Alea, memecah keheningan dengan suara yang masih serak.

"Ga Al.. Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya udah pasti tempat pertama yang akan dijaga oleh orang-orang Reynald," jawab Zahran tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

"Kamu pasti tau Gideon, kepala keamanan Pratama Logistics, dia bukan orang bodoh. Dia punya akses ke data manifes gerbang tol dan jaringan logistik truk di seluruh jalur pantura dan jalur selatan. Itu sebabnya kita memotong jalan lewat jalur tikus ini menuju ke sebuah rumah singgah tua milik mendiang kakekku di pelosok Majalengka." Ujar Zahran panjang lebar.

Alea mengangguk perlahan. Nama Reynald dan Gideon yang diucapkan Zahran membawa kembali rasa dingin yang sempat ia lupakan. Ia tahu seberapa besar gurita kekuasaan Pratama Logistics. Mereka memiliki ribuan armada truk kontainer yang bergerak setiap hari. Di tangan Reynald, setiap supir truk itu bisa berubah menjadi mata-mata yang siap melaporkan keberadaan SUV hitam mereka.

"Zahran..." Alea menjeda kalimatnya, menatap profil samping wajah pria yang kini menjadi pelindungnya.

"Gimana dengan keluarga kamu? Jika Gautama tahu kamu melakukan ini, dia pasti akan menggunakan posisi ini untuk mendepakmu dari Adiguna Group."

Zahran menyunggingkan senyum getir, sebuah kilatan sarkasme muncul di matanya.

"Gautama tidak perlu menunggu sampai besok untuk melakukannya Al... Dia pasti sudah memblokir seluruh rekening operasional ku hari ini. Tapi dia lupa satu hal... aku tidak membangun karierku di Adiguna dari uangnya. Aku punya tabungan pribadi dari proyek-proyek arsitektur independen yang tidak tersentuh oleh nama Adiguna."

Zahran melepaskan satu tangannya dari kemudi, lalu menggenggam jemari Alea yang terasa dingin di atas pangkuannya.

"Tiga tahun lalu, aku membiarkan diriku diintimidasi oleh ayahmu karena aku tidak punya apa-apa untuk melindungimu. Aku miskin, aku hanya seorang lulusan baru yang idealismenya mudah dihancurkan. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu untuk kedua kalinya, bahkan jika aku harus membakar seluruh saham Adiguna Group untuk itu."

Kata-kata Zahran yang sarat akan tekad yang mutlak itu merayap masuk ke dalam hati Alea, memberikan kehangatan yang luar biasa di tengah dinginnya kabut gunung. Namun, momen emosional itu tidak berlangsung lama.

Bzzzz... Bzzzz...

Tiba-tiba, lampu indikator merah pada alat pengacak sinyal di bawah dasbor berkedip dengan ritme yang cepat, mengeluarkan bunyi dengung frekuensi rendah yang janggal. Zahran seketika melepaskan genggaman tangannya dan kembali memegang kemudi dengan kedua belas jarinya. Matanya melirik ke kaca spion tengah.

Jauh di belakang mereka, di balik kabut tebal yang pekat, muncul dua pasang lampu sorot bertenaga tinggi, high-beam LED yang membelah kegelapan. Lampu-lampu itu bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk sebuah jalur alternatif yang berliku dan licin.

"Ada yang mengikuti kita," desis Zahran, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin.

Alea menoleh ke belakang, jantungnya mulai berdegup kencang melihat siluet dua mobil jip besar berwarna gelap yang kian mendekat.

"Polisi?" ujar Alea pelan

"Bukan. Polisi akan menyalakan sirine dan lampu rotator biru," jawab Zahran sambil menginjak pedal gas lebih dalam.

Mesin SUV hitam itu meraung, melemparkan tubuh mereka berdua ke belakang saat mobil melesat membelah tikungan tajam.

"Itu adalah jip taktis. Ciri khas tim lapangan milik Pratama Logistics. Sialan, bagaimana bisa mereka menemukan jalur ini secepat ini?"

"Reynald..." bisik Alea, wajahnya mendadak pucat pasi.

Ia mengingat kembali sebuah detail kecil yang pernah diucapkan Reynald saat mereka membahas peta jalur distribusi bahan baku kue bulan lalu. Pratama Logistics memiliki pos pantau mandiri untuk armada truk mereka di setiap jalur alternatif guna menghindari pungutan liar di jalan utama. Mereka terjebak di dalam wilayah perburuan Reynald.

Salah satu jip di belakang mereka mempercepat lajunya, mencoba memotong dari sisi kanan di sebuah trek lurus yang sempit. Cahaya lampu dari jip tersebut menyinari kabin SUV Zahran, memperlihatkan bayangan dua orang pria bertubuh tegap di dalamnya yang mengenakan pakaian serba hitam.

"Alea, pegangan yang kuat!" seru Zahran.

Zahran membanting setir ke kanan dengan kasar tepat saat jip lawan mencoba menyejajarkan posisi.

Blarr!

Benturan logam beradu dengan logam menggema di tengah sunyinya malam. SUV hitam Zahran yang memiliki spesifikasi antipeluru tingkat rendah berhasil mempertahankan posisinya, sementara jip pengikut tergelincir sedikit ke bahu jalan yang berbatu sebelum akhirnya kembali menstabilkan arah.

"Mereka tidak mencoba menghentikan kita dengan aman, Zahran! Mereka ingin mencelakai kita!" pekik Alea, mencengkeram sabuk pengamannya dengan erat.

"Reynald tidak peduli jika kita terluka, selama dia bisa membawamu kembali ke Jakarta dalam kondisi bernapas," jawab Zahran dengan rahang yang mengatup rapat. Matanya dengan jeli menatap lurus ke depan, mencari celah di antara kelokan jalan.

Di depan mereka, jalanan mulai menurun tajam dengan tikungan tusuk konde hairpin turn yang sangat berbahaya, berbatasan langsung dengan jurang tanpa pembatas jalan di sisi kiri. Zahran tahu, dengan bobot SUV-nya yang berat, melakukan manuver balap di medan seperti ini adalah tindakan bunuh diri jika ia salah memperhitungkan traksi ban.

Namun, Zahran tidak memiliki pilihan lain. Perburuan dingin di sepanjang aspal alternatif ini telah mencapai titik kritisnya. Di bawah tekanan lampu sorot musuh yang terus mengintip dari belakang, Zahran bersiap melepaskan rem tangan, bersiap melakukan taruhan terbesar dalam hidupnya demi mempertahankan wanita yang ada di sampingnya.

1
Ana Dww
elu nekattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!