Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita terlambat : 20
Perlahan kesadaran Kanti tenggelam, matanya memejam, dan napas mulai teratur, badannya lemas layaknya orang terlelap.
Mbah Munah memijat titik-titik melemahkan saraf demi sebuah tujuan, lalu tersenyum puas ketika berhasil.
Ahwaya sama sekali tidak menaruh curiga, dia juga pernah ketiduran saat di tempat spa, dipijat salah satu ahli terapis profesional.
Tangan berkulit keriput itu terus memberikan tekanan pada bagian tubuh hampir di setiap incinya, hingga empat puluh menit kemudian, Kanti mulai mengerjapkan mata.
Candra Kanti terlihat berbeda, auranya lebih kelam, misterius, dan jadi sangat pendiam.
“Kanti, enak banget ya pijatan mbah Munah sampai kamu ketiduran?” Aya berniat menggoda, tapi dirinya sendiri yang terkejut ketika Kanti menoleh ke arahnya.
“Sudah selesai. Jangan mandi dulu sampai langit berubah jingga pekat.” Mbah Munah menaikan tali bra gadis yang masih membisu, seraya mengamati sekitar.
Kening bu Sasmi mengerut, seperti ada yang berbeda dengan gadis tidak banyak bicara ini.
Kanti terlihat jauh lebih tenang, setiap gerakan kecilnya begitu anggun, dan paling mencolok – sorot mata tajam, menusuk.
Aya merinding, perasaannya tiba-tiba cemas, takut berdekatan dengan gadis tengah memakai kembali pakaiannya.
“Minumlah ramuan herbal ini, berkhasiat menjaga daya tahan tubuh, dan menghangatkan perut supaya tidak mudah kembung.” Mbah Munah menunjuk cangkir hijau lurik.
Sesaat Kanti cuma melihat air berwarna coklat tua, lalu memegang tangkainya, dalam tiga tegukan panjang, telah kandas diminum.
“Mbah, apa kami sudah boleh pulang?” tanya Aya, suasana di kamar ini bertambah tidak nyaman.
“Boleh. Nanti kalau ada kabar tentang Mayang, saya kabari lewat keluarga pak Widi,” katanya yakin.
“Kanti, apa kamu butuh aku gandeng?” Aya menawarkan diri dengan suara sedikit bergetar.
Gelengan kepala ditanggapi helaan napas lega si Ahwaya.
Kanti berjalan tenang, setiap langkah tidak tergesa-gesa, tak pula terlalu lamban.
"Sudah selesai pijatnya? Udah enakan kan badan kamu, Kanti?” Aji sumringah, sesaat kemudian senyumnya sirna.
Kanti mengangguk tanpa balas tersenyum tipis seperti biasanya, lalu langsung menuruni undakan tangga teras.
“Dia kenapa? Kesambet setan apa kerasukan arwah?” celetuk Abeer, mulutnya berhasil direm, tidak memanggil culun.
“Kecapekan kayaknya,” Aya asal jawab.
Mereka naik ke atas pickup, duduk pada tempat sama seperti saat pergi kesini.
Candra Kanti memperhatikan sekitar, lalu tatapannya terkunci pada tanah lapang tidak jauh dari gubuk mbah Munah, seringai tipis tersungging pada bibir atas yang tipis.
Mobil melaju sedikit kencang melewati pohon randu, dan memasuki jalanan lebar tanah keras.
Selama perjalanan menuju hunian bu Sasmi, Kanti diam seribu bahasa. Matanya bergerak liar memindai setiap hal dilewati.
***
Tubuh bu Laila Ngatemi mengencang, rahang mengetat, terdengar suara gigi bergemeretak. Kedua tangan terkepal di sisi badan telah duduk tegak.
“Kita terlambat! Seseorang telah membuka segelnya lewat perantara, tinggal satu langkah lagi, maka dia dapat ….” suaranya mengecil, buliran air mata menetes terjatuh di atas paha.
Bu Laila Ngatemi tengah berperang antara batin serta logika enggan sejalan, dan nalurinya sebagai seorang ibu sedang sekarat. Merasa gagal melindungi putri yang sedari kecil sengaja dikirim ke kota agar tidak bersinggungan dengan alam gaib, tapi semesta seolah menertawai, harapan hanya sebatas angan.
“Apa yang terjadi sudah suratan takdir. Mau seberapa gigih kita menghindari, menjauhkan seseorang agar tidak menjalani kehidupan telah tertulis, tetap semesta sang penentu akhir cerita,” ni Dasah berusaha menghibur.
“Sekarang, cobalah masuk lebih dalam lagi ke lorong yang membawamu kesana tadi,” titah ni Dasah, membimbing alam bawah sadar bu Laila Ngatemi.
Keringat dingin bercucuran, badan bu bidan gemetaran, seperti ada sesuatu mencoba menahan, menyerangnya.
Akhhh!
Sang suami berlari kencang, menahan kepala bu Laila agar tidak menghantam permukaan batu.
“Apa yang terjadi, Ni?” pak camat gagal menutupi rasa cemasnya, terlebih mendapati sang istri pingsan.
“Kita tunggu sebentar lagi. Sepertinya sesuatu besar tengah berlangsung. Kanti dengan rasa ingin tahu besar, dan memiliki jiwa sosial tinggi, lagi berusaha mengungkap tabir misteri.” Ni Dasah menyudahi ritualnya, nanti akan ada sosok gaib yang diam-diam dikirim ke suatu tempat untuk mencari titik terang keberadaan terakhir sebelum rombongan mahasiswa dinyatakan hilang.
***
“Sudah berapa lama aku tidur, Aya?” nadanya jauh lebih lembut.
Ekspresi Ahwaya seperti orang melihat hantu. “Mana yang sakit, Kanti?”
”Kenapa kamu nanya gitu?” gadis masih setengah duduk itu berusaha menjejakkan kaki di lantai kamar.
“Tadi kamu pingsan di mobil, terus digendong Aji.” Netra Aya melotot, berkata jujur.
Di pertengahan jalan, tiba-tiba tubuh Candra Kanti lemas dan matanya terpejam, membuat semua orang terkejut dan cemas.
“Aneh.” Kanti meraba badannya, tidak ada rasa sakit penyebab dia pingsan, secara fisik baik-baik saja.
‘Lakukan! Cari tahu, jangan buang-buang waktu!’ itu bukan bisikan hatinya, melainkan titah suara yang sangat lama tertidur dalam sanubarinya.
Rasa pusing yang mendera digantikan sebuah ingatan mundur sewaktu dia berumur 11 tahun.
‘Nyai … kamu kembali?’
‘Tentu. Bergeraklah sekarang!’
“Candra Kanti!” Aya teriak kencang kala diabaikan.
“Ada apa, Ahwaya?!” Aji masuk ke dalam dalam keadaan panik.
“Kanti, kamu sudah siuman?” Aji mengikis jarak, lalu memeluk Kanti sebagai luapan rasa senang setelah tadi sempat ketakutan.
“Aku baik-baik saja, Ji.” Kanti melepaskan dekapan yang dapat dirasakan ketulusan tanpa dibumbui nafsu.
“Syukurlah. Aku dan lainnya sangat khawatir,” ia tidak malu mengeluarkan air mata sambil berlutut.
“Terima kasih, sudah menjagaku,” ucapnya tulus.
“Oh, iya … tolong curi korek api di dapur, terus pinta Abeer, Sambara mengalihkan perhatian penghuni rumah. Aku punya cara mencari tahu apa yang terjadi sama Mayang.” Ia berdiri setelah Aji beranjak.
“Mau_”
“Jangan banyak tanya, Aya! Kita harus gerak cepat!” Kanti menyela kalimat temannya.
Lemari pakaian Mayang dibuka, pakaian terakhir yang dipakainya yaitu, baju Candra Kanti, diambil oleh sang pemilik.
“Kita sudah sejauh ini, hanya ada dua pilihan – mencari jalan keluar, atau menunggu tiba giliran satu persatu bernasib sama seperti Mayang?”
.
.
Bersambung.
lanjut Thor
ngeri kali