“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 21.
Direktur Keuangan berdehem pelan sebelum melanjutkan presentasinya.
"Seperti yang dapat kita lihat, investasi pada kuartal terakhir mengalami kenaikan yang cukup signifikan...."
"Sebentar."
Suara Tuan Besar menghentikan penjelasannya, seluruh kepala langsung menoleh. Pria tua itu menatap layar beberapa saat, lalu memandang Keivan.
"Keivan."
"Iya, Kek."
"Periksa lagi grafiknya."
Direktur keuangan tersenyum tipis. "Tuan Besar, laporan ini sudah melalui audit internal."
"Kalau begitu tidak masalah diperiksa sekali lagi, bukan?"
Senyum direktur itu perlahan memudar.
Keivan membuka tablet di tangannya. Jemarinya bergerak cepat membandingkan data mentah dengan grafik yang ditampilkan di layar. Semakin lama, alisnya semakin berkerut.
Ruangan mulai dipenuhi bisik-bisik pelan.
Dimas yang duduk di sisi kanan tampak mulai gelisah. Sementara pria berkacamata itu berusaha tetap tenang, meski jemarinya tanpa sadar mengetuk meja.
Lima menit berlalu.
Keivan akhirnya mengangkat wajah.
"Kakek."
"Hasilnya?"
"Grafik ini memang tidak sesuai."
Seketika ruangan menjadi gempar.
"Apa?"
"Mana mungkin?"
Direktur keuangan sontak berdiri. "Tidak mungkin! Saya sudah memeriksanya berkali-kali!"
Keivan memutar tabletnya agar seluruh peserta rapat bisa melihat. "Data laba memang benar. Tetapi grafik pertumbuhan investasi sengaja diperbesar hampir dua puluh persen sehingga terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya."
Beberapa direksi langsung saling berpandangan.
"Itu... benar."
"Kalau dibandingkan datanya memang berbeda."
"Kok bisa lolos audit?"
"Saya... saya tidak tahu." Wajah Direktur keuangan mendadak pucat.
Tuan Besar mengetuk meja sekali. "Cukup!"
Ruangan kembali sunyi.
"Saya tidak peduli ini kesalahan atau kesengajaan." Tatapan tajamnya menyapu seluruh peserta rapat. "Di perusahaan ini, memanipulasi laporan sekecil apa pun adalah pelanggaran berat."
Tak seorang pun berani mengangkat kepala.
Di tengah ketegangan itu, Dewangga justru bicara.
"Liora, Dewangga haus."
Liora menghela napas pelan. "Sabar sebentar, ya. Ini lagi ada kebakaran."
Dewangga langsung membelalak. "Kebakaran? Di mana?"
Liora menunjuk pelan ke arah para direksi yang wajahnya mulai panik. "Itu! Sebentar lagi mereka yang kebakaran. Jadi kamu diam dulu, ya."
"Oh..." Dewangga mengikuti arah telunjuk Liora dengan wajah serius, benar-benar mencari sumber api.
Setelah tidak menemukan apa pun, ia mengangguk patuh. "Oke! Dewangga diam dulu."
Pria itu kembali memainkan boneka anjingnya, seolah sama sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi. Beberapa orang yang sempat panik perlahan mengembuskan napas lega. Untung saja, tadi hanya kebetulan. Mana mungkin Dewangga benar-benar mengerti laporan keuangan.
Di balik wajah polosnya, Dewangga diam-diam memperhatikan reaksi setiap orang. Lalu Dewangga menundukkan kepala agar senyum tipisnya tidak terlihat.
"Keivan." Tuan Besar kembali bersuara.
"Iya, Kek."
"Bentuk tim investigasi! Audit ulang seluruh laporan keuangan tiga tahun terakhir."
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.
"Apa?!"
"Tiga tahun?"
"Seluruh laporan?"
Beberapa wajah langsung berubah pucat. Pria berkacamata itu mengepalkan tangannya di bawah meja.
Sial! Kalau dilakukan audit menyeluruh, cepat atau lambat semua yang selama ini kami tutupi pasti akan terbongkar!
Tatapannya diam-diam beralih ke arah Dewangga, pria itu masih tersenyum sambil memainkan bonekanya.
Bodoh! Tidak mungkin dia mengetahui apa pun.
Meski begitu, pria berkacamata itu tetap merasa tidak tenang. Tatapan Dewangga sesekali membuat tengkuknya merinding. Seolah pria yang dianggap kehilangan akal sehat itu, sedang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Di sisi lain, Liora memperhatikan wajah Dewangga beberapa saat. Perasaannya kembali terusik. Sejak masuk ruang rapat, sudah dua kali Dewangga mengatakan sesuatu yang ternyata benar.
Kebetulan?
Atau...
Liora menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Mikir apa sih aku..."
Mana mungkin Dewangga berpura-pura? Kalau benar begitu, kemampuan aktingnya sudah layak mendapat penghargaan.
Sementara di balik wajah polosnya, Dewangga hanya melirik sekilas ke arah Liora.
Maaf, Liora. Untuk sementara... kau juga harus percaya pada sandiwara ini. Karena hanya dengan cara itulah, aku bisa menemukan siapa dalang yang selama ini bersembunyi di baliknya.
Suasana ruang rapat belum benar-benar kembali tenang. Audit ulang selama tiga tahun bukanlah keputusan kecil. Kalimat Tuan Besar tadi membuat hampir seluruh direksi duduk dengan punggung menegang.
"Agenda selanjutnya adalah evaluasi proyek kawasan industri di wilayah timur." Sekretaris perusahaan melanjutkan agenda berikutnya dengan suara yang sedikit gugup.
Lampu ruangan diredupkan. Layar besar kembali menyala, menampilkan puluhan data dan grafik.
Seorang direktur berdiri. "Proyek ini berhasil meningkatkan nilai aset perusahaan sebesar delapan belas persen. Namun masih ada kendala pada proses pembebasan lahan...."
Dewangga tampak tidak memperhatikan. Ia justru memainkan telinga boneka anjingnya. Sesekali menguap, dan sesekali menoleh ke arah Liora. Benar-benar seperti anak kecil yang bosan mendengarkan rapat orang dewasa. Namun kenyataannya, tak satu kalimat pun dari presentasi itu luput dari pendengarannya.
"Karena itu kami memutuskan menunda pembangunan tahap kedua hingga kuartal berikutnya." Direktur tersebut terus menjelaskan.
Dewangga yang sedari tadi diam, tiba-tiba berbisik pelan. "Liora... Om itu bohong."
"Siapa?"
"Itu." Dewangga menunjuk pria yang sedang presentasi, Liora buru-buru menurunkan tangan Dewangga.
"Sst... jangan menunjuk orang."
"Oke." Dewangga langsung menurut.
Gumaman nya barusan sempat didengar Keivan, tatapan anak itu perlahan mengarah kepada ayahnya. Sekali lagi, ayahnya mengatakan seseorang sedang berbohong. Keivan tidak berani bereaksi, Ia hanya menyimpan kalimat itu dalam pikirannya.
Presentasi akhirnya selesai, Direktur tersebut menundukkan kepala. "Demikian laporan dari saya."
Tuan Besar mengangguk pelan.
"Apakah ada yang ingin memberikan tanggapan?"
Tak seorang pun berbicara, hingga...
"Itu..."
Suara Dewangga kembali terdengar, beberapa direksi refleks memejamkan mata. Pria itu mengangkat tangan seperti murid TK yang ingin menjawab pertanyaan guru.
"Itu..." ucapnya kembali.
"Ada apa, Dewangga?" Tuan Besar tersenyum tipis.
"Om tadi bohong."
Seketika seluruh ruangan kembali sunyi,
Direktur yang baru saja presentasi tertawa kecil. "Tuan bercanda, ya?"
Dewangga menggeleng.
"Nggak."
"Lalu saya bohong soal apa?"
Dewangga terlihat berpikir, Ia menggaruk pelipisnya pelan. "Pokoknya bohong."
Beberapa orang mulai terkekeh.
"Lihat? Mana mungkin beliau mengerti."
"Mungkin cuma menebak."
Direktur itu tersenyum lega. "Terima kasih masukannya, Tuan."
"Sudah ya." Liora menepuk pelan punggung Dewangga.
"Iya."
Pria itu kembali diam. Di balik wajah polosnya, Dewangga justru sedang menghitung segala resikonya. Ia sengaja tidak menjelaskan letak kebohongan itu. Kalau sekarang ia membongkar semuanya, permainan akan selesai terlalu cepat. Ia juga ingin melihat, siapa saja yang akan mulai panik. Dan dari sudut matanya, ia melihat direktur proyek itu diam-diam melirik pria berkacamata. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Dewangga semakin yakin... ada sesuatu diantara mereka berdua.
Di sisi lain, Keivan menangkap tatapan singkat itu. Alisnya langsung berkerut, kenapa Direktur proyek melihat ke arah pria berkacamata setelah ayahnya mengatakan orang itu berbohong?
Keivan perlahan mencatat nama kedua orang tersebut di tabletnya. Sementara itu, Tuan Besar kembali membuka suara.
"Karena tidak ada lagi pertanyaan, kita istirahat lima belas menit."
Kursi-kursi mulai bergeser, para direksi berdiri sambil mengobrol pelan. Sebagian menuju meja minuman, dan yang lainnya keluar ruangan untuk menerima telepon.
"Akhirnya istirahat juga." Liora mengembuskan napas lega, Ia menoleh kepada Dewangga. "Ayo, kita cari es krim."
Mata Dewangga langsung berbinar. "Yeay!"
Pria itu berdiri dengan wajah penuh semangat, persis seperti anak kecil yang hanya memikirkan makanan favoritnya. Namun saat melewati pria berkacamata itu, langkah Dewangga berhenti. Ia menoleh perlahan, dan tatapan mereka bertemu.
Dewangga tersenyum lugu. "Halo, Om."
"Halo, Tuan." Pria berkacamata itu memaksakan senyum.
"Om..." Dewangga memiringkan kepala.
"Iya?"
"Dewangga kenal Om, loh."
Kalimat itu membuat wajah pria berkacamata langsung menegang. "T-Tuan bercanda."
"Nggak." Dewangga menggeleng, Ia tersenyum polos. "Tapi... Dewangga lupa."
Lalu tanpa menunggu jawaban pria berkacamata, ia kembali menggandeng tangan Liora. "Ayo."
"Iya." Liora tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengangguk pelan, sementara dahinya mengernyit tipis, pertanda pikirannya sedang bekerja memikirkan sesuatu.
Mereka berjalan meninggalkan ruang rapat.
Di belakang mereka, pria berkacamata itu masih berdiri mematung. Butiran keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, kalimat Dewangga barusan terus terngiang di kepalanya.
"Dewangga kenal Om."
Apa itu hanya ocehan anak kecil, atau... ingatan Dewangga benar-benar mulai kembali?
sebab, dia takut
korupsi di perusahaan akan terungkap
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala