Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Perlindungan yang Tak Terucap
Pagi itu Rubi terbangun dengan perasaan yang cukup baik.
Cuaca di luar terlihat cerah setelah hujan semalaman. Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar, membuat suasana terasa hangat dan nyaman.
Namun ia tidak tahu bahwa sejak tadi subuh, mansion Dimitri sedang berada dalam pengawasan yang jauh lebih ketat dibanding biasanya.
Semua berawal dari laporan pengawal semalam.
Seseorang mengawasi rumah mereka.
Dan bagi keluarga Dimitri, itu bukan hal yang bisa dianggap sepele.
Terutama bagi Alexander.
Pria itu sudah berada di ruang kerjanya sejak pukul lima pagi. Di hadapannya berdiri beberapa anak buah kepercayaannya.
"Apa hasil penyelidikannya?"
Suara Alexander terdengar dingin.
Salah satu pria maju selangkah.
"Mobil itu menggunakan identitas palsu, Tuan."
Alexander tidak terkejut.
"Itu sudah bisa ditebak."
"Kami masih mencari pemilik sebenarnya."
Ruangan menjadi hening.
Tatapan Alexander terlihat tajam.
"Percepat."
"Baik, Tuan."
Semua orang langsung mengangguk.
Mereka tahu satu hal.
Jika menyangkut keselamatan Rubi dan bayi dalam kandungannya, Alexander tidak akan memberi toleransi sedikit pun.
---
Sementara itu Rubi sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Saat ini ia sedang menikmati sarapan di taman belakang.
Di depannya terdapat berbagai makanan yang sudah disesuaikan dengan menu ibu hamil.
Awalnya Rubi merasa berlebihan.
Namun setelah beberapa kali dimarahi dokter dan diawasi Alexander, ia akhirnya menyerah.
Makan tepat waktu kini menjadi rutinitas.
Saat sedang memotong buah, kepala pelayan datang menghampiri.
"Nyonya muda."
"Iya?"
"Hari ini akan ada beberapa pengawal tambahan di sekitar mansion."
Rubi mengangkat kepala.
"Kenapa?"
Kepala pelayan terlihat ragu.
"Meningkatkan keamanan."
Jawaban itu terdengar terlalu umum.
Namun Rubi tidak terlalu memikirkannya.
"Begitu ya."
Pria tua itu mengangguk.
Meski sebenarnya ia tahu alasan yang sesungguhnya.
Hanya saja Alexander sudah memerintahkan agar Rubi tidak diberi tahu dulu.
Setidaknya sampai mereka mengetahui siapa yang mengawasi mansion.
---
Menjelang siang.
Rubi memutuskan pergi ke perpustakaan.
Beberapa hari terakhir ia sedang membaca novel klasik yang cukup menarik.
Saat sedang memilih buku di rak, suara langkah kaki terdengar.
Ia langsung menoleh.
Alexander.
Pria itu baru saja masuk.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Biasanya Alexander langsung menuju ruang kerja atau menerima telepon bisnis.
Tapi sekarang ia justru berdiri di depan rak buku sambil memperhatikan Rubi.
"Kenapa?"
tanya Rubi bingung.
Alexander menggeleng.
"Tidak apa-apa."
"Kalau tidak apa-apa, kenapa melihat saya begitu?"
Pria itu terdiam beberapa detik.
Lalu berkata,
"Hanya memastikan kau baik-baik saja."
Jantung Rubi langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Akhir-akhir ini Alexander sering mengatakan hal-hal seperti itu.
Dan entah kenapa selalu berhasil membuatnya gugup.
Padahal wajah pria itu tetap datar.
Tetap dingin.
Namun perhatian-perhatian kecilnya terasa nyata.
Rubi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Saya baik-baik saja."
Alexander mengangguk.
Namun matanya tetap mengawasi.
Seolah takut sesuatu terjadi saat ia lengah.
---
Sore harinya dokter kembali datang untuk pemeriksaan singkat.
Setelah selesai memeriksa tekanan darah dan kondisi kehamilan Rubi, dokter tersenyum puas.
"Kondisinya sangat baik."
"Syukurlah."
kata Rubi.
Dokter kemudian menatap Alexander.
"Tuan juga harus mengurangi stres."
Rubi langsung menoleh.
Alexander mengangkat alis.
"Apa hubungannya?"
"Karena akhir-akhir ini Tuan terlihat lebih tegang dari biasanya."
Rubi hampir tertawa.
Dokter ternyata cukup berani.
Biasanya orang-orang langsung gugup saat berbicara dengan Alexander.
Namun dokter keluarga Dimitri sudah mengenalnya bertahun-tahun.
Jadi tidak terlalu takut.
Alexander hanya mendesah pelan.
Sementara dokter tersenyum.
"Saya serius."
Setelah pemeriksaan selesai, dokter pulang.
Namun ucapan terakhirnya membuat Rubi penasaran.
Saat hanya tersisa mereka berdua, Rubi akhirnya bertanya.
"Anda sedang stres?"
Alexander yang sedang membaca laporan langsung mengangkat kepala.
"Tidak."
"Dokter bilang begitu."
"Itu pendapatnya."
Rubi menahan senyum.
"Berarti benar."
Alexander menatapnya beberapa saat.
Lalu menutup dokumen yang ada di tangannya.
"Kau suka membantah sekarang."
Rubi langsung tertawa.
"Saya cuma jujur."
Untuk sesaat suasana menjadi jauh lebih ringan.
Dan tanpa sadar, mereka mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama dibanding sebelumnya.
---
Malam tiba.
Hujan kembali turun.
Kali ini lebih deras dibanding semalam.
Petir sesekali menyambar di kejauhan.
Rubi yang sedang berada di kamar memutuskan membaca buku sebelum tidur.
Namun tiba-tiba listrik sempat berkedip.
Membuat ruangan menjadi gelap beberapa detik.
"Astaga."
gumamnya.
Tak lama kemudian lampu kembali menyala.
Namun entah kenapa hati Rubi mendadak tidak tenang.
Mungkin karena suara petir.
Atau mungkin karena kehamilannya membuat perasaannya lebih sensitif.
Saat itulah terdengar ketukan pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Dan Alexander masuk ke dalam.
Rubi sedikit terkejut.
"Kenapa?"
Alexander melirik ke arah jendela yang dihantam hujan.
"Listrik sempat mati."
"Iya."
"Kau takut petir?"
Pertanyaan itu membuat Rubi tertawa kecil.
"Saya bukan anak kecil."
Alexander mengangguk.
Namun bukannya pergi, ia justru tetap berdiri di sana.
Rubi mulai bingung.
"Jadi?"
Alexander terlihat seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
Lalu akhirnya berkata,
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
Lagi.
Kalimat itu lagi.
Dan anehnya selalu berhasil membuat Rubi kehilangan kata-kata.
Ia hanya bisa tersenyum kecil.
"Saya baik-baik saja."
Alexander tampak sedikit lega.
Namun saat hendak pergi, sesuatu terjadi.
Rubi tiba-tiba meringis pelan.
Alexander langsung berbalik.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak apa-apa."
Rubi memegang perutnya.
"Hanya kaget sedikit."
Namun Alexander sudah berada di sampingnya dalam hitungan detik.
"Kau kesakitan?"
"Tidak."
"Beri tahu dokter?"
"Tidak perlu."
Rubi hampir tertawa melihat ekspresi serius pria itu.
Padahal hanya gerakan bayi biasa.
Kemudian ia mengambil tangan Alexander.
Pria itu langsung membeku.
Rubi sendiri baru sadar setelah melakukannya.
Namun terlambat.
Tangannya sudah menggenggam tangan Alexander.
Dengan sedikit malu, Rubi meletakkannya di atas perutnya.
"Tenang."
katanya pelan.
"Dia cuma bergerak."
Alexander terdiam.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Tap.
Gerakan kecil itu terasa jelas.
Alexander membeku.
Lalu gerakan kedua datang.
Dan ketiga.
Untuk pertama kalinya ia merasakan bayi itu bergerak saat Rubi sadar.
Bukan diam-diam seperti malam sebelumnya.
Rubi tersenyum melihat reaksinya.
"Kuat, kan?"
Alexander tidak menjawab.
Tatapannya tertuju pada perut Rubi.
Ada sesuatu yang berubah di matanya.
Sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh dirinya sendiri.
Lalu tanpa sadar ia berkata pelan,
"Dia benar-benar ada."
Kalimat sederhana itu membuat Rubi terdiam.
Karena untuk pertama kalinya ia mendengar nada suara yang begitu lembut dari Alexander Dimitri.
Dan malam itu, di tengah suara hujan yang terus turun di luar jendela, keduanya tidak menyadari bahwa hubungan mereka semakin dekat.
Sedikit demi sedikit.
Tanpa paksaan.
Tanpa kesepakatan.
Tanpa mereka sadari.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉