NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SENTUHAN YANG MENYALAKAN BARA

Hawa dingin di luar pondok semakin pekat saat kabut siang mulai turun, namun di dalam ruangan, panas yang berbeda perlahan-lahan mulai terbangun. Setelah semua kekacauan dibersihkan, ruangan terasa jauh lebih sempit. Hanya ada suara gemercik api dari perapian dan deru napas mereka yang saling bersahutan. Kelelahan fisik setelah bertempur dan bekerja keras mendadak berubah menjadi ketegangan lain yang jauh lebih mendebarkan—sebuah tarikan magnetis yang tak lagi bisa mereka sangkal.

Dion duduk di tepi ranjang bulu serigala, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu. Kemeja hitam tipisnya yang setengah terbuka memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun dengan teratur. Mata abu-abu badainya tidak pernah lepas dari Mayang, yang saat ini sedang berdiri di dekat perapian, mencoba menghangatkan jemarinya yang masih terasa kaku.

"Kemarilah, Mayang," panggil Dion, suaranya terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya, mengirimkan getaran halus yang langsung merayap ke sumsum tulang Mayang. "Kau masih gemetar. Hangatnya api saja tidak akan cukup untuk memulihkan energimu."

Mayang menoleh perlahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Dion bisa mendengarnya dari kejauhan. Namun, kaki Mayang seolah memiliki jalannya sendiri. Ia melangkah mendekat, perlahan namun pasti, hingga berdiri tepat di depan Dion.

Tanpa sepatah kata pun, Dion meraih pergelangan tangan Mayang yang halus, lalu menariknya lembut hingga Mayang terduduk di pangkuannya. Mayang tersentak kecil, tangannya refleks bertumpu pada bahu kekar Dion yang telanjang di balik robekan kain. Sentuhan kulit ke kulit itu seketika menyalakan percikan api yang membuat seluruh tubuh Mayang mendadak lemas.

"Dion..." bisik Mayang, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan ruangan. Sepasang matanya yang jernih menatap bibir tegas Dion dengan kepasrahan yang manis.

"Kau telah menyelamatkan nyawaku semalam dengan sihirmu, Mayang," bisik Dion tepat di depan wajah Mayang. Embusan napasnya yang panas menerpa permukaan kulit leher Mayang, membuat gadis itu meremang hebat. "Dan sekarang, darahku bergejolak setiap kali kau berada sedekat ini. Aku tidak bisa menahannya lagi."

Dion perlahan menaikkan tangannya, menyusup ke balik rambut hitam legam Mayang yang bergelombang, lalu mencengkeram tengkuknya dengan kelembutan yang menuntut. Ketika bibir mereka akhirnya bertemu, itu bukan lagi sekadar ciuman penyelamatan seperti semalam. Ini adalah penyatuan gairah yang telah lama tertahan di balik pekatnya misteri lembah.

Ciuman Dion terasa panas, dalam, dan penuh intensitas dewasa yang membuat Mayang kehilangan seluruh kekuatan untuk menolak. Mayang melenguh rendah di dalam pautan bibir mereka, membiarkan lidah Dion menjelajah dan menguasai rongga mulutnya dengan dominasi yang memabukkan. Kedua tangan Mayang yang semula ragu kini merayap naik, meremas rambut hitam Dion yang berantakan, menarik pria itu agar semakin tenggelam dalam sensasi yang mereka ciptakan bersama.

Hasrat yang terbakar membuat suasana pondok terasa semakin gerah. Tangan besar Dion yang hangat perlahan turun dari tengkuk Mayang, merayap perlahan melewati bahu, hingga jari-jarinya menemukan tali pengikat jubah beludru merah milik Mayang. Dengan satu gerakan terampil, Dion menarik tali tersebut hingga jubah tebal itu merosot jatuh ke lantai kayu, menyisakan Mayang yang kini hanya mengenakan gaun tipis berwarna putih gading.

Dion melepaskan pagutan bibir mereka sejenak, beralih menurunkan kecupannya ke rahang tegas Mayang, lalu turun ke leher jenjangnya yang seputih susu. Setiap sentuhan bibir dan hisapan lembut Dion di lehernya membuat Mayang mendongak, meremas bahu Dion semakin erat seiring dengan desahan halus yang mulai lolos dari sela-sela bibirnya yang memerah.

"Kau sangat indah, Mayang... teramat indah," bisik Dion serak, suaranya dipenuhi dahaga yang mendalam.

Jemari tangan Dion yang kasar merayap naik dari pinggang Mayang, menyusuri lekuk tubuhnya di balik kain gaun yang tipis, memberikan sensasi terbakar di setiap jengkal kulit yang dilewatinya. Mayang bisa merasakan ketegangan dan gairah kejantanan Dion yang mendesak di bawah tubuhnya, membuat akal sehatnya benar-benar luntur digantikan oleh gelombang kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya.

Dion perlahan merebahkan tubuh Mayang ke atas ranjang bulu serigala yang empuk, memosisikan tubuhnya yang besar dan berat di atas tubuh mungil wanita itu tanpa benar-benar menekannya. Mata abu-abu Dion yang kini menggelap sepenuhnya menatap Mayang yang terengah-engah di bawah kuasanya, dengan rambut hitam yang tersebar berantakan di atas ranjang—sebuah pemandangan yang mengikis habis sisa-sisa pengendalian diri sang pemburu kabut.

Tangan Dion perlahan menarik turun bagian atas gaun tipis Mayang, mengekspos tulang selangka dan puncak dadanya yang indah di bawah temaram cahaya jingga perapian. Dion menunduk, menyapukan bibirnya di atas kulit lembut tersebut, sementara tangan kirinya mengunci jemari tangan Mayang di atas kepala mereka, menyatukan detak jantung mereka dalam satu ritme gairah yang liar dan tak terbendung di balik dinding pondok yang terisolasi. Malam itu, di tengah kutukan kabut yang mengintai di luar, mereka telah menyerahkan diri sepenuhnya pada jerat gairah yang mengikat jiwa dan raga mereka menjadi satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!