NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 16

Dunia Fana – Dapur Gubuk Keluarga Shi.

Asap putih mengepul dari cerobong bambu. Di dalam dapur yang sederhana, Gu Qing Yi sedang menyiapkan talenan kayu dan sebilah pisau dapur yang baru diasah.

"Aku pulang, Istriku!" seru Shi Hao dari luar, meletakkan keranjang anyamannya di atas meja dapur. "Lihat apa yang kudapatkan hari ini. Kakek Li dan Gou Dan sampai tidak bisa berkata-kata."

Qing Yi tersenyum lembut, membersihkan tangannya dengan lap kain. Dia menengok ke dalam keranjang dan melihat seekor Ikan Mas emas raksasa yang tampak sangat tidak wajar gemuknya.

"Wah, besar sekali, Suamiku! Dan sisiknya sangat berkilau," puji Qing Yi dengan nada kagum seorang istri yang bangga. "Kau sungguh hebat memancing."

"Tentu saja. Ikan ini sangat sopan, dia melompat sendiri ke kailku," kekeh Shi Hao, berjalan menuju gentong air untuk mencuci tangannya yang terkena lumpur.

Saat punggung Shi Hao berbalik, senyum lembut di wajah Qing Yi mendadak lenyap.

Mata Raja Dewa miliknya menyipit, memancarkan ketajaman yang bisa menembus sembilan lapisan ilusi. Dia menatap ikan mas gemuk di dalam keranjang itu.

Ikan mas itu yang sebenarnya adalah Siluman Belut Darah Nether tingkat Inti Emas langsung berkeringat dingin dari balik sisik fananya. Ia mencoba menahan napas agar insangnya tidak bergerak, berpura-pura mati dengan sangat totalitas.

"Siluman Belut Nether?" batin Qing Yi, matanya berkilat dingin. "Kultivasi Inti Emas? Beraninya makhluk kotor ini mendekati suamiku..."

Ikan itu menelan ludah (sesuatu yang tidak lazim dilakukan ikan). Jika ikan bisa menangis, ia pasti sudah menangis darah sekarang. Menghadapi Kaisar Asura di sungai tadi sudah membuatnya nyaris gila, sekarang dia harus berada di atas talenan seorang Raja Dewa yang aura membunuhnya jauh lebih kejam?

"Tolong... biarkan aku mati dengan cepat, Nyonya yang Agung..." rengek jiwa siluman itu dalam telepati yang sangat lemah, pasrah pada takdirnya.

"Ikan yang sangat... segar," gumam Qing Yi, sengaja menekan suku kata terakhir.

Qing Yi mengambil ikan itu. Dengan kecepatan yang bahkan tak bisa dilihat oleh dewa biasa, pisau dapur fana di tangannya berkelebat.

SRING! SRING! SRING!

Dalam seperseribu detik, Qing Yi membuang seluruh sisik yang mengandung racun Nether, memotong Inti Emas siluman itu menjadi debu bumbu penyedap, dan membersihkan seluruh organ dalamnya tanpa meneteskan setetes darah kotor pun ke meja.

"Selesai," Qing Yi tersenyum lagi.

Bagi siluman itu, kematiannya begitu cepat dan tanpa rasa sakit hingga jiwanya merasa sangat bersyukur saat terlempar ke Mata Air Samsara.

Qing Yi memanaskan kuali. Dia tidak menggunakan kayu bakar biasa. Dari ujung jari telunjuknya, sepercik Api Teratai Hijau Surgawi meluncur diam-diam ke bawah kuali kayu, menyamar sebagai api fana. Api surgawi itu merebus daging siluman tingkat tinggi itu, memurnikan seluruh Qi jahatnya dan mengubahnya menjadi esensi nutrisi.

Tak lama, semangkuk besar Sup Ikan Pedas dengan kuah merah keemasan dihidangkan di atas meja bambu. Aromanya sungguh luar biasa, sebuah wangi yang bisa membuat kultivator gila karena saking padatnya energi kehidupan di dalamnya.

Shi Hao duduk di kursi, menghirup aroma itu dalam-dalam.

"Masakanmu selalu yang terbaik, Qing Yi," Shi Hao menyendok kuah sup dan meminumnya. "Hmm... tekstur dagingnya sedikit kenyal, mengingatkanku pada daging ular air, tapi rasanya sangat gurih."

"Makanlah yang banyak, Suamiku. Itu bagus untuk memulihkan kaki kananmu," senyum Qing Yi, menopang dagu menatap suaminya makan.

Di bawah kolong meja, Hitam Satu (Anjing Neraka Bermata Enam) sedang berbaring dengan tenang. Air liurnya menetes melihat tulang belulang ikan yang disisihkan Shi Hao di piring kecil.

"Ini, Hitam Satu. Kau juga harus makan," Shi Hao melempar tulang ikan mas (yang sebenarnya adalah tulang punggung Siluman Belut Nether) ke lantai.

Hap!

Hitam Satu menangkap tulang itu dan mengunyahnya.

KREK! KREK!

Begitu sumsum tulang belut Nether yang telah dimurnikan oleh Api Teratai Surgawi itu masuk ke perut Hitam Satu...

BOOM!

Di dalam perut anjing iblis itu, sebuah ledakan Qi terjadi. Fluktuasi kultivasi Hitam Satu yang tadinya tertahan di batas iblis kelas menengah, tiba-tiba menerobos! Keenam matanya bersinar kemerahan, otot-otot di tubuhnya mengeras, dan tanduk kecil mulai menyembul dari balik bulu di kepalanya. Dia telah berevolusi menjadi Raja Anjing Nether.

Hitam Satu langsung tiarap, mencium lantai berulang kali di depan kaki Shi Hao, ekornya mengibas gila-gilaan sebagai tanda terima kasih yang tak terhingga atas "sisa makanan" level dewa tersebut.

Bahkan anjing di rumah ini kini memiliki kekuatan tempur yang setara dengan sesepuh agung di sekte besar!

Di Atas Awan Galaksi Debu Angin – Perbatasan Dunia Fana.

Sementara keluarga kecil itu menikmati sup ikan yang hangat, aroma kaldu surgawi yang dimasak dengan Api Teratai Hijau itu perlahan-lahan menguap ke udara. Meskipun Qing Yi sudah memasang penghalang isolasi, setitik aroma tak sengaja lolos dan terbawa angin hingga ke lapisan awan.

Di atas awan, sebuah pedang terbang meluncur dengan kecepatan tinggi.

Di atas pedang itu, berdiri seorang pemuda tampan mengenakan jubah putih bersulam awan perak. Rambutnya diikat rapi dengan jepit giok, dan wajahnya memancarkan arogansi khas putra mahkota sekte.

Dia adalah Zhao Xuan, murid inti berbakat dari Sekte Pedang Awan sekte kultivasi kelas menengah yang menguasai pegunungan di utara Kota Batu. Kultivasinya baru saja mencapai pertengahan tahap Pembentukan Pondasi (Foundation Establishment). Bagi penduduk fana, dia adalah dewa yang bisa terbang.

Zhao Xuan sedang dalam perjalanan kembali ke sektenya setelah memungut pajak obat-obatan dari kota-kota fana.

Tiba-tiba, Zhao Xuan mengendus udara. Matanya terbelalak lebar.

"Bau apa ini?!" seru Zhao Xuan, menghentikan laju pedang terbangnya.

Dia menghirup udara dalam-dalam. Qi murni yang bercampur dengan energi kehidupan tingkat tinggi membasuh paru-parunya. Hanya dengan menghirup aromanya saja, kemacetan di Dantian Zhao Xuan terasa sedikit melonggar.

"Ya Surga... Ini... ini aroma dari Pusaka Spiritual Tingkat Surga! Atau mungkin Ramuan Pil Abadi yang baru matang!" jantung Zhao Xuan berdetak gila-gilaan.

Di dunia fana yang miskin Qi ini, pusaka spiritual tingkat bumi saja sudah bisa memicu perang antar sekte. Apalagi pusaka tingkat surga! Jika dia bisa mendapatkannya, dia pasti akan diangkat menjadi Pewaris Ketua Sekte.

Zhao Xuan memfokuskan pandangannya ke bawah, menembus lapisan awan. Matanya terkunci pada sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan bambu. Asap tipis mengepul dari salah satu cerobong gubuk reot di ujung desa.

"Desa Angin Lembut?" Zhao Xuan menyeringai serakah. "Hahaha! Benar-benar keberuntungan dari Surga! Sebuah pusaka tiada tara muncul di desa petani lumpur yang bahkan tidak memiliki satu pun kultivator! Pusaka itu menungguku untuk diambil!"

Tanpa ragu, Zhao Xuan memutar arah pedangnya, menukik tajam menuju desa fana tersebut bagaikan elang yang mengincar anak ayam.

Batas Hutan Bambu.

Lima Penjaga Teratai sedang bermeditasi di atas dahan bambu, mencerna energi dari singkong rebus kemarin.

Telinga Shui Di bergerak. Pemuda berambut biru itu membuka mata malasnya dan menatap ke arah langit.

"Ada yang datang," gumam Shui Di. "Seseorang terbang menggunakan pedang rongsokan."

Lu Bai membuka matanya. Visi spiritual tingkat Soul Transformation-nya dengan mudah menangkap sosok Zhao Xuan yang masih berjarak lima puluh mil di udara. Lu Bai mendengus jijik melihat tingkat kultivasi pemuda itu.

"Hanya lalat tingkat Pembentukan Pondasi," kata Lu Bai dingin.

Bagi Lu Bai, membunuh kultivator Pembentukan Pondasi itu lebih mudah daripada meremas tahu. Jika dia meniupkan napasnya sedikit saja, pemuda bernama Zhao Xuan itu akan hancur menjadi abu bersama pedang terbangnya.

"Dia terbang mengarah langsung ke gubuk Tuan Besar. Sepertinya hidung anjingnya mencium aroma sisa masakan Nyonya," kata Hei Gen, sudah meraba belati di pinggangnya. "Biar aku penggal kepalanya sekarang."

"Tunggu," Lu Bai mengangkat tangan, menahan Hei Gen. Senyum licik dan sedikit menyedihkan muncul di wajah tampan pemimpin bayaran itu.

"Biarkan dia masuk," kata Lu Bai.

"Apa?! Kau gila, Kak Lu Bai? Jika lalat itu mengganggu istirahat siang Tuan Besar, Nyonya akan merebus kita hidup-hidup!" protes Hong Hua.

Lu Bai memutar matanya. "Kalian tidak mengerti. Tuan Besar sedang bosan hidup sebagai orang buta biasa. Jika kita terus-terusan membunuh setiap lalat yang mendekat, Tuan Besar tidak akan punya hiburan."

Lu Bai mengelus dagunya yang tidak berjenggot. "Selain itu, tidakkah kalian penasaran... bagaimana cara sang Kaisar Asura menghadapi seorang 'Tuan Muda Sombong' kelas fana dengan menggunakan Mortal Dao-nya? Ini adalah tontonan langka yang tidak bisa dibeli dengan sepuluh ribu batu roh!"

Keempat elit lainnya terdiam. Perlahan, senyum nakal dan rasa penasaran yang sama mulai merayap di wajah mereka.

"Kau benar juga," kekeh Jin Yu sambil menjilat permen gulanya. "Lalat sombong itu tidak akan bisa melukai sehelai rambut pun dari Tuan Besar. Mari kita siapkan kursi dan menonton sandiwara gratis."

Kelima pembunuh elit dari Alam Atas itu mundur kembali ke dalam bayangan bambu, membiarkan pertahanan langit terbuka lebar. Mereka semua setuju untuk membiarkan pemuda arogan itu masuk ke kandang naga dengan suka rela.

Di Atas Langit Desa Angin Lembut.

Zhao Xuan tidak tahu bahwa dia baru saja dibiarkan hidup oleh lima malaikat maut. Dia mendarat dengan anggun di jalan tanah tepat di depan gubuk Shi Hao.

Jubah putihnya yang melambai-lambai tanpa hembusan angin membuat penampilannya terlihat sangat mencolok di tengah desa. Beberapa penduduk desa yang lewat menatapnya dengan mulut ternganga, mengira Dewa Pelindung Gunung baru saja turun.

Zhao Xuan tidak mempedulikan rakyat jelata. Matanya yang serakah menatap langsung ke pintu bambu gubuk Shi Hao. Bau pusaka surgawi itu berasal dari dalam sana!

"Penduduk desa!" teriak Zhao Xuan dengan suara yang dikeraskan menggunakan Qi, membuat getaran yang menyakitkan telinga fana.

"Aku, Zhao Xuan, Tetua Muda dari Sekte Pedang Awan, memerintahkan pemilik gubuk rongsokan ini untuk keluar! Serahkan Pusaka Spiritual yang sedang kalian sembunyikan, dan aku mungkin akan mengampuni nyawa hina kalian!"

Pintu bambu itu berderit pelan.

Terbuka perlahan-lahan.

Dari balik bayangan pintu, Shi Hao melangkah keluar. Dia masih mengenakan kain putih di mata kirinya, memegang tongkat bambu lapuk. Wajahnya yang damai terlihat sedikit bingung, persis seperti kakek tua yang terbangun dari tidur siangnya karena tetangga sebelah memutar musik terlalu keras.

"Permisi, Tuan Muda," sapa Shi Hao ramah, menggaruk belakang kepalanya. "Pusaka spiritual apa maksudmu? Di rumah ini hanya ada panci sayur dan tongkat bututku."

Zhao Xuan menatap Shi Hao dari atas ke bawah. Melihat bahwa pria di depannya hanyalah manusia cacat tanpa fluktuasi Qi sedikit pun, kesombongannya membumbung hingga menembus awan.

"Dasar cacat bermata buta! Jangan berani berbohong di hadapan Dewa Pedang!" bentak Zhao Xuan, mencabut pedang peraknya yang berkilat. "Berlututlah dan panggil istrimu untuk menyerahkan barang berharga itu padaku, atau akan kupotong kaki kirimu agar serasi dengan kakimu yang pincang itu!"

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!