NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

...~Mas Arka VS Lettu Arka~...

Naira baru saja melangkah ke ruang tengah setelah mendengar suara motor Arka yang datang. Namun, sosok yang kini berdiri di hadapannya terasa sangat asing.

Tidak seperti biasanya, pria itu kini mengenakan setelan PDH berwarna hijau tua yang disetrika sangat kaku, dengan garis lipatan yang melipit rapi di bagian dada dan lengan. Rambut cepaknya tertata sempurna dengan sedikit sentuhan minyak rambut. Di kedua kerah kemejanya, dua balok emas berkilau tegas, mempertunjukkan pangkat Letnan Satu yang disandangnya.

Wajah pria itu tampak jauh berbeda dari versinya yang merengek manja saat subuh tadi. Garis wajahnya mengeras, tegak, dan dingin—terkesan jauh lebih berwibawa, bahkan sedikit intimidatif. Di bahunya tersampir sebuah ransel hitam besar, sementara di lengannya, sebuah jaket motor hitam tergantung rapi.

Untuk sesaat, Naira menyesal pernah bersikap centil seperti tadi pagi. "Mas Arka?"

"Nai."

"Ayo masuk dulu. Mas sudah sarapan?"

"Sudah. Hari ini aku harus berangkat."

Naira masih memandangi calon suaminya lekat-lekat. Untuk kali pertama, ia melihat langsung Arka dalam balutan pakaian dinas lengkap. Sosok itu bukan lagi pria yang biasa membantunya menjemur baju, melainkan seorang perwira yang memikul tanggung jawab besar di pundaknya. Seolah menyadari pandangan Naira yang tertuju pada seragamnya, pria itu buru-buru mendekat ke arah kursi rotan di ruang tengah untuk meletakkan ranselnya.

"Aneh, ya, Nai?"

Arka segera mengenakan jaket hitamnya, menutupi kemeja dinasnya, menyisakan celana panjang yang disetrika klimis dengan sepatu pantofel hitam yang mengilap sempurna.

Naira menggeleng pelan. "Enggak. Cuma... baru kali ini aku lihat Mas Arka pakai baju dinas."

"Nanti juga terbiasa," celetuk Arka. Kalimat sederhana itu membuat rona wajah Naira kian memerah.

"Aku juga sudah sarapan. Kita berangkat sekarang saja."

Keduanya pun segera berpamitan, lalu melangkah keluar untuk menaiki sepeda motor. Arka memindahkan ransel yang semenjak tadi mencantol di pundak, mendekapnya di depan—tepat di atas tangki.

Naira mencium lekat wangi mint segar, pomade, dan jaket Arka. Ia mulai sadar, setelah ini Arka akan pergi cukup lama.

"Mas."

"Iya, Nai." Arka memelankan laju motornya.

"Hmmm..." Gadis itu ragu untuk bertanya. Ia mengulum bibirnya.

"Ada apa, Nai?"

Naira mengeratkan tangannya di jaket Arka sesaat. Pria itu melirik ke arah bawah lewat kaca spion. "Kenapa?" tanyanya lagi.

"Mas Arka balik... hmmm, maksudku bisa cuti lagi kapan?" tanya Naira mendekat ke sisi helm.

Mata Arka berkedip beberapa kali dengan gerakan lamban. "Masih kurang tahu, Nai. Yang ini saja cuti tahunan yang diborong."

"Oh..."

"Terus?"

"Nanti sore bakal rembukan tanggal baiknya," ucap gadis itu lembut.

"Bagus dong, lebih cepat lebih baik."

Naira tersenyum malu. Ia mencubit ringan pinggang pria itu. "Mas ini..."

"Kenapa?" Tanya Arka sambil menghentikan motornya tepat di gerbang sekolah. Pria itu bergegas mematikan mesinnya, lalu memindahkan tas ransel ke belakang setelah Naira turun dari motor.

"Nanti malam aku kabarin ya." Ucap Arka menatap gadisnya dengan lekat beberapa lama.

Naira mengangguk lembut. Netranya menatap ke arah Arka yang kian kaku di matanya. "Hati-hati ya, Mas."

Arka melempar senyumnya dengan lembut. "Tentu."

Pria itu segera melajukan sepeda motornya menjauh. Punggungnya hilang ditelan belokan pertigaan.

Tiba-tiba, rasa kosong kini mengisi dada Naira.

Tidak ada lagi pria yang ikut sarapan di rumahnya, Arka yang bermain layangan, atau sekadar membeli makanan bersama. Sesaat pandangannya jatuh pada jemari manisnya. Cincin itu tersemat dengan kilauan samar, terkena cahaya matahari pagi.

Namun di sisi lain, Arka melajukan motornya dengan hati yang gusar. Beberapa kali matanya melihat ke arah jam tangan. Butuh waktu satu hingga dua jam untuknya sampai ke markas batalyon.

Begitu sampai di ruang kantor staf, banyak tugas yang menantinya. Kehadiran Arka di sana seolah mengisi kekosongan yang telah lama ditinggalkannya.

Sementara itu, Arka melapor ke ruang Komandan Kompi dengan sedikit gugup. Seorang pria tengah duduk di balik meja kerjanya, mengenakan seragam hijau tua dengan tiga balok emas di masing-masing kerahnya.

"Lapor Kapten, Arka Wiguna telah menyelesaikan masa cutinya," ucap Arka dengan suara bariton yang tegas dan keras, sembari memberi hormat.

"Baik, Lettu Arka. Laporan saya terima. Selamat bergabung kembali," balas Kapten Yudha hangat.

Arka mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Lapor Kapten, saya ingin menyampaikan izin lisan untuk menikah."

Kapten Yudha menatapnya lama, kerutan di dahinya tampak samar. "Sama siapa?"

Arka terdiam sesaat, mengingat kembali senyum gugup Naira dengan rona wajah merahnya. "Lapor Kapten, dengan Naira. Guru."

"Kapan kamu pacaran?"

"Kami baru kenal satu minggu."

Kapten Yudha hampir menyemburkan air yang tengah diminumnya. Ia menatap sosok perwira mudanya yang terkenal kaku dan berintegritas tinggi pada pekerjaan itu dengan tidak percaya.

"Wah... Dokter militer Laudya ternyata kalah sama yang baru kenal," kekeh Kapten Yudha pelan.

Mendengar nama itu, garis rahang Arka sedikit mengeras.

"Sudah, jangan kaku. Selamat. Dan kamu bisa menanyakan berkas ke staf personalia." Kapten Yudha menatapnya cukup lama, senyum usilnya kembali muncul. "Karena kamu tampak bugar, malam ini tugas piket Ksatrian ditanggungkan padamu."

Tubuh tegap Arka mendadak beku. Pandangan matanya masih lurus dengan bahu yang tegap. "Siap, laksanakan, Kapten!"

Setelah ia undur diri, pria itu menatap lama lorong kantor staf yang panjang. Sesaat ia merasa ragu. Tugas piket Ksatrian adalah pertanda ia harus siap terjaga dan tidak tidur hingga pagi untuk berpatroli.

Bahkan, mungkin untuk sekadar menepati janji menelepon saja, Arka tidak akan bisa menepatinya.

...----------------...

Sementara itu, di dalam rumah Naira, di sebuah pedesaan yang berjarak puluhan kilometer, gadis itu masih duduk di ruang tengah keluarganya sambil menatap lurus ke arah telepon rumah.

Detik jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi sama sekali tak ada dering yang memecah keheningan dari balik benda putih gading itu.

"Tidur saja, Nai," ucap Ayahnya pelan, menyadari putrinya terus menanti panggilan dari sang calon suami. Padahal, urusan penentuan hari baik pernikahan mereka sudah selesai dirembuk sejak sore tadi.

"Tapi..." Wajah Naira kian kecut, "Mas Arka janji mau telepon, Pak."

"Dia kerja dengan aturan, Nai."

"Tapi masa telepon semenit dua menit saja tidak bisa?" gumam Naira lirih, ada nada kecewa yang tertahan di sana.

Ayah Naira menghela napas pendek, lalu berjalan mendekat dan berdiri di hadapan putrinya yang masih duduk dengan gusar di dekat meja khusus telepon rumah itu.

"Jangan ganggu kerjaannya, Nai. Menjadi tentara ini cita-cita lamanya. Dia bahkan berani meninggalkan kuliah Hukum demi masuk Akmil. Padahal, ayahnya berharap besar Arka bisa jadi pengacara hebat seperti Om Seno."

Mata Naira mengerjap pelan. Dadanya mendadak berdesir aneh.

Perkataan ayahnya seolah menyingkap sebuah tirai besar yang selama ini tidak ia ketahui. Di balik cincin yang melingkar di jarinya dan di balik sikap Arka selama satu minggu ini, ada dunia lain yang begitu keras yang telah membentuk pria itu.

Naira menunduk, menatap pantulan cahaya lampu di permukaan benda putih gading yang tetap membisu. Di dalam keheningan malam yang larut, ia mulai menyadari satu hal yang mendesak relung hatinya. Ternyata, ia memang belum mengenal baik siapa sosok Letnan Satu Arka Wiguna yang sesungguhnya.

Dia hanya mengenalnya sebagai Mas Arka-nya saja.

...----------------...

1
NonaAns
🤭 tiba2 pengen batuk. uhuuuk uhuuukk
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!