NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

BAB 20: Sisa Reruntuhan yang Dingin dan Anggota Baru di Lantai Teratas

Di sudut pinggiran kota Jakarta yang bising dan berdebu, sebuah kontrakan sempit dengan dinding cat yang terkelupas menjadi saksi bisu runtuhnya kejayaan keluarga Ileana.

Ruangan pengap itu dipenuhi kardus-kardus pakaian yang belum sempat dirapikan. Tidak ada lagi lampu kristal, tidak ada lagi pelayan yang berlarian memenuhi perintah, dan tidak ada lagi aroma parfum mahal yang biasa menguar.

Narendra Ileana duduk di atas kursi plastik yang reyot dengan kepala tertelungkup di atas kedua tangannya. Kemeja lamanya yang longgar tampak kusut, mencerminkan beratnya beban finansial yang kini menghimpit pundaknya. Surat penyitaan resmi dari pengadilan atas rumah mewah mereka di Menteng tergeletak mengenaskan di atas meja kayu yang bergoyang.

"Pa... bagaimana dengan uang sekolah Dion bulan depan?" tanya Larasati dengan suara yang serak dan parau.

Wanita paruh baya yang dulu dikenal sebagai sosialita kelas atas itu kini tampil tanpa polesan kosmetik sama sekali. Rambutnya diikat asal-asalan, dan lingkaran hitam di bawah matanya tampak begitu tebal karena terlalu banyak menangis. Pakaian yang dikenakannya adalah baju rumahan biasa yang dibeli dari pasar dekat kontrakan.

"Uang sekolah apa lagi sih, Ma?! Pikirin tuh nasib kuliah aku di universitas swasta mahal kemarin! Sekarang semua temen-temen geng sosialita ku udah pada tahu kalau kita bangkrut! Aku malu setengah mati!"

Sebuah suara melengking penuh emosi memotong ucapan Larasati. Nadine, kakak perempuan Elva, melangkah keluar dari bilik kamar sempit dengan wajah cemberut dan lipatan tangan di dada. Berbeda dengan Elva yang selalu tampil polos, Nadine biasanya tidak bisa lepas dari barang branded. Namun kini, dia hanya bisa meratapi nasibnya dengan kaos oblong tipis dan celana jins yang mulai pudar warnanya. Kuku-kuku tangannya yang biasa dirawat di salon mewah kini tampak polos tanpa riasan hiasan.

"Nadine, jaga ucapan kamu! Papa lagi pusing!" bentak Narendra tiba-tiba, suaranya menggelegar di dalam ruangan sempit itu hingga membuat Larasati dan kedua anaknya tersentak kaget. Narendra mendongak dengan mata yang memerah berkaca-kaca.

Dion yang duduk di sudut ruangan sambil memainkan ponsel pintarnya yang layarnya sudah retak, ikut mendengus frustrasi.

"Ini semua gara-gara Kak Elva. Kalau saja dia mau membantu kita bicara dengan Zayn Dominic waktu di taman tadi, kita tidak akan sampai melarat seperti ini di sini!"

"Iya, Pa! Elva itu bener-bener anak sialan dan nggak tahu diri!" sahut Nadine berapi-api, matanya berkilat penuh rasa iri yang teramat sangat.

"Dulu di rumah dia cuma kayak pembantu, sekarang dia malah enak-enakan hidup mewah di penthouse pacar kayanya itu! Kenapa harus Elva sih yang dapet cowok sekaya Zayn Dominic?! Kenapa bukan aku?!"

"CUKUP!" Narendra menggebrak meja kayu di depannya hingga menimbulkan bunyi nyaring yang memilu telinga. Dia menatap Nadine dan Dion dengan pandangan mata yang sarat akan penyesalan yang amat sangat.

"Jangan salahkan Elva lagi! Kita yang bersalah karena selama belasan tahun ini sudah memperlakukannya seperti orang asing di rumah kita sendiri! Kamu juga, Nadine... sebagai kakak, kamu nggak pernah sekalipun belain adikmu saat dia disiksa Mama! Sekarang, kita hanya sedang memanen badai dari taburan angin yang kita buat dulu."

Nadine langsung bungkam seribu bahasa, membuang mukanya ke arah dinding dengan perasaan dongkol dan iri yang masih membakar dadanya. Penyesalan Narendra datang terlambat. Putri yang selama ini mereka sepelekan kini telah terbang tinggi, berada di bawah perlindungan mutlak kasta tertinggi kota ini, sementara mereka harus meratapi sisa-sisa kehancuran istana kertas mereka dalam kemiskinan yang dingin.

...----------------...

Bertolak belakang dengan atmosfer suram di kontrakan keluarga Ileana, suasana di dalam mobil sport hitam milik Zayn Dominic sore itu terasa begitu hangat dan menyenangkan. Udara Jakarta yang mulai berganti senja menyisakan pendaran warna jingga yang indah di kaki langit.

Elva Ileana duduk di kursi penumpang dengan perasaan bingung yang sangat kentara. Dia menoleh ke arah Zayn yang fokus menyetir dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya bertumpu santai di atas jendela mobil.

"Zayn, kita sebenarnya mau ke mana? Ini kan bukan jalan pulang ke apartemen?" Zayn tidak langsung menjawab. Dia hanya melirik Elva dari sudut mata elangnya, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat hangat terukir di sudut bibirnya.

"Nggak usah banyak tanya. Lo ikut aja," ketus Zayn, meskipun nadanya judes seperti biasa, binar protektif di matanya tidak bisa disembunyikan.

Mobil sport itu berbelok masuk ke area parkir sebuah kawasan ruko elite di Jakarta Pusat. Begitu mesin mobil dimatikan, Zayn turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Elva dengan gerakan yang sangat telaten. Elva melangkah turun, dan matanya langsung tertuju pada sebuah papan nama toko yang dihiasi lampu neon berbentuk jejak kaki hewan yang menggemaskan: "The Paws & Co. Boutique Pet Shop".

"Toko hewan?" Elva terbelalak kecil, menatap Zayn dengan mata bulatnya yang berbinar penuh rasa penasaran.

"Zayn, kita mau beli makanan hewan? Memangnya di apartemen ada yang memelihara binatang?"

Zayn menggenggam jemari tangan Elva yang hangat, lalu menuntunnya melangkah masuk melewati pintu kaca toko. Kring! Suara lonceng kecil di atas pintu menyambut kedatangan mereka, dibarengi dengan aroma wangi sabun mandi hewan yang segar dan bersih.

"Kita ke sini bukan buat beli makanan," ucap Zayn rendah tepat di samping telinga Elva, membuat bulu kuduk gadis itu meremang karena gugup.

"Gue tahu lo suka kucing. Kemarin pas kita kencan di festival kuliner, lo nggak berhenti natap mainan dan gulali bentuk kucing. Jadi, hari ini... gue mau lo pilih satu anak kucing buat kita pelihara di apartemen."

Jantung Elva seketika melewatkan satu detakan. Rasa haru dan bahagia yang luar biasa besar mendadak membuncah di dalam dadanya.

"B-beneran, Zayn? Kita boleh pelihara kucing di penthouse kamu?"

"Apartemen kita, Elva. Gue udah billing kan, tempat itu punya kita berdua sekarang," ralat Zayn tegas, meremas pelan jemari tangan Elva untuk menyalurkan rasa aman yang mutlak.

"Yuk, liat ke dalam."

Seorang petugas toko dengan ramah mengantar mereka menuju ke area khusus anak kucing (kitten). Di dalam ruangan kaca yang bersih dan hangat, terdapat belasan anak kucing dari berbagai ras yang sedang bermain dengan lincah atau tertidur pulas.

Pandangan mata Elva langsung terkunci pada seekor anak kucing ras Scottish Fold berbulu putih bersih seperti kapas dengan corak abu-abu tipis di bagian telinganya yang melipat ke bawah. Anak kucing mungil itu sedang berusaha menangkap bola benang mainan, namun berkali-kali terjatuh karena tubuhnya yang masih terlalu kecil dan menggemaskan.

Zayn yang sangat peka terhadap setiap perubahan gerak-gerik Elva langsung memberi isyarat kepada petugas toko.

"Tolong keluarkan yang itu," perintah Zayn pendek.

Petugas toko dengan hati-hati mengambil anak kucing tersebut dan meletakkannya di atas pangkuan Elva yang sudah duduk di sofa khusus pengunjung. Begitu menyentuh gaun kasual Elva, anak kucing itu langsung mendengkur halus (purring) dan menggosokkan kepala kecilnya yang berbulu lembut ke telapak tangan Elva, seolah tahu bahwa dia sedang berada di pelukan calon pemiliknya yang sangat penyayang.

"Zayn, lihat... dia manja banget," bisik Elva dengan senyuman murni yang sangat lebar.

Zayn berjongkok di depan Elva. Tangan kekarnya bergerak mengelus puncak kepala anak kucing itu dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah pemandangan yang terlihat begitu kontras dengan citra cowok berjaket kulit hitam yang ditakuti satu sekolah. Zayn kemudian mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Elva.

"Suka?" tanya Zayn lembut.

"Suka banget, Zayn. Terima kasih banyak," jawab Elva tulus, mencubit pelan lengan kekar Zayn sebagai bentuk rasa bahagianya yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Zayn tersenyum puas, lalu berdiri dan menoleh ke arah petugas toko yang sejak tadi terpaku melihat sisi lembut dari sang tuan muda.

"Saya ambil yang ini. Siapkan semua kebutuhan terbaiknya—mulai dari makanan premium, kandang kasur, tempat pasir, sampai mainannya. Kirim langsung semuanya ke apartemen saya malam ini juga."

"Baik, Tuan. Segera kami siapkan," jawab petugas toko itu dengan patuh.

Malam harinya, ruang tengah apartemen penthouse lantai teratas yang biasanya sepi kini terasa jauh lebih hidup dan penuh warna. Anak kucing putih yang baru diadopsi itu tampak berlarian dengan lincah di atas karpet bulu tebal, sesekali mengejar bayangan gorden yang ditiup angin malam dari arah balkon.

Elva duduk lesehan di atas karpet, bersandar pada kaki sofa tempat Zayn duduk santai sambil menonton televisi. Elva memperhatikan anak kucing itu dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya. Di lehernya, kalung perak dengan liontin inisial 'Z' dan 'E' berkilau indah diterpa pendaran lampu kristal apartemen.

"Zayn, menurut kamu... nama yang bagus buat dia apa?" tanya Elva, mendongak menatap profil samping wajah tampan Zayn.

Zayn menurunkan pandangannya, menatap Elva lalu beralih ke arah anak kucing yang kini mulai kelelahan dan berjalan mendekati mereka. Zayn mengulurkan tangan kekarnya, mengangkat anak kucing itu dan meletakkannya dengan hati-hati di atas pangkuan Elva.

"Terserah lo. Lo yang punya hak penuh buat kasih nama anggota baru di rumah kita," ucap Zayn rendah, suara beratnya terdengar begitu menenangkan di dalam kesunyian malam. Zayn memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua lengan kekarnya dari arah belakang tubuh Elva, memeluk pinggang mungil gadis itu erat-erat dalam rengkuhan posesifnya yang hangat.

Elva membiarkan punggungnya bersandar seutuhnya pada dada bidang Zayn, menghirup aroma maskulin yang menenangkan dari tubuh cowok itu.

"Kalau gitu... namanya Milo aja. Biar terdengar manis seperti malam ini."

"Milo. Nama yang bagus," sahut Zayn, mendaratkan sebuah kecupan lembut yang sangat lama di pelipis Elva, menyalurkan seluruh rasa cinta dan janji perlindungan mutlaknya yang kian mengakar kuat dari hari ke hari.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!