NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Kritikus Fashion Dadakan

Sabtu pagi di Paris biasanya diawali dengan ketenangan yang malas, namun tidak di dapur apartemen Rue de Rivoli hari ini. Asap tipis mengepul dari cangkir porselen putih, membawa aroma biji kopi Arabika yang baru saja digiling, memenuhi setiap sudut ruangan dengan wangi yang membangkitkan selera.

Kiandra Zanitha berdiri tegak di samping meja marmer, tangannya bergerak dengan presisi milimeter. Ia menata piring berisi telur mata sapi yang kuningnya masih setengah matang sempurna, bersanding dengan roti panggang yang kecokelatan merata. Tidak boleh ada remah yang berantakan. Tidak boleh ada noda saus yang melenceng.

Semuanya harus terlihat seperti katalog sarapan hotel bintang lima.

"Oke, Ki. Fokus. Hari ini misi 'Anak Manis' dimulai," bisiknya pada diri sendiri sambil merapikan letak garpu yang miring satu derajat.

Ceklek.

Pintu kamar nomor satu terbuka. Suara langkah kaki yang berat dan malas terdengar mendekat. Kiandra segera memasang senyum paling manis yang pernah ia miliki—jenis senyum yang biasanya hanya ia keluarkan saat sedang merayu ibunya untuk menambah uang jajan.

Enzo Romano melangkah keluar dengan rambut cokelat gelap yang berantakan khas orang baru bangun tidur. Pria itu hanya mengenakan celana piyama abu-abu yang menggantung rendah di pinggulnya, memamerkan perut ratanya yang keras dan garis otot yang menghilang di balik karet celana.

Enzo menguap lebar, mengusap wajahnya yang masih mengantuk dengan telapak tangan besarnya. Namun, langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap pemandangan di meja makan.

"Selamat pagi, Enzo! Kopi dan sarapan sudah siap," ucap Kiandra dengan nada riang yang sedikit dipaksakan.

Enzo mematung. Matanya yang hazel menyempit curiga, menatap Kiandra dari ujung kepala hingga ujung kaki seolah gadis itu baru saja tumbuh kepala dua atau mendadak berubah jadi alien.

"Terima kasih," gumam Enzo ragu. Suaranya serak khas bangun tidur, terdengar sangat berat dan maskulin.

Pria itu tidak langsung duduk. Ia justru berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Kiandra tidak sedang memegang pisau di balik punggungnya.

Kiandra menarik napas lega yang sangat panjang begitu pintu kamar mandi tertutup. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, menyemangati diri sendiri. "Ayo Ki, sedikit lagi. Izin kencan harus di tangan!"

***

Sepuluh menit kemudian, Enzo kembali dengan wajah yang sudah segar dan aroma sabun maskulin yang mulai menguar. Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap piring sarapan di depannya dengan dahi berkerut.

Kiandra duduk di hadapannya, menopang dagu dengan kedua tangan. Ia terus melemparkan senyum 'iklan pasta gigi' yang paling cemerlang, matanya berkedip-kedip penuh harap.

Enzo berhenti memegang garpu. Ia meletakkan kembali alat makannya, lalu menatap Kiandra lurus-lurus dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.

"Ada sesuatu yang aneh di wajahku, Kiandra?" tanya Enzo datar.

"Tidak ada! Kamu hanya terlihat... sangat tampan hari ini," ucap Kiandra dengan nada yang dibuat-buat, lengkap dengan nada bicara yang sengaja dilembutkan.

Bukannya senang atau tersipu, Enzo justru mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Secara tiba-tiba, ia menjangkau kening Kiandra dengan punggung tangannya yang hangat.

"Apa kamu lagi demam? Kamu seperti orang gila sekarang," ucap Enzo tanpa dosa.

"Ish, apa sih!" Kiandra menepis tangan Enzo dengan cemberut, mode 'anak manis'-nya retak seketika. "Aku cuma mau jadi anak baik hari ini! Memangnya nggak boleh?"

Enzo terkekeh, sebuah suara bariton yang bergetar rendah di dadanya yang bidang. Ia kembali memegang garpu dan mulai mengunyah roti panggangnya.

"Kalau bukan sakit, apa jangan-jangan besok sudah mau kiamat? Sikapmu ini benar-benar mencurigakan, Piccola."

"Enzo! Jangan merusak suasana!" Kiandra mendengus kesal, namun ia tetap bertahan di kursinya.

Enzo tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Ia menikmati sarapannya dengan tenang, sementara Kiandra terus memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Pukul sembilan pagi, Enzo meninggalkan apartemen untuk urusan kolega wine, meninggalkan Kiandra dalam kegelisahan yang memuncak.

***

Pukul 13:00.

Suara kunci pintu berputar. Kiandra yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tengah langsung berdiri tegak di depan pintu. Enzo melangkah masuk dengan mantel wol tersampir di lengannya, tampak sedikit lelah namun tetap terlihat sangat dominan.

"Selamat datang, Enzo! Makan siang sudah siap di meja, masih hangat," sambut Kiandra seolah ia adalah asisten rumah tangga paling berbakti di seluruh Prancis.

Enzo menggantung mantelnya dengan gerakan lambat. Matanya mengunci pergerakan Kiandra dengan tatapan bingung yang sangat kental. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya berjalan menuju meja makan dan duduk.

Saat tangan Enzo hendak meraih sendok, Kiandra sudah lebih dulu mengambilkannya dan menyerahkannya dengan senyum lebar. Tidak berhenti di situ, Kiandra segera mengisi gelas Enzo dengan air putih, gerakannya sangat cekatan dan efisien.

"Kamu tidak makan?" tanya Enzo sambil menyipitkan mata, menatap piringnya dengan ragu seolah takut ada racun di sana.

"Sudah tadi, kamu makan saja yang banyak ya. Aku masak spesial buat kamu," jawab Kiandra riang.

Enzo meletakkan sendoknya kembali. Ia bersandar di kursi, melipat tangan di depan dada, dan menatap Kiandra dengan intensitas yang sanggup menembus tulang.

"Kiandra, apa kamu menaruh racun di makananku?"

"Hah? Sembarangan! Aku bukan kriminal, Enzo!" Kiandra membelalakkan mata, tidak terima dengan tuduhan itu.

"Lalu kenapa kamu bersikap aneh seperti kesurupan begini? Bicaralah, sebelum aku benar-benar curiga dan memanggil polisi untuk memeriksa apa makanan buatanmu ini mengandung sianida atau tidak."

Kiandra mendadak diam. Ia menunduk, memainkan ujung jemarinya di bawah meja dengan gugup. Keberaniannya yang tadi meluap-luap mendadak menguap entah ke mana.

"Sebenarnya... malam ini, Blake Harrington mengajakku kencan," cicit Kiandra pelan.

Enzo terdiam sejenak. Tatapannya yang tadi penuh selidik mendadak berubah menjadi datar dan dingin. Suasana di ruang makan itu seketika terasa lebih berat.

"Jadi... akting anak manis ini cuma untuk izin kencan?" tanya Enzo. Suaranya rendah, tanpa emosi.

Kiandra mengangguk pelan, tidak berani menatap mata hazel yang kini tampak sangat mengintimidasi itu. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang tertangkap basah mencuri kue.

Enzo menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya dengan jari-jarinya yang panjang. "Pergilah. Dan lain kali jangan lakukan ini. Jujur, sikapmu yang aneh barusan bikin aku was-was setengah mati."

"Jadi boleh?" Wajah Kiandra berubah ceria dalam sekejap. Matanya berbinar-binar menatap Enzo.

"Tentu saja, kamu sudah dewasa," Enzo akhirnya mulai menyuap makanannya. "Di mana dia akan membawamu?"

"L'Ambroisie, Place des Vosges."

Enzo menghentikan kunyahannya sejenak. "Michelin bintang tiga, hmm... seleranya tidak buruk juga untuk ukuran mahasiswa politik yang membosankan."

***

Pukul 18:30.

Kiandra keluar dari kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan gaun midi berwarna krem yang sangat tertutup, dengan kerah tinggi dan lengan panjang. Ia merasa sangat sopan dan aman dengan pakaian itu.

Enzo yang sedang menyesap wine di balkon melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia berhenti tepat di depan Kiandra, menatap penampilan gadis itu dengan dahi berkerut dalam.

"Kamu mau kencan atau mau pergi ke perpustakaan nasional untuk riset skripsi?" tanya Enzo sinis. "Gaun itu terlalu... sopan untuk ukuran kencan di Paris, Kiandra."

"Ini cantik, tahu! Sopan itu bagus! Papa selalu bilang aku harus berpakaian rapi," bela Kiandra sambil merapikan roknya.

Enzo mendengus meremehkan. Tanpa kata, ia masuk ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, ia keluar membawa sebuah gaun berwarna merah indah berbahan satin yang berkilau lembut. Bagian pundaknya terbuka, dengan potongan yang sangat elegan dan berani.

Enzo melangkah mendekat. Aroma sandalwood-nya yang hangat dan maskulin langsung mengurung Kiandra, membuat gadis itu menahan napas.

"Pakai ini, biar kamu tidak disangka biarawati yang sedang tersesat di restoran mewah," ucap Enzo sambil menyerahkan gaun itu.

"Tapi... itu terlalu terbuka, Enzo," Kiandra menerima gaun itu dengan tangan gemetar. Ia memperhatikan detail jahitannya yang sangat halus.

"Ini baju siapa? Jangan bilang kamu suka pakai yang seperti ini kalau lagi sendirian?"

Enzo menghela napas panjang, tampak sangat jengkel dengan candaan Kiandra. "Ukurannya saja sudah tidak muat di bahuku, Piccola. Itu bisa sobek kalau aku yang pakai. Aku minta tolong temanku untuk memilihkan gaun itu untukmu siang tadi."

Kiandra tertegun. Jantungnya berdegup kencang mendengar pengakuan itu. "Kamu... kamu sengaja membelikan ini buat aku?"

"Ganti bajumu sekarang. Bukannya pangeranmu sebentar lagi datang?" Enzo berbalik, kembali menuju balkon tanpa menunggu jawaban.

Lima belas menit kemudian, Kiandra keluar dari kamar. Kali ini, ia benar-benar terlihat berbeda. Gaun merah itu membungkus tubuh petite-nya dengan sempurna, menonjolkan lekuk bahunya yang halus dan warna kulitnya yang kuning langsat.

Enzo yang sedang menonton televisi menoleh. Ia tertegun selama beberapa detik, lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Kiandra.

"Bagaimana?" tanya Kiandra ragu, jemarinya meremas kain satin gaunnya.

Enzo menyunggingkan senyum tipis yang sangat menawan. "Nah... sekarang kamu terlihat sangat cantik. Benar-benar mahasiswi Le Cordon Bleu yang berkelas."

Enzo mengedipkan satu matanya dengan gerakan yang sangat provokatif, membuat pipi Kiandra merona merah padam dalam sekejap.

"Terima kasih," bisik Kiandra.

Tin! Tin!

Suara klakson mobil terdengar dari bawah gedung. Blake Harrington sudah menunggu di dalam mobil Audi hitamnya yang mengkilap.

Kiandra melangkah menuju pintu dengan hati yang berdebar tak karuan. Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, Enzo menahan lengannya sebentar. Pria itu menunduk, mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menerpa daun telinga Kiandra.

"Bersenang-senanglah, Piccola," bisik Enzo dengan suara yang sangat rendah dan serak. "Tapi jangan lupa jika ada pria tampan lain yang menunggu kepulanganmu di rumah."

Kiandra terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup brutal, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia tidak berani menoleh, hanya bisa mengangguk kaku dan segera keluar dari pintu apartemen.

Sementara itu, Enzo Romano berjalan menuju balkon. Ia berdiri di sana, menyandarkan lengannya di pagar besi, mengawasi mobil Blake yang mulai bergerak menjauh menyusuri jalanan Paris yang mulai gemerlap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!