Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: HATI YANG TERENYUH
Abdul masih berdiri terpaku di balik pagar besi berkarat Panti Asuhan Harapan Bunda ketika seorang wanita paruh baya berpakaian gamis sederhana keluar dari dalam bangunan utama. Wanita itu adalah Ibu Aminah, sang pengurus panti asuhan yang wajahnya tampak dipenuhi gurat kelelahan mendalam dan beban pikiran yang sangat berat. Langkah kakinya tampak goyah saat berjalan menuju teras depan sambil memegang sebuah handphone jadul yang menempel ketat di telinganya.
Karena suasana sekitar panti yang cukup sepi di sore hari, suara Ibu Aminah yang agak bergetar menahan tangis terdengar cukup jelas di telinga Abdul.
"Halo, Assalamualaikum, Pak Haji... Iya, ini saya Aminah dari panti," ucap Ibu Aminah dengan nada suara memohon. "Anu, Pak Haji... kalau boleh, apakah saya bisa meminta kelonggaran untuk mengambil satu karung beras dulu di toko grosir Pak Haji? Stok beras di panti bener-bener udah habis buat makan malam anak-anak nanti... Uang donasi bulan ini belum ada yang masuk sama sekali, Pak Haji..."
Ibu Aminah terdiam selama beberapa detik, mendengarkan jawaban dari seberang telepon dengan tatapan yang semakin layu. Air matanya mulai bergulir melewati pipinya yang keriput.
"Tapi Pak Haji, anak-anak di sini ada bagaimana... kalau malam ini gak ada beras, mereka besok gak bisa makan pagi... Saya janji bakal langsung bayar begitu ada donatur yang datang minggu depan, Pak Haji. Tolong dibantu..." mohon Ibu Aminah lagi dengan suara yang mulai parau.
Namun, tampaknya respons dari pemilik toko grosir di seberang sana sangat dingin dan tidak bersahabat. Ibu Aminah perlahan menurunkan handphonenya dengan tangan yang gemetar hebat, menandakan bahwa permohonannya telah ditolak mentah-mentah.
Wanita itu langsung terduduk lemas di anak tangga teras yang semennya sudah retak, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan pundaknya mulai berguncang pelan meluapkan rasa sedih serta keputusasaannya atas nasib anak-anak asuhannya.
Melihat pemandangan memilukan tersebut, air mata Abdul akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. Dadanya terasa sangat nyeri melihat ketidakberdayaan seorang ibu yang harus berjuang sendirian tanpa bantuan siapa pun demi memberi makan puluhan anak yatim yang terabaikan oleh lingkungan sekitar mereka.
"Uangku di bank ada puluhan juta cuma diam gak ngapa-ngapain, sementara di sini ada orang yang menangis hanya demi makan malam hari ini," rutuk Abdul di dalam hatinya dengan rasa kesal yang membuncah.
Saat Abdul sedang menghapus air matanya dan bersiap untuk pergi, tiba-kira pintu pagar panti berdecit pelan. Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun keluar sambil membawa sebuah ember plastik kosong. Anak itu menatap Abdul dengan pandangan polos namun terlihat sangat layu karena kelaparan.
"Kakak lagi nyari siapa di sini?" tanya anak kecil itu dengan suara yang pelan dan agak serak.
Abdul tertegun, lalu buru-buru berjongkok di depan anak tersebut agar posisi mereka sejajar. Ia mencoba tersenyum seramah mungkin meskipun hatinya sedang menangis.
"Eh, enggak kok, Dek. Kakak cuma lagi jalan-jalan sore aja lewat sini. Nama kamu siapa?" tanya Abdul lembut.
"Nama aku Doni, Kak," jawab anak itu singkat sambil memeluk ember plastiknya.
Abdul melirik ke arah ember kosong yang dibawa Doni.
"Doni mau bawa ember itu ke mana? Mau ngambil apa?"
"Mau beli es batu di warung depan gang buat Ibu Aminah, Kak. Tapi uangnya kurang, jadi aku mau nanya dulu ke penjualnya boleh utang apa enggak," jawab Doni dengan kepolosan yang membuat hati Abdul semakin teriris.
Abdul menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sesak di dadanya. Ia meraba saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah, lalu melipatnya kecil dan memasukkannya ke dalam telapak tangan Doni.
"Ini buat Doni beli es batu ya. Bilang ke penjualnya, gak usah utang. Sisa uangnya bisa Doni simpan buat jajan sama temen-temen di dalam," ucap Abdul sambil mengusap rambut bocah itu.
Mata Doni langsung berbinar-binar menatap lembaran uang di tangannya. Ia tersenyum sangat lebar, sebuah pemandangan tidak biasa yang luar biasa indah di tengah mendungnya kondisi panti sore itu.
"Wah, banyak banget, Kak! Makasih banyak ya, Kak! Aku mau kasih tahu Ibu Aminah dulu kalau ada kakak baik yang kasih uang," seru Doni kegirangan, bersiap berbalik masuk ke dalam panti.
"Eh, Doni, jangan!" potong Abdul buru-buru menahan pundak anak itu. "Gak usah kasih tahu Ibu Aminah ya. Ini rahasia kita berdua aja. Sekarang Doni langsung ke warung aja beli es batunya, oke?"
Doni mengangguk mantap dengan senyum yang masih mengembang.
"Oke, Kak! Makasih banyak ya, Kak!" Bocah itu pun langsung berlari kecil menuju arah warung dengan langkah yang jauh lebih ceria dari sebelumnya.
Abdul berdiri kembali, menatap punggung Doni yang menjauh sebelum akhirnya membalikkan badan untuk melangkah pergi menuju jalan pulang ke Gang Seng.
Sepanjang perjalanan pulang, langkah kakinya terasa sangat berat dan pikirannya sama sekali tidak bisa lepas dari wajah sedih anak-anak panti serta interaksi singkatnya dengan Doni baru saja.
"Betapa kejamnya dunia ini untuk orang-orang seperti mereka," gumam Abdul saat itu.
Memikirkan hal itu, membuat niatnya untuk menolong sudah sangat bulat, namun ia tetap harus menjaga privasinya agar tidak menimbulkan kegaduhan baru dari warga Gang Seng tentang asal-usul keuangannya.
Malam harinya di dalam kamar, suasana hati Abdul masih diliputi oleh kabut kesedihan sore tadi. Setelah menyelesaikan shalat isya di atas sajadah tuanya, Abdul duduk bersila di pinggir kasur sambil menatap lurus ke arah dinding kamar yang gelap gulita.
Dalam keheningan malam yang sunyi itu, Abdul memejamkan matanya dengan khusyuk dan memanjatkan sebuah doa dari lubuk hatinya.
"Ya Tuhan... Tolong berikan jalan keluar buat anak-anak yatim di panti asuhan itu. Angkat beban kesedihan Ibu Aminah. Jika orang-orang di luar sana sudah menutup mata, maka izinkan hamba menjadi perantara-Mu untuk menyalurkan berkah kepada mereka tanpa perlu ada orang lain yang tahu..." bisik Abdul dengan penuh keikhlasan sebelum akhirnya merebahkan tubuh untuk tidur dengan hati yang dipenuhi niat baik.