Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deburan Ombak dan Tatapan yang Membakar
Bandara Internasional Ngurah Rai menyambut mereka dengan hawa tropis yang kental dan aroma bunga kamboja yang khas. Begitu keluar dari pintu kedatangan kelas bisnis, sebuah papan nama bertuliskan "ARSELAN DIRGANTARA" sudah dijunjung tinggi oleh seorang sopir pribadi dari resor.
Arselan melangkah dengan gaya yang sangat maskulin; mengenakan kemeja linen putih tipis dengan dua kancing teratas terbuka dan kacamata hitam merek ternama. Di sampingnya, Gisel tampil sangat kontras dengan gaya "liburan mahal" ia mengenakan crop top rajut tanpa lengan dan celana kulot sutra yang melambai tertiup angin, memperlihatkan sedikit bagian pinggangnya yang ramping.
"Gila, Sel! Gue berasa lagi jadi asisten artis papan atas!" bisik Sisil yang mengekor di belakang sambil menyeret kopernya sendiri dengan semangat 45.
Arsel melirik Sisil sekilas melalui kacamata hitamnya, lalu kembali menatap Gisel. "Mobil sudah siap. Ayo."
Di dalam mobil mewah yang menjemput mereka, suasana terasa unik. Arsel duduk di depan bersama sopir, sementara Gisel dan Sisil di kursi tengah. Sisil tidak henti-hentinya mengagumi pemandangan jalanan Bali, sementara Gisel sesekali mencuri pandang ke arah spion tengah, di mana ia bisa melihat mata Arsel yang terkadang juga sedang memperhatikannya.
"Pak Arsel, nanti malam kita ada acara apa?" tanya Gisel, mencoba mencairkan suasana kaku bosnya.
"Tidak ada jadwal formal. Saya ingin istirahat. Tapi kalau kamu dan temanmu ingin keluar, silakan," jawab Arsel tanpa menoleh.
"Yah, masa ke Bali cuma buat tidur di hotel? Rugi dong, Pak," celetuk Gisel dengan nada ceriwisnya yang mulai kembali. "Bapak harus ikut kita makan malam di pinggir pantai. Saya dengar ada tempat bagus di daerah Seminyak."
Arsel hanya terdiam, namun Gisel bisa melihat sudut bibir pria itu bergerak sedikit. Arsel tidak menolak, dan itu adalah sebuah kemenangan kecil.
Sesampainya di resor, kejutan lain menanti. Arsel telah memesan sebuah Private Villa dengan tiga kamar yang sangat luas, lengkap dengan kolam renang pribadi (infinity pool) yang menghadap langsung ke arah laut lepas.
"Mbak Gisel, ini kunci kamarnya. Kamar utama di tengah untuk Pak Arsel, dan dua kamar di sayap kanan-kiri untuk Mbak Gisel dan Mbak Sisil," jelas petugas hotel.
Gisel masuk ke kamarnya dan langsung terpana. Tempat tidur dengan kelambu putih, balkon pribadi, dan kamar mandi semi terbuka dengan bathtub penuh taburan bunga mawar. Namun, pikirannya kembali pada pesan Nyonya Widya semalam. Gunakan kesempatan ini, Gisel.
Gisel membuka kopernya dan mengambil sebuah bikini two-piece berwarna hitam yang sangat berani, namun ia menutupinya dengan outer transparan berwarna putih yang panjangnya mencapai mata kaki. Ia mengoleskan sunblock ke kulitnya yang mulus, lalu keluar menuju area kolam renang.
Di sana, Arsel sudah berada di pinggir kolam, sedang duduk di kursi santai dengan laptop di pangkuannya. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan celana pendek santai tanpa atasan, memamerkan otot perut six pack dan dada bidang yang terbakar matahari.
Gisel berjalan perlahan, sengaja membuat suara langkahnya terdengar. Saat ia sampai di dekat Arsel, ia melepaskan outer transparannya, menyisakan bikini hitam yang membalut tubuh "gitar Spanyol"-nya dengan sangat provokatif.
Arsel mendongak. Laptop di tangannya hampir saja merosot. Matanya membelalak tak percaya melihat penampilan Gisel yang sangat berani. Ia menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Pak Arsel, kerjanya nggak bisa libur dulu ya?" tanya Gisel sambil berjongkok di samping kursi Arsel, membuat belahan dadanya terlihat jelas dari sudut mata Arsel.
"Saya... saya hanya mengecek email sebentar," jawab Arsel dengan suara yang sedikit parau. Ia berusaha keras menjaga pandangannya tetap pada layar laptop, namun bayangan kulit mulus Gisel terus mengganggu fokusnya.
Gisel tersenyum tipis. Ia mengambil botol sunscreen dan menyodorkannya pada Arsel. "Pak, punggung saya nggak nyampai. Boleh minta tolong oleskan? Takut gosong, nanti Bapak nggak suka lagi lihat sekretarisnya kalau hitam."
Arsel membeku. Ini adalah tantangan terbuka. Ia meletakkan laptopnya perlahan. Tangannya yang besar sedikit bergetar saat menyentuh kulit punggung Gisel yang sangat halus dan dingin karena sisa AC kamar.
Saat jemari Arsel mulai mengusap lembut punggungnya, Gisel memejamkan mata, merasakan sensasi panas yang menjalar dari sentuhan itu. Ini bukan lagi sekadar sandiwara untuk Nyonya Widya. Detak jantung Gisel berpacu gila karena ia benar-benar menikmati sentuhan pria ini.
"Gisella..." panggil Arsel rendah, suaranya terdengar seperti sebuah peringatan sekaligus dambaan.
"Ya, Pak?" Gisel menoleh ke belakang, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci.
"Kamu benar-benar ingin bermain api di sini, hm?" bisik Arsel. Matanya yang tajam mengunci mata Gisel, menciptakan ketegangan yang lebih panas dari matahari Bali di atas mereka.
Gisel hanya tersenyum nakal, jari telunjuknya menyentuh dada Arsel yang bidang, meninggalkan bekas krim putih di sana. "Api di Bali sepertinya lebih seru daripada api di kantor, Mas Arsel."
Momen itu terputus saat suara Sisil terdengar dari arah balkon. "WOI! GISEL! PAK ARSEL! JANGAN PACARAN DULU, GUE LAPER!"
Arsel langsung menarik tangannya dengan canggung, sementara Gisel tertawa lepas. Permainan baru saja dimulai, dan di bawah langit Bali yang romantis, pertahanan Arselan Dirgantara tampak lebih rapuh dari yang pernah ia bayangkan. Gisel tahu, misi ini mungkin akan berakhir dengan sesuatu yang jauh lebih permanen daripada sekadar uang 100 miliar.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏