Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ELEVEN
"Jelaskan. Semuanya. Jangan ada yang terlewat," perintah Aksa.
Zacky menceritakan detail kejadian di rumah Gauta, tentang papan nisan, tentang perebutan cincin giok milik mendiang ibu Della, hingga cambukan yang dilakukan Tantowi dan Yuhana. Setiap kata yang keluar dari mulut Zacky seolah menjadi bensin bagi api di kepala Aksa.
"Tiga puluh menit," ucap Aksa dengan nada yang sangat dingin. "Cari tahu apa yang terjadi pada Della sebelum ia menikah denganku. Semuanya. Sejak hari ibunya meninggal."
Zacky membungkuk dan segera menghilang di balik pintu. Aksa duduk dalam diam, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang tidak beraturan. Kepalanya mulai berdenyut, bisikan-bisikan asing mulai muncul di telinganya, menyuruhnya untuk menghancurkan apa saja yang ada di depannya.
Tepat tiga puluh menit, Zacky kembali dengan sebuah map biru tebal. Aksa menyambarnya dan mulai membaca dengan seksama.
Halaman demi halaman membuat rahang Aksa semakin mengeras. Matanya membelalak saat membaca data rahasia dari Rumah Sakit Jiwa tempat Della dikurung selama lima tahun. Tidak ada satupun diagnosis medis yang menyatakan Della gila. Yang ada hanyalah catatan pembayaran rutin dari Tantowi Gauta kepada direktur rumah sakit.
Kemarahan Aksa memuncak saat membaca laporan tentang perawat dan dokter yang disuap untuk menyiksa Della. Memberikan makanan yang hampir basi, menyuntikkan obat-obatan saraf yang keras tanpa alasan medis, hingga mengisolasinya di ruangan gelap selama berhari-hari. Mereka secara perlahan-lahan mencoba membunuh saraf sehat Della agar dia benar-benar menjadi gila.
BRAAAKK!
Aksa menghantam meja kerja jatinya hingga retak. "BINATANG! MEREKA SEMUA BINATANG! BAHKAN ANJING PUN TAK AKAN PERNAH MENYIKSA ANAKNYA SEPERTI ITU."
Aksa memegang kepalanya yang kini berdenyut luar biasa hebat. Bayangan-bayangan kemarahan melintas di matanya, wajah Tantowi yang hancur, rumah Gauta yang terbakar. Bisikan di kepalanya berteriak, BUNUH MEREKA! ROBEK KULIT MEREKA SEPERTI MEREKA MEROBEK KULIT ISTRIMU!
"Zacky... obatku... mana obatku?!" raung Aksa sambil terjatuh dari kursinya. "Aku butuh obat! Kepalaku mau pecah!"
Zacky tampak kalut, namun ia tetap berdiri di tempatnya. "Maaf Tuan Muda... Nyonya Muda sudah membuang semua obat-obatan itu tadi siang."
"KENAPA DIBUANG?! MANA OBATNYA ZACKY, ATAU AKU AKAN BENAR-BENAR GILA!"
"Menurut Nyonya Muda, itu bukan obat, Tuan," sahut Zacky dengan suara gemetar namun tegas. "Nyonya bilang itu adalah racun yang sengaja diberikan untuk membuat Tuan Muda menjadi gila secara permanen. Nyonya tidak ingin Tuan Muda kehilangan kesadaran selamanya."
Aksa terdiam di lantai, napasnya tersengal. "Lalu aku harus bagaimana, Zacky? Kepalaku sangat sakit... bisikan-bisikan itu kembali lagi... aku sungguh tidak tahan..."
Zacky melihat tuannya yang perkasa kini meringkuk menahan sakit yang tak terlihat. Ia teringat pesan Della sebelum berangkat tadi, Jangan biarkan dia menyentuh racun itu lagi, apapun yang terjadi.
"Tuan Muda," Zacky mendekat dengan hati-hati. "Lebih baik Tuan menenangkan diri dengan menjaga Nyonya Muda. Dia sedang sakit dan membutuhkan Anda. Jika Tuan meminum obat penenang dosis kuat itu, Tuan akan tertidur selama dua belas jam dan tidak akan menyadari jika Nyonya terbangun dan membutuhkan bantuan. Nyonya hanya percaya pada Anda."
Mendengar nama Della, Aksa seolah mendapat sedikit kekuatan untuk menekan badai di kepalanya. Della membutuhkanku... Della butuh perlindungan.
"Kamu..." Aksa menatap Zacky dengan tajam, lalu perlahan bangkit berdiri. Ia terhuyung-huyung keluar dari ruang baca, tangannya meraba dinding untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Ia masuk ke kamar tidur yang remang-remang. Della masih terlelap, wajahnya sedikit berkeringat namun terlihat lebih tenang. Aksa mendekati ranjang, menahan rasa sakit di kepalanya yang seolah sedang ditusuk ribuan jarum. Ia tidak ingin mengganggu tidur Della, namun ia sendiri butuh penawar bagi kegilaannya.
Aksa naik ke atas ranjang dengan sangat perlahan, mencoba tidak membuat gerakan yang mengejutkan. Ia merebahkan diri di samping Della, melingkarkan lengannya yang besar ke tubuh mungil istrinya, menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang protektif.
"Istriku... ayo kita tidur," bisik Aksa dengan nada yang menyayat hati, tepat di telinga Della.
Anehnya, saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Della yang hangat, bisikan-bisikan kejam di kepalanya perlahan mulai menjauh, digantikan oleh suara napas Della yang teratur. Aksa memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan aroma Della menjadi satu-satunya obat yang ia konsumsi malam itu. Di balik kegelapan kamarnya, sang monster memutuskan untuk meredam taringnya, namun jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah rencana pembalasan yang paling mengerikan telah tersusun rapi. Ia akan membiarkan istrinya sembuh terlebih dahulu, sebelum ia membakar dunia bagi siapa saja yang telah menyentuh seujung kuku Fradella Gauta.
...************...
Di bawah temaram lampu jalanan yang redup dan berkabut, Dayaksa berdiri bersandar pada mobil SUV hitamnya. Pakaiannya serba hitam, kaus turtleneck, celana kargo, dan jaket kulit yang mengilat. Di jemarinya yang panjang, sebatang rokok menyala, mengepulkan asap yang menari-nari ditiup angin malam yang menusuk tulang. Wajahnya yang tampan kini tampak seperti pahatan es, dingin, kaku, dan menyimpan kegelapan yang tak terukur.
"Tuan, kami siap mengikuti perintah," ucap salah seorang dari sepuluh pria berbadan tegap yang berdiri berbaris di hadapannya. Mereka adalah tim keamanan elite keluarga Herlos yang hanya tunduk pada garis darah utama.
Aksa menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan ke udara. Matanya yang gelap berkilat dengan kebencian yang murni. "Malam ini kita pergi ke kediaman Gauta. Aku ingin memberikan hadiah balasan atas 'hadiah' yang mereka berikan kepada wanitaku."
Ia menjatuhkan puntung rokoknya ke aspal, menginjaknya dengan ujung sepatu bot hingga baranya padam sepenuhnya. "Sebelum pagi, kita harus kembali. Kalian mengerti?"
"Siap, mengerti Tuan Muda!" sahut mereka serempak, suara mereka memecah keheningan malam yang mencekam.
Pukul dua dini hari. Kediaman keluarga Gauta tenggelam dalam kesunyian yang palsu. Tiba-tiba, keheningan itu terkoyak oleh deru mesin mobil yang meraung kencang. Sebuah mobil SUV di barisan depan tidak melambat, melainkan memacu kecepatannya dan langsung menghantam gerbang besi besar kediaman Gauta hingga roboh dengan suara dentuman logam yang memekakkan telinga.
BRAAAKK!
Satpam yang berjaga di pos depan hanya sempat membelalakkan mata sebelum tubuhnya disergap dan diikat oleh orang-orang suruhan Aksa. Semuanya terjadi begitu cepat, presisi, dan tanpa suara teriakan.
Aksa melangkah masuk melewati reruntuhan gerbang. Ia berjalan dengan tenang, seolah sedang berjalan di taman miliknya sendiri. Di depan pintu utama rumah mewah itu, ia berhenti sejenak, menyalakan rokoknya yang ketiga. Asapnya membubung, menutupi ekspresi wajahnya yang mengerikan.
Aksa memberikan kode kecil dengan tangannya. Dua orang maju dan serempak menendang pintu jati utama rumah itu.
BOOOM!
Pintu itu terlepas dari engselnya dan ambruk ke lantai marmer.
Di dalam, lampu-lampu mulai menyala satu per satu. Penghuni rumah yang tengah terlelap terbangun dengan jantung berdegup kencang. Mereka mengira kawanan perampok bersenjata telah membobol rumah mereka. Namun, yang mereka temukan di ruang tengah jauh lebih mengerikan dari sekadar perampok.
Dayaksa duduk dengan santai di kursi besar berbahan kulit, kursi yang biasanya menjadi tempat kekuasaan Tantowi Gauta. Ia menyilangkan kakinya, menatap ke arah tangga dengan pandangan kosong yang mematikan.
"Dayaksa?!" teriak Yuhana yang pertama kali muncul di lantai dua dengan daster sutranya. Wajahnya pucat pasi melihat pemandangan di ruang tengahnya yang kini dikuasai pria-pria berpakaian hitam. "Apa yang kau lakukan di sini?! Kau ingin merampok?! Dasar orang gila!" hinanya tanpa memperdulikan bahwa ucapan akan menjadi pemicu kesengsaraannya.
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua