NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit Hati

Kiara datang lagi dua hari kemudian. Zahra tahu bukan karena dikasih tahu tapi karena parfumnya. Sesuatu yang mahal dan tidak berlebihan, tertinggal di udara foyer waktu Zahra turun dari kamarnya jam delapan malam untuk ambil minum.

Pintu studio tertutup. Zahra berdiri di tangga, satu tangan di pegangan, hidung yang menangkap parfum itu dan otak yang langsung tahu artinya.

Dia di sini lagi."

Zahra balik naik ke kamarnya. Menutup pintu. Duduk di kasur. Tidak marah, dia tidak punya hak untuk marah. Tidak cemburu dia tidak mau mengakui kata itu. Tapi ada sesuatu yang tidak nyaman di dadanya yang tidak mau pergi meski sudah dia paksa berkali-kali.

HP bergetar.

Sinta: eh lo tau nggak gue nemu sesuatu soal si Kiara

Zahra menatap pesan itu lama sebelum membalasnya.

Zahra: apaan?

Sinta: jadi gue iseng googling. Kiara Nathania. Direktur di salah satu anak perusahaan Wibowo Group.

Sinta: yang artinya dia kerja di bawah Rafandra.

Zahra: oke, itu masih masuk akal buat rekan bisnis

Sinta: tunggu. gue belum selesai.

Sinta: gue nemu foto mereka di acara gala dinner dua tahun lalu. Kiara ada di sebelah Rafandra. Stance-nya... bukan stance rekan kerja biasa, Zah.

Zahra menelan ludah.

Zahra: lebay. Kata-kata keramat zahra

Sinta: gue kirimin fotonya. lo nilai sendiri.

Foto itu masuk tiga detik kemudian. Zahra membukanya.

Rafandra dalam setelan hitam sama tegaknya, sama dinginnya seperti yang Zahra kenal. Tapi di sebelahnya Kiara berdiri dengan jarak yang lebih dekat dari sekadar rekan kerja. Tangannya ada di lengan Rafandra. Dan Rafandra tidak menjauh.

Zahra menutup foto itu. Meletakkan HP terbalik di kasur.

"Ini bukan urusan gue.Ini bukan urusan gue. Ini bukan—"

Suara tawa Kiara Dari lantai bawah yang pelan terdengar samar menembus lantai. Diikuti suara Rafandra yang meski tidak jelas kata-katanya, terdengar lebih... cair dari biasanya.

Zahra menarik lutut ke dada. "Dia ketawa sama perempuan itu."

Rafandra yang di depan Zahra hampir tidak pernah ketawa. Yang senyum saja susah. Yang setiap kalimatnya terukur dan dingin. Tapi di bawah sana, dengan Kiara, suaranya berbeda dan itu yang paling menyakitkan bukan karena Zahra cemburu.

Tapi karena Zahra sadar bahwa ada versi Rafandra yang dia belum pernah lihat. Versi yang mungkin hanya muncul untuk orang-orang tertentu dan Zahra belum termasuk orang itu.

.

.

.

Kiara keluar jam sepuluh. Zahra mendengar suara langkah di foyer, suara pintu depan, lalu hening. Lima menit kemudian Rafandra naik tangga.

Zahra sudah matikan lampu kamarnya bukan tidur, tapi tidak mau kelihatan seperti menunggu. Dia berbaring di gelap dengan mata terbuka, mendengar langkah kaki di koridor yang berhenti sebentar di depan pintu kamarnya.

Cukup lama.

Lalu langkah itu berlanjut ke kamarnya sendiri. Suara pintu menutup.

Zahra menatap langit-langit gelap. "Dia hampir ketuk pintu gue.? Atau mungkin nggak. Mungkin gue yang kebanyakan mikir."

Zahra memejamkan mata. "Jangan mikir. Tidur Zahra." Ucapnya pada dirinya sendiri.

Keesokan paginya Zahra turun dengan tekad bulat untuk tidak menunjukkan apapun. Normal. Biasa. Seperti kemarin malam tidak ada apa-apa.

Rafandra sudah di meja makan waktu Zahra masuk dapur masih dengan kemeja kantornya, kopi di tangan, membaca sesuatu di HPnya.

"Pagi," kata Zahra, langsung ke mesin kopi.

"Pagi."

Zahra menuang kopinya, duduk di sisi berlawanan, membuka HP sendiri.

"Kamu baik-baik saja?"

Zahra mendongak. Rafandra tidak menatapnya matanya masih ke HP. Tapi pertanyaan itu dikeluarkan.

"Baik." Dijaga datar.

"Kamu tidak makan malam tadi."

"Nggak lapar."

Rafandra meletakkan HPnya. Menoleh ke Zahra dengan tatapan yang membuat Zahra tiba-tiba merasa tembus pandang.

"Zahra."

"Gue bilang baik, Om." Zahra menahan kontak mata. "Gue cuma nggak lapar tadi malem."

Hening.

"Kiara tidak akan sering ke sini," kata Rafandra akhirnya. Pelan. Langsung.

Zahra mengernyit. "Gue nggak bilang apapun soal Kiara."

"Kamu tidak perlu bilang."

Zahra menatapnya.

Dia tau. Tanpa Zahra bilang apapun tanpa drama, tanpa konfrontasi Rafandra tahu bahwa sesuatu tidak beres. Dan dia yang membuka duluan.

"Itu bukan masalah buat gue," kata Zahra dan kali ini setengahnya beneran. "Dia rekan bisnis Om.Wajar kalau sering ke sini."

"Bukan hanya rekan bisnis." Rafandra tidak mengalihkan mata. "Dan kamu sudah tahu itu."

Zahra diam.

"Tapi itu sudah selesai," lanjutnya. Nada yang sama datar, tapi ada sesuatu di baliknya yang terasa seperti garis yang ditarik tegas. "Sudah lama selesai. Hanya saja beberapa pihak belum menerima kenyataan itu."

"Termasuk Kiara?"

Rafandra tidak menjawab langsung. "Aku yang akan mengatasinya," katanya. "Bukan urusanmu, jangan khawatir."

'Bukan urusanmu, jangan khawatir.'

Kalimat yang seharusnya melegakan karena artinya Zahra tidak perlu repot-repot memikirkan ini. Tapi justru sebaliknya yang Zahra rasakan. Karena kalimat itu juga berarti: "ini urusan aku, bukan kamu." Dan itu yang sakit.

Bukan Kiara-nya. Bukan masa lalu Rafandra. Tapi jarak itu yang meski sudah mengecil dalam beberapa minggu terakhir, masih ada. Masih terasa. Dan di momen seperti ini, terasa lebih jauh dari biasanya.

Zahra mengangkat cangkir kopinya.

"Oke, Om." Senyum yang cukup meyakinkan. "Gue nggak khawatir kok."

Rafandra menatapnya satu detik lebih lama dari biasanya. Lalu mengangguk. Mengambil HPnya kembali.

Zahra meneguk kopinya dan menatap meja.

Di dalam dadanya ada sesuatu yang baru pertama kali dia rasakan sejak semua ini dimulai bukan marah, bukan bingung, bukan takut. Tapi sakit dan Zahra tidak suka bahwa dia merasakannya. Karena merasakannya berarti dia peduli.

Peduli terhadap pria yang bahkan belum sepenuhnya membuka dirinya ke Zahra adalah hal yang paling tidak ingin dia lakukan sekarang.

"Tapi sudah terlambat untuk itu. Jauh lebih terlambat dari yang gue mau akui."

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!