NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Memberi ruang.

Gallelio baru pulang saat jam menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Pria itu berjalan menembus cahaya temaram ruang tengah. Dia tidak bicara, juga tidak ingin mencari tahu bagaimana nasib gadis itu sekarang. Yang jelas, Gallelio pulang dengan beban di dada yang sedikit berkurang, meski rasa marah terhadap ibu dan keberadaan gadis itu belum sepenuhnya hilang.

​"Gallel, kau sudah pulang?"

​Suara berat itu terdengar bersamaan dengan lampu ruang tengah yang menyala terang. Papa Jordan duduk dengan tangan bersedekap di dada, bersandar pada sofa. Gallelio menghela napas kasar. Dia tidak punya waktu untuk meladeni drama orang tuanya jika akhirnya dia tetap disudutkan dan suaranya tidak pernah didengar.

​"Papa perlu bicara, Nak."

​"Tidak perlu. Gallel sudah tahu apa yang mau Papa bahas, dan Gallel tidak mau mendengar apa pun sekarang!" jawab Gallelio tanpa beranjak mendekat. Dia tetap berdiri mematung di tempatnya.

​Papa Jordan menghela napas kasar, kemudian berdiri dan berjalan mendekat. "Tapi Papa perlu mengatakan sesuatu," ujarnya tenang namun menekan.

​"Bisa besok, Pa!"

​"Sekarang, Gallelio!" Suara itu menggelegar tegas, sarat perintah yang tidak boleh dibantah.

​Gallelio mendengus kasar. Lagi-lagi dia harus mengalah di rumahnya sendiri. Dengan langkah berat, dia melangkah ke arah sofa dan mengempaskan tubuhnya dengan kasar di sana.

​"Apa yang mau Papa katakan? Soal gadis itu? Untuk menekan Gallel agar mau menerimanya?" tanyanya sinis.

​"Soal kamu, soal dia, dan soal kita semua," jawab Papa Jordan sembari menggeser sebuah map yang ada di atas meja. "Baca ini!" perintahnya.

​Gallelio mengerutkan kening, bingung. Tangannya bergerak ragu untuk mengambil map itu. Begitu dia membuka isinya, beberapa lembar surat terjatuh dari dalam sana.

​"Aurin Josephine... Apa maksud Papa memberikan ini? Semuanya tidak penting!" ujar Gallelio sembari melempar kembali kertas-kertas itu ke meja. Dia merasa tidak perlu tahu apa pun tentang latar belakang gadis itu.

​"Penting, Gallel," ujar Papa Jordan sembari memperbaiki posisi duduknya dan memungut kembali surat-surat tersebut. "Seorang gadis malang yatim piatu, yang ingin dijual oleh paman dan bibinya kepada keluarga Mahardika demi melunasi utang mereka. Keputusanmu untuk menolongnya dua malam yang lalu sangat tepat, dan menikahinya juga—"

​"Menikahinya juga keputusan yang tepat, begitu maksud Papa?" potong Gallelio dengan tawa kecut. Tawa itu perlahan disertai mata yang mulai berkaca-kaca. "Papa dan Mama terlihat sangat bahagia dengan semua ini. Gallel jadi merasa... apa Gallel sebenarnya sedang dijebak?"

"Tidak ada yang menjebak. Hanya saja, suatu kebetulan kamu menolongnya malam itu, hingga dia bisa melarikan diri dari rumah paman dan bibinya, Gallel. Kamu tidak kasihan kepadanya?" tanya Papa Jordan sembari menatap dalam manik mata putranya.

​"Kasihan?" tanya Gallelio dengan tawa kecil yang terdengar sinis. "Kenapa aku harus kasihan kepada orang yang tidak aku kenal, Pa? Justru yang aku kasihani sekarang adalah Papa dan Mama. Kalian mendadak menjadi bodoh, mendadak jadi orang yang mudah ditipu oleh wajah polos dan memelas dari gadis itu. Kalian mendadak merasa sok pahlawan dengan mengorbankan perasaan anak sendiri!"

​Gallelio menekankan setiap katanya, berharap pria di hadapannya itu sadar bahwa bisa saja mereka sedang dikelabui oleh sandiwara wajah menderita milik Aurin.

​"Tapi malam itu kamu menolongnya karena ada rasa kasihan yang tulus dari hatimu, Gallel. Ingat itu," ujar Papa Jordan tenang, mencoba mengingatkan nurani putranya yang kini tertutup amarah.

​Gallelio hanya mengerutkan kening. Kepalanya mulai kembali terasa pusing dan berdenyut. "Terserah Papa. Terserah kalian. Tapi aku tetap tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri. Dia boleh bersembunyi di sini, tapi aku harap dia tahu diri dan sadar di mana posisinya," ujar Gallelio akhirnya berdiri, merasa muak jika harus terus membicarakan Aurin.

'Cukup dengan dia merasa nyaman di sini. Cukup dengan kamu membiarkannya berada di sekitarmu saja dulu. Tidak harus sekarang karena memang semuanya tidak semudah itu, tapi Papa harap kehadirannya perlahan akan membuat kamu sembuh, Nak,' batin Papa Jordan sembari menatap punggung putranya dengan sebuah senyum misterius.

​Beliau terus memperhatikan langkah Gallelio yang menjauh hingga menghilang di balik tangga. Papa Jordan tahu benar bahwa putranya itu hanya sedang mengeraskan hati. Namun, melihat bagaimana Gallelio akhirnya mengizinkan Aurin tetap tinggal meski dengan syarat yang ketat, itu sudah merupakan sebuah kemajuan besar bagi pria yang selama lima tahun ini menutup rapat pintu rumahnya untuk siapa pun.

...****************...

Gallelio menghela napas lega begitu membuka pintu kamarnya. Setidaknya, dari cara orang tuanya memaksanya menerima Aurin di rumah ini, dari cara mereka menekannya habis-habisan, mereka masih tahu batas. Mereka tidak membiarkan gadis itu menempati kamar utamanya. Jika sampai hal itu terjadi, Gallelio berjanji tidak akan pernah memaafkan kedua orang tuanya.

​Dia duduk di tepi ranjang sembari melepaskan pakaiannya, lalu bergegas ke kamar mandi sebentar untuk sekadar membersihkan diri.

​Setelah selesai, Gallelio membawa tubuhnya kembali ke atas ranjang. Dia mencoba membiarkan pikirannya yang terus berisik untuk beristirahat. Namun, seperti hari-harinya selama lima tahun terakhir, pria itu memiliki riwayat insomnia yang buruk. Dia hampir tidak bisa memejamkan mata tanpa bantuan obat tidur.

​Tapi kali ini, dia tidak mau meminum zat kimia itu. Gallel justru bersandar di kepala ranjang, membentuk seringai kecil yang dingin di balik kegelapan kamar yang sunyi.

​"Dan membiarkannya berada di sini adalah keputusan yang tepat," ujarnya dengan berbagai rencana yang mulai tersusun rapi di kepalanya.

​"Kamu salah masuk kandang, gadis kecil..." lanjutnya penuh ancaman sebelum berusaha memejamkan mata. Namun, rasa kantuk tak kunjung datang, membuatnya kembali terbangun dan berakhir duduk di meja kerjanya.

*******

Mama Amanda dan Papa Jordan akhirnya pamit pulang karena Papa Jordan harus segera bekerja. Kini di rumah besar itu hanya menyisakan Ayuna, Aurin, dan Geanetta. Gallelio sendiri rupanya sudah pergi ke kantor sejak subuh, bahkan sebelum semua orang terbangun, demi menghindari interaksi lebih lanjut dengan keluarganya.

​"Sayang, baik-baik di sini ya. Ingat, kamu masih belum boleh banyak bergerak, kakimu masih sakit. Besok Mama akan datang lagi sepertinya," pamit Mama Amanda sembari memeluk Aurin dengan sayang.

​Aurin hanya mengangguk kecil dengan senyum lembut yang menghiasi wajah pucatnya. Setelah mobil Papa Jordan berlalu meninggalkan halaman, mereka bertiga kembali melangkah masuk ke dalam rumah.

​"Kakak ipar, hari ini aku juga ada urusan di luar. Boleh ya aku titip Anet dulu? Anaknya tidak rewel, kok. Nanti aku akan pulang pas jam makan siang. Kalian juga tidak sendirian, nanti ada Bibi Tika yang datang untuk beres-beres rumah," ujar Ayuna memberi tahu.

​"Iya, Kak..." jawab Aurin dengan nada kaku. Dia masih merasa canggung harus memanggil Ayuna dengan sebutan apa, namun mencoba untuk tetap terlihat sopan.

Saat mobil Ayuna juga meninggalkan rumah, sebuah mobil lainnya tampak masuk ke halaman, bertepatan dengan datangnya Bibi Tika, pelayan pulang pergi di rumah itu.

​Revan keluar dari mobil dengan wajah yang tampak serius. Dia melangkah dengan tergesa memasuki rumah, seolah membawa pesan yang tidak bisa ditunda.

​"Selamat pagi, Nona Aurin," sapa Revan dengan sikap hormat saat sampai di ruang tengah. Dia mendapati Aurin yang sedang duduk menemani Anet latihan menulis dengan penuh kesabaran.

​Aurin membalas sapaan itu dengan menundukkan kepala juga, memberi hormat balik yang justru membuat Revan merasa serba salah.

​"Iya, Pak?" tanya Aurin lembut.

​"Saya hendak bicara dengan Anda, Nona. Ini adalah perintah langsung dari Tuan," ujar Revan dengan nada bicara yang terdengar sangat formal.

​Suasana di ruang tengah itu mendadak berubah menjadi sedikit lebih tegang. Revan yang biasanya hanya menjadi bayangan Gallelio, kini berdiri di depan Aurin sebagai penyambung lidah pria itu. Gallelio memang tidak ada di sana secara fisik, namun melalui Revan, kehadirannya terasa begitu menekan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
ChaManda
keluar kandang kucing, masuk kandang mancan ini mah ☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣Biar Aurin ada kerjaan aja sih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!