NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan mencurigakan?!

"Nad, lo kenapa. Lagi ada masalah ya?" tanya Jeni hati-hati.

Hari ini Jeni perhatikan Nadia tampak murung dan sering menghela napas terdengar mengeluh. Setelah jam pelajaran usai, Nadia langsung merebahkan kepalanya keatas meja.

"Beb..." Nadia akhirnya membuka suara, dia mendongak untuk melihat Jeni yang juga menatap kearahnya.

"Beb, kalau lo mau cerita, gue mau kok dengerin cerita lo." kata Jeni lembut.

"Gue gak tau harus melakukan apa lagi. Gue... gue capek." ucapnya diiringi jatuhnya bulir bening dari kedua pelupuk matanya.

Jeni terkejut, baru kali ini dia melihat Nadia seperti ini. Dengan cepat Jeni memeluk Nadia. Jeni bahkan bisa merasakan bahwa sahabatnya itu bukan capek secara fisik saja, tapi lebih ke capek mental.

Dimata Jeni, Nadia itu tidak pernah sedih, tidak pernah mengeluh, dan selalu tampak baik baik saja.

"Beb, lo gak sendiri. Gue disini, gue ada buat lo." mengelus punggung Nadia lembut. "Gue gak tau apa yang sedang lo alami, gue gak akan maksa lo buat cerita apapun. Tapi, gue harap, lo tau kalau gue bisa bantu lo. Gue siap buat bantu lo."

Tangis Nadia akhirnya pecah dalam pelukan Jeni. Nadia tidak bercerita tentang apapun. Nadia hanya butuh tempat untuk meringankan sedikit beban yang semakin memberatkan langkahnya.

Cukup lama Nadia menangis dalam pelukan Jeni. Hampir setengah jam bahkan. Nadia tidak bicara apapun, Jeni pun juga tidak bertanya, dia hanya membiarkan Nadia menangis dan terus memeluknya.

Dering ponsel mengejutkannya. Rupanya panggilan dari Laura.

"Iya, beb."

(Kelas kalian udah selesai kan? Atau ada jam tambahan.)

"Udah selesai kok beb."

Nadia melepas pelukannya dan menyeka sisa air mata di wajahnya.

"Siapa, beb?" tanyanya pelan.

"Laura."

Nadia mengangguk, kemudian lanjut merapikan rambut dan bajunya.

"Kenapa, beb?"

(Yuri ngajak ke mall, Nadia juga.)

Jeni melirik kearah Nadia yang matanya terlihat bengkak.

"Nad, Yuri sama Laura ngajak ke mall. Mau gak?" Nadia tersenyum sambil mengangguk setuju.

"Oke beb. Kita turun sekarang."

(Hmm, kita tunggu depan fakultas kalian.)

"Oke." mengakhiri pembicaraan itu.

"Are you oke?"

"Hmm."

"Ya udah yok, kita nyusul mereka."

Jeni merangkul Nadia, mereka melangkah santai keluar dari ruang kelas.

"Mata gue bengkak banget ya?"

"Ya gitu." angguk Jeni.

"Jangan bilang gue nangis, please! Bilang aja gue tidur sepanjang pelajaran."

"Iya nanti gue bilang kalau lo ngorok, tidur pulas gak mau bangun."

"Thanks Jen. Tapi ya gak pake ngorok juga."

"Iya, iya."

Jeni tersenyum senang bisa menjadi tempat aman bagi Nadia yang untuk pertama kalinya memperlihatkan betapa rapuhnya seorang Nadia yang dulu sering banget baper dengan ketusnya mulut Yuri. Tapi, sekarang Nadia memang sudah lebih baik dalam mengendalikan emosinya.

...>~<...

[Mall]

Yuri mengajak tiga sahabatnya makan-makan. Lanjut main arcade, foto box, terus terakhir shopping bareng. Mereka membeli beberapa barang yang sama persis.

"Beli tas yok." ajak Yuri lagi, padahal mereka sudah membeli dompet, sepatu, baju dan beberapa aksesoris yang sama.

"Bukannya bulan lalu kita udah beli tas!" seru Nadia yang di respon dengan anggukan oleh Laura dan Jeni.

"Nadia sayang, tas yang waktu itu udah jelek. Gue udah gak suka. Gue mau tas mode terbaru."

"Udahlah beb, untuk hari ini cukup deh belanjaan kita." timpal Jeni.

"Iya, beb. Kita udah belanja banyak loh." sambung Laura dengan mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan barang belanjaan hari ini.

Jeni sama Nadia juga ikut mengangkat barang belanjaan di tangan mereka.

"Ih kalian gak asyik. Gue yang bayar kan? Uang kalian aman kok. Apa pun yang gue beli hari ini, kalian juga harus beli dan gue yang bayar semuanya!" gerutunya kesal.

"Makasih ya Yuri, lo udah belanja-in kita banyak barang hari ini. Tapi..."

"Udahlah, Nadia. Lo diam aja, kalau gue bilang kita beli tas, kalian harus setuju!"

Yuri mulai kembali melangkah mendahului tiga orang yang memilih tetap diam di tempat mereka berdiri saat ini sambil mendengus lantang.

"Ya udah yuk, ikut aja. Lagi bad mood kayaknya tu anak. Biasanya kalau belanja banyak kek gini, itu tandanya lagi banyak pikiran." tebak Laura.

"Ya udah ayok susul Yuri!" Ajak Nadia.

Namun, sebelum langkah mereka semakin jauh, seseorang dengan tiba tiba menghampiri Laura.

"Ra, hey Laura!"

Laura yang terkejut namanya di panggil pun langsung menoleh kearah sumber suara. Jeni sama Nadia juga ikut menoleh.

"Digo!"

Mendengar Laura yang ternyata mengenal cowok itu, Jeni dan Nadia pun ikut berhenti tidak jauh dari Laura dan Digo.

"Lo apa kabar?" mengulurkan tangan yang langsung disambut Laura dengan cepat.

"Gue oke. Lo sendiri?"

"Seperti yang lo lihat." melepas jabatan tangan mereka.

"Lagi shopping nih." Melihat barang bawaan di tangan Laura.

"Ya gitu deh, shopping time."

Mereka lanjut bicara, Nadia sama Jeni perlahan mendekat. Laura menyadari itu, akhirnya ia mengenalkan dua orang itu pada Digo.

"Girls ini Digo, teman SMA gue dulu."

"Hai Digo!" sapa Jeni sama Nadia bersamaan.

"Halo, gue Digo."

Tidak berapa lama setelah Nadia dan Jeni berkenalan dengan Digo, Yuri datang menyusul. Awalnya Yuri terlihat berceloteh, tapi begitu melihat Digo, ia pun langsung tersenyum ramah seakan tidak terjadi apa-apa.

Setelah perkenalan singkat itu, Digo pun pamit pulang lebih awal.

"Teman SMA lo dulu?" tanya Yuri memastikan saat Digo sudah tidak terlihat.

"Iya, teman satu kelas gue dulu."

"Keren abis. Gue suka banget deh penampilannya, cara bicaranya tu seksi gitu loh beb."

"Tertarik!"

"Boleh juga. Tapi, kayaknya dia suka sama lo deh."

"Gak lah. Kita benaran temanan aja kok."

"Punya pacar gak dia?"

"Gak tau sih, tapi dulu dia gak pernah pacaran. Padahal di sekolah tu dia idolanya para cewek."

"Yah, sayang banget sih kalau seganteng dan sekeren itu jomblo."

"Idih, gak sadar diri." Celetuk Jeni sinis.

Yuri mendelik tidak suka dengan celetukan barusan. "Maksud?!"

"Maksud gue, lo ngatai Digo jomblo padahal ganteng gitu, apa kabar lo sendiri, nona!"

"Apaan sih, gak jelas lo!"

"Udah udah, kok malah berantem sih." Nadia mencoba menghentikan perdebatan yang mulai memanas itu.

Yuri sama Jeni akhirnya diam seketika, meski sorot mata mereka masih saling melotot.

"Ya udah sih. Kalau lo suka, gue bisa bantu." lanjut Laura.

"Sayangnya bukan tipe gue." Tangannya menyibak rambut sebahunya itu ke belakang dengan wajah sombongnya.

Jeni, Laura dan Nadia saling menatap sebelum akhirnya mereka mendengus bersamaan.

"Ya udah yuk, pulang!" Ajak Yuri.

"Nah coba gini dari tadi. Kaki gue udah pegel banget ini." rutuk Jeni melangkah mengikuti Yuri, begitu juga dengan Laura dan Nadia.

Mereka terus saling mengobrol sambil melangkah keluar dari mall.

Di parkiran mall, Kevin sudah menunggu Jeni. Begitu melihat kekasihnya, ia langsung melambaikan tangan.

"Sayang, udah nunggu lama ya..." masuk kedalam pelukan Kevin.

"Gak juga. Udah selesai ya belanjanya?" mengelus kepala Jeni.

"Udah dong. Beli banyak, tapi tenang aku gak boros loh, Yuri yang bayar."

Kevin melepas pelukan, menoleh kearah tiga sahabat Jeni yang juga membawa barang belanjaan sama banyak dengan Jeni.

"Kalian pulang naik apa?" tanya Kevin.

"Aku bawa mobil." sahut Yuri.

Kevin mengalihkan tatapannya kearah Nadia. "Nadia pulang bareng kita?" tanyanya ramah. Tapi, tatap mata Kevin lagi lagi cukup membuat Yuri curiga.

"Makasih, tapi gue sama Laura pulang bareng Yuri aja."

Kevin masih belum mengalihkan pandangannya pada Nadia. Awalnya hanya Yuri yang menyadari itu, tapi kemudian, Laura pun menyadari tatapan aneh Kevin pada Nadia.

"Sayang, mobilnya di kunci ya?" tanya Jeni yang memang sejak tadi mencoba membuka pintu mobil untuk memasukkan barang belanjaannya.

Kevin pun tersadar dan segera mengalihkan fokusnya pada kekasihnya. "Sini biar aku bantu." Membuka pintu mobil, mengambil alih barang di tangan Jeni.

"Makasih sayang." ucap Jeni merasa senang.

Sementara, Nadia, Laura dan Yuri juga langsung memasukkan belanjaan mereka ke dalam mobil Yuri.

"Girls, gue duluan ya!" Seru Jeni yang udah masuk mobil duluan.

"See you, beb." sahut Yuri menoleh kearah mobil dan mendapati Kevin masih menatap Nadia.

"Kevin!" Yuri memanggil Kevin, tapi Kevin tidak menyadari. Ia masih terus menatap Nadia yang hendak masuk ke mobil.

"Kevin!" ulang Yuri yang kali ini membuat Kevin kelabakan, dia pun langsung mengalihkan pandangannya.

"Eh iya, ada apa Yuri?"

"Jeni udah ngajak pulang tu."

"Oh, iya. Kita duluan ya." hendak masuk ke mobil, tapi kemudian ia teringat sesuatu. "Laura!"

Laura yang baru saja hendak masuk ke mobil pun mendongak kearah Kevin. "Iya?"

"Gue punya pesan dari Rio. Katanya kapan kamu bisa ngobrol sama dia?"

"Mungkin besok sore."

"Oke. Tolong balas chat dia ya. Katanya dia udah chat lo beberapa kali hari ini."

"Iya, nanti gue balas chat nya."

Sebelum masuk ke mobilnya, sekali lagi Kevin melirik kearah Nadia yang sudah duduk nyaman di kursi belakang. Kali ini bukan cuma Yuri yang melihat itu, tapi Laura juga ikut melihat tatapan mencurigakan itu.

Beberapa saat setelah Kevin masuk ke mobilnya, Yuri dan Laura saling tatap seakan mereka berkomunikasi melalui tatapan mata mereka.

Bersambung ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!