Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari
Apartemen studio di kawasan Jakarta Selatan itu terasa dingin dan berdebu saat Alan membuka pintunya. Sudah hampir tiga tahun tempat ini ditinggalkan sejak dia resmi pindah ke mansion Monique. Alan menyalakan lampu, menatap sekeliling ruangan berukuran 4 \times 5 meter yang tampak kontras dengan kamar utamanya di mansion yang seluas lapangan tenis.
Dia melempar kunci mobil sport—yang besok harus dia kembalikan ke Monique—ke atas meja konter dapur yang berdebu. Alan mengempaskan tubuhnya ke sofa kain yang terasa agak keras.
Ponselnya kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan 27 panggilan tak terjawab dan belasan pesan teks dari Monique.
“Alan, kamu di mana?! Jangan gila ya! Pulang sekarang atau aku cabut semua fasilitas kamu!”
“Alan! Kamu pikir kamu siapa bisa ninggalin aku begitu aja?!”
Alan tersenyum sinis. Dia mengetik balasan singkat.
“Ambil aja semua, Mon. Besok pengacara gue bakal urus surat cerai kita. Makasih buat tiga tahun ini.”
Setelah mengirim pesan itu, Alan langsung memblokir nomor Monique dan mematikan ponselnya. Dia tidak butuh drama malam ini. Kepalanya sudah mau pecah.
Keesokan paginya, suasana di sebuah kedai kopi dekat Stasiun Pasar Senen tampak ramai. Alan duduk di sudut ruangan, penampilannya jauh dari kesan CEO necis yang biasa terlihat di majalah bisnis. Dia hanya mengenakan kaus polos hitam, celana jins, dan jaket kasual. Di depannya, Doni duduk dengan laptop terbuka dan wajah yang tampak kurang tidur.
"Gila lu, Pak. Eh, bentar, gue mangkat lu apaan nih sekarang? Masih Pak CEO atau sebatas Alan doang?" tanya Doni sambil menyeruput kopi hitamnya. Gaya bicaranya langsung berubah santai begitu Alan menegaskan bahwa dia sudah lepas dari perusahaan Monique.
"Alan aja, Don. Gue udah bukan bos lu lagi per hari ini," sahut Alan sambil memijat pelipisnya. "Gimana? Ada hasil dari detektif?"
Doni memutar laptopnya ke arah Alan, memperlihatkan beberapa baris data manifest penumpang kereta api fiktif atau yang dicurigai.
"Detektif yang gue sewa gerak cepat, Lan. Agak susah lacak nama Xarena atau Bela, karena kemungkinan besar dia pakai nama samaran atau beli tiket go-show lewat calo kalau dia beneran panik gara-gara diancam bini lu—maksud gue, mantan bini lu," Doni menjelaskan sambil menunjuk layar. "Tapi, ada satu kecocokan menarik. Kemarin subuh, ada wanita dengan ciri-ciri mirip Xarena, bawa anak kecil umur empat tahunan, turun di Stasiun Kutoarjo."
Jantung Alan berdegup kencang. "Kutoarjo? Lu yakin?"
"Kutoarjo itu stasiun besar terdekat kalau mau ke daerah Purworejo atau pelosok Kebumen, Lan. Dan yang bikin gue makin yakin, detektif gue sempat nanya ke tukang ojek pangkalan di sana. Ada yang lihat wanita mirip foto Xarena yang gue sewa, naik angkutan pedesaan ke arah Bruno. Itu daerah perbukitan di Purworejo. Katanya, dia punya kerabat jauh di sana."
Alan langsung berdiri dari kursinya, membuat beberapa pengunjung kedai menoleh. "Gue berangkat sekarang."
"Eh, eh! Jangan bego, Lan! Duduk dulu!" Doni menarik jaket Alan sampai pria itu duduk kembali. "Lu mau ke sana naik apa? Jalan kaki? Mobil sport lu kan udah lu balikin lewat sopir tadi pagi?"
Alan tertegun, lalu meraba sakunya. Dia hanya membawa dompet berisi kartu kredit pribadinya—bukan kartu korporat—dan beberapa lembar uang tunai. "Gue bisa sewa mobil di sekitar sini. Atau naik kereta sekalian."
Doni menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat kepanikan sahabat sekaligus mantan bosnya itu. Dia merogoh kantong celananya dan melempar sebuah kunci mobil ke meja. "Pakai mobil Avanza gue aja. Lu mau nyari ke daerah pelosok, pakai mobil sport malah masuk selokan nanti. Lagian, kartu kredit lu mending disimpan buat modal hidup di sana. Lu kan udah jadi rakyat jelata sekarang."
Alan menatap kunci mobil di meja, lalu menatap Doni dengan pandangan haru. "Don... thanks banget. Gue nggak tahu harus ngomong apa."
"Halah, nggak usah melow gitu, geli gue lihatnya," goda Doni sambil terkekeh. "Tapi serius, Lan, lu beneran siap lepasin semuanya? Jabatan, rumah mewah, relasi bisnis? Monique itu dendamnya bisa sampai ke ubun-ubun loh. Dia pasti bakal bikin nama lu blacklist di dunia bisnis Jakarta."
Alan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa jauh lebih lepas dibandingkan tiga tahun terakhir. "Gue nggak peduli, Don. Tiga tahun ini gue ngerasa kayak boneka pajangan yang nggak punya jiwa. Gue ngejar harta cuma buat pamer ke Xarena, padahal realitanya, dia menderita gara-gara salah paham gue. Kalau gue harus miskin lagi buat nebus kesalahan gue ke dia dan Ciara, gue ikhlas."
"Bagus deh kalau lu udah waras," Doni menepuk bahu Alan. "Ya udah, buruan cabut sana sebelum macet makin parah. Informasi detail soal lokasi di Bruno udah gue kirim ke WhatsApp lu yang nomor baru. Detektif gue masih stanby di Purworejo buat bantu lu kalau nyasar."
Perjalanan dari Jakarta menuju Jawa Tengah memakan waktu hampir delapan jam melalui jalur tol Trans-Jawa. Sepanjang jalan, pikiran Alan tidak pernah lepas dari Xarena dan Ciara. Dia memutar lagu-lagu lama yang dulu sering mereka dengarkan bersama di mobil tua Alan saat masih kuliah. Air matanya beberapa kali menetes, bukan karena sedih kehilangan kemewahan, melainkan karena menyesali waktu lima tahun yang terbuang sia-sia karena egonya yang tinggi.
Sore harinya, sekitar pukul lima, mobil Avanza milik Doni mulai memasuki wilayah perbukitan Bruno, Purworejo. Jalanan di sini mulai menyempit, berkelok-kelok, dan dikelilingi oleh pohon-pohon cengkih serta pemandangan bukit yang hijau. Udara dingin khas pegunungan mulai terasa masuk melalui celah jendela mobil.
Alan menghentikan mobilnya di depan sebuah warung kelontong kecil di pinggir jalan yang sepi. Dia turun dan menghampiri seorang ibu paruh baya yang sedang merapikan dagangannya.
"Permisi, Bu. Mau tanya, apa Ibu tahu rumah Pak RT atau sesepuh di sekitar dusun ini?" tanya Alan dengan bahasa Indonesia yang diusahakan se-sopan mungkin.
Ibu pemilik warung menatap Alan dari atas sampai bawah dengan pandangan curiga. "Cari siapa ya, Mas? Kok penampilannya kayak orang kota?"
"Saya mencari teman saya, Bu. Namanya Xarena. Dia baru datang dari Jakarta tadi pagi bawa anak kecil perempuan namanya Ciara. Katanya dia tinggal di rumah kerabatnya di sekitar sini," jelas Alan, mencoba seramah mungkin.
Mendengar nama Xarena, ekspresi wajah ibu itu langsung berubah agak tegang. "Oh... Mbak Rena? Mas ini siapanya ya? Suaminya Mbak Rena yang di Jakarta?"
Pertanyaan itu menohok jantung Alan. Suami? Berarti Xarena pernah bercerita tentangnya, atau setidaknya statusnya. "Bukan, Bu... saya... saya ayah dari anaknya," jawab Alan lirih, jujur dari lubuk hatinya yang terdalam.
Ibu itu menghela napas panjang, tatapan curiganya melunak berganti menjadi rasa iba. "Oalah... jadi Mas ini toh yang dicari-cari. Kasihan Mbak Rena, Mas. Tadi pagi pas sampai sini wajahnya pucat banget kayak orang ketakutan. Dia sekarang numpang di rumah budhenya, di ujung jalan ini, yang rumahnya cat hijau ada pohon mangganya."
"Terima kasih banyak, Bu!" kata Alan cepat.
Dia langsung kembali ke mobil dan melaju perlahan menyusuri jalan berbatu sesuai petunjuk tersebut. Tak butuh waktu lama, Alan melihat sebuah rumah joglo sederhana bercat hijau dengan halaman luas yang ditumbuhi pohon mangga besar.
Di teras rumah itu, duduk seorang wanita yang sangat dia kenali. Xarena sedang memangku Ciara yang tampaknya sedang tertidur pulas. Wajah Xarena terlihat sangat lelah, rambutnya dikuncir asal-asalan, dan matanya sembap.
Alan menghentikan mobilnya di luar pagar bambu. Dia mematikan mesin, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh, lalu membuka pintu mobil.
Saat langkah kaki Alan menginjak kerikil di halaman, Xarena mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Alan yang berjalan mendekat, wanita itu langsung berdiri dengan tegang, mendekap Ciara lebih erat ke dadanya. Matanya membelalak penuh rasa tidak percaya bercampur ketakutan.
"Alan...? K-kamu... kenapa bisa di sini?" bisik Xarena, suaranya bergetar hebat.
Alan berhenti tepat tiga langkah di depan teras. Dia menatap wanita yang selama lima tahun ini dia benci dalam diam, namun ternyata merupakan satu-satunya wanita yang memegang kunci hatinya.
"Aku ke sini buat jemput kamu, Ren. Jemput kamu dan anak kita," ucap Alan, suaranya parau namun penuh penekanan yang jujur.
Xarena menggelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Jangan gila, Lan! Pulang ke Jakarta! Monique... Monique bisa hancurin kamu kalau dia tahu kamu di sini!"
Alan tersenyum tipis, lalu melangkah maju dan berlutut di lantai teras tepat di hadapan Xarena. Dia meraih tangan Xarena yang bebas, menggenggamnya erat tanpa memedulikan penolakan kecil dari wanita itu.
"Monique nggak bisa ngatur aku lagi, Ren. Aku udah lepasin semuanya. Jabatan, harta, semuanya udah aku balikin ke dia. Aku ke sini cuma bawa diri aku yang dulu... Alan yang bodoh, yang telat tahu kebenaran, tapi sekarang mau berjuang dari nol lagi sama kamu," kata Alan dengan mata yang berkaca-kaca.
Xarena tertegun, menatap pria di hadapannya yang kini tidak lagi memancarkan kesombongan seperti beberapa hari lalu di Jakarta. Di mata Alan, kini hanya ada ketulusan dan penyesalan yang mendalam. Kebohongan dan dinding pembatas selama lima tahun itu akhirnya runtuh seiring dengan angin senja yang berembus di perbukitan Bruno.