NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:639
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vania Menjemput — dan Aku Hampir Terjebak

Hari Minggu sore. Toko buku Gramedia. Aku dan Rasya sedang asyik membaca di sudut—dia baca buku tentang psikologi gelap, aku baca novel roman remaja (tapi malu-maluin).

"Nayla, serius kamu baca itu?" tanya Rasya sambil melirik sampul bukuku yang bergambar cowok bule kacamata.

"Ini bagus, tau. Ceritanya soal cinta terlarang antara dua kingdom."

"Kedengerannya kayak sinetron."

"Ya memang sinetron versi buku. Tapi tetap bagus!"

Rasya menggeleng-gelengkan kepala, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Tepat saat kami asyik, handphoneku bergetar.

Vania (15.33): "Nay, kamu di mana? Aku ke mall, katanya kamu lagi di sini?"

Aku menunjukan layar ke Rasya. Wajahnya langsung berubah.

"Vania tahu kamu di sini?" tanyanya pelan.

"Nggak mungkin dia tahu. Aku nggak bilang siapa-siapa." Aku berpikir keras. "Aku cuma bilang ke Andre kalau hari Minggu aku ke toko buku. Tapi nggak bilang yang mana."

"Jadi Andre yang bilang ke Vania?"

"Atau Vania yang memantau kita?"

Rasya menggenggam tanganku. "Kita pergi. Sekarang."

Tapi sebelum kami sempat bangkit, suara familiar terdengar dari pintu masuk.

"Nay! Tuh kan, kamu di sini!" Vania melambai-lambai dari kejauhan, diikuti oleh seorang cowok yang aku kenal betul.

Rio. Teman Vania di kehidupan sebelumnya. Otaknya encer, mulutnya tajam, dan dia paling jago dalam hal... meracuni mental orang.

Vania dan Rio berjalan mendekat.

"Nay, perkenalkan, ini Rio. Teman lamaku dari Bandung. Pindahan juga ke sini." Vania menyeringai. "Kalian bakal akrab, deh."

Rio menatapku—tapi bukan tatapan biasa. Tatapannya seperti sedang mengukur, menilai, mencari kelemahan.

"Halo, Nayla," sapanya, suaranya terdengar manis tapi matanya... matanya sedingin es. "Vania cerita banyak tentang kamu."

"Cerita apa?" tanyaku santai.

"Cerita kalau kamu... spesial."

Kata 'spesial' diucapkan dengan intonasi aneh. Seperti dia tahu sesuatu yang tidak seharusnya dia tahu.

Rasya berdiri—tingginya sedikit di atas Rio. "Kita lagi sibuk."

"Ooh, maaf." Rio tersenyum, tapi tidak terlihat menyesal. "Nggak ganggu, kok. Cuma mau kenalan."

"Udah kenalan. Sekarang permisi." Rasya meraih tanganku, menarikku berdiri.

"Wah, jangan buru-buru, dong." Vania menghalangi jalan. "Aku kan temannya Nayla. Masa temannya nggak boleh ngobrol?"

"Boleh." Rasya menatap Vania. "Tapi nggak sekarang."

"Nay, pacar kamu galak banget sih," Vania mengalihkan ke aku.

"Bukan pacar," jawabku cepat. "Tapi dia pelindungku."

Vania dan Rio saling berpandangan. Lalu Rio terkekeh.

"Menarik."

Dia mendekatiku—terlalu dekat. Aku bisa mencium parfumnya yang menyengat.

"Nayla, hati-hati, ya," bisik Rio di telingaku, pelan agar hanya aku yang mendengar. "Dunia ini kejam untuk orang yang terlahir kembali."

Aku membeku.

Dia tahu. Mereka berdua tahu.

Rio mundur, tersenyum lebar. "Udah, Van. Kita pergi. Nampaknya mereka lagi sibuk. Awas jangan sampai diganggu."

Dia menarik tangan Vania, dan mereka berdua berjalan keluar toko buku, meninggalkan aku dan Rasya yang berdiri di antara rak-rak buku.

Rasya menggenggam tanganku erat. "Dengar?"

Aku mengangguk. Tanganku dingin. Seluruh tubuhku dingin.

"Dia tahu."

"Iya."

"Vania tahu? Atau cuma Rio?"

"Entahlah. Tapi yang pasti..." Aku menelan ludah. "Kita tidak sendirian. Ada lebih banyak orang yang terlahir kembali dari yang kita kira."

Rasya memicingkan mata. "Dan mereka tidak semua berpihak padamu."

"Atau padamu."

Kami berdua diam, merenungkan fakta yang baru saja terungkap: bahwa pertarungan ini bukan hanya melawan dua musuh lama, tapi mungkin melawan sekelompok orang yang memiliki rencana jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!