Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Pengakuan dan Keputusan
"Kamu salah paham. Saya sudah melupakan mantan istri saya, bahkan sekarang sangat membencinya. Kamu bisa tanya Papa kamu jika tidak percaya"
"Dan tentang wanita yang saya sukai, itu adalah kamu"
Akhhh, sialan!!
Keisya mengacak rambutnya. Dia menghentakan kakinya pada tempat tidur, sambil terus berteriak.
Bayangan kejadian tadi kembali berputar dalam kepalanya. Bukan hanya kalimat Bastian, tapi juga apa yang dia lakukan padanya.
Mereka berciuman bibir?!
Astaga.
Keisya hampir tidak terkejut atas pengakuan cinta Bastian. Karena keterkejutannya sudah terenggut oleh ciuman singkat tersebut.
Disentuhnya kembali bibir bawahnya, dan langsung terdiam beberapa saat.
Hangatnya, sensasinya saat permukaan bibir mereka saling bersentuhan, berdebarnya, masih bisa dia rasakan.
Dia menutup wajahnya "Gimana ini?" Keisya tidak bisa menghilangkan bayangan itu. Bahkan sekarang dia tidak berani keluar kamar karena takut tidak bisa mengendalikan diri di depan orang rumah.
Wajahnya pun terasa panas.
Apakah dia merona?
"Ga mungkin" Keisya menggeleng kuat. Dia langsung terduduk tegak dengan keadaan rambutnya yang mengembang. Tatapannya lurus penuh keyakinan.
Dia tidak mungkin blushing. Ini terjadi karena dia sangat marah pada Bastian.
Benar, pasti begitu.
"Dasar Om Om mesum. Kurang ajar"
Keisya mengambil bantal, memukulnya tanpa ampun seolah itu adalah Bastian. "Dasar tua bangka ga inget umur! Kurang ajar! Berani beraninya,, ah sialan!" Keisya benar-benar mengumpati teman Papanya itu. Dia sedang membangun kebencian dalam hatinya, atas apa yang sudah dia perbuat padanya.
Tok Tok Tok
Keisya terperanjat, dia memeluk bantal sambil menatap ke arah pintu. Matanya berkedip cepat.
Siapa yah? Bukan Bastian kan?
"Kei, boleh Papa masuk?"
Keisya meringis, memejamkan matanya, menggerutu dalam hati. Bisa bisanya dia menyangka jika itu adalah Bastian.
"Bego. Lo bener bener bego, Kei"
Lalu seolah teringat, dia menjauhkan bantal yang di peluknya, menatapnya penuh kekesalan. "Ini semua gara-gara Om Bastian" dia melemparkannya ke lantai sebelum dia menuruni tempat tidur. Sambil berjalan menuju pintu, dia masih sempat menunjuk bantal tersebut dengan mata yang menyipit "Urusan kita belum selesai"
Sangat konyol.
Jika saja Bastian melihatnya, pria matang itu sudah pasti tertawa dibuatnya.
"Sebentar Pa!"
Dia membuka pintu, tersenyum polos berharap Papanya tidak menaruh curiga padanya.
"Kenapa rambut kamu berantakan?"
Sampai dia melupakan satu detail penting, yang justru semakin memancing kecurigaan Papanya.
Dengan gerakan cepat, Keisya merapihkan rambutnya. "Oh, ini. Aku tadinya mau coba ngeritingin rambut, tapi kayanya gagal" ujarnya sambil cengengesan.
"Kamu mau ngeritingin rambut?"
Sekalipun heran, pembahasan itu berakhir dengan cepat. Gunawan masuk dan melihat kamar putrinya yang cukup berantakan.. Selimut, guling, dan terakhir bantal, tidak berada pada tempatnya.
Tanpa bertanya apapun lagi dia langsung mengambil bantal yang tergeletak, dan menyimpannya di atas tempat tidur putrinya.
Keisya sendiri hanya memperhatikan. Ingin melarang karena dia masih menganggap bantal itu adalah Bastian, namun dia urung melakukannya. Akan sangat merepotkan jika Papanya kembali bertanya alasannya, sedangkan dia bingung harus memberikan jawaban apa.
"Kei, Papa mau tanya sesuatu"
"Apa Pa?"
Mereka berdua duduk. Seperti biasa, Keisya duduk di tepi tempat tidur, dan Papanya di kursi belajarnya. Tidak ada sofa atau kursi lain di kamarnya, mengingat sebelumnya dia tidak tinggal disini. Jadi semuanya serba apa adanya. Papanya sempat menawarkan untuk membeli furniture tambahan, namun dia menolak.
"Akhir akhir ini kamu sering keluar main. Sama siapa aja?" Gunawan bukan tipe orang yang berbasa basi. Dia akan langsung pada intinya, jika itu cukup menganggu pikirannya.
Setelah mendengar penuturan temannya, Gunawan cukup khawatir pada keadaan Keisya. Sekalipun anak pertamanya ini sudah dewasa dan sudah pandai menjaga diri, tapi di matanya dia tetap putri kecilnya, sama seperti Kayla.
"Oh, itu. Sama Sisi, Haikal anaknya Om Bastian, terus satu lagi Vincent, senior aku di kampus" aku Keisya jujur "Kenapa emangnya Pa?"
"Bukannya Papa pernah bilang jangan terlalu dekat sama anak laki-laki itu?"
Keisya mengangguk, "Aku inget kok Pa. Tapi dia ga seperti yang Papa pikirkan. Lagipula aku ga pernah berduaan, apalagi ke tempat yang aneh aneh. Ada anak Om Bastian juga" sekali lagi, Keisya menyebutkan anak Bastian, berharap Papanya tidak terlalu khawatir.
Tapi sepertinya perkiraannya meleset.
"Papa mengerti maksud kamu. Tapi Papa sama sekali belum pernah bertemu lagi sama anak Om Bastian."
Keisya cukup terkejut mendengarnya. Bertahun tahun berteman, Papanya ternyata tidak dekat dengan keluarga Bastian. Bahkan tidak mengenal kedua anaknya?
"Terakhir kali bertemu waktu Haikal masih SMP. Keluarga Om Bastian ada masalah, dan berakhir perceraian keduanya. Kedua anaknya menutup diri dari dunia luar dan Papa ga pernah ketemu lagi sampai sekarang"
"Kata Om Bastian Haikal terpengaruh sama dunia malam gara-gara temannya. Bahkan pernah memergoki ada di hotel sama sekretaris Om Bastian sendiri"
Kejadian hari itu? Keisya ingat. Dia ada disana, dan melihatnya secara langsung.
"Sekalipun ada anak Om Bastian, tapi kalau itu bisa membawa pengaruh buruk, lebih baik kamu jauhi"
\=\=\=\=\=
Bastian tidak berhenti tersenyum setelah berhasil mencium gadisnya dalam keadaan sadar. Ternyata sensasinya sangat berbeda dengan sebelumnya. Adrenalinnya tertantang. Rasanya dia ingin kembali mengulanginya.
Kesenangannya itu terganggu oleh kedatangan Haikal. Wajah Bastian langsung tampak tidak senang dalam sekejap. Dia menatap anaknya itu dengan tatapan permusuhan.
Haikal sampai heran dengan hal itu.
Apalagi setelah hari itu dimana Ayahnya memerintahkan orang untuk menjemputnya paksa.
"Yah, boleh ga aku tetep disini aja? Ga masalah jabatan apapun, ga tinggi juga gapapa"
Alasan ini yang Bastian gunakan. Haikal dia minta pindah ke kantor cabang yang ada di luar kota, dan mempercayakan sepenuhnya. Padahal sebelumnya Bastian tidak berniat melakukannya.
Namun karena merasa kepemilikan pada gadisnya terancam, dia akan melakukannya tanpa ragu.
Dan sebelumnya pun Haikal pernah mengatakan keinginannya untuk mengelola salah satu anak perusahaannya, tapi kenapa sekarang berubah?
Bukan karena gadisnya kan?
Kurang ajar sekali.
Bersaing dengan anak sendiri, bukan hal yang dia inginkan. Bastian sulit mengatasinya, apalagi menggunakan kekerasan.
Dia masih memiliki sedikit hati nurani.
"Tidak bisa. Semuanya sudah diurus. Segera berkemas, dan pergi secepatnya" Bastian terkesan mengusir anaknya sendiri. Tapi dia tidak peduli.
"Tapi yah,"
Bastian menggebrak meja, memotong keluhan Haikal "Berani kamu membantah perintah Ayah?!"
Haikal menunduk, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Keputusan Ayahnya tidak pernah berubah. Jika itu kehendaknya, maka harus terjadi. Suka atau tidak.
Haikal meninggalkan ruangan Ayahnya dengan langkahnya yang gontai. Tatapannya meredup sangat jauh berbeda dari beberapa hari terakhir.
David menyadari itu.
"Gimana? Ayah mau berubah pikiran?"
Haikal hanya menggelengkan kepalanya.
David sudah menebak itu sejak awal, tapi tetap bertanya berharap ada keajaiban yang dapat melembutkan hati Ayah mereka.
"Terus sekarang gimana?"
"Harus berangkat" jawab Haikal lesu.
David diam, begitu pula dengan Haikal. Kedua kakak beradik itu sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
Sampai David tiba-tiba berceletuk, "Gimana kalau kita cari ibu?"