NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Perangkap Sang Dokter Tampan

"D-dokter, apa yang... Dokter lakukan?"

Napas Alana naik-turun tak karuan. Ia merasa oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis oleh kehadiran pria di depannya.

Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, menciptakan irama panik yang memekakkan telinga.

Di dalam ruangan kedap suara yang dingin itu, suara napasnya yang memburu terdengar sangat jelas di keheningan malam yang mencekam.

Punggungnya terdesak hebat. Alana merasa tubuhnya terimpit di antara pinggiran meja yang sempit dan dada bidang Dokter Raden yang sekeras batu.

Kini tepat di depannya, dr. Raden Ganendra berdiri tegak dengan ekspresi wajah datar namun sangat mempesona.

Hidungnya mancung kayak perosotan, rahangnya tegas dan maskulin. Benar-benar sebuah paket komplit yang mematikan bagi kaum hawa.

Jemari panjang pria itu bergerak perlahan, membelai rambut Alana dengan gerakan yang sangat lembut namun mengintimidasi.

Sentuhan itu kemudian beralih ke wajah, membelai pipinya hingga menimbulkan sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh kulitnya.

Bahkan kini, Alana seolah kehilangan seluruh kekuatan hanya untuk sekadar berdiri tegak di hadapan pria itu.

Flashback On

30 Menit Sebelumnya

Alana melangkah dengan sedikit terburu-buru, seperti orang yang sedang dikejar utang menuju ke ruangan Kepala Departemen Bedah.

Suasana Rumah Sakit Medika sebenarnya terlihat normal seperti biasa, tapi tidak dengan hati Alana yang sedang berkecamuk.

Ia bertanya-tanya dalam hati dengan penuh kecemasan. Apa ia telah membuat sebuah kesalahan fatal yang tidak ia sadari?

Sesampainya di depan pintu ruangan yang terlihat angkuh itu, Alana berhenti sejenak untuk mengatur napasnya.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk."

Suara dingin namun tegas terdengar dari dalam ruangan, membuat nyali Alana mendadak menciut.

Alana kemudian masuk dengan langkah yang sangat hati-hati, seolah takut lantai yang ia injak akan retak.

Bisa ia lihat di sana, dr. Raden Ganendra sedang duduk tenang menghadap ke arah laptop.

Pria itu tampak sangat fokus, seperti sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting dan tidak boleh diganggu.

"Ada apa Dokter memanggil saya?" tanya Alana dengan suara yang diusahakan tetap profesional.

Raden tak menjawab pertanyaan Alana sedikit pun. Ia justru melepaskan kacamatanya dengan gerakan yang perlahan namun elegan.

Pria itu kemudian berdiri dan melangkah mendekat ke arah Alana dengan aura dominasi yang sangat kuat.

"Tutup pintunya, Alana. Dan kunci. Jangan membantah!" perintah Raden dengan nada yang sangat tegas dan dingin.

Sempat ada keraguan yang terpancar di mata Alana. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

Tapi ia tetap melakukan perintah itu karena ia tahu tidak akan ada gunanya melawan perintah dr. Raden.

Dengan badan yang gemetar hebat, ia melangkah mundur, menutup pintu kayu itu, dan menguncinya rapat-rapat.

Flashback Off

Kembali ke masa sekarang, Alana menyadari satu hal yang sangat pahit dalam benaknya.

Bahwa menuruti perintah Raden itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidup yang justru sangat ia sesali sekarang.

Tapi semua telanjur terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, dan ia kini terjebak dalam perangkap sang dokter.

Kini Raden berdiri di depannya sangat dekat, benar-benar tanpa ada jarak sedikit pun yang tersisa di antara tubuh mereka.

Alana bisa merasakan embusan napas segar beraroma mint bercampur wangi parfum maskulin yang sangat memabukkan.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, dr. Raden mencium bibirnya dengan sangat menuntut dan penuh tekanan.

Ciuman itu terasa sangat intens, seolah Raden ingin melampiaskan seluruh emosinya yang meledak-ledak di dalam dada.

"Dok... Dokter... Apa maksud semua ini?" tanya Alana dengan suara bergetar seperti orang yang sedang menahan tangis.

"Aku hanya mengambil ciuman dari seseorang yang selama ini mengganggu pikiranku," jawab Raden dengan nada rendah yang bergetar.

"Dan kau pikir bisa menghindar dariku setelah apa yang terjadi di pesta ulang tahun rumah sakit waktu itu, hm?"

Raden bertanya sambil tersenyum menyeringai. Sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya namun tetap terlihat tampan.

Deg!

Pesta itu... Alana langsung terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak sesaat.

Napasnya masih tersengal-sengal. Rasa panas bercampur perasaan takut masih tertinggal di bibirnya yang terasa berdenyut.

Pertanyaan Raden tentang pesta malam itu sukses membuat ingatan Alana kembali pada kejadian memalukan itu.

Kenapa Dokter Raden harus mengingatkannya sekarang? Haish, bagaimana ini... monolog Alana dalam hati yang kian kalut.

"Dokter... Pesta itu... itu hanya kesalahpahaman. Waktu itu saya sedang mabuk, jadi..."

Alana berucap dengan suara terbata-bata, berusaha keras mengatur ritme napasnya yang masih berantakan.

"Mabuk katamu?" Raden langsung memotong kalimat Alana dengan nada suara yang meninggi dan tajam.

Pria itu kini kembali mencondongkan tubuhnya pada Alana sampai meja di belakangnya bergeser sedikit karena tekanan.

"Jangan mencari alasan! Kau pikir kata mabuk bisa membuatku melupakan sentuhan yang kau lakukan padaku malam itu, Alana?"

Raden menatap tajam langsung ke dalam manik mata Alana yang kini mulai tampak berkaca-kaca.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu menghindar atau menjauh dariku begitu saja, hah?"

"Setelah kau merenggut kewarasanku? Kau salah besar, Alana. Tidak semudah itu bagimu untuk pergi."

Raden menarik pelan tangan Alana yang mungil dan meletakkannya tepat di atas dada bidangnya yang keras.

Alana bisa merasakan dengan jelas jika jantung Raden berdetak sangat kencang di balik kemeja mahal yang ia kenakan.

Detak jantung itu menandakan satu hal: pria di depannya ini sedang menahan gejolak emosi dan amarah yang terpendam.

"Aku bukan pria yang bisa kau permainkan begitu saja lalu kau tinggal pergi seolah tidak terjadi apa-apa."

"Setelah kau masuk dalam hidupku, kau tidak bisa keluar lagi, Sayang..." bisik Raden dengan suara deep voice tepat di telinga Alana.

Embusan napas panasnya membuat seluruh bulu kuduk Alana meremang hebat. Tubuhnya gemetar tak terkendali.

Alana mencoba memalingkan wajahnya karena tidak kuat menahan intimidasi dari tatapan Raden.

Namun tangan Raden dengan cepat menahannya, memaksanya untuk kembali menatap wajah tampan yang penuh obsesi itu.

"Ingat ini baik-baik, Alana. Mulai hari ini kau bukan hanya sekadar perawat biasa di departemen ini."

"Tapi kau adalah milikku... milik seorang Raden Ganendra... camkan itu baik-baik di kepalamu!"

Raden tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari tangan Alana dan menjauhkan tubuhnya dengan tiba-tiba.

Pria itu kemudian berjalan kembali ke meja kerjanya dengan langkah santai, seolah-olah tidak ada hal besar yang terjadi.

Ia kembali duduk di kursi kebesarannya, mengenakan kacamatanya, dan kembali fokus pada pekerjaan yang sempat tertunda.

"Sekarang kamu keluar. Sebelum aku berubah pikiran," ucap Raden dingin tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alana.

"Dan melanjutkan apa yang seharusnya kulakukan padamu saat di pesta malam itu," lanjutnya dengan nada mengancam.

********

Catatan Penulis:

Selamat datang di kisah Dokter Raden dan Alana! ❤️

Gimana pembukaan Bab 1-nya? Langsung panas ya! Siapa yang nggak gemetar kalau dipojokkan sama dokter setampan sekaligus se-obsesif Raden Ganendra?

Kira-kira apa yang bakal dilakukan Raden sebagai langkah selanjutnya untuk mengikat Alana? Jangan lupa buat dukung cerita ini ya:

LIKE Bab 1 ini kalau kalian suka sama karakter Raden!

KOMEN dong, kalau kalian jadi Alana, bakal kabur atau malah betah di ruangan itu?

FAVORITKAN biar kalian nggak ketinggalan bab-bab seru selanjutnya!

Terima kasih buat semua pembaca setia! Yuk tembuskan popularitas kita lebih tinggi lagi! Luv u! ❤️✨

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!