Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kini Sheila dan Arkan berjalan di koridor rumah sakit yang sepi dan hening.
"Dokter malam begini masih bertugas?" tanya Sheila dengan suara lirih, berusaha mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang Devano yang baru saja ia lihat di ruang bayi.
"Iya, malam ini saya baru selesai tugas untuk jadwal operasi pasien darurat sejak sore tadi," jawab Arkan sambil tersenyum tipis, meskipun kelelahan terpancar jelas dari gurat wajahnya. Ia menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah Sheila yang masih sedikit lambat dan lemah.
Arkan memperhatikan jaket tipis yang dikenakan Sheila. Ia merasa suhu koridor rumah sakit terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja menjalani operasi besar dan trauma hebat.
"Seharusnya kamu masih beristirahat di kamar, Sheila. Berjalan sendirian di jam seperti ini tidak baik untuk tekanan darahmu," ucap Arkan dengan nada tegas namun tetap terdengar sangat perhatian. "Kamu adalah calon dokter, seharusnya kamu tahu bahwa pasien pasca-operasi adalah prioritas utama untuk tidak boleh mengalami kelelahan fisik maupun mental."
Sheila hanya menunduk, merasa seperti seorang mahasiswa yang sedang ditegur oleh dosennya. "Maaf, Dok. Pikiran saya sedang terlalu penuh. Berada di dalam kamar hanya membuat saya semakin sesak."
Arkan berhenti melangkah tepat di depan sebuah mesin minuman otomatis. Ia membeli sebuah cokelat hangat dan memberikannya kepada Sheila. "Minumlah. Ini akan membantu menenangkan sarafmu sebelum kembali tidur."
"Terima kasih, Dokter Arkan," ucap Sheila sambil menerima gelas kertas itu. Rasa hangat dari minuman tersebut perlahan merambat ke telapak tangannya yang sedikit membiru karena dingin.
"Sheila," panggil Arkan dengan nada yang lebih serius. "Apa pun yang kamu lihat tadi... jangan biarkan itu menarikmu kembali ke dalam kegelapan. Kamu berhak memilih kebahagiaanmu sendiri. Jika kamu membutuhkan seseorang untuk berbagi beban, saya ada di sini bukan hanya sebagai mentor, tapi sebagai orang yang peduli padamu."
Di balik pilar besar tak jauh dari sana, Devano menyaksikan segalanya. Ia melihat bagaimana Arkan begitu lembut menjaga Sheila, memberikan kehangatan yang seharusnya menjadi tugasnya. Ia merasa seperti penjahat yang hanya bisa mengintai dari kegelapan, sementara Arkan adalah cahaya yang kini mengelilingi hidup Sheila.
Devano meremas botol air mineral di tangannya hingga hancur. Cemburu itu menyakitkan, namun melihat Sheila mulai tenang bersama pria lain adalah luka yang lebih dalam baginya.
"Mungkin memang hanya dia yang bisa menyembuhkanmu, Sheil," bisik Devano pilu sambil membalikkan badan, melangkah pergi dengan hati yang benar-benar hancur malam itu.
Sheila menyesap cokelat hangatnya perlahan, merasakan aliran panas yang menenangkan tenggorokannya. Ia mendongak, menatap langit-langit koridor dengan mata yang kini tampak lebih berkilau karena tekad, bukan lagi karena air mata keputusasaan.
"Untuk saat ini saya hanya ingin merawat anak saya, Dok, dan mengejar mimpi saya menjadi seorang dokter. Saya tidak berniat untuk kembali atau balik pada kegelapan itu... Dan terima kasih atas segala perhatiannya," ucap Sheila dengan nada suara yang sangat tegas dan mantap.
Arkan tertegun sejenak mendengar jawaban Sheila. Ia tidak menyangka bahwa di balik tubuh yang ringkih itu, tersimpan kekuatan mental yang begitu luar biasa. Alih-alih merasa terabaikan karena Sheila menolak membahaskan perasaan, Arkan justru merasa semakin terpikat oleh karakter Sheila yang independen.
"Itu pilihan yang sangat berani, Sheila. Dan saya akan menjadi orang pertama yang mendukung mimpi itu," balas Arkan sambil tersenyum bangga. "Dunia kedokteran membutuhkan seseorang dengan empati dan kekuatan seperti kamu. Fokuslah pada anakmu dan kuliahmu. Masalah keamanan dan tekanan luar... biarkan saya dan tim rumah sakit yang menanganinya."
Devano, yang masih berada di balik bayangan dinding, merasakan dadanya seperti dihantam gada besar. Kata-kata "kegelapan itu" merujuk langsung padanya—pada cinta obsesifnya yang ternyata selama ini dianggap sebagai penjara hitam bagi Sheila.
Ia menyadari bahwa permintaan maaf atau usaha apa pun yang ia lakukan sekarang mungkin tidak akan cukup. Sheila tidak hanya ingin pergi darinya, tapi Sheila ingin menghapus seluruh jejak "Devano" dari masa depannya.
Devano menyandarkan kepalanya ke tembok, menutup matanya dengan rapat. "Aku adalah kegelapanmu, Sheil... dan aku tidak akan pernah bisa menjadi cahaya bagimu seperti dokter itu," bisiknya dengan suara tercekik.
Arkan akhirnya mengantar Sheila sampai ke depan pintunya. Sebelum Sheila masuk, Arkan menahan langkahnya sebentar.
"Istirahatlah, Sheila. Besok pagi, jika kondisimu stabil, saya sendiri yang akan membantumu menyiapkan segala prosedur agar kamu bisa memegang anakmu untuk pertama kalinya."
Mata Sheila berbinar mendengar janji itu. "Benarkah, Dok? Terima kasih... terima kasih banyak!"
Sheila masuk ke dalam kamar rawatnya dengan senyuman harapan, sementara Arkan berdiri di depan pintu sambil menghela napas panjang. "Masih harus berusaha mendapatkan hatinya," bisik Arkan pada dirinya sendiri.
Kini Devano duduk terpaku di sebuah bangku taman rumah sakit yang sepi. Matanya menatap langit malam, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu—ke sebuah malam di mana kehidupannya mulai hancur secara perlahan.
Pikirannya melayang pada saat ia bersama kedua sahabatnya, Indra dan Bayu, duduk di sebuah bar mewah. Di tengah gelak tawa dan aroma alkohol, sebuah taruhan konyol terucap begitu saja. Sebuah taruhan untuk mendapatkan motor sport edisi terbatas, dengan syarat Devano harus bisa menaklukkan hati Sheila, gadis yang dikenal sulit didekati.
"Aku menyesal, Sheila..." bisik Devano pilu. Suaranya hilang ditelan angin malam. "Hubungan kita yang berjalan selama tiga tahun harus berakhir karena kebodohanku. Aku menyesal karena ternyata aku benar-benar mencintai kamu."
Devano mengingat bagaimana awalnya ia menjalani hubungan itu hanya sebagai tantangan. Namun, seiring berjalannya waktu, kehangatan Sheila, ketulusannya, dan caranya menatap Devano telah meruntuhkan tembok keangkuhan pria itu. Devano terjebak dalam permainannya sendiri; ia memenangkan taruhan itu, tapi ia kehilangan jiwanya.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, merasakan sesak yang luar biasa di dada. Ia mengingat hari di mana Sheila mengetahui tentang taruhan itu—hari di mana tatapan penuh cinta di mata Sheila berubah menjadi kebencian murni.
Kini, ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya adalah penjahat utama dalam hidup Sheila. Ia adalah sosok yang memulai semuanya dengan kebohongan, dan kini ia harus melihat wanita yang sangat ia cintai menganggapnya sebagai "kegelapan" yang harus dihindari.
Devano mengambil ponselnya, melihat foto Sheila yang masih ia simpan sebagai wallpaper. Ia tahu bahwa untuk mendapatkan maaf dari Sheila mungkin adalah hal yang mustahil, terlebih dengan adanya Arkan yang kini menjadi cahaya baru bagi Sheila.
"Jika aku tidak bisa menjadi cahayamu, setidaknya biarkan aku menjadi perisaimu dari kejauhan, Sheila. Biarkan aku menghancurkan siapa pun yang mencoba menyakitimu, termasuk papaku sendiri!" ucap Devano dengan nada dingin dan penuh tekad.
Ia berdiri, meninggalkan taman itu dengan langkah yang lebih mantap. Penyesalannya tidak akan menghilang, namun ia tidak akan membiarkan kebodohan masa lalunya menghancurkan masa depan putranya dan Sheila sekali lagi.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/