NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Sugar Daddy

​Perjalanan dinas ke Bali terasa seperti mimpi buruk yang mewah. Lingga dan Ayu terbang dengan jet pribadi, Ken duduk di kursi seberang, memastikan mereka tidak berinteraksi secara personal.

​Mereka tiba di sebuah vila pribadi yang terletak di tebing Uluwatu. Vila itu adalah kemewahan murni: kolam renang tanpa batas yang menghadap Samudra Hindia, arsitektur minimalis, dan privasi absolut.

​Ken dengan cepat memeriksa keamanan dan mengantar Ayu ke kamarnya. "Kamar Anda di sayap timur, Nona. Jauh dari Tuan Lingga di sayap barat. Pintu Anda memiliki kunci ganda. Pastikan Anda menggunakannya."

​Ayu mengangguk. Ken tahu bahwa di lingkungan yang intim ini, bukan hanya keamanan dari luar yang penting, tetapi juga menjaga jarak profesional di dalam vila.

​Sore itu, mereka menghabiskan waktu berjam-jam membahas rencana presentasi di ruang kerja vila. Ayu, dalam setelan kerjanya, tampil cemerlang. Ia memprediksi keberatan Gubernur dengan akurat dan menyusun solusi yang elegan.

​Lingga, yang kini fokus pada pekerjaan, terkesan. "Kau seharusnya menjadi salah satu dewan direksiku, Ayu," pujinya, tanpa emosi.

​"Saya hanya lulusan SMA yang mencari pengalaman, Tuan," balas Ayu, mempertahankan 'Jarak Profesional'nya.

​Namun, ketegangan fisik di antara mereka sangat nyata.

Setiap kali Ayu mencondongkan tubuh di atas peta untuk menunjuk suatu wilayah, Lingga menahan napas. Bau sandalwood yang lembut dari parfum Ayu terasa seperti pemicu yang berbahaya.

​Setelah pekerjaan selesai, mereka makan malam di teras, diawasi oleh Ken yang duduk di meja yang jauh. Lingga dan Ayu makan dalam keheningan yang kaku.

​Pukul 11.00 malam. Ayu sudah berada di kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Janji Lingga dan hukuman pemotongan gaji terus terngiang, tetapi bayangan ciuman itu terasa lebih nyata. Lingga ada di sini, hanya beberapa puluh meter darinya, di balik dinding yang tipis.

​Ayu bangkit. Ia mengenakan bathrobe vila yang tebal dan berjalan ke balkon, mencoba menenangkan diri dengan suara ombak.

​Di sayap barat, Lingga juga tidak bisa tidur. Ia telah berusaha keras.

Ia telah melakukan yoga, membaca laporan, dan bahkan menelepon Ken untuk membahas protokol keamanan yang sudah tidak perlu. Tetapi candu bibir Ayu jauh lebih kuat daripada kendalinya.

​Aku berjanji padanya. Aku membayar 100% gajinya untuk janji itu, Lingga berjuang.

​Namun, ia tahu Ayu ada di vila yang sama, sendirian. Keterpakuan yang ia rasakan terhadap Ayu adalah kelemahan terbesarnya, dan kelemahan itu menuntut pemenuhan.

​Lingga akhirnya menyerah. Ia berjalan pelan ke luar, menuju ruang utama. Ia melihat siluet Ayu di balkonnya di sayap timur, berdiri di tepi kolam renang yang bermandikan cahaya bulan.

​Lingga berjalan mengitari kolam renang. Ia tidak ingin berbicara. Ia hanya ingin tahu apakah Ayu merasakan hal yang sama.

​Ayu mendengar langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh dan melihat Lingga berdiri di sana, hanya mengenakan celana training.

​"Tuan Lingga," bisik Ayu, jantungnya berdebar kencang. "Ada masalah dengan dokumen?"

​"Bukan dokumen," jawab Lingga, suaranya serak dan rendah. "Ini masalah kendali."

​Lingga berjalan mendekat. Ia tidak menyentuh Ayu, tetapi tatapan matanya mengisyaratkan hal yang paling intim.

​Ayu merasakan tarikan itu. Ia seharusnya berlari, ia seharusnya berteriak memanggil Ken. Tapi ia tetap di tempatnya.

​"Anda berjanji, Tuan," bisik Ayu, sebagai upaya terakhir untuk menjaga jarak.

​"Aku tahu," desah Lingga. "Tapi aku tidak pernah mencium Aleya, Ayu. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya padamu, dan yang lebih parah... aku tidak bisa melupakannya. Aku ketagihan."

​Pengakuan itu menghancurkan pertahanan Ayu. Lingga adalah pria yang berkuasa, tetapi ia mengakui bahwa ia berada di bawah kendali hasratnya.

​Ayu tidak menjawab, tetapi matanya memohon. Rasa ingin tahu, hasrat muda, dan keinginan untuk merasakan sensasi terlarang itu lagi melampaui akal sehatnya.

​Tiga hari berlalu dalam ketegangan yang berat sejak ciuman yang dicuri di perpustakaan. Lingga dan Ayu, sama-sama ketagihan, tiba di vila pribadi yang mewah di Uluwatu, Bali.

​Malam itu, setelah sesi kerja yang intens dan makan malam yang kaku, Ayu berdiri sendirian di balkon, menghadap Samudra Hindia. Ia tidak bisa tidur. Ia melawan kerinduan yang membingungkan untuk Lingga—pria yang baru saja memotong gajinya 100%.

​Lingga, di sayap barat vila, juga kehilangan kendali atas dirinya. Ia telah berjanji, tetapi godaan dari keberadaan Ayu di bawah atap yang sama terlalu kuat.

​Lingga akhirnya menyerah pada hasratnya. Ia berjalan mengitari kolam renang, melihat siluet Ayu di balkon.

​Ayu mendengar langkah kaki itu dan menoleh. Lingga berdiri di sana, hanya mengenakan celana training.

​"Tuan Lingga," bisik Ayu, jantungnya berdebar kencang. Ia seharusnya berlari, tetapi ia tidak bergerak.

​"Ini masalah kendali," jawab Lingga, suaranya serak. Ia berjalan mendekat.

​Ayu merasakan tarikan itu. Ia tahu ini adalah pelanggaran yang diminta oleh kedua belah pihak.

​"Anda berjanji, Tuan," bisik Ayu, memohon.

​"Aku tahu," desah Lingga. "Tapi aku tidak bisa melupakan bagaimana rasanya..."

​Pengakuan itu menghancurkan pertahanan Ayu. Ia menatap Lingga, matanya memohon. Hasrat muda dan keinginan untuk merasakan sensasi terlarang itu lagi melampaui akal sehatnya.

​Lingga mencondongkan tubuh ke depan. Ia mencengkeram wajah Ayu, menangkupnya dengan kedua tangan, dan menutup jarak terakhir di antara mereka. Matanya tertutup, napasnya terengah-engah, siap untuk melanggar janji yang paling penting.

​Tepat pada saat bibir mereka hampir bertemu—hanya berjarak sentuhan—sebuah suara yang tenang dan profesional memecah keheningan malam.

​"Tuan Lingga. Nona Ayu. Maaf mengganggu."

​Lingga tersentak, menghentikan gerakan terakhirnya. Ia melepaskan Ayu dan berbalik dengan wajah marah. Ayu terkesiap, mundur selangkah, napasnya terengah-engah.

​Ken berdiri di tepi kolam, mengenakan pakaian keamanan hitam. Di tangannya, ia memegang tablet yang menyala dan senapan kejut yang kecil. Ekspresi Ken datar, tetapi matanya memancarkan ketegasan yang mutlak.

​"Ada apa, Ken?!" geram Lingga, amarahnya karena interupsi itu jelas.

​"Maafkan saya, Tuan. Tapi ada notifikasi darurat. Tim keamanan di Jakarta melaporkan adanya pergerakan mencurigakan dari hacker yang mencoba mengakses data pribadi Anda melalui jaringan nirkabel," lapor Ken, beralasan dengan data yang ia buat-buat.

​Ken tahu tidak ada hacker. Ia hanya melihat Lingga melangkah ke dalam bahaya, dan ia tidak akan membiarkan bosnya menghancurkan dirinya sendiri dan, yang lebih penting, menghancurkan Ayu yang masih polos.

​Tuan Lingga, Anda tidak pernah mencium Aleya yang Anda cintai karena Anda takut kehilangan kendali. Jangan rusak gadis ini dengan hasrat yang hanya akan Anda sesali dan bayar dengan uang, pikir Ken.

​Ken melanjutkan dengan nada tegas, mengabaikan ketegangan seksual yang baru saja ia hentikan. "Kita tidak aman di sini, Tuan. Nona Ayu, tolong kembali ke kamar Anda. Anda tidak boleh dekat dengan jaringan nirkabel. Kita harus segera mengecek server vila."

​Ayu, yang masih gemetar karena hampir berciuman, merasa berterima kasih sekaligus bingung pada Ken. Ken telah menyelamatkannya dari dirinya sendiri.

​"Baik, Tuan Lingga," kata Ayu, suaranya tercekat. Ia buru-buru berlari kembali ke sayap timur, tanpa menoleh ke belakang. Ia harus menggunakan alasan ini untuk melarikan diri.

​Lingga menatap punggung Ayu, lalu menatap Ken dengan mata menyala-nyala. Lingga tahu Ken berbohong.

​"Kau berbohong, Ken," desis Lingga.

​"Tuan," balas Ken, berdiri tegak. "Saya tidak berbohong tentang risiko yang mengancam Anda saat ini. Kami sudah tahu bagaimana Anda bereaksi terhadap stres. Ada janji yang telah Anda bayar 100% dari gaji asisten Anda, Tuan. Saya hanya memastikan Anda tidak melanggarnya lagi."

​Ken meletakkan tablet itu. "Nona Ayu masih muda, Tuan. Dia cerdas, dia aset. Jangan merusaknya menjadi sugar baby yang hanya akan Anda bayar, dan kemudian Anda buang. Itu tidak profesional, dan itu tidak etis."

​Lingga menatap Ken. Ia tahu Ken benar. Ken, si asisten keamanan, kini bertindak sebagai penjaga moralnya.

​Lingga menghela napas berat, mengakui kekalahannya. "Baik. Urus hacker palsumu, Ken. Dan pastikan dia tidak keluar dari kamarnya sampai besok pagi."

​Lingga berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya, merasa frustrasi tetapi lega. Ken telah menyelamatkannya dari pelanggaran yang tidak dapat ditarik kembali.

​Ken melihat pintu kamar Lingga tertutup. Ia kemudian berjalan ke sayap timur, berhenti di depan pintu kamar Ayu, dan diam di sana sejenak, memastikan gadis itu aman.

Maafkan saya, Nona Ayu. Ini demi kebaikan Anda, batin Ken.

***

1
novi a.r
lanjut thor
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!