Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Suaminya
"Bagus, terima kasih Indra." Di ujung sana, Dea segera mematikan ponsel sambil menyeringai tajam. Dia berharap rencananya berhasil.
Indra pun bergegas menaruh ponsel dan kembali ke ruangan, bergabung bersama Casey, Hannah dan Bobby.
"Dari mana? Sibuk sekali sepertinya dokter Indra," tanya Bobby, memandang Indra sekilas.
Indra melempar senyum hambar. "Dari luar, angkat telepon mamaku, dia suruh pulang cepat, aku bilang belum bisa pulang karena lagi makan bareng teman-teman kerja."
Bobby mengangguk kecil. Secara bersamaan pintu ruangan tiba-tiba terbuka, menampilkan dua orang pramusaji pria membawa nampan berisi dua nasi goreng, spageti, dimsum, ubi goreng, chai kue, tiga buah matcha latte dan semangkuk es buah.
"Permisi ini pesanannya." Salah satu pramusaji membuka suara.
"Iya taruh saja." Hannah yang masih mengobrol bersama Casey sejak tadi, melirik sekilas lalu kembali memandang lawan bicara.
Pramusaji pun mulai meletakkan pesanan di atas meja satu-persatu sambil sesekali melirik ke arah Indra.
Melalui gerakan mata, kedua lelaki itu saling berkomunikasi. Indra melirik ke arah Casey, memberitahu bahwa Casey lah targetnya. Pramusaji lantas mengerti. Lalu menaruh semangkuk es buah tepat di hadapan Casey.
Tadi, sebelum menunggu pesanan, Indra berpura-pura izin ke toilet kemudian pergi menemui salah satu pramusaji untuk memberi serpihan kacang ke pesanan Casey. Indra mendapat informasi dari Dea jika Casey alergi terhadap kacang.
Bagaimana Dea bisa tahu? Beberapa hari sebelumnya, Dea tak sengaja menguping pembicaraan Hannah dan Casey, tentang alergi terhadap makanan.
"Casey, kau yakin cuma makan es buah? Nggak mau pesan makanan berat," kata Hannah seketika.
"Iya, aku kenyang Kak."
"Yakin nih?" Hannah menyakinkan Casey.
"Udah Hannah, jangan dipaksa, mungkin Casey lagi diet," kelakar Bobby mulai menyeruput matcha latte di hadapannya.
Hannah mengerling pelan. "Diet apanya? Kalau diet bukan makan es buah."
Bobby dan Casey hanya saling lirik sambil menahan senyum. Sedangkan Indra mulai mengambil garpu hendak menyantap spageti.
"Tenang kak, aku udah kenyang kok, nah Kakak sama Bobby makan saja," Casey menimpali.
"Oke deh, eh terima kasih ya Bang." Hannah melirik pramusaji yang sudah meletakkan semua makanan di atas meja.
"Baik, saya permisi dulu." Lalu pramusaji pamit undur diri bersama temannya.
Selang beberapa detik, keempat manusia itu mulai menyantap pesanan mereka masing-masing.
Termasuk Casey, tanpa menaruh curiga sedikit pun dia mulai memasukan es buah ke mulutnya sambil melirik Hannah, Bobby dan Indra yang asik menyantap makanan.
Karena kampung tengah kosong, ketiganya makan dengan senyap.
"Casey, kau kenapa?" tanya Hannah keheranan kala mendengar Casey batuk-batuk dan melihat wajah Casey tiba-tiba merah.
Bukannya membalas, napas Casey mulai tersengal-sengal, dia sesak napas. Dan wajahnya terlihat mulai bengkak.
Hannah dan Bobby tampak sangat panik. Indra sang pelaku utama berakting panik juga. Dalam sepersekian detik, Casey tiba-tiba pingsan.
Bruk!
"Casey!" teriak Hannah dengan mata melebar sempurna.
Bobby dan Indra spontan beranjak dari sofa.
"Hannah, kita pergi ke rumah sakit sekarang!" Bobby segera mengangkat tubuh Casey.
Hannah mengerti. Dengan raut wajah panik bergegas membuka pintu ruangan.
Selang beberapa menit, Casey sudah diberi penanganan pertama di rumah sakit di tempatnya berkerja selama ini.
Tepatnya di ruang IGD, Sari yang kebetulan mendapatkan shift malam, melakukan tugasnya sebagai seorang perawat. Hannah dan Bobby ikut membantu Sari tadi.
Saat ini, Casey belum sadarkan diri. Sejak tadi Hannah, Bobby dan Indra mengelilingi bed yang ditempati Casey.
"Aku sudah kasi tahu sepupunya Casey barusan, sepertinya dia masih di kliniknya sekarang," kata Sari. Melirik Hannah yang terlihat amat sedih.
"Terima kasih Bu Sari," balas Hannah. Sari pun pergi dari situ kemudian melanjutkan memeriksa keadaan pasien yang lain.
"Sepupu? Jayden maksudnya," Bobby tiba-tiba berkata sambil melirik Hannah.
"Iya lah siapa lagi, tapi aku aneh banget, kenapa Casey bisa alergi ya, padahal kan es buahnya nggak ada kacangnya tadi," ucap Hannah, dengan kening berkerut sangat kuat.
"Entahlah, semoga saja Casey dapat segera siuman." Dengan ekspresi datar Bobby tiba-tiba melirik ke arah Indra sekilas.
Merasa diperhatikan, keringat di dahi Indra mulai terlihat.
'Eh dokter Bobby nggak mungkin curiga sama aku kan?' batinnya sejenak sambil mencoba bersikap tenang walau sebenarnya begitu gugup.
Indra memilih diam, berusaha menunjukkan ekspresi sedih di hadapan Hannah dan Bobby sejak tadi.
"Kau benar, ayo cepatlah siuman Casey," gumam Hannah. Matanya tiba-tiba teralihkan dengan gerakan tangan Bobby yang mulai mengenggam tangan Casey sekarang.
"Bagaimana keadaan Casey?" Secara bersamaan Jayden muncul tepat di samping Hannah.
Hannah terkesiap. Lalu mulai melirik ke arah Jayden yang terlihat tak kalah paniknya.
"Casey belum siuman, apa dia ada alergi lain selain kacang, Jayden?" Tanpa menurunkan tangan, Bobby pun melirik ke samping.
Bukannya membalas, pandangan Jayden justru tertuju pada tangan Bobby yang menyentuh tangan Casey. Dada Jayden terasa panas.
"Jayden?" panggil Bobby, mulai keheranan.
"Hmm, aku kurang tahu dan aku juga baru tahu Casey alergi kacang, bisa kau singkirkan tanganmu." Jayden yang semula berjarak beberapa meter dari Casey, kini semakin mendekat dan sekarang berdiri tepat di samping Bobby.
Melihat hal itu, Indra dan Hannah amat terkejut kemudian saling lempar pandang dengan isi pikiran berbeda.
"Jayden, Bob, kami ke sana sebentar ya." Hannah tiba-tiba menarik tangan Indra sambil melempar senyum kecut kepada Jayden dan Bobby.
Tak ada jawaban, kedua lelaki itu justru beradu tatap.
"Tapi Hannah ...." Indra sebenarnya tak mau menyingkir. Dia penasaran dengan apa yang terjadi di sekitarnya sekarang. Namun, Indra akhirnya dengan terpaksa mengikuti arah perginya Hannah.
Meninggalkan Bobby dan Jayden masih memandang satu sama lain, dengan aura mematikan menguar dari tubuh mereka masing-masing, sampai-sampai beberapa para perawat yang tak sengaja berdiri tak jauh dari mereka, saling lirik, saling sikut-menyikut.
"Memangnya kenapa? Ada masalah?" Bobby merasa Jayden terlalu berlebihan. Dia tak sedikit pun berniat melepaskan tangan Casey. Entah mengapa gosip yang beredar di rumah sakit, membuat Bobby jadi ikut kepikiran.
Jayden mendengus kasar lalu berkacak pinggang. "Ikut aku sebentar."
"Kalau aku nggak mau gimana?" Bobby mengangkat dagu dengan angkuh sekarang.
"Dokter Bobby, ini masih di ruang IGD, dan Casey sedang masa pemulihan, aku nggak mengajak kau berantem, cuma ada yang mau aku sampaikan samamu sebentar." Meski suara Jayden terdengar pelan. Namun, sorot matanya yang dingin membuat Bobby terpaksa menuruti.
Dengan berbagai pertimbangan dan pikiran berkecamuk ke mana-mana, Bobby akhirnya pergi ke lorong lain bersama Jayden. Lorong yang sepi, lorong yang jarang dilalui pada malam hari.
"Kenapa Jayden? Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Bobby tanpa basa basi.
"Apa kau suka dengan Casey?" tanya Jayden, merasa dadanya belum juga dingin sejak tadi. Bayangan tangan Casey disentuh Bobby menari-nari di benaknya sejak tadi.
Bobby tersenyum miring.
"Aku bukan sekadar suka, tapi sudah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama dan aku berencana akan mengajaknya menikah nanti."
"Simpan rencanamu itu, Casey sudah menikah dan aku lah suaminya."