"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naik Kelas
Pagi-pagi sekali Rara sudah bersiap ke sekolah. Seperti biasa ia akan disuruh berangkat duluan, agar ibu tirinya leluasa memberikan jajan pada Alea.
"Apa yang kamu lihat?" bentak Alea ketika Rara membalikkan badannya setelah melangkah keluar rumah.
Rara segera mengalihkan perhatian ke arah lain.
Kenapa ibu selalu pilih kasih? Bathinnya
Padahal yang mencari uang untuk mereka juga ayah Rara. Rara terus berjalan, di persimpangan jalan setapak di pematang sawah, ia berpapasan dengan Kak Selvi. Rara mencoba menegur, tapi Alea rupanya sudah muncul di belakang mereka.
"Kak Selvi!!" ia menarik tangan Selvi menjauhi Rara. Alea akan selalu menghalanginya berteman dengan orang sekitaran rumahnya.
"Padahal Alea tadi pergi belakangan ya, Kak?" Alisya menghela napas berat.
"Mungkin dia berlari, Dek. Biar kita nggak bisa dekat dengan teman-temannya."
"Kemarin malam, kita juga dia usir ya, Kak? Padahal kita cuma ikutan nonton di rumah Kak Selvi." Alisya memanyunkan bibirnya.
"Kak Selvi aja nggak ngusir kita!"
Dari kejauhan masih tampak Alea sesekali menoleh ke arah Rara. Entah apa yang mereka bincangkan. Rara menduga kalau mereka sedang memperbincangkan ia dan Alisya.
Sampai di sekolah Rara mulai was-was, perasaannya campur aduk. Kali ini ia tak berharap lagi akan jadi juara kelas. Ia tahu kemampuannya., naik kelas saja sudah cukup baginya. Mengingat catur wulan pertama dan kedua ia banyak sekali membawa nilai merah di raport.
Ketika kakinya baru saja melangkah menuju ruang kelas, bel masuk berbunyi. Seperti biasa mereka berkumpul di lapangan. Untuk penguman sang juara dari setiap kelas.
"Ra, apakah nanti bawa cabe lagi nggak?" Arini menggodanya. Rara mencubit tangannya pelan.
"Doain aku naik kelas ya, Rin?" balas Rara memelas.
"Pasti dong, biar kita sama-sama lagi!"Arini tersenyum penuh makna.
Setelah pembagian hadiah untuk para pemuncak kelas, mereka memasuki kelas masing-masing. Rara mulai gemetaran, jantungnya berdetak begitu cepat. Ia takut raportnya akan mengecewakan. Karena ia sudah membayangkan bagaimana kalimat menyakitkan itu keluar dari bibir ibu tirinya.
"Rara, maju!" suara lembut Bu Neti mengagetkannya. Rara melangkah ke meja guru tersebut.
"Ini raportmu, selamat ya kamu naik kelas. Nanti di kelas tiga harus lebih rajin lagi ya?" Bu Neti mengusap lembut bahunya. Ia juga menyelipkan selembar uang sepuluh ribuan di raport Rara.
"Ini apa, Bu?" ucap Rara polos.
"Ambil untuk jajanmu, sedekah dari Ibu. Ingat pesan Ibu ya, Ra. Tingkatkan lagi cara belajarmu. Kamu sebenarnya pintar."
Rara terdiam lama sebelum kembali ke mejanya.
Rara resmi naik ke kelas tiga dengan nilai yang cukup baik. Ia menatap rapornya lama-lama. Tidak ada satu pun tinta merah di sana.
Senyum kecil terukir di wajahnya.
"Kamu naikkan, Ra?' Arini berdiri di sampingnya.
Rara mengangguk pelan. Menyunggingkan senyum kebahagian.
"Sini lihat!" pinta Arini, meraih raport Rara.
"Wah Ra, lumayan dari pada yang kemarin." ucap Arini masih mengamati raport Rara. Tidak ada yang istimewa dari raportnya. Hanya saja kali ini, tak satupun tinta merah yang bertengger. Rara menyimpan raport itu ke dalam tas lusuhnya, yang sudah robek di bagian kanan.
Selesai pembagian raport mereka diizinkan pulang dengan libur panjang.
Dalam perjalanan pulang, langkah Rara terasa lebih ringan dari biasanya. Ia ingin segera sampai rumah. Ingin menunjukkan pada ayah saat ia pulang nanti, entah ayah akan peduli atau tidak. Disampinya Alisya berjalan berdampingan. Ia juga naik kelas.
Sesampainya di rumah, suara tawa Alea lebih dulu menyambutnya. Gadis itu sedang duduk di ruang depan, mengaduk-aduk plastik jajanan.
“Kok lama?” tanya Alea ketus. “Aku udah dari tadi nunggu.”
Rara tak menjawab. Ia menanggalkan tasnya pelan, lalu masuk ke kamar kecil yang baru di sekat ayahnya, di sudut rumah. Tangannya gemetar saat membuka tas dan mengeluarkan rapor itu sekali lagi.
Naik kelas.
Tidak ada nilai merah.
Ia menghela napas panjang, seolah baru saja keluar dari air yang menenggelamkannya lama.
“Ngapain bengong?” suara ibu tirinya menyambar dari ambang pintu. “Udah pulang?”
“I-iya, Bu,” jawab Rara. “Ini… rapor.”
Wanita itu mengambil rapor dari tangan Rara tanpa duduk, membukanya sekilas, lalu mendengus kecil.
“Ya sudah, naik,” katanya dingin. “Memang seharusnya begitu.”
Tak ada senyum. Tak ada pujian.
Rara menunduk. Ia sudah menduga, tapi tetap saja ada bagian kecil di dadanya yang terasa kosong.
“Jangan senang dulu,” lanjut wanita itu. “Naik kelas belum tentu pintar. Masih harus banyak belajar”
“Iya, Bu,” jawab Rara lirih.
Alea mendekat, melirik rapor Rara sekilas lalu berdecak.
“Ah, biasa aja,” katanya sambil kembali ke jajanan.
Rara membawa rapornya masuk ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang tipis, membuka halaman itu sekali lagi. Jari-jarinya menyusuri angka-angka hitam yang rapi.
Kamu pintar, Ra.
Ucapan Bu Neti kembali terngiang.
Untuk pertama kalinya, Rara merasa, meski hanya sedikit, bahwa usahanya tidak sia-sia. Meski tak ada yang merayakan, meski tak ada yang memeluknya, ia tahu satu hal
Ia berhasil.
Dan malam itu, sebelum tidur, Rara memeluk raportnya erat-erat. Ia berjanji di kelas berikutnya ia harus jadi sang pemenang itu. Ia ingin membuktikan kepada orang yang telah meremehkannya, bahwa Rara tidak akan kalah oleh keadaan.