NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Latihan Rahasia

​Menjadi superhero seperti Batman atau Spiderman ternyata tidak sekeren di komik. Julian baru menyadarinya setelah tiga hari menjalani kehidupan ganda.

​Di siang hari, dia adalah Julian Pradana. Kemeja rapi, kacamata bersih, idola guru, dan mimpi buruk bagi siswa yang suka membolos.

Di sore hari, dia adalah Phantom. Hoodie hitam, masker tengkorak, gitaris shredder yang memimpin band urakan di studio kumuh.

​Masalah utamanya bukan pada musuh jahat, tapi pada manajemen waktu dan cucian baju.

​"Julian, kamu terlihat... lelah?" komentar Bu Rina saat berpapasan di koridor. "Mata kamu ada kantungnya. Jangan terlalu forsir belajar buat Olimpiade, ya."

​Julian tersenyum sopan, membetulkan letak kacamatanya. "Terima kasih perhatiannya, Bu. Saya hanya sedang mencoba... metode belajar baru."

​Metode belajar menahan napas di balik masker kain yang panas, batin Julian.

​Ia berjalan menuju kantin. Langkahnya tegap, tapi punggungnya pegal luar biasa. Latihan band kemarin sangat brutal. Alea ternyata pemimpin yang perfeksionis. Gadis itu bisa mengulang satu bagian lagu sampai dua puluh kali kalau feel-nya belum dapat.

​Di kantin, Julian melihat meja "Pasukan Berandal"—sebutan tak resmi anak-anak The Rebels. Alea sedang tertawa lebar sambil memukul lengan Raka.

​Mata mereka bertemu sekilas.

​Alea tidak melambaikan tangan. Dia hanya mengedipkan sebelah matanya cepat, lalu kembali tertawa seolah tidak melihat Julian. Itu kode rahasia mereka: Latihan jam 4. Jangan telat.

​Julian menahan senyum, lalu berbelok menuju meja anak-anak OSIS yang sedang membahas anggaran fotokopi. Rasanya aneh memiliki rahasia sebesar ini. Tapi anehnya... Julian menikmatinya.

​Pukul 16.10. Studio Bising.

​"Panas, gila," keluh suara di balik masker tengkorak.

​Julian menarik maskernya sedikit untuk bernapas, lalu mengipas-ngipasi lehernya dengan buku chord. Keringat sudah membasahi rambutnya di balik kupluk hitam.

​"Tahan, Phantom. Pengorbanan demi seni," ledek Raka yang sedang menyetel snare drum.

​"Seni tidak seharusnya membuat dehidrasi dan gatal-gatal," gerutu Julian. Ia kembali membetulkan letak maskernya saat pintu studio terbuka dan Dito masuk membawa gorengan (kali ini dibungkus rapi dalam wadah plastik, karena Julian melarang minyak gorengan menetes ke karpet yang baru divakum).

​"Oke, Guys. Fokus," Alea menepuk tangan, mengambil alih komando. "H-4 audisi. Kita masih sering miss di transisi Bridge ke Chorus. Temponya sering balapan."

​Alea menatap Julian. "Phantom, pas bagian solo gitar lo, jangan terlalu ngebut. Raka keteteran ngikutin ketukan lo."

​"Saya tidak ngebut," bantah Julian. "Saya mengikuti metronom 120 BPM dengan presisi. Raka yang temponya tidak stabil. Fluktuasinya sekitar 5 persen."

​"Dih, kok nyalahin gue?" Raka protes. "Lo tuh mainnya kayak lagi dikejar setan! Jari lo kecepetan!"

​"Itu namanya shredding, Raka. Kalau pelan namanya dangdut," balas Julian tajam.

​"Udah, udah!" lerai Alea sebelum Perang Dunia Ketiga meletus. "Intinya, saling dengerin. Jangan egois. Musik itu percakapan, bukan monolog. Phantom, lo kurangin dikit egonya. Raka, lo naikin dikit fokus lo."

​Mereka mulai latihan lagi.

​One, two, three, four!

​Musik menghentak. Ruangan sempit itu penuh dengan distorsi.

​Alea menyanyi dengan sepenuh hati. Suaranya yang serak-serak basah mengisi ruangan.

"Langit abu-abu... menutup semua ragu... kita berlari... tanpa arah tuju..."

​Julian memejamkan mata di balik kacamatanya. Jarinya menari di atas fretboard. Ia mulai terbiasa dengan gitar Les Paul hitam itu. Beratnya, ketebalan lehernya, sustain-nya.

​Di bagian transisi yang dipermasalahkan tadi, Julian menahan dirinya. Ia menoleh ke Raka, memberi kode anggukan kepala. Raka menangkap kode itu. Pukulan drum dan petikan gitar mereka mendarat bersamaan di ketukan pertama Chorus.

​DUM! JRENG!

​Sempurna.

​Alea tersenyum lebar di tengah nyanyiannya. Ia menoleh ke Julian, mengacungkan jempol.

​Julian merasakan desiran aneh di dadanya. Perasaan diterima. Perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Di sini, dia bukan "Ketua OSIS". Dia cuma Phantom, gitaris yang skill-nya diakui.

​Satu jam berlalu. Keringat bercucuran.

​"Istirahat dulu!" seru Alea, meletakkan gitarnya.

​Julian langsung melepas gitar, lalu dengan cepat menarik masker dan kupluknya.

​"Hah..." Julian menghirup udara rakus. Wajahnya merah padam, rambutnya lepek dan mencuat ke mana-mana. Kacamata berembun.

​"Muka lo kayak kepiting rebus, Jul," komentar Dito sambil menyodorkan air mineral.

​Julian meneguk air itu sampai habis setengah botol. "Ventilasi ruangan ini benar-benar tidak memenuhi standar kesehatan."

​"Tapi main lo makin gila, Jul," puji Beni. "Sumpah, tadi pas bending senar, gue merinding. Lo belajar di mana sih?"

​"YouTube," jawab Julian singkat. "Dan analisis gelombang suara."

​Alea duduk di sebelah Julian di lantai karpet (yang sekarang sudah bersih berkat ultimatum Julian).

​"Lo nggak takut?" tanya Alea pelan, sementara anak-anak cowok lain sibuk rebutan gorengan di pojok.

​"Takut apa?" Julian mengelap kacamatanya dengan ujung kaos Metallica-nya.

​"Takut ketahuan. Bokap lo."

​Gerakan tangan Julian terhenti sejenak. Ia memakai kembali kacamatanya.

​"Takut," aku Julian jujur. "Setiap kali saya keluar rumah bawa tas gitar yang saya bilang isinya 'proyektor sekolah', jantung saya mau copot. Setiap kali ada notifikasi HP bunyi pas latihan, saya takut itu Papa."

​"Terus kenapa lo lanjut?"

​Julian menatap gitar hitam yang bersandar di dinding.

​"Karena di sini..." Julian menunjuk dadanya sendiri, "...rasanya penuh. Di rumah, rasanya kosong. Di sekolah, rasanya berat. Cuma pas pake masker konyol itu dan mainin senar gitar, saya ngerasa bisa napas beneran."

​Alea tertegun. Ia tidak menyangka jawaban se-dalam itu.

​Tanpa sadar, tangan Alea bergerak merapikan rambut Julian yang berantakan karena kupluk.

​"Rambut lo kayak sarang burung," gumam Alea, menyisir poni Julian dengan jari-jarinya.

​Julian membeku. Sentuhan tangan Alea di kepalanya terasa... nyaman. Ia tidak menghindar. Ia membiarkan Alea merapikan rambutnya selama beberapa detik.

​"Alea," panggil Julian pelan.

​"Hm?"

​"Terima kasih."

​"Buat ngerapihin rambut?"

​"Buat ngajak saya ke sini. Ke dunia kamu."

​Alea tersenyum, menarik tangannya. Wajahnya sedikit merona, tapi tertutupi oleh pencahayaan remang studio.

​"Dunia gue berantakan, Jul."

​"Dunia yang rapi itu membosankan," balas Julian.

​Tiba-tiba pintu studio terbuka.

​KLIK.

​Semua orang terlonjak. Julian dengan kecepatan kilat menyambar maskernya, tapi terlambat. Pintu sudah terbuka lebar.

​Seorang pria paruh baya dengan rompi parkir berdiri di sana. Pak Asep, penjaga ruko.

​Jantung Julian berhenti berdetak. Ia membeku dengan masker baru terpasang setengah di wajah.

​Pak Asep menyipitkan mata, menatap Julian. "Lho? Ini teh... Mas Julian ya? Anaknya Pak Dokter Prasetyo?"

​Mati. Tamat riwayat. Kiamat sudah tiba.

​Julian pucat pasi. Pak Asep adalah pasien lama ayahnya. Julian pernah beberapa kali ikut ayahnya praktik dan bertemu bapak ini.

​"Eh... anu, Pak..." Julian gagap. Otaknya yang jenius mendadak blank. Tidak ada rumus Fisika yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini.

​Alea langsung melompat berdiri, menghalangi pandangan Pak Asep ke Julian.

​"Pak Asep! Ngapain Pak? Mau nagih uang parkir? Kan udah bayar di bawah!" seru Alea nyaring, mencoba mengalihkan perhatian.

​"Bukan, Neng. Bapak mau nganterin dompet Mas Raka yang jatoh di tangga," kata Pak Asep sambil menyodorkan dompet kulit. "Tapi itu beneran Mas Julian kan? Kok pake baju begitu? Pake masker segala?"

​Raka menyambar dompetnya. "Makasih, Pak! Itu... itu bukan Julian, Pak! Itu... sepupunya! Mukanya emang mirip! Namanya... Junaedi!"

​"Junaedi?" Pak Asep mengerutkan kening. "Mirip pisan euy. Kirain Mas Julian yang pinter itu. Soalnya Pak Dokter pernah bilang anaknya nggak boleh main musik, haram katanya."

​Julian menunduk dalam-dalam, menarik maskernya sampai menutupi mata. Keringat dingin mengucur di punggungnya.

​"Iya Pak, ini Junaedi. Anak pungut. Eh, maksudnya anak rantau!" tambah Dito panik. "Udah ya Pak, kita mau latihan lagi. Deadline nih!"

​Dito mendorong pelan Pak Asep keluar dan menutup pintu.

​BLAM.

​Julian merosot ke lantai. Kakinya lemas seperti jeli.

​"Gila..." desis Julian. "Hampir. Hampir saja."

​"Junaedi?" Alea menatap Raka sambil menahan tawa, meski tangannya juga gemetar. "Nama macam apa itu?"

​"Ya sorry! Otak gue panik!" bela Raka.

​Julian membuka maskernya lagi, wajahnya masih pucat. "Pak Asep kenal Ayah saya. Kalau dia cerita ke Ayah dia ketemu 'kembaran' saya di studio musik..."

​"Kita harus lebih hati-hati," kata Alea serius, berjongkok di depan Julian. "Mulai besok, lo jangan ganti baju di sini. Ganti di mobil atau di pom bensin sebelum ke sini. Dan pas masuk, lo harus udah full gear pake masker. Jangan pernah lepas masker kalau pintu nggak dikunci."

​Julian mengangguk lemah. Risiko ini nyata. Sangat nyata.

​"Lo mau mundur?" tanya Alea pelan. "Gue nggak bakal marah kalau lo mundur sekarang, Jul. Ini bahaya buat lo."

​Julian menatap mata Alea. Ketakutan itu masih ada. Tapi kemudian dia mengingat sensasi bending senar tadi. Mengingat tawa mereka. Mengingat tangan Alea di rambutnya.

​Julian menggeleng.

​"Nggak. Saya sudah sejauh ini. Junaedi tidak akan menyerah," kata Julian dengan senyum kecut.

​Anak-anak band tertawa, sedikit meredakan ketegangan.

​"Hidup Junaedi!" sorak Beni.

​Malam itu, Julian pulang dengan perasaan campur aduk. Ketakutan akan ketahuan semakin besar, tapi tekadnya juga semakin kuat. Dia bukan lagi sekadar Julian si Ketua OSIS. Dia adalah Phantom. Dia adalah Junaedi (sialan Raka).

​Dan dia adalah bagian dari The Rebels.

​Namun, di balik kegembiraan itu, sebuah bom waktu sedang berdetak. Ujian Tengah Semester (UTS) tinggal dua minggu lagi. Dan janji Julian pada Kepala Sekolah—bahwa nilai Alea harus naik—masih menjadi beban berat di pundaknya.

​Jika Alea gagal UTS, Pensi batal. Jika Pensi batal, pengorbanan Julian menjadi Phantom akan sia-sia.

​"Besok," gumam Julian di dalam mobilnya. "Besok Alea harus bisa menaklukkan Integral."

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!