Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Kecurigaan Aurora I
Beberapa saat setelah dua sosok berjubah itu mati, sihir penghalang ruang perlahan hancur. Suasana toko pandai besi yang suram, kini kembali seperti saat Alexia datang.
Suara ramai orang dari jauh pun juga kembali terdengar.
'Apa mungkin kunci formasi penghalang ada pada sosok berjubah itu?' pikir Alexia sambil menyarungkan pedang.
Sihir penghalang biasanya menggunakan susunan atau titik formasi agar tetap stabil. Untuk penghalang dengan radius yang kecil, perapal itu bisa menerapkannya pada manusia karena tidak memiliki dampak atau efek negatif.
Namun jika itu adalah sihir penghalang tingkat tertinggi dengan radius mencapai ratusan meter, manusia yang menjadi titik formasinya dipastikan akan langsung mati.
Itu karena mereka tidak bisa menerima beban sihir yang besar. Jadi, biasanya perapal menggunakan benda mati.
'Akhirnya, semua ini berakhir.' batin Alexia, kelelahan.
Pedang perak yang indah tadi berubah kembali menjadi tongkat kayu. Ia senang, karena pedang yang mencolok seperti itu mungkin menarik perhatian yang tidak perlu.
"A-apa semuanya sudah selesai?" tanya Lina, tiba-tiba.
Dia keluar dari tempat persembunyian dengan gelisah.
Lina menghela napas lega setelah melihat situasi yang kembali tenang. "Hei nona, darimana kau belajar teknik yang hebat tadi? Itu terlihat mirip dengan teknik pedang yang dipakai keluarga Swan. Apa kau bisa mengajariku?"
Dia mengoceh sampai membuat telinga Alexia sakit.
"Tutup mulutmu itu sebelum aku merobeknya!"
Lina langsung berhenti bicara dan gemetar ketakutan.
Alexia menurunkan alisnya dan berbalik ke belakang.
"Kalau kau bertanya sekali lagi, aku benar-benar akan ..."
Kriekk
Suara kayu yang berderit membuat Alexia terdiam.
Dan tak lama dari itu, seseorang tiba-tiba saja jatuh dari atap toko yang sudah berlubang bekas serangan Alexia.
Gedebuk!
"Aduh!" pekik orang itu, merintih kesakitan.
Alexia dan Lina sontak melihat ke arah suara itu muncul.
Di sana, mereka melihat seorang gadis berpakaian serba hitam dan memakai topi berbentuk kerucut. Tidak perlu dipastikan lagi, karena dia adalah penyihir pihak musuh.
"Kenapa aku bisa jatuh di sini?" tanyanya, bingung.
Dia bangun sambil mengusap kepalanya yang terbentur balok kayu. Topi hitam berbentuk kerucut yang dia pakai jatuh dan menunjukkan rambut biru lautnya yang indah.
"Padahal sihir penghalang ruang milikku sempurna, tapi kenapa bisa hancur? Apa dua orang bodoh itu merusak sihirku lagi?!" lanjutnya dengan nada dan ekspresi kesal.
Gadis itu mengambil topinya kembali dan tidak sengaja melihat ke belakang. Dia berbalik dan menemukan dua orang gadis cantik sedang menatapnya penuh amarah.
Mereka bertukar tatapan mata untuk waktu yang lama.
"Jadi kau orang yang memasang penghalang di sini."
Gadis yang memakai pakaian pelayan bertanya padanya.
"Hah? A-apa? Kenapa kau bisa tahu itu?"
Gadis penyihir itu takut karena dia menggunakan sihir di tengah kota, tapi setelah dia melihat pakaian Alexia yang lucu dan tongkat di tangannya, gadis itu tidak takut lagi.
'Ah, apa mungkin mereka penggemar penyihir dan ingin meminta tanda tanganku? Menjadi orang yang terkenal itu sedikit merepotkan.' pikirnya sambil tersenyum lebar.
Suara pedang yang ditarik membuat gadis itu tersentak.
Dia melihat ke depan, dan wanita yang memakai pakaian pelayan berjalan mendekatinya dengan pedang tercabut.
"Hah? Bukankah tadi dia memegang tongkat?!" teriaknya, sangat terkejut. "K-kenapa itu bisa berubah jadi pedang?!"
Dan saat itulah, kepercayaan dirinya yang barusan sirna.
"Berhenti bicara omong kosong dan terima takdirmu."
Alexia mengatakan itu dengan pedang yang terhunus ke lehernya, tentu saja gadis itu ketakutan. Dia gemetar dan tidak punya kekuatan sihir yang tersisa untuk melawan.
"K-kenapa kau ingin membunuhku?" tanyanya, bingung.
"Apa kau yakin menanyakan hal itu padaku?!"
Tatapannya yang tajam membuat gadis itu tersentak.
Dan saking takutnya, dia pun langsung jatuh pingsan.
"Apa kau punya tali?" tanya Alexia sambil menoleh.
"Y-ya?" Lina awalnya bingung, tapi dia tiba-tiba mengerti maksudnya. "Y-ya, aku punya. Aku akan mengambilnya."
Lina berbalik dan bergegas ke dalam toko. Sementara itu, Alexia menatapnya dengan pandangan tidak menentu.
****
Di kamarnya, Aurora berbaring di kasur sambil membaca buku. Ia tidak diperbolehkan untuk melakukan latihan di luar sebelum lukanya benar-benar sembuh sepenuhnya.
"Ini membosankan." keluhnya sambil menutup buku.
Aurora menoleh ke jendela dan melihat bahwa cuaca di luar sedang cerah, namun dia hanya bisa mengamatinya dari kasur. Dia sebenarnya ingin cepat keluar dan berlatih mengendalikan Aura, tapi para tetua belum mengizinkan.
"Padahal ini hanya luka ringan, tapi mereka terlalu heboh dan berlebihan." gumam Aurora sambil menghela nafas.
Dan pada saat itu, Aurora tiba-tiba mengingat Alexia.
'Benar juga. Daripada aku berada di sini sendiri, lebih baik aku pergi ke kamar Alexia dan bermain dengannya.' pikir Aurora sembari melipat selimutnya dan turun dari kasur.
Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Alexia.
Dan dalam perjalanan, Aurora tidak sengaja melihat Siria berjalan di lorong dengan membawa sesuatu di tangan.
"Siria!" panggil Aurora sambil mempercepat langkahnya.
Setelah namanya dipanggil, Siria berhenti dan menoleh.
"N-nona Aurora?!" ucapnya dengan ekspresi terkejut.
"Kau mau ke mana?" Aurora berhenti di depannya sambil mengamati kotak di tangannya. "Dan kotak apa yang kau bawa itu? Apa kau butuh bantuan untuk membawanya?"
Aurora menawarkan bantuan, tapi Siria menolaknya.
"Tidak apa-apa, nona Aurora." Siria menjauhkan kotak itu sebelum Aurora menyentuhnya. "Kotak ini berisi banyak peralatan tukang seperti paku, jadi ini tidak terlalu berat."
Siria pun segera mengganti topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, anda mau pergi ke mana?"
"Oh, aku? Aku ingin pergi ke kamar Alexia."
Jawabannya langsung membuat Siria tertegun.
"Aku ingin mengobrol dan bercerita padanya." lanjutnya.
'B-bagaimana ini ...?!' pikir Siria, sangat panik.
Dia sebenarnya membawa bahan peledak yang dipasang oleh assassin di kediaman Swan. Siria ingin membuang peledak itu ke sungai, namun dia tertangkap oleh Aurora.
Apalagi, tujuannya yang membuat Siria makin gelisah.
'N-nona Alexia belum kembali, apalagi kamarnya masih berceceran darah assassin.' batin Siria sambil menelan ludah. 'Jika nona Aurora tahu, ini bisa menjadi masalah.'
"Ada apa? Kenapa wajahmu pucat? Apa kau sakit?"
"Ah? T-tidak, saya baik-baik saja." balas Siria, dan keringat dingin pun mulai bercucuran. "Kenapa nona Aurora tidak mengunjungi nona Alexia nanti? Dia sekarang mungkin masih tidur, jadi tidak baik jika anda membangunkannya."
Aurora pun setuju setelah mendengar penjelasannya.
"Benar juga, dia butuh banyak istirahat agar cepat pulih dan bisa beraktifitas lagi." Aurora mengangguk sembari berbalik. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengunjungi—"
Bruk!
Suara seperti buku yang jatuh membuat Aurora berhenti.
"Suara apa itu?" tanyanya sambil menatap kamar Alexia.
"I-itu mungkin suara benda yang jatuh tertiup angin."
Siria berusaha mengalihkan perhatiannya dari Alexia.
Namun, usahanya sepertinya tidak berhasil.
"Apa kau yakin? Tapi suara itu berasal dari kamar Alexia."
Panik dan bingung bercampur menjadi satu. Siria bahkan tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk menipunya.
"Apa dia sudah bangun, ya?"
Aurora berpikir seperti itu karena dia mendengar dengan sangat jelas kalau suara tadi itu adalah buku yang jatuh.
Dengan rasa curiga, Aurora pun berjalan melewati Siria.
"Nona Aurora, apa tidak sebaiknya anda pergi nanti?"
"Kenapa kau menghalangiku?" Aurora menghiraukan dan langsung membuka pintu kamar Alexia. "Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Kenapa aku tidak—!?"
Aurora tiba-tiba tersentak dan melebarkan matanya.
Apa yang dilihat oleh Aurora di dalam kamar Alexia?