Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML021~
Hari mulai sore, Alena yang baru selesai memasak langsung memanggil 3 orang lainnya untuk segera datang ke meja makan.
"Wah, masakan Mama selalu enak." puji Ziya.
Axan dan Pak Alex duduk bersebelahan, mereka berhadapan dengan Alena dan Ziya.
"Tante, masakannya banyak sekali." kata Axan sambil melihat satu persatu masakan Alena.
"Alena, kenapa tidak masak makanan kesukaanmu?" tanya Pak Alex.
"Ini semua aku suka kok." jawab Alena, ia lebih dulu mengambil nasi untuk Ziya dan untuk dirinya.
"Apakah masih ada bahan masakan di dapur?" tanya Pak Alex.
"Ada, cuma sisa udang aja. Kak Alex nggak suka masakanku?"
Pak Alex berdiri tanpa menjawab pertanyaan Alena.
"Aku ke dapur dulu, kalian makanlah lebih dulu." kata Pak Alex yang langsung berlalu ke dapur.
"Mama, Om nggak suka makanan di meja ini?" tanya Ziya.
"Mama masih inget, Om itu suka sama sayur sawi putih sama cumi. Mungkin Om lagi mau bikin minum. Ziya makan aja dulu ya."
Ketiganya terdiam saat suara blender dari arah dapur terdengar.
"Oh, Om kayaknya lagi bikin jus buah ya." tebak Alena.
"Bisa jadi," timpal Axan.
"Mama nggak makan juga?" tanya Ziya.
"Mama nanti dulu,"
"Mau bareng sama Om ya?" Ziya menahan tawa.
"Bukan gitu, sayang. Mama lagi mikir aja, kayaknya masakan Mama ada yang kurang."
Ziya hanya ber-oh-ria sembari melanjutkan aktivitas makannya.
"Xan makan aja dulu," Ziya meletakkan paha Ayam di piring Axan.
"Terima kasih." ucap Axan dengan ramah.
"Sama-sama. Cobain deh, masakan Mama aku enak loh."
15 menit berlalu, makanan di piring Ziya dan Axan sudah sisa sedikit dan Pak Alex masih sibuk dengan wajan di dapur.
Alena yang penasaran hendak melihat apa yang sedang dilakukan Pak Alex, baru saja bokongnya lepas dari kursi, Pak Alex sudah muncul lebih dulu dengan sepiring masakan yang dibuat sendiri.
"Pedes aromanya." celetuk Ziya.
"Papa masak?" tanya Axan yang terkejut.
Pak Alex meletakkan sepiring udang bumbu pedas itu dihadapan Alena.
"Jangan menghilangkan apa yang kamu suka hanya demi menyenangkan orang lain." ucap Pak Alex.
Ziya dan Axan saling memandang, kali ini mereka sepemikiran hingga sama-sama tersenyum.
"Kak, ini... Buat aku?" tanya Alena, Pak Alex mengangguk.
"Semua masakanmu di meja ini tidak ada yang benar-benar kamu suka,"
"Kok Om ganteng tau?" tanya Ziya penuh semangat.
"Tentu saja tahu, Mama Ziya ini sukanya makanan pedas."
Ziya menatap masakan Alena sebelumnya.
"Iya sih, Mama biasanya masak sambel pedes banget, sampek bikin Ziya batuk-batuk pas dimasak."
Alena tersenyum kecil.
"Kak Alex ngapain repot-repot kayak gini?" tanya Alena.
"Apanya yang repot? Aku tidak tenang kalau hanya kamu sendiri yang tidak makan makanan kesukaanmu. Memangnya hanya kamu yang ingat apa yang disukai orang?"
"Tante tidak suka masakan Papa?" tanya Axan.
Alena mengambil satu udang dan memakannya perlahan, rasanya sangat lezat melebihi masakannya.
"Aku baru tau Kak Alex bisa masak seenak ini." puji Alena.
"Terima kasih." ucap Pak Alex.
Axan memandangi tiga orang di depannya, senyum yang menyiratkan kehangatan terlukis di wajahnya, rasanya ia sedang makan bersama keluarga.
"Om sama Mama baru mulai makan, kita jangan selesai duluan." kata Ziya sambil meletakkan bagian dada ayam di piring Axan.
Axan tersenyum, perutnya sudah kenyang, namun ia tidak ingin melewatkan momen langka yang belum pernah ia rasakan selama ini.
"Baiklah. Ziya juga tambah lauk dan nasinya." Axan mengambilkan nugget udang yang ada didekatnya.
"Ziya mau dua."
"Iya, ini dua nugget untuk Ziya." Axan meletakkan dua nugget di piring Ziya, ia tersenyum lebar saat melihat Ziya tertawa karena senang.
"Hari minggu jadi liburan, kan?" tanya Ziya.
"Jadi." jawab Alena.
"Gimana kalau makanannya kita bawa aja dari rumah? Ziya mau cicipi masakan Om ganteng." usul Ziya.
"Ide bagus, Xan juga mau masakan Tante Alena, masakannya enak sekali." timpal Axan.
Usai makan sore itu Axan dan Pak Alex langsung berpamitan pulang, sebenarnya mereka masih betah berlama-lama namun kasihan pada Alena yang belum mendapat istirahat.
"Papa, kita mau kemana lagi?" tanya Axan saat melihat mobilnya melaju melewati gang ke arah rumahnya.
"Papa mau beli HP."
"Oohh, HP Papa kan masih bagus. Mau ganti lagi?"
"HP Papa rusak, jadi harus ganti yang baru."
"Oh.. Pantas saja sulit di hubungi tadi. Papa juga belum cerita masalah luka di tubuh Papa."
Pak Alex mengusap kepala Axan, ia tahu anaknya sedang khawatir, namun Pak Alex enggan bercerita mengenai musibah yang menimpanya.
Sementara itu di rumah Alena, baru saja Alena merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ada tamu lain yang datang.
"Kak Alena..." sapa Mira saat Alena membukakan pintu.
Mau tidak mau Alena mempersilahkan masuk adik ipar beserta istrinya itu.
"Kok nggak ngabarin sih kalau mau kesini? Kan bisa aku siapin sesuatu."
"Maaf Alena, kami habis belanja dan Mira tiba-tiba pingin ketemu Ziya, jadi nggak sempat ngabarin kamu." ucap Ali.
"Owalah, ya nggak apa-apa kok. Bentar ya, Ziya masih di kamar mandi. Kalian duduk dulu, aku buatin minum."
Tidak butuh waktu lama, Alena kembali membawa nampan berisi dua gelas minuman dan memberinya pada dua orang tamunya.
"Kak, sebenarnya aku ingin bicara sesuatu.." kata Mira dengan gugup, Ali menggenggam tangan Mira.
"Iya, ngomong aja. Ada apa?"
"Sebenarnya aku sangat menyukai Ziya, aku sangat ingin berlama-lama dengan Ziya."
"Kami berniat membawa Ziya bersama kami beberapa hari saja," Ali ikut bicara.
Alena menghela napas.
"Bukannya aku nggak rela, tapi kalian kan tau sendiri, aku disini sendirian. Aku nggak bisa jauh-jauh dari anakku." tolak Alena.
"Kak Alena bisa ikut sekalian tinggal sementara dengan kami, Kak." bujuk Mira.
"Papa juga pasti seneng kalau Ziya tinggal serumah sama Papa, sebentar aja Alena." Ali ikut membujuk.
"Kalau cuma satu malem nggak apa-apa sih, nanti aku tanyain dulu sama Ziya."
Mira menggenggam tangan Alena dengan erat.
"Awalnya aku ingin ikut merawat Ziya, siapa tau bisa memancing agar aku cepat hamil. Tapi aku tau Kak Alena tidak akan setuju, jadi aku hanya ingin bersama Ziya beberapa hari saja." ucapnya dengan wajah memelas.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin