Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA PERTAMA
Beberapa waktu kemudian,aku menghentikan taksi di tepi jalan dekat sebuah supermarket.
"Stop, stop! Sudah, Pak. Sampai di sini saja. Terima kasih!"kataku sambil buru-buru turun.
"Lho, Non?" balas sopir itu kebingungan.
Tentu saja aku tidak semudah itu memberikan alamat rumah kepada orang yang baru saja kukenal,setibanya di rumah,aku datang membawa banyak sekali belanjaan.
"Hati-hati, Pak. Tolong telur dan berasnya langsung dimasukkan ke dalam, ya," ujarku kepada petugas pengantar.
Mama yang mendengar keributan itu segera keluar."Lho, kok bawa belanjaan sebanyak ini? Kamu dari mana, Nak?" tanyanya bingung sambil membantu mengangkat beberapa kantong belanja.
"Papa mana ma? Kok sepi?" tanyaku penasaran.
"Papa ke Surabaya. Ada reuni teman-teman tenisnya di sana," jawab Mama sambil menata telur ke dalam kulkas.
"Oke, terima kasih, Pak. Ini uangnya," kataku sambil membayar ongkos taksi beserta tip untuk sopir,Setelah sopir pergi,aku kembali membantu Mama membereskan belanjaan.
"Kalau urusan teman-teman dan adik-adiknya, Papa sigap nomor satu.Tapi sama keluarga sendiri,nggak peka.
"Papa pernah nggak sih tanya setiap hari kita makan pakai uang dari mana? Papa kan nggak pernah kasih Mama nafkah,"😞
kataku sambil menarik napas panjang.
Mama hanya tertunduk diam,Jujur saja,aku langsung merasa bersalah,Setiap kali kesal pada Papa,aku sering melampiaskannya tanpa memikirkan perasaan Mama.Padahal,mungkin Mama yang paling terluka di antara kami semua.
"oh iya "Gimana pekerjaanmu?Akhir-akhir ini kamu sering lembur.Apa nanti pulang pagi lagi?"
"Namanya juga kerja di cafe ma,kalau ramai pengunjung,Tika nginap di rumah Hilda,Kan cuma rumah dia yang dekat sama tempat kerja."
Mama terdiam sesaat."Mama kepikiran sama kamu Nak,Namanya juga anak perempuan,Apa tidak sebaiknya kamu cari pekerjaan di tempat lain?"
Aku tahu Mama mulai khawatir.
"Sudahlah Ma,Tika kan sudah cerita ini semuanya,Tika masih bisa jaga diri kok." Aku menggenggam tangan Mama dan tersenyum.
"yang penting,mama Do'ain Tika supaya selalu sehat dan bisa membahagiakan Mama.Semoga kondisi ekonomi kita juga segera membaik."
senyumku menatap wajah Mama sambil merangkulnya.
_________________________________________________
Tok... tok... tok...
Suara pintu ruang tamu terdengar.
“Biar Tika yang buka, Ma.”
lama kemudian,aku terkejut melihat dua pria bertubuh kekar berdiri di depan rumah. Penampilan mereka mirip bodyguard.
“Ada apa, ya?” tanyaku bingung.🤨
“Kami ingin bertemu dengan Bapak Nugraha.
Kami diutus oleh bos kami untuk menagih hutang beliau yang sudah jatuh tempo selama dua bulan.”
Jantungku langsung berdegup kencang,Salah satu dari mereka menunjukkan selembar kertas bermaterai.di sana tertulis jumlah hutang sebesar seratus lima puluh juta rupiah,Aku segera menoleh ke belakang,memastikan mama tidak mengetahui persoalan ini.
Dengan tangan gemetar, kuambil amplop cokelat dari dalam tas pemberian Mas Dika,lalu kuserahkan kepada mereka.
😠“Di dalam amplop ini ada sepuluh juta dan kartu nama saya.Mulai sekarang,tolong jangan datang lagi ke rumah atau muncul di depan mama saya.Kita selesaikan semuanya di luar.Sekarang kalian boleh pergi.”!
Setelah mereka pergi,aku menutup pintu rapat-rapat.tanpa sadar,air mataku menetes.
“Siapa itu, Nak?”
Suara mama terdengar dari belakang,membuatku cepat-cepat menghapus air mata yang membasahi pipi.
“Sales Ma,Maaf ya ma,Tika tiba-tiba pusing,Tika mau ke atas dulu istirahat.”Tanpa menunggu jawaban, aku segera melangkah menuju kamar.
jujur,aku sudah muak dengan ulah Papa.Bagiku, kali ini Papa benar-benar sudah kelewatan.Dari mana aku harus mencari uang sebanyak itu?
Sore tiba,aku bersiap berangkat menuju tempat kerja.
"Mama buatkan teh jahe untuk kamu. Dihabiskan ya sayang,” kata Mama sambil duduk di sampingku.🙂
“Makasih ma,Tapi Tika buru-buru,Tika minum sedikit saja, ya.”
Aku mengecup pipi Mama.
“Muach... Dadah, Mama.”🙂
Aku bergegas menuju pintu keluar,Namun tanpa sengaja,Papa baru saja tiba.Beliau turun dari taksi sambil membawa beberapa tas bawaan.
Langkahku terhenti.
Dengan cepat,kukeluarkan surat hutang bermaterai yang tadi pagi diperlihatkan oleh penagih,Wajah Papa berubah melihatnya.
“Dari mana kamu dapat itu?” tanyanya dengan nada panik,Air mataku mulai berkaca-kaca.
“Untuk apa sih Pa,hutang sebanyak ini?kalau tadi Tika tidak ada di rumah,bagaimana Mama yang menghadapi mereka? Papa pernah pikirkan itu?”
“Ah, kamu ini! Hutang segitu saja sudah diributkan. Selama ini kamu dibesarkan oleh Papa. Mana balas budimu kepada orang tua?”😠
Papa membentakku tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Aku hanya menatapnya kecewa,aku sudah terlalu lelah untuk berdebat,Tanpa menjawab apa pun, aku melangkah pergi dan melanjutkan perjalananku.
Malam itu dibar,aku sengaja memilih duduk sendirian jauh dari keramaian.Aku hanya ingin menenangkan pikiran dan melupakan sejenak semua masalah yang terus menghimpit hidupku.
Hujan turun di luar sana,membasahi jalanan kota yang dipenuhi cahaya lampu.Namun tak ada yang mampu menghapus sesak yang memenuhi dadaku,aku benar benar stres,sampai kapan harus begini?aku ingin semuanya berakhir.☹️
"Woi! Mojok di sini ngapain lu? Nyanyi gih,Siapa tahu dapat kenalan om tajir."
Hilda menyapaku sambil tersenyum,Aku segera menghapus air mata yang tadi sempat jatuh.
"Gue lagi nggak mood.Bokap bikin ulah lagi," kataku sambil menyalakan sebatang rokok.
"Main cewek lagi?Atau ngamuk-ngamuk nggak jelas di rumah?" tebak Hilda.😯
Aku mengembuskan asap rokok panjang.
"Tadi pagi ada orang datang nagih utang bokap gue,Seratus lima puluh juta,Gue baru bisa kasih sepuluh juta,Sisanya... entah harus cari ke mana."
Mendengar itu, Hilda mengusap punggungku pelan"Sabar ya. Pelan-pelan pasti ada jalan."
Tanpa banyak bicara lagi,ia menarik tanganku menuju area panggung dan lantai dansa yang dipenuhi pengunjung,Mungkin ia hanya ingin mengalihkan kesedihanku.
Malam ini aku membiarkan diriku larut dalam keramaian.Musik berdentum keras memenuhi ruangan,Gelas demi gelas alkohol kuteguk tanpa berpikir panjang,Aku sedang kacau,Aku tak ingin diganggu siapa pun,Beberapa pria datang menghampiri dan mengajakku berjoget,tetapi aku tak peduli. Pikiranku terlalu penuh untuk memikirkan hal lain.
Tak lama,Tiba-tiba saja ada seseorang menarik tanganku menuju pintu keluar.
"Eh! Lepasin! Siapa sih? Berani-beraninya narik-narik gue!" teriakku sambil berontak.😠
Pandangan mataku mulai kabur akibat pengaruh alkohol.
Pria itu terus menuntunku hingga ke area parkir.
Saat ia membuka jaket dan melepas topinya,aku terkejut.
"Mas Dika?"
Wajahnya tampak sangat kesal.
"😠Apa-apaan ini,Tika?Kamu lihat pakaian kamu? Kamu berdiri di tengah kerumunan laki-laki dengan kondisi seperti itu.Kamu tahu nggak bagaimana mereka memandangmu?"
Aku mendengus kesal.😏
"Mas Dika nggak usah ngurusin saya,Jadi cowok nggak usah munafik deh."☺
Berulang kali ia mencoba memakaikan jaketnya ke tubuhku,tetapi selalu kutolak,Akhirnya,tanpa banyak bicara, ia menggiringku masuk ke dalam mobil.
"Saya telepon kamu berkali-kali,Saya khawatir,Coba lihat ponsel kamu."
Aku hanya tertawa sinis,Dalam pikiranku saat itu,semua laki-laki sama saja,Aku menatap wajahnya lalu melingkarkan kedua tanganku di lehernya.
"Mas Dika tahu munafik kan?" bisikku pelan.
Aku mendekat.
"Jujur aja deh... Mas Dika cuma pengen tidur sama saya kan?"
Kudorong tubuhnya hingga sedikit terdorong ke belakang,Namun,alih-alih marah,Dika justru memaksaku duduk dengan tenang.
"Tika, cukup."😠
Nada suaranya terdengar tegas,Tak peduli seberapa keras aku memberontak, akhirnya ia berhasil membawaku pergi dari tempat itu.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam menatap jendela,Hujan membasahi jalanan malam di luar sana,Aku tahu udara pasti sangat dingin,tetapi aku tak bisa merasakannya.🥺Hatiku jauh lebih dingin.
Aku lelah.Sangat lelah,Tanpa sadar air mata kembali mengalir.
Setibanya di rumah,Mas Dika menuntunku menuju sofa.Ia menyodorkan secangkir teh hangat,Aku merasa malu,Terutama karena ucapan-ucapanku tadi.
Untuk pertama kalinya aku berpikir,mungkin dia memang berbeda dari kebanyakan pria yang selama ini kutemui.
"Minumlah."☕
Dika duduk di sampingku,Dengan lembut ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku.
"Dengar, Tika. Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya."
Aku menatapnya diam.
"Saya suka sama kamu."🩷
Jantungku seakan berhenti sesaat.
"Saya minta mulai sekarang kamu berhenti dari kebiasaan yang menyakiti diri sendiri,nongkrong di tempat seperti itu, atau apa pun yang membuat kamu semakin tenggelam,Biarkan saya membantu kamu."
Dika menggenggam tanganku erat,Anehnya, jantungku berdegup semakin cepat,Bukan karena dinginnya pendingin ruangan,Melainkan karena perasaan asing yang tiba-tiba hadir.
"Pertemuan kita kemarin bukan hal biasa buat saya."ujar dika.
Aku tersenyum sinis lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Jadi apa? Saya harus jadi simpanan Mas Dika gitu?"
Aku tertawa kecil.
"Wah, saya jadi merasa ketemu pahlawan kesiangan,Penolong baik hati dengan embel-embel cinta."
Aku membalikkan badan membelakanginya.
"Terserah kamu mau menilai saya seperti apa."
Suara Dika terdengar mantap.
"Tapi saya akan buktikan kalau saya serius."
Aku terdiam,Entah kenapa,setiap berada di dekatnya,aku merasakan sesuatu yang berbeda,Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Malam semakin larut,tetapi aku belum juga ingin pulang,Aku berdiri di balkon rumahnya, memandangi hujan yang belum berhenti turun.🌧
Sesekali air mata masih jatuh tanpa bisa kutahan
Lama kemudian,Dika datang menghampiri dan menyampirkan selimut ke pundakku.
"Saya tidak akan memaksa kamu bercerita,"Tapi kalau suatu saat kamu siap,saya akan mendengarkan."ujarnya lembut.
Suasana kembali hening,Entah kenapa, untuk pertama kalinya aku merasa aman,Dan tanpa sadar,aku mulai membuka luka yang selama ini kusimpan sendiri.
"Papa nggak pernah peduli sama keluarga."
Suaraku bergetar.
"Mungkin itu yang bikin aku jadi seperti sekarang. Selalu ada masalah di rumah.Utang menumpuk. Mama depresi karena ulah Papa.Aku pikir dunia malam bisa bantu aku cari uang lebih cepat buat menyelesaikan semuanya."
Air mataku kembali jatuh.
"Awalnya aku bertahan karena ingin membantu. Tapi makin lama aku muak,Aku capek,Aku nggak tahan lihat ulah Papa setiap hari. Jadi buat apa lagi aku peduli sama hidupku sendiri?"
Tangisku pecah,Dika berdiri tepat di hadapanku.
"Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini."
Tatapannya begitu hangat.
"Kamu sudah cukup kuat Tika. Mulai sekarang kita hadapi semuanya bersama-sama,Beri saya kesempatan untuk membantu mengurangi beban kamu."
Lalu ia memelukku.🥺Sudah lama sekali aku tidak merasa setenang ini,Di dalam pelukannya,aku merasa aman,Untuk malam ini,biarkan aku beristirahat sejenak dari semua luka yang selama ini kupikul sendirian.
Dan mungkin...Untuk pertama kalinya, aku ingin mencoba membuka hati untuk seseorang.
________________________________________________
Hari berganti.seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan kenyamanan bersama Mas Dika. Ia sudah mengetahui banyak tentang diriku dan permasalahan keluargaku. Perannya perlahan menjadi sosok penolong dalam segala problema yang selama ini menimpaku, aku sudah tidak lagi merasa tertekan, bersamanya, aku menemukan kenyamanan hati,setiap kali dia didekatku.
Siang itu, di depan rumah.
“Turun yuk,” ajakku sambil menarik tangannya.
“Belum waktunya. Kalau semua urusan sudah selesai, saya akan muncul dan menemui Papa &Mama,” jawab Mas Dika sambil tersenyum lebar.
Tiba-tiba ia mengambil sebuah kotak kecil dari laci mobil. Di dalamnya terdapat gelang tangan cantik.
"Apalagi ini mas? Banyak sekali yang Mas Dika kasih ke aku,” kataku menatapnya.
“Saya ingin kamu pakai gelang ini terus, supaya selalu ingat saya.” Ia mencium keningku dengan lembut.
"Oh ya, besok saya harus kembali ke Surabaya,Kalau kamu mau, kamu bisa datang kapan pun ke rumah,Ada Bik Sumi dan sopir yg siap melayanimu dengan baik. Itu rumahmu juga.”
Aku tersenyum mengangguk pelan.
“Cepat balik ke Jakarta ya Mas, biar aku nggak kangen terus.”
Dika tersenyum. “Pasti saya kabari. Foto kamu saja ada di HP saya,sekarang masuklah,Salam ya buat Mama.”
Mas Dika berlalu dari pandanganku. Untuk sementara kami harus berjauhan. Tapi tak apa, aku sudah terbiasa. Lagipula, ia tak pernah absen memberi kabar.
Di rumah Hilda, aku sedang bersantai sekedar bercerita.
“Cowok di kafe yang bareng sama lo itu baik banget ya,Gue lihat lo sekarang jarang ke kafe, lebih sering sama dia.”ujar Hilda.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Dia single? Duda? Atau…”
Aku mengangkat bahu. “Gue nggak pernah nanya. Tapi gue yakin foto perempuan sama anak laki-laki di kamarnya itu pasti istri dan anaknya.”
Hilda tertawa. “Dasar laki-laki, sama aja.”
“Enggak, Hil. Dia beda. Dia nggak kurang ajar sama gue,” bantahku.
“Ya belum aja,kaliii !!balas Hilda santai.
Ponselku berdering. Dengan wajah ceria aku menjawab.
“Hai, Mas.”
“Hai, sayang. Lagi di mana?”
“Di rumah Hilda. Mas lagi apa?”
“Menikmati kopi,Ternyata kopi buatan kamu lebih enak daripada buatan saya.”
Hatiku melayang. Rasanya tak sabar menunggu dia kembali ke Jakarta,setelah menutup telepon, aku pamit pulang.
“Tunggu tunggu!Lo lagi jatuh cinta ya?” tebak Hilda.
“Apaan sih, ikut campur banget. Gue cabut ya, bye!”Aku tahu Hilda tak suka ikut campur. Harapannya hanya satu: aku bisa bahagia