BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.
Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.
Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.
Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.
Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sejak sore, Aryasatya sudah sibuk mondar-mandir di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik ke arah Arkatama yang duduk santai di sofa sambil membaca berita di tablet.
“Kak.”
“Hm?”
“Kok, belum bersiap-siap?”
Arkatama mengangkat sebelah alis. “Siap apaan?”
Aryasatya langsung menyeringai lebar. “Ya, tentu saja pergi kencan sama Mbak Kemuning!”
Arkatama langsung melempar bantal kecil ke arah adiknya itu. Aryasatya tertawa keras sambil menghindar.
“Ya ampun, Kak. Mukanya aja udah beda banget tiap mau pergi sama Mbak Kemuning.”
“Berisik!”
Tadi, saat Arkatama mengajak Kemuning untuk pergi nonton, wanita itu terlihat ragu-ragu. Karena dia sudah punya janji terlebih dahulu dengan Seruni, tetangganya dahulu, minta diantar untuk memilihkan pakaian pengantin di hari pernikahannya nanti. Namun, pihak calon suaminya bilang yang akan antar, walau sedang sibuk akan menyempatkan diri.
Aryasatya duduk di samping kakaknya sambil menyodorkan layar ponsel. “Nih, film yang aku rekomendasiin bagus banget. Rating-nya tinggi.”
Arkatama melirik sekilas poster film romantis yang terpampang di layar. “Yakin bagus?”
“Bagus lah!” jawab Aryasatya cepat. “Banyak yang bilang bikin baper.”
Arkatama akhirnya mengangguk kecil. “Yaudah.”
Aryasatya langsung tersenyum penuh arti. Dalam hati, ia hampir tertawa membayangkan kakaknya yang biasanya kaku itu menonton film romantis bersama wanita yang disukai.
“Pokoknya manfaatin suasana malam, Kak,” bisik Aryasatya jahil.
Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Arkatama. Rupanya itu dari Kemuning.
[Mas Arka, aku tidak jadi mengantar Seruni. Jadi, malam ini kita bisa pergi nonton ke bioskop.]
Seketika Arkatama berteriak girang. Akhirnya kencan dadakan itu bisa terealisasi.
“Pergi sana!” Aryasatya mendorong kakaknya.
Tak lama kemudian, Arkatama sudah berdiri di depan rumah Kemuning dengan motor hitam miliknya. Ia mengenakan jaket gelap sederhana dan celana jeans biru, sementara rambutnya ditata rapi seperti biasa.
Beberapa detik setelah Arkatama menunggu di depan rumah, pintu akhirnya terbuka pelan.
Dan seperti biasa napas Arkatama langsung terasa tertahan sesaat.
Kemuning keluar dengan penampilan sederhana, tetapi justru itu yang membuatnya sulit dipalingkan. Wanita itu memakai blouse lengan panjang warna soft pink yang dipadukan dengan celana jeans biru. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai lembut di punggungnya, sedikit bergelombang di bagian ujung. Di wajahnya hanya ada riasan tipis yang membuat wajahnya terlihat semakin segar dan manis.
Tetapi di mata Arkatama, Kemuning terlihat sangat cantik malam itu. Cantik yang membuat dadanya langsung hangat hanya karena melihatnya keluar rumah.
“Malam, Mas Arka,” sapa Kemuning sambil tersenyum kecil.
Sebuah senyum sederhana yang belakangan selalu berhasil membuat Arkatama kehilangan fokus.
“Malam, Kemuning,” balas Arkatama pelan.
Tatapan Arkatama sempat berhenti beberapa detik di wajah Kemuning sebelum ia buru-buru berdeham kecil, berusaha terlihat santai. Padahal dalam hati, pria itu sedang sibuk mengatur detak jantungnya sendiri.
“Udah siap?” tanyanya.
Kemuning mengangguk pelan sambil memegang tali tas kecilnya. “Siap.”
“Ayo, pergi!”
Arkatama langsung mengambil helm satunya dan menyerahkannya pada Kemuning. Jari mereka sempat bersentuhan saat menerima helm itu, membuat Kemuning refleks menarik tangannya pelan sambil salah tingkah.
Sementara Arkatama diam-diam tersenyum kecil. Mereka akhirnya berangkat menuju bioskop dengan motor Arkatama.
Malam itu jalanan cukup ramai oleh kendaraan yang lalu-lalang. Lampu kota menyala terang di sepanjang jalan, membuat suasana terasa hidup. Langit malam terlihat bersih dengan bintang-bintang kecil yang bertaburan samar dan bulan sabit tipis menggantung cantik di atas sana.
Kemuning duduk di belakang sambil memegang ujung jaket Arkatama pelan. Awalnya hanya itu. Menjaga jarak secukupnya. Namun, saat motor melewati jalan yang sedikit ramai dan Arkatama mengerem pelan karena kendaraan di depan mendadak berhenti, tubuh Kemuning refleks terdorong maju..Tangannya langsung berpindah memegang pinggang Arkatama agar tidak kehilangan keseimbangan.
Dan seketika Arkatama langsung salah tingkah sendiri. Bahu pria itu sedikit menegang. Sudut bibirnya bahkan naik tanpa sadar.
Kemuning yang menyadari perubahan tubuh Arkatama langsung bertanya pelan dari belakang.
“Mas Arka kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa,” jawabnya cepat.
Padahal detak jantungnya sudah tidak karuan. Arkatama bahkan harus menahan senyum sendiri sepanjang perjalanan karena tangan Kemuning masih berada di pinggangnya.
Sesampainya di bioskop, mereka berjalan berdampingan menuju tempat pembelian tiket. Arkatama membeli popcorn ukuran besar dan dua minuman dingin sebelum akhirnya mereka masuk ke studio.
Awalnya semuanya terasa biasa saja. Mereka duduk dengan jarak kecil di antara kursi, lalu mulai fokus menonton saat lampu studio dipadamkan.
Namun, lima belas menit setelah film dimulai, Arkatama mulai sadar kalau rekomendasi Aryasatya benar-benar mencurigakan.
Film itu bukan hanya tentang cerita percintaan pasangan romantis. Hampir setiap adegan dipenuhi tatapan penuh cinta, pelukan hangat, pegangan tangan, ciuman mesra, dan dialog-dialog manis yang membuat suasana di dalam studio terasa berbeda. Beberapa penonton bahkan terdengar histeris malu di bagian tertentu.
Arkatama berdeham kecil sambil pura-pura fokus mengambil popcorn. Sementara di sampingnya, Kemuning tampak berusaha menatap layar dengan serius meski pipinya mulai memerah.
Kadang wanita itu membetulkan rambutnya sendiri hanya untuk mengalihkan rasa gugup. Dan suasana semakin canggung ketika tangan mereka beberapa kali tidak sengaja bertemu di dalam wadah popcorn.
Setiap kali itu terjadi mereka langsung menarik tangan masing-masing dengan cepat. Kemuning sampai menahan senyum malu sambil menunduk kecil. Sedangkan Arkatama sibuk pura-pura batuk untuk menutupi rasa salah tingkahnya. Namun semakin lama, suasana di antara mereka justru terasa semakin hangat.
Ada satu adegan ketika tokoh pria di film menggenggam tangan kekasihnya sambil berkata pelan, “Rumah terbaik bukan tempat, tapi seseorang yang bikin hati kita tenang.”
Kalimat itu membuat Kemuning diam. Entah kenapa dadanya terasa hangat mendengarnya.
Di sampingnya, Arkatama juga ikut terdiam. Tatapannya perlahan beralih dari layar bioskop ke wajah Kemuning yang terkena cahaya redup dari depan. Dan tanpa sadar ia merasa wanita itu memang seperti rumah.
Tempat yang membuat pikirannya tenang. Tempat yang membuat hidupnya terasa hangat hanya dengan berada di dekatnya. Jari Arkatama perlahan bergerak di atas sandaran kursi, begitu pelan dan ragu-ragu. Seolah masih memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk mundur. Namun, akhirnya jemarinya tetap menyentuh tangan Kemuning yang berada di dekatnya.
Kemuning sedikit terkejut dan langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu di tengah cahaya redup bioskop.
Mata Arkatama terlihat lembut malam itu. Tidak ada godaan ataupun candaan seperti biasanya. Hanya ketulusan yang membuat dada Kemuning tiba-tiba berdebar lebih cepat.
Arkatama tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan wanita itu dengan hangat, lembut, dan penuh hati-hati. Seolah takut membuat Kemuning tidak nyaman.
Namun, yang membuat Arkatama semakin bahagia Kemuning tidak melepaskan genggamannya. Wanita itu justru menunduk malu sambil tersenyum kecil. Jemarinya perlahan balas menggenggam tangan Arkatama. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi jarak canggung di antara mereka.
Sepanjang sisa film, tangan mereka tetap saling menggenggam diam-diam. Kadang Arkatama melirik ke arah Kemuning sambil tersenyum sendiri.
Kadang Kemuning pura-pura fokus menonton padahal jantungnya terus berdebar tidak tenang.
Malam itu sederhana. Hanya menonton film di bioskop seperti pasangan lain pada umumnya.
Namun bagi Arkatama genggaman tangan itu saja sudah cukup membuat malamnya terasa sempurna.
Asyiaappp kak...
semangat tembut retensi ok💪💪
biar lancar jaya update nya
kali...khilaf yg Ono di update lagi🤣🤣
untung lu jujur
awas ditinggal kemuning jangan nangis Bombay lu..
kemuning juga punya trauma diboongin, diselingkuhi, diabaikan 🥹