Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Kalian mau kemana?"tanya Umi
"Pulang ke Tasik, Umi"jawab Fahri singkat
"Pulang ke Tasik? Nanti dulu!"
Kalimat tegas Haji Sulaiman memotong gerakan Fahri yang baru saja hendak meraih kembali ransel usangnya di atas lantai marmer. Sang sesepuh keluarga menatap putranya dengan pandangan yang tidak lagi menyisakan ruang untuk negosiasi santri.
"Lho, kenapa, Bah? Santri di Cisayong nungguin Fahri buat ngajar kitab kuning besok subuh," protes Fahri, peci miringnya bergoyang sedikit saat ia menoleh bingung.
"Urusan ngajar, Abah sudah telepon Abah Mukhlas untuk dicarikan ustadz pengganti sementara," Haji Sulaiman berjalan mendekati meja kerjanya, mengambil sebuah map kulit hitam tebal dan meletakkannya di depan dada Fahri. "Sekarang kamu sudah jadi suami, Fahri. Kamu punya tanggung jawab memberi nafkah yang layak, melindungi istri kamu dengan kuasa yang nyata. Mulai besok pagi, kamu pegang kendali penuh atas anak perusahaan properti kita di Jakarta Pusat."
Zara tersentak di samping Fahri. Matanya membelalak menatap map hitam itu.
"Tapi, Bah—"
"Gak ada tapi-tapi. Ini perintah, bukan tawaran," potong Haji Sulaiman mantap, beralih menatap Zara dengan senyum hangat namun tegas. "Zara, malam ini kalian tidur di sini. Kamar lama Fahri di lantai dua sudah disiapkan Umi. Biarkan suamimu ini belajar jadi pria dewasa yang sesungguhnya di dunia nyata."
Malam hari di Kebayoran Baru terasa begitu sunyi, sangat kontras dengan hiruk-pikuk jalanan Jakarta di luar gerbang tinggi. Kamar tidur utama Fahri di lantai dua sangat luas, berlantai kayu jati dengan ranjang berkanopi yang megah.
Zara duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya yang mendadak dingin. Pakaian gamis sederhananya terasa asing di tengah kemewahan kamar ini. Di depan cermin besar, Fahri baru saja selesai menaruh peci hitamnya. Ia hanya mengenakan kaus polos putih dan sarung tenun, namun gurat kelelahan yang sangat dalam tercetak di wajahnya.
"Fahri..." panggil Zara lirih, memecah keheningan malam.
"Hmm? Kenapa, Zar? Kasurnya kurang empuk? Apa AC-nya kedinginan?" sahut Fahri, berbalik dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Zara menelan ludah, matanya menatap lurus ke arah suaminya. Pertanyaan yang sejak dari rumah sakit tadi siang menyumbat dadanya, kini sudah tidak bisa ditahan lagi. "Fahri... kenapa dari kemarin kamu gak pernah nanya satu hal pun sama aku?"
Fahri mengernyitkan dahi, berjalan mendekati sofa di seberang ranjang lalu duduk di sana. "Nanya soal apa?"
"Soal alasan kenapa Reza menceraikan aku tepat setelah akad nikah kami dulu," bisik Zara, suaranya mulai bergetar. Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa kamu bisa seyakin itu pasang badan buat aku, padahal... padahal kamu belum tahu badai apa yang sebenarnya membuat aku diusir sama Ayah."
Fahri terdiam. Kamar megah itu mendadak terasa mencekam. "Zar, bagi saya, melihat kamu menangis di koridor pesantren waktu itu sudah cukup jadi alasan buat saya melindungi kamu. Saya gak butuh—"
"Tapi kamu harus tahu, Fahri!" potong Zara setengah terisak. Ia merogoh ponselnya dari dalam tas, dengan tangan gemetar ia membuka sebuah folder tersembunyi, lalu menyodorkan layar ponsel itu tepat di depan wajah Fahri. "Ini. Ini alasan kenapa Reza membuang aku, dan kenapa Ayah malu sampai mengusir anak kandungnya sendiri."
Fahri menerima ponsel itu dengan ragu. Di layarnya, sebuah video berdurasi singkat siap diputar. Teks di bawahnya bertuliskan tajuk skandal yang sempat viral di kalangan pengusaha Jakarta beberapa bulan lalu. Fahri menekan tombol play.
Dalam hitungan detik, wajah Fahri yang biasanya dipenuhi banyolan konyol mendadak berubah total. Rahangnya mengeras, matanya yang hitam legam membelalak sempurna memandangi layar. Di dalam video itu... tampak seorang wanita yang memiliki wajah, potongan rambut, bahkan tanda lahir di leher yang sangat identik dengan Zara, sedang berada di dalam kamar hotel bersama seorang pria dalam kondisi yang sangat tidak senonoh.
Fahri terengah. Napasnya memburu. Pria berpeci miring yang biasanya selalu punya seribu kalimat banyolan itu kini membeku, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci besi panas.
Melihat reaksi Fahri, hati Zara seketika hancur berkeping-keping. Ketakutan terbesarnya terbukti. Fahri bener-bener belum tahu tentang video ini.
"Itu... itu bukan aku, Fahri... demi Allah, itu video editan beralih teknologi AI... tapi gak ada satu orang pun di Jakarta yang percaya sama aku..." tangis Zara pecah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bersiap jika detik ini juga Fahri akan berdiri, melempar ponselnya, dan melayangkan talak karena merasa tertipu.
Perlahan, Fahri meletakkan ponsel itu di atas meja marmer. Ia bangkit berdiri. Namun, sikapnya mendadak berubah dingin di mata Zara. Tidak ada pelukan penenang, tidak ada cubitan gemas di pipi seperti di hotel tadi siang. Fahri hanya menatap lurus ke arah pintu balkon kamar dengan pandangan kosong dan rahang yang mengatup rapat.
"Fahri... kamu... kamu kecewa sama aku?" tanya Zara di sela tangisnya yang pilu, merasa jarak di antara mereka mendadak membentang sejauh ribuan kilometer.
Fahri mengembuskan napas panjang melalui hidung, memunggungi Zara. "Zar... malam ini kamu tidur duluan. Saya ada urusan di bawah yang harus diselesaikan."
"Fahri!"
Tanpa menoleh sedikit pun, Fahri melangkah lebar menuju pintu kamar, membukanya dengan sentakan kasar, lalu menghilang di balik kegelapan lorong lantai dua, meninggalkan Zara yang ambruk di atas kasur mewah, menangisi nasib pernikahan kilat mereka yang kini tampaknya berada di ujung tanduk karena masa lalu yang mengerikan.
Namun, Zara tidak tahu. Di balik pintu kamar yang baru saja tertutup rapat, Fahri Ahmad tidak berjalan menuju kamar mandi atau ruang tengah.
Langkah kakinya bergerak cepat menuruni tangga menuju basement rumah mewah Haji Sulaiman. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, sorot matanya memancarkan kilat kemarahan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di pesantren Cisayong.
Fahri merogoh ponselnya sendiri dari saku sarung, menekan sebuah nomor kontak yang tersimpan dengan nama sandi khusus. Begitu panggilan terhubung, suara Fahri berubah menjadi sangat rendah, berbisik, namun sarat akan ancaman mematikan.
"Halo....bisa kita bertemu sekarang?"ucap Fahri dingin
"Bisa,!"
"Satu jam lagi sampai.kerumah.."ucap suara dibalik telpon
Fahri menutup sambungan telepon dengan sentakan pelan. Layar ponselnya meredup, memantulkan bayangan wajahnya yang masih mengeras di dalam kegelapan lorong basement. Peci hitamnya yang biasa miring kini sengaja ia tarik tegak lurus, menutupi keningnya yang berkerut dalam.
Ia tidak kembali ke kamar utama. Pemuda itu memilih melangkah menuju ruang kerja pribadi ayahnya di lantai bawah, menyalakan lampu meja yang temaram, lalu duduk menunggu dalam keheningan yang mencekam.
Tepat satu jam kemudian, lampu sorot dari sebuah mobil memotong kegelapan halaman depan rumah mewah Kebayoran Baru. Pintu gerbang diketuk pelan oleh satpam, disusul langkah kaki terburu-buru seorang pria muda berkacamata tebal yang menyandang tas laptop besar. Dia adalah siber atau ahli telematika kepercayaan keluarga Haji Sulaiman yang sering mengurus enkripsi data perusahaan.
"A Fahri..." sapa pria itu setengah berbisik, napasnya agak terengah saat memasuki ruang kerja. "Ada apa? Tumben mendadak sekali, sampai minta bertemu jam dua pagi begini?"
Fahri tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menyodorkan ponsel milik Zara yang sejak tadi digenggamnya ke atas meja marmer. Di layarnya, file video panas yang sempat membuat tangis Zara pecah di atas ranjang sudah siap diputar kembali.
"Periksa video ini,"