NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Sebuah buku

Ruang baca istana kaisar Song.

"Yang Mulia, yang mulia permaisuri meminta ijin ingin bertemu dengan anda."

"Hm biarkan dia masuk," balas Kaisar Song memberi ijin.

"Baik Yang Mulia," balas Kasim undur diri. "Silahkan masuk Yang Mulia Permaisuri," lalu ucapnya pada sang permaisuri Liu.

"Terima kasih," balas Permaisuri Liu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. "Salam hormat Yang Mulia," salamnya.

"Hm.. Ada perlu apa menemuiku malam-malam seperti ini Permaisuriku?" tanya Kaisar Song.

"Yang Mulia, dua hari lagi adalah ulang tahun putri Xu. Hamba berniat ingin mengadakan pesta di istana dan mengundang seluruh kerabat kerajaan dan juga para bangsawan ibukota," jawab Permaisuri Liu.

Kaisar Song berdecih dalam hati. "Cih putriku? Setahuku putriku si pembawa sial itu sudah ku buang jauh dan sudah menjadi kerangka didalam kuburnya."

Jadi, putrinya saat ini hanyalah pengganti untuk mengelabui semua orang di istana, termasuk istrinya sendiri.

"Hmm, itu ide bagus. Semua urusan yang berkaitan dengan istana wanita memang sudah berada dibawah kekuasaanmu. Jadi terserah kau ingin melakukan apa dan aku akan selalu mendukungnya," ucap Kaisar Song kemudian.

Permaisuri Liu lantas melebarkan senyumnya karena keinginannya terpenuhi dan segera memberi hormat, "Terima kasih Yang Mulia Kaisar atas ijinnya, kalau begitu hamba mohon pamit dan tidak akan mengganggu waktu Yang Mulia lagi," ucapnya seraya pamit.

"Ya, Permaisuriku."

Kaisar Song menghela nafasnya panjang, lalu memanggil seorang kasim agar memanggil seseorang.

"Ya Yang Mulia Kaisar, ada perlu apa Yang Mulia sampai memanggil hamba?" salam hormat seorang pria paruh baya setibanya didalam ruangan.

Pria itu adalah tabib Nan, seorang tabib pribadi sekaligus penasihat raja Song. Tapi bagi sebagian orang yang mengenal tabib Nan, ia bukanlah seorang tabib melainkan seorang penyihir.

Karena bagaimana tidak, raja Song selalu menuruti setiap perkataan tabib Nan. Walau semua orang tahu jika tindakan yang diarahkan tersebut adalah salah.

"Aku mendengar kabar kalau didaerah perbatasan utara sedang terjadi pemberontakan, orang-orang yang selama ini tidak puas dengan kinerja pemerintah istana kini telah bergabung dengan anggota musuh dan mencoba menerobos pertahanan wilayah ini untuk menggulingkan kekuasaanku," ucap Kaisar Song.

"Anda tidak perlu khawatir Yang Mulia, bukankah anda telah memberi perintah kepada jenderal utama Guan agar menghabisi siapa saja para pengkhianat di negeri ini," ucap Tabib Nan.

"Kau benar, Tabib Nan. Akan tetapi kenapa aku selalu saja merasa tidak tenang, maksudku kenapa aku selalu saja merasa gelisah. Terkadang aku juga bermimpi buruk dan di dalam mimpiku itu, aku melihat seseorang datang dihadapanku dan tanpa banyak bicara menghabisiku begitu saja," ucap Kaisar Song mengungkapkan rasa gelisahnya.

"Yang Mulia Kaisar, itu semua hanyalah mimpi. Jadi jangan terlalu dipikirkan, itu dapat menganggu kesehatan anda," ucap Tabib Nan menenangkan.

"Kau benar, semua itu cuma mimpi. Segala penghalang dalam hidup sudah ku lenyapkan semuanya, termasuk putriku sendiri. Lalu untuk apa aku harus merasa ketakutan," ucap Kaisar sedikit gemetar.

"Iya Yang Mulia, kecuali ..." ucap Tabib Nan sengaja memutus ucapannya.

"Kecuali apa?" tanya Kaisar Song penasaran.

"Kecuali jenderal Guan tidak melaksanakan perintah anda," ucap Tabib Nan mencoba menyisipkan kecurigaan.

"T-tidak mungkin, jenderal Guan begitu setia kepada kerajaan ini begitu juga kepadaku. Dia tidak mungkin mengkhianatiku, lagipula aku sudah melihat sendiri makam putriku dengan mata kepalaku ini!"

"Yang Mulia ... Hamba tadi hanya berasumsi saja, mohon Yang Mulia jangan terlalu memikirkannya. Hamba yakin jenderal Guan telah melaksanakan perintah anda karena beliau adalah pengikut setia anda," ucap Tabib Nan meyakinkan.

Kaisar mengangguk-angguk setuju dan berusaha menenangkan dirinya. "Kau benar, kau benar Tabib Nan."

Tabib Nan tersenyum tipis. "Yang Mulia, ini sudah waktunya anda minum obat."

"Benar, obatku. Mana obatku?"

Tabib Nan menyuguhkan obat berupa pil untuk Kaisar Song lalu perlahan kecemasan Kaisar Song mulai hilang begitu saja. Hingga kedua matanya terpejam cukup lama, dan tidak lupa memuji akan khasiat obat itu. "Obat darimu ini memang mujarab sekali, aku selalu saja merasa tenang setelah meminumnya."

"Terima kasih atas pujian anda Yang Mulia, ini adalah pil dewa yang bisa membuat anda tenang dan nyenyak saat tidur. Maka dari itu hamba sarankan agar Yang Mulia meminumnya setiap hari sebelum tidur," ucap Tabib Nan memberikan sebotol penuh pil kepada Kaisar Song.

Kaisar Song mengangguk patuh dan menerimanya. "Baiklah, terima kasih."

"Sama-sama Yang Mulia, jika tidak ada keperluan lain hamba mohon pamit," ucap Tabib Nan undur diri.

"Hm, silahkan."

Tabib Nan kemudian undur diri dan menutup rapat pintu ruangan tersebut, perlahan ia menunjukkan senyuman yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun.

...----------------...

Kediaman Perdana Menteri Pertahanan.

"Terima kasih Tabib Jiang, berkat anda putriku mulai membaik," ucap haru Nyonya Huang mengucapkan terima kasih.

"Sama-sama Nyonya besar, akan tetapi kondisi tuan putri belum membaik sepenuhnya. Jadi hamba sarankan agar tuan putri banyak beristirahat dan yang lebih penting ia tidak boleh sampai melewatkan jadwal minum obatnya," nasehat Tabib Jiang.

"Baik Tabib Jiang," balas Nyonya Huang menurut.

"Hari sudah larut, bagaimana kalau anda dan putri anda bermalam disini lebih dulu," saran Tuan Huang.

"Benar Tabib Jiang, perjalanan ke rumah anda cukup jauh dan aku juga melihat kalian belum makan apapun setelah sampai disini," timpal Nyonya Huang.

"Ya, turuti lah keinginan kami. Ku anggap ini sebagai perintah dari seorang perdana menteri dan jangan khawatir mengenai istrimu, aku sudah mengutus penjaga kediamanan ini untuk mengirimkan pesan dan sekaligus menjaganya disana," sambung Tuan Huang.

"Karena ini adalah perintah dari anda, jadi apa boleh buat. Hamba akan menurutinya," balas Tabib Jiang menurut.

"Syukurlah kalau begitu, oh iya Tabib Jiang, dimana putrimu?" tanya Nyonya Huang mengedarkan pandangannya.

Berbicara tentang putrinya, Tabib Jiang mulai panik. "Pergi kemana anak ini?" gerutunya dalam hati. "M-maaf Tuan Huang dan Nyonya, mungkin putri hamba sedang berjalan-jalan disekitar," ucapnya kemudian.

"Baiklah, aku akan memerintahkan pelayan untuk mencari putrimu. Kau cukup tunggu disini dan kita akan makan bersama," ucap Tuan Huang.

"Baik Tuan," balas Tabib Jiang patuh.

Sementara itu, aku sendiri sedang asik membaca buku didalam paviliun yang baru saja aku temui. "Rupanya disini adalah perpustakaan, aku tidak menyangka ternyata banyak sekali buku-buku, bahkan aku belum pernah baca buku ini sebelumnya," ucapku berdecak kagum.

Aku terus mencari dan mencari, membaca apapun dan berharap menemukan suatu informasi yang berguna mengenai istana atau apapun itu.

Hingga akhirnya aku menemukan sebuah buku usang dan sedikit berdebu.

"SENI BELA DIRI PEDANG KELUARGA HUANG"

"Ini adalah buku warisan keluarga Huang, tapi kenapa buku ini bisa ada disini?" ucapku sedikit aneh.

Tak mau ambil pusing aku segera menyimpan buku itu dalam tas milikku, berpikir mungkin buku ini bisa berguna suatu saat nanti, lalu segera keluar dari tempat ini sebelum ada orang lain yang melihat.

...Bersambung....

1
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!