NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:704
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Eunbi

Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.

Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Hati dan Insiden Tak Terduga

Minggu-minggu berlalu, dan suasana di kediaman besar itu perlahan berubah, meski masih sama dinginnya. Namun sekarang, ada satu hal yang berbeda: Choi Heesung mulai bertindak di luar kebiasaan.

Dulu, ia akan pulang larut malam, langsung masuk ke kamarnya, dan menutup pintu rapat-rapat seolah ingin menghapus keberadaan Hye-ri. Tapi sekarang... Heesung justru berusaha ada di sana, tepat di hadapan Hye-ri, dengan segala pesonanya yang ia tampilkan sepenuhnya.

Ia pikir, jika ia memancarkan segala daya tariknya—tatapan mata yang memikat, senyum yang membuat lutut lemas, suara lembut yang biasa ia gunakan di panggung—maka gadis keras kepala itu pasti akan luluh. Ia ingin melihat reaksi Hye-ri. Ia ingin melihat gadis itu salah tingkah, tersipu malu, atau setidaknya menatapnya dengan kekaguman seperti wanita lainnya.

Tapi nyatanya... apa yang ia dapatkan justru sebaliknya.

Pagi itu, di meja makan panjang yang biasa sunyi.

Heesung duduk dengan santai, satu tangan menyangga dagunya, menatap tajam ke arah Hye-ri yang sedang memotong buah dengan tenang. Hari ini ia sengaja menata rambutnya lebih rapi, memakai kemeja berwarna putih bersih yang menonjolkan kulitnya yang cerah dan rahang tegasnya. Aroma parfum mahalnya menguar lembut, memenuhi ruangan.

"Kau tahu tidak?" suara Heesung memecah keheningan, nadanya sengaja dibuat rendah dan berat, persis seperti nada bicara saat ia berbicara di depan kamera. "Banyak wanita di luar sana yang rela mati hanya agar bisa duduk di hadapanku seperti ini. Hanya agar bisa melihatku makan, atau mendengarkan suaraku berbicara."

Heesung mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap mata Hye-ri lekat-lekat, mencoba menanamkan pesonanya.

"Tapi kau... kau bahkan tidak pernah sekalipun menatapku lebih dari tiga detik. Apa matamu bermasalah, atau kau memang tidak punya rasa suka sama sekali?"

Hye-ri berhenti memotong sebentar. Ia mengangkat wajahnya, menatap Heesung datar selama tepat dua detik, lalu kembali menunduk ke potongan buah di piringnya.

"Mataku baik-baik saja, terima kasih. Dan aku punya rasa suka... untuk hal-hal yang berguna dan indah. Seperti bunga, pemandangan matahari terbenam, atau kue yang enak. Sedangkan kau..." Hye-ri mengangkat bahu acuh tak acuh, "...kau hanya sekadar orang yang tampan. Dan ketampanan saja tidak cukup untuk membuatku kagum, Tuan Choi. Dunia ini penuh pria tampan. Di jalanan, di majalah, di televisi... kau bukan satu-satunya."

KLAK!

Sendok di tangan Heesung tertekan keras ke piringnya. Wajahnya yang tadi berusaha mempesona kini berubah merah padam menahan marah.

Bukan satu-satunya?

Ia, Choi Heesung, pusat perhatian dunia, dikatakan bukan satu-satunya? Dan hanya sekadar 'tampan'? Seolah itu adalah hal yang paling biasa saja?

"Kau benar-benar..." Heesung menggertakkan gigi, menahan diri agar tidak berteriak. Ia menatap Hye-ri dengan pandangan tak percaya. "Kau benar-benar wanita yang tidak punya selera, atau memang hatimu terbuat dari batu?"

Hye-ri tersenyum tipis, senyum yang sangat tenang dan sangat menyebalkan bagi Heesung.

"Mungkin saja. Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang kita tidak ada hubungannya selain kontrak? Jadi kenapa kau begitu sibuk ingin aku mengagumimu? Kau takut pesonamu luntur hanya karena satu orang tidak terpikat padamu?"

Kalimat itu tepat sasaran. Menohok langsung ke gengsi besar Heesung. Ia bangkit berdiri kasar dari kursinya, mendorong kursi hingga bergeser berisik di lantai.

"Terserah kau saja! Nikmati kebisuanmu itu, Park Hye-ri! Suatu saat nanti... saat kau sadar betapa beruntungnya kau memiliki suami sepertiku, jangan harap aku akan menatapmu sedikit pun!"

Dengan langkah lebar dan penuh emosi, Heesung berjalan pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan sarapannya yang belum disentuh dan Hye-ri yang menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala pelan.

"Dasar anak manja," batin Hye-ri. "Dia terbiasa disembah-sembah, sedikit saja ada yang acuh, langsung ngambek."

Namun, di sudut hatinya, Hye-ri tahu betul kenapa ia bersikap begitu dingin. Ia tahu betapa berbahayanya pria seperti Heesung. Ia tahu betapa mudahnya jatuh hati pada pesona itu. Ia tahu, jika saja ia sedikit saja melonggarkan pertahanannya, ia akan hancur sendiri. Karena bagaimanapun juga, di mata dunia, Heesung bukan miliknya. Dan di mata Heesung sendiri, ia hanyalah kewajiban.

 

Siang itu, cuaca sangat cerah. Hye-ri memutuskan pergi ke pasar tradisional di pusat kota. Ia ingin membeli beberapa bibit tanaman baru untuk taman belakang, dan juga membeli bahan makanan segar. Ia pergi sendirian, seperti biasa, tanpa pengawalan ketat. Bagaimanapun juga, tidak ada yang tahu wajah asli istri dari Choi Heesung. Ia bisa berjalan bebas seperti warga biasa.

Di pasar yang ramai dan berisik itu, Hye-ri merasa lega. Ia merasa kembali menjadi dirinya sendiri, bukan 'Istri Kontrak Sang Idola'. Ia berjalan di antara deretan kios, menawar harga, dan tertawa kecil saat berbicara dengan penjual sayur yang ramah.

Namun, takdir seolah punya rencana lain.

Di saat yang sama, di gedung agensi tidak jauh dari sana...

Heesung sedang duduk di ruang latihan, lelah dan frustrasi. Ia baru saja mendapat teguran dari manajemen karena penampilannya yang sedikit menurun, dan pikirannya terus saja terganggu oleh sosok Park Hye-ri. Wajah datar wanita itu, jawaban-jawaban ketusnya, dan ketidakpeduliannya terus berputar di kepala Heesung sepanjang hari.

"Aku harus keluar," gumam Heesung pada dirinya sendiri. Ia butuh udara segar. Ia butuh menenangkan diri.

Dengan mengenakan topi lebar, masker wajah, dan kacamata hitam—penyamaran standar para selebritas—Heesung menyelinap keluar dari pintu samping gedung. Ia berjalan santai menyusuri trotoar, tanpa disadari oleh siapa pun. Kakinya membawanya tak sengaja ke arah pasar tradisional yang ramai itu.

Ia berjalan di antara kerumunan, merasa aneh sekaligus bebas. Di sini, tidak ada yang memandangnya dengan takjub, tidak ada yang meminta tanda tangan. Ia hanya orang biasa yang berjalan di tengah keramaian.

Dan saat itulah, di antara lautan manusia, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.

Di depan kios penjual ikan, berdiri Park Hye-ri.

Wanita itu sedang tertawa. Benar-benar tertawa. Tawanya lepas, cerah, dan matanya menyipit indah karena gembira. Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang bapak penjual ikan, wajahnya bersinar cerah terkena sinar matahari, pipinya kemerahan karena kepanasan, dan rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.

Di rumah, di hadapannya, Hye-ri selalu terlihat tenang, dingin, tertutup, dan terkendali penuh. Tapi di sini... di tempat yang berisik dan bau amis ini... Hye-ri terlihat begitu hidup, begitu bahagia, dan begitu... cantik.

Jantung Heesung berdegup kencang secara tidak sadar. Kakinya berhenti melangkah, terpaku menatap wanita itu dari kejauhan.

Kenapa dia bisa begitu bahagia di sini? Kenapa dia bisa tertawa begitu lepas dengan orang asing, tapi tidak pernah sekalipun tersenyum tulus padanya? Kenapa cahaya di wajah wanita itu hanya muncul saat ia jauh dari Heesung?

Rasa iri yang aneh dan perih tiba-tiba menjalar di dada Heesung. Iri pada bapak penjual ikan itu. Iri pada pasar ramai ini. Iri pada apa pun yang bisa membuat Hye-ri tersenyum, sementara dirinya hanya bisa mendapatkan tatapan dingin.

Tanpa sadar, Heesung melangkah mendekat, tersembunyi di balik tiang kayu besar. Ia ingin melihat lebih lama sosok Hye-ri yang berbeda ini.

Namun, tiba-tiba suasana pasar menjadi kacau.

Dari arah belakang, terdengar suara teriakan dan gaduh. Sekelompok pemuda mabuk yang berjalan sempoyongan menabrak gerobak buah hingga berguling, lalu berjalan terus dengan kasar mendorong siapa saja yang ada di jalan mereka.

Hye-ri yang sedang memegang kantong belanjaan penuh, tidak sempat menghindar. Salah satu pemuda itu menabrak bahu Hye-ri dengan keras.

"Eh, hati-hati kau!" seru pemuda itu kasar, meski dialah yang salah.

Hye-ri kehilangan keseimbangan. Kantong belanjaannya terlempar, isinya berhamburan ke tanah. Ia sendiri hampir jatuh jika tidak berpegangan pada pinggiran kios.

Pemuda-pemuda itu justru tertawa keras, tidak punya rasa bersalah sedikit pun. Salah satu dari mereka bahkan menjulurkan tangan hendak menyentuh dagu Hye-ri dengan tidak sopan.

"Wah, cantik juga nih gadisnya. Maaf ya, Nona. Kalau mau minta maaf, ajak kami minum saja..." ucap pemuda itu dengan nada cabul.

Hye-ri mundur dengan waspada, wajahnya berubah tegang. Ia tidak takut, tapi ia benci diperlakukan kasar. "Minggir. Dan minta maaf karena sudah menabrak dan merusak barang belanjaanku."

"Ha? Berani juga kau bicara keras..." Pemuda itu maju selangkah, tangannya terangkat hendak mendorong bahu Hye-ri lagi.

Tapi sebelum tangan itu menyentuh kulit Hye-ri...

BRUK!

Sesosok tubuh melesat cepat, menangkis lengan pemuda itu dengan keras hingga terdengar bunyi berderak dan teriakan kesakitan. Dalam sekejap mata, Hye-ri sudah ditarik ke belakang, terlindungi oleh punggung lebar dan kokoh yang sangat dikenalnya.

Heesung berdiri di sana.

Topinya miring, kacamatanya terlepas, dan maskernya sudah dicabut kasar dan diremukkan di tangannya. Wajahnya yang biasanya dingin dan terkendali kini berubah mengerikan. Matanya yang indah itu menyala merah karena marah, rahangnya mengeras, dan aura mengintimidasi yang sangat kuat meledak dari tubuhnya.

"Kau berani menyentuhnya?" suara Heesung rendah, tapi bergema mengerikan di tengah keramaian yang tiba-tiba hening. Suara itu bukan suara idola yang lembut, tapi suara pria yang siap membunuh demi melindungi.

Pemuda-pemuda itu mundur terkejut, kaget melihat tatapan membunuh pria tampan di depan mereka.

"Siapa kau hah?! Urus saja urusanmu!" tantang salah satu teman pemuda itu.

Heesung melangkah maju selangkah, membuat mereka mundur ketakutan. "Dia adalah wanitaku. Dan tidak ada satu pun tangan kotor yang boleh menyentuhnya, apalagi menyakitinya. Pergi... sebelum aku membuat kalian menyesal dilahirkan ke dunia ini."

Ada sesuatu dalam nada bicara Heesung, ada wibawa dan kekuatan yang nyata, yang membuat pemuda-pemuda itu sadar mereka bukan lawan orang ini. Dengan gerutuan marah namun takut, mereka akhirnya pergi bergegas menjauh.

Keheningan melanda sejenak, sebelum keramaian pasar kembali berjalan seperti biasa.

Heesung berdiri diam, napasnya masih memburu karena amarah yang belum reda. Tangan kanannya masih mengepal erat, gemetar karena emosi yang meluap.

Hye-ri berdiri di belakangnya, jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan pada pemuda tadi, tapi karena terkejut luar biasa melihat Heesung ada di sini... dan melihat cara pria itu melindunginya dengan begitu ganas dan hebat.

Perlahan, Heesung berbalik badan. Wajahnya masih kaku, tapi saat menatap Hye-ri, kemarahan itu perlahan berubah menjadi kekhawatiran yang jelas terlihat di matanya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya cepat, matanya menyapu wajah dan tubuh Hye-ri mencari luka sedikit pun. "Apakah dia menyakitimu? Di mana yang sakit? Katakan padaku!"

Hye-ri menatapnya lekat-lekat. Di sini, tanpa kamera, tanpa penonton, tanpa topeng idola... di sinilah Heesung yang sesungguhnya. Pria yang marah besar saat wanitanya disakiti, pria yang siap bertarung meski harus membuka kedoknya sendiri demi melindungi.

"Aku... aku tidak apa-apa," jawab Hye-ri pelan, suaranya sedikit tercekat. "Kau... kenapa ada di sini?"

Heesung terdiam. Ia sadar apa yang baru saja ia lakukan. Ia sadar ia hampir membongkar identitasnya demi Hye-ri. Ia sadar ia bertindak di luar kendali, murni karena naluri melindungi yang tiba-tiba meledak.

Ia menatap mata Hye-ri yang lebar dan bening itu. Untuk pertama kalinya, Hye-ri menatapnya bukan dengan dingin, bukan dengan ketus, tapi dengan pandangan kaget, bingung, dan... kagum yang tersembunyi.

Wajah Heesung memerah sedikit, bukan karena marah, tapi karena gugup yang aneh. Ia memalingkan wajahnya, berdeham pelan untuk menutupi kekalutannya.

"Kebetulan lewat. Aku hanya tidak suka melihat orang sembarangan bertindak kasar. Lagipula..." Heesung membungkuk perlahan, mulai mengumpulkan barang belanjaan Hye-ri yang berserakan ke tanah, suaranya terdengar lebih pelan dan tidak lagi angkuh, "...kalau sampai kau terluka atau kenapa-napa, aku juga yang repot. Nanti ayah kita yang marah. Aku hanya menjaga aset kontrak ini tetap aman, itu saja."

Hye-ri menatap punggung Heesung yang sedang berjongkok di tanah itu. Menatap rambut hitam yang sedikit berantakan itu. Menatap tangan halus yang biasa memegang mikrofon itu kini mengangkat sayuran kotor dari aspal demi dirinya.

Bohong.

Hye-ri tahu itu bohong. Tatapan mata itu, cara dia melindungi, cara dia marah... itu jauh melampaui sekadar 'menjaga aset'.

Hati Hye-ri terasa bergetar aneh. Dinding pertahanan yang ia bangun begitu kokoh selama ini... tiba-tiba saja retak sedikit saja karena satu kejadian di pasar yang berdebu ini.

Heesung bangkit berdiri, menyodorkan kantong belanjaan yang sudah ia rapikan kembali. Ia menatap Hye-ri, kali ini tatapannya berbeda. Ada sesuatu yang berubah di sana.

"Ayo pulang," ucapnya singkat, lalu berjalan lebih dulu. Tapi kali ini, ia tidak berjalan di depan dengan angkuh, melainkan berjalan di samping Hye-ri, sedikit di sebelah kiri, posisi yang paling tepat untuk melindunginya dari bahaya di jalan raya.

Langkah kaki mereka beriringan di tengah keramaian. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada pernyataan cinta. Tapi di antara kebisuan itu, ada benih baru yang tumbuh. Benih yang membuat mereka sadar: bahwa di balik permusuhan dan perjanjian itu, ada ikatan lain yang mulai mengikat hati mereka lebih kuat dari kertas apa pun.

Dan Heesung... Heesung mulai sadar satu hal penting: bahwa melihat senyum tulus Hye-ri... ternyata jauh lebih berharga daripada ribuan sorakan penggemar sekalipun.

 

1
HAN EUNBI
🤭 menarik banget💪 tingkatkan
VOYAGE LEUER: 🤭terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!