Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Pintu terbuka, Dewan menegang begitu pun Tiyas.
Alena sudah berdiri di depan pintu adiknya menghadap belakang.
Deg!
"Alena... Kamu disini sejak kapan?"
Alena membalikan badan sambil bersedekap dada. Menatap suami dan adiknya penuh sorot mata jijik. Bayangan keduanya bertukar saliva. Lingerie Merah. Liarnya Dewan menjamah Tiyas. Semuanya meledak dalam waktu bersamaan. Meskipun rasa di dalam sana remuk, sekuat tenaga Alena paksa agar sekali lagi mampu menatap dua wajah penghianat.
"Sudah selesai?" Alena tersenyum getir.
Sementara di ujung tangga, Fauzan menghentikan langkahnya menatap kejadian pagi itu.
Tiyas mendekat. Ia pegang lengan Kakaknya, namun Alena hempaskan begitu saja. "Mbak... Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan! Mbak... Aku-aku nggak-"
"Kamu bukan adiku lagi!" Alena seketika menatap Tiyas dengan sorot mata tajam. "Setelah semalam aku melihat bagaimana liarnya kalian bertukar saliva... Sejak itu aku sudah memutuskan apapun denganmu lagi!"
Tiyas hanya mampu terisak. Air matanya perlahan luruh.
Alena menatap Dewan. Terseyum getir, lalu wajahnya berpaling. Dan disaat itu tanganya mengusap air di sudut matanya. Rasanya, selama ini bagaikan orang gila yang tak tahu apa-apa. Rasanya lebih sakit, apalagi fakta itu terjadi setelah kelahiran bayinya.
"Sayang... Aku bisa menjelaskan semuanya," Dewan berusaha memegang kedua tangan Istrinya untuk menjelaskan.
Alena mundur.
Alena menolak tersentuh.
"Setelah kamu memutuskan berkhianat... Maka disaat itu, semua yang ada di tubuhku bukan lagi hakmu, Mas! Aku JIJIK melihat kamu begitu liar memeluk serta menciumi dia!" tangan Alena menunjuk ke arah Tiyas. "Itu di depan mataku sediri aku menyaksikan kegilaan kalian. Bagiamana jika di belakangku. Dan di hotel? Bahkan di rumah ini pun... Ya Allah-" Alena membekap mulutnya sambil bergeleng pelan.
Tiyas mendekat. Ia meluruhkan badannya di depan kaki sang Kakak berharap semua masalah ini tidak memperberat hidup maupun kisah persaudaraan.
"Mbak... Aku minta maaf! Aku khilaf, Mbak... Aku nggak sengaja melakukan itu...." isak Tiyas sambil memegang kedua kaki Kakaknya.
Alena kembali mundur. Ia berusaha tegar sambil mengusap air matanya. Dadanya terasa sesak. Masih seperti mimpi yang terjadi.
"Katakan... Sudah berapa lama kalian berselingkuh?"
"Sayang-Sayang... Tolong jangan salah paham seperti ini-" Dewan berusaha ingin menyentuh, namun Alena menyingkir.
"Kamu juga memanggil dia dengan kalimat itu, Mas?! Jangan samakan lagi aku dengan dia. Aku seharian jagain Dewan... Dia rewel, berharap kamu sebagai Ayahnya akan pulang sekedar ganti'in gendong. Tapi nyatanya... Malah kalian berdua asik-asikan tukar keringat di Hotel. Heh..." Alena kembali tersenyum getir.
"Sekarang terserah... Aku menyerah, Mas! Lanjutkan saja perselingkuhan kalian. Dan untuk kamu," Alena menundukan wajahnya pada sang Adik. "Kamu menang! Bukan hanya berhasil merebut suamiku. Tapi kamu juga berhasil menghancurkan persaudaraan kita. Silahkan... Puas-puaskan saja."
Alena melenggang pergi dari sana. Dan disaat Dewan akan menghampiri, Fauzan menghadang jalan Kakaknya. Wajahnya sama seperti Alena, masih tak menyangka ternyata pria di Hotel itu Kakaknya sendiri.
"Seharian itu anak kamu nangis, Mas! Dan setelah aku gendong, Delan diam. KAMU SADAR NGGAK SIH?" Fauzan meninggikan suaranya. "Alena itu baru saja melahirkan. Anakmu masih berumur hitungan hari saja, tapi dengan teganya kamu malah selingkuh sama Tiyas! TIYAS ITU ADIKNYA ALENA, MAS? Dimana mata kamu?!" Tekannya sambil menunjuk badan sang Kakak.
Dewan hanya mampu terdiam. Tatapanya lurus ke depan, Alena sudah tak mampu terjangkau dalam pandangannya.
Fauzan membalikan badan dan langsung turun membawa sesal. Dewan juga melakukan hal yang sama, dia bergegas turun untuk mengejar Istrinya.
Di kamar Delan tidak ada. Dewan berlari menuju kamarnya. Melihat Alena hanya duduk di depan meja rias, perasaan Dewan sedikit tenang.
"Sayang... Saya bisa jelasin semuanya... Tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya," Dewan berjalan mendekat sangat pelan.
"Jangn mendekat!"
Dewan berhenti. Alena bangkit. Masih menatap lurus. Sudut matanya menangkap sebingkai foto pernikahannya di sisi meja rias. Alena mengambilnya. Lalu berbalik arah.
Prakkk!!'
Bingkai foto tadi sudah terhempas di bawah. Alena kembali berjalan menuju nakas. Beberapa fotonya dengan Dewan ia ambil satu persatu dan Alena hempaskan begitu saja.
Prakkk!!
Prakkk!!
Dewan terbelalak melihat reaksi kecewa Istrinya. Lalu, baru Alena menatapnya cukup berjarak. Lantai kamar sudah berserakan beberapa foto. Pecahan kacanya terpecah kemana-mana.
"Kalian yang tinggalkan rumah ini... Atau aku dan Delan yang pergi, Mas?" Sorot mata Alena datar bahkan nyaris kosong.
Dewan masih menatap Istrinya penuh sesal. Namun apa daya semua pengkhianatan yang dirinya berikan jauh lebih sakit. Dewan tak mampu berbuat hal lebih.
"JAWAB, MAS?!" Sentaknya. "Jangan berlagak seperti orang bodoh! Kamu itu pemain! Nggak usah pasang wajah sesal seperti itu. Saya sudah muak!"
"Biar saya yang pergi saja, Alena!" putus Dewan.
Alena tersenyum penuh luka memalingkan wajah. "Bagus! Ajak sekalian gundikmu pergi! Demi Allah... Mulai sekarang dia bukan lagi Adikku!"
"Silahkan keluar!" Alena mengadahkan tanganya kearah pintu.
Selepas kepergian Dewan, Alena menjatuhkan tubuhnya diantara pecahan kaca yang berserakan itu. Salah satu foto pernikahan ia gapai. Melihat semua itu, ia bahkan sampai memukul dadanya sendiri.
Krekkk!!!
Alena merobek foto pernikahannya. Tangisanya semakin dalam, siapa pun yang mendengarnya pasti ikut merasakan teriris. Tak halnya Fauzan yang kini membeku di depan pintu. Tangan Fauzan terkepal, pandanganya jatuh menghujam lantai.
Drttt!!
Gawai Fauzan bergetar. Setelah semalam ia tunda penerbangannya, menyempatkan datang ke rumah Kakaknya sekedar pamitan, tapi kenyataan itu membuat Fauzan merasa sesal ingin meninggalkan Alena. Apalagi keadaanya terpuruk.
"Sayang... Aku udah di rumah kamu. Tapi kata Tante Sarah kamu pergi sebentar? Di mana? Cepet pulang ya, nanti takutnya telat," ucap seorang wanita di sebrang gawai Fauzan.
"Aku segera pulang!" putus Fauzan. Ia menatap ke arah Alena sejenak, lalu melenggang dari sana.
*
Alena sudah duduk di ruang tamu sendiri sambil menggendong Delan. Wajahnya tertunduk menatap sang putra dengan senyum tipis. Ia usap wajah Delan penuh kelembutan.
"Jika sudah seperti ini... Tidak ada tempat ibu pulang selain kamu, Sayang! Delan adalah semangat untuk Ibu. Dan karena Delan pula Ibu kuat," bisik Alena.
Dari belakang, derap langkah seseorang beradu dengan tarikan roda koper. Suara itu berhenti di samping sofa. Dan itu pun tak mampu menarik perhatian Alena selain menatap wajah putranya.
"Alena... Izinkan saya menggendong Delan terlebih dulu," pinta Dewan seraya mendekat.
Alena tidak menjawab juga berpaling. Namun ketika Dewan mendekat, ia menyerahkan Delan kepada suaminya. Dewan menggendong putranya penuh haru. Wajah bersih itu akan sulit lagi untuk ia tatap setelah ini.
Air mata Dewan luruh, Alena memalingkan wajahnya. Sementara di sebrang, Tiyas hanya terpaku oleh perbuatannya.
"Maafkan Ayah...." air mata Dewan luruh. Isakan itu membuat Delan yang terlelap merasa tak nyaman.
Alena segera mendekat. Ia ambil alih Delan tanpa sepatah kata. Dan Dewan menerimanya dengan lapang dada.
"Silahkan pergi!" selepas mengatakan itu, Alena membawa putranya melenggang masuk begitu saja.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔