NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetangga kiri kanan

Berkat kepiawaiannya dalam bertanya kepada para pedagang, Cakka berhasil sampai di depan gang rumah dengan menaiki angkutan umum. Ia membayar sesuai arahan mereka, sebesar sepuluh ribu rupiah, karena jaraknya cukup jauh.

Menghela nafas seraya berjalan kaki menuju rumah, yang sampai sekarang Cakka belum tahu apakah itu rumah sewa atau rumah pribadinya. Sepanjang berjalan orang-orang yang ada di sekitar melihat Cakka dari atas sampai bawah.

Kini saatnya Cakka harus menyiapkan hati, untuk mendengar semua celotehan, pertanyaan dan caci maki dari mereka. Dan kali ini Cakka tidak seberani di pasar. Ia lebih memilih menunduk, fokus pada langkah yang sebentar lagi akan sampai diteras rumah yang tak memiliki keramik.

Ada beberapa orang yang berdiri menghalangi jalannya, masih dengan tatapan yang sama seperti yang lain. Orang-orang itu bergeser, ketika Cakka mengucapkan kata "Permisi."

Cakka mengangguk pelan pun langkahnya ia percepat agar segera masuk kedalam. Namun sayang, seseorang berdiri didepan pintu rumahnya. Nampak dua sepasang kaki menggunakan sendal jepit hijau, berdiri sejajar dengan kakinya.

Cakka tak berani melihat, pikirnya "Apakah ini suami Mak Ranti?."

Mematung! Tak dapat berkutik atau berucap sepatah kata pun. Dan orang yang kini sedang berhadapan dengannya, berdehem agar Cakka mau melihatnya.

Tapi, tetap saja. Cakka lebih memilih menunduk. Dan rupanya orang itu tidak memilki kesabaran yang luas. Ia memegangi dagu Cakka hingga terangkat seluruh wajahnya ke permukaan mata sang pemilik tangan ramping namun terlihat kuat.

Pemilik warung rokok, beliau yang sekarang tengah berhadapan dengan Cakka. Ia tersenyum lalu berkata, "Jangan lupa bayar sewa sebulan satu juta rupiah ya!" Kening Cakka mengernyit. Ingin menolak, membantah, tidak bisa!.

Pasalnya nyawa Cakka selamat sampai sekarang saja sudah untung, kalau ia berontak dan tak terima dengan tagihan itu, bisa habis dibuatnya. Dengan tarikan nafas panjang Cakka mengangguk, mengiyakan ucapan pemilik warung rokok.

"Jadi rumah ini milik bapak?" Tanya Cakka pelan.

"Iya!" Jawabnya tegas.

"Terima kasih sudah menerima saya pak, saya berhutang Budi sama bapak" Cakka.

Pria itu mengibas-ibaskan tangannya ke udara sembari memonyongkan bibir seperti meledek omongan Cakka.

"Tidak usah sebaku itu!" Pun ia mendorong tangannya untuk berjabat dengan Cakka. Memperkenalkan diri "Aku, Beta!" Paham akan hal itu Cakka membalas jabatan tangan pak Beta.

"Aku... Cakka" sedikit takut dan gugup Cakka menyebutkan namanya untuk diketahui pak Beta.

Tiba-tiba orang-orang di sekelilingnya bertepuk tangan, sembari sesekali diantara mereka menyebut nama Cakka.

"Oh namanya Cakka? Bagus juga!"

"Aku pikir dia tidak memiliki nama"

"Dan hebatnya dia bisa bicara!"

Mendengar itu Cakka sedikit tersinggung, ia menatap orang-orang yang membicarakannya.

"Tenang saja aku manusia, aku bukan bagian dari tujuh keajaiban dunia"

Mereka malah tertawa.

Ahahahaha!!!!!!

Cakka menghembuskan nafas begitu kasar, mau dimana pun dan bagaimanapun keadaanya. Orang-orang akan tetap menilai Cakka aneh. Satu kenyataan pahit yang tak bisa ia elak.

Cakka kembali menundukkan kepalanya ke lantai, pak Beta peka akan wajah yang tersirat di depannya.

"Gak usah murung! Kamu itu lelaki, masa mau nangis?"

Cakka memajang senyum palsu.

"Izin mau masuk kedalam pak" ucapnya lesu.

"Bayar dulu, kan kamu sudah tidur disini dari kemarin" ucap pak Beta sembari mengadahkan telapak tangannya.

"Uangnya didalam pak" jawab Cakka.

"Baik, aku tunggu kamu di sini ya!" Tegas pak Beta namun bicaranya tetap terdengar ramah.

Cakka mengangguk paham, ia masuk kedalam dan langsung meraih kantong plastik yang berisikan uang. Ia menghitungnya. Satu juta rupiah! Serunya langsung berdiri, berlari untuk memberikannya kepada pak Beta.

"Maaf lama pak, tadi saya menghitungnya takut kurang"

"Takut kurang atau takut kelebihan?"

Agak kikuk, Cakka hanya tersenyum canggung untuk sekedar mencairkan suasana. Tapi pak Beta datar dan itu membuat Cakka terdiam. Sesaat beberapa detik setelah itu, kini pak beta yang tersenyum malah tertawa, terbahak-bahak.

Ahahaha!!!!!

"Tenang, aku bercanda, yang betah ya! Kalau ada apa-apa bilang" ucapnya sembari menepuk bahu Cakka beberapa kali.

Cakka merasa lega tak bimbang seperti sebelumnya. Cakka memandangi punggung pak Beta hingga lenyap dari penglihatan mata yang sudah minus satu itu.

(***)

Dimalam hari yang biasanya terdengar tenang dan hanya ada suara jangkrik. Kini berubah semua terasa ramai, suara bapak-bapak yang sedang asik bermain kartu, anak-anak yang masih merengek meminta uang jajan dan dari balik temboknya yang dingin, terdengar suara sepasang suami istri sedang cekcok kecil.

Entah apa yang dipermasalahkan hanya saja tanpa Cakka menonton tv, kepalanya terasa penuh dengan drama dari suara tetangganya itu. Membaringkan tubuh di atas lantai dengan kepala yang disanggah oleh tangan kanan, Cakka menatap langit plafon rumah yang sudah usang.

"Jadi begini rasanya tinggal dikota?" Tanyanya pada diri sendiri.

"Oh iya, nama kota ini apa ya? Tadi, kata pedagang jurusan Lojinawi. Ini Lojinawi?" Tanyanya lagi.

Tiba-tiba dari arah lain terdengar suara perempuan yang membalas pertanyaan Cakka.

"Ini bukan Lojinawi, tapi ini Blok-E!"

Sesaat Cakka terdiam, ia bangun dari tidurnya.

"Nggak usah panik! Aku di samping kananmu"

Tiba-tiba bulu kuduk Cakka berdiri, merinding dan dingin.

"Aku bukan hantu! Aku tetanggamu yang tinggal di sebelah kanan, pasutri yang sedang bertengkar di sebelah kiri. Masa kamu nggak bisa bedain sih?" Lagi suara perempuan itu menggema terdengar begitu jelas di telinga Cakka.

Helaan nafas pun terasa begitu tenang keluar dari dadanya.

"Maaf aku berpikir jelek, habisnya suara kamu datang tiba-tiba"

"Tak apa, namaku Sofia!"

"Aku .... "

Belum Cakka memperkenalkan diri, Sofia sudah menjawabnya lebih dulu.

"Aku tahu kamu Cakka, nama kamu bagus. Pasti kamu dulunya tampan!"

Cakka terkekeh mendengar perempuan itu memujinya, meskipun terbilang menghina.

"bagaimana bisa dia memuji aku tampan sedangkan dia tidak tahu masa lalu aku seperti apa? Tapi biarlah, hidup di halaman baru rupanya tidak seburuk dengan apa yang aku bayangkan. Mereka malah justru lebih menghargai aku daripada orang-orang yang ada di desa katumbiri" Batin Cakka.

"Aku buruk rupa dari lahir, aku tidak pernah tampan!" Cakka membenarkan hinaan itu.

"Tapi hidungmu mengatakan kamu tampan Cak!"

"Itu kata hatimu kan?"

"Dan kata hati orang-orang, kamu tidak seburuk yang kamu bayangkan. Kamu masih tampan di mataku"

"Segera usap wajahmu itu pakai minyak goreng, biar sadar kalau apa yang kamu lihat ini jeleeeeek sekali!"

Terdengar tawa centil nan lembut yang masuk ke telinga Cakka. Tak terasa ujung bibir Cakka menyungging, melengkungkan senyum bahagia yang tak bisa Cakka jelaskan. Sesekali Cakka menelan air liurnya sendiri. Ini untuk pertama kalinya perasaan Cakka terbawa terbang tinggi, meski sebelumnya ia sempat menyukai seseorang. Namun yang ini, terasa berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!