NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah & Dominasi

"MANA DARAHNYA?! AKU BAYAR UNTUK MELIHAT DARAH, BUKAN DANSA!"

"HABISI DIA, GORAN! REMUKKAN TENGKORAK SI HANTU ITU!"

Suara ribuan orang berteriak parau, berdesakan di pinggir pagar kawat yang bergetar hebat setiap kali penonton menghantamnya. Udara di sana pengap, berbau keringat busuk, bir tumpah, dan asap rokok murah.

Di atas panggung beton yang ditinggikan, seorang pria dengan mikrofon berteriak hingga urat lehernya nyaris putus.

"DAN DI SUDUT MERAH... MESIN PEMBUNUH YANG TIDAK BISA MATI! SI NYAWA GANDA YANG TIDAK PUNYA RASA TAKUT! BERIKAN SUARA KALIAN UNTUK... 2V... GHOST FIGHTER!!!"

ROOOAAAARRRR!!!

Gedung itu seolah mau runtuh oleh sorakan massa. Tapi di tengah kegilaan itu, Viktor Volkov berdiri seperti patung es. Matanya yang kosong menatap lurus, mengabaikan Goran—si raksasa Serbia seberat 120kg yang sedang memukul-mukul dadanya sendiri.

Ting! Ting! Ting!

"Mati kau, brengsek!" Goran menerjang.

Bugh! Plakk!

Satu pukulan jab keras mendarat di pipi Viktor, disusul tendangan rendah yang menghantam tulang keringnya.

Krak!

"YA! GITU! PATAHKAN KAKINYA!" teriak penonton di barisan depan sambil menyemburkan ludah.

Viktor tersentak ke belakang. Rasa perih yang tajam menusuk dari tulang keringnya. Di dalam kepalanya yang biasanya sunyi, sebuah percikan muncul.

Ah... ini dia. Sakit ini.

Goran kembali merangsek, mengayunkan tinju raksasanya seperti palu godam.

Wusss!

Angin pukulannya menyambar wajah Viktor. Tapi kali ini, Viktor tidak diam.

Srett!

Dengan refleks yang tidak masuk akal, Viktor merunduk. Ia bergerak seperti bayangan yang tidak punya massa.

Dug!

Tinju Viktor menghantam ulu hati Goran.

Ugh-hookk!

Goran tersedak, oksigen di paru-parunya lenyap seketika.

Viktor tidak memberi jeda. Ia maju selangkah, mencengkeram tengkuk Goran dengan tangan kirinya yang besar, lalu...

Brakk!

Lutut Viktor menghantam wajah Goran. Bunyi tulang hidung yang hancur terdengar sangat renyah, bahkan mengalahkan teriakan penonton sesaat. Darah segar menyembur, membasahi wajah Viktor yang tetap tanpa ekspresi.

"LAGI! HABISI! JANGAN KASIH AMPUN!"

Viktor terus memukul. Bugh! Bugh! Bugh! Tangannya menghujam wajah Goran berkali-kali sampai lawannya itu terpojok di pagar kawat. Pagar itu berderit nyaring—Krietttt!—saat tubuh seberat 120kg itu terhimpit.

Mata Viktor berkilat gelap. Setiap kali buku jarinya robek terkena gigi lawan, setiap kali darah hangat menciprat ke matanya, ia merasa dunianya yang gelap sedikit bercahaya.

Brakkk!

Pukulan terakhir. Goran tumbang dengan posisi leher tertekuk aneh di lantai beton. Kejang-kejang sesaat, lalu diam.

Seketika, arena itu pecah!

"TUJUH! DELAPAN! SEMBILAN! OUT!" teriak wasit.

"GHOST! GHOST! GHOST!" Penonton menggila, mereka melemparkan uang taruhan dan botol bir ke udara sebagai perayaan.

Di tengah keriuhan yang memekakkan telinga itu, Viktor berdiri diam. Ia menyeka darah di mulutnya dengan punggung tangan. Napasnya berat, dadanya naik-turun, detak jantungnya berdegup kencang—dug-dug, dug-dug.

Hanya sesaat.

Begitu adrenalinnya mulai turun, wajahnya kembali mati. Sorakan ribuan orang itu terdengar seperti suara latar belakang yang membosankan baginya. Ia berbalik, mengabaikan wasit yang mencoba meraih tangannya untuk pengumuman pemenang, dan berjalan masuk ke lorong gelap menuju ruang ganti.

"Cuma segini?" bisiknya pada diri sendiri, kecewa karena rasa hidup itu menghilang terlalu cepat.

......................

Uap panas mengepul tebal di ruangan luas berdinding marmer, membawa aroma esensial jasmine dan mawar yang menenangkan.

Di tengah kolam pemandian air panas yang luas, Seravina bersandar dengan santai. Air yang jernih menyelimuti tubuhnya tak mampu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang sempurna—pundak yang halus, leher jenjang, hingga bayangan dadanya yang membusung indah di bawah permukaan air.

Ia memejamkan mata, membiarkan panas air meresap ke dalam pori-porinya.

Di sudut ruangan yang remang-remang, Luka berdiri mematung.

Sebagai pengawal pribadi atau anjing suruhan Seravina, Luka sudah terbiasa melihat Seravina dalam berbagai kondisi, termasuk saat telanjang seperti ini. Tapi, hari ini entah kenapa suasananya terasa berbeda. Keheningan yang hanya dipecah oleh suara gemericik air membuat setiap detail tubuh Seravina terlihat sepuluh kali lebih mematikan.

Luka berusaha menatap lurus ke arah tembok, mencoba mempertahankan profesionalismenya sebagai "anjing" yang setia.

Insting prianya tidak bisa berbohong. Matanya tanpa sengaja menangkap gerakan Seravina yang mengangkat lengannya, membuat air mengalir turun di atas kulitnya yang berkilau.

Sial.

Di balik celana kain hitamnya, Luka merasakan ketegangan yang menyakitkan. "Aset" di bawah sana mengeras dengan cepat, berdenyut menuntut ruang.

Napas Luka mulai terasa berat dan pendek, ia mati-matian menahan diri agar tidak mengeluarkan suara atau melakukan gerakan yang mencurigakan. Keringat dingin mulai bercampur dengan uap panas di dahinya.

Seravina perlahan membuka matanya. Ia tidak menoleh, tapi ia tahu. Ia bisa merasakan energi di ruangan itu berubah. Ia tahu tatapan Luka, ia tahu reaksi tubuh pria itu.

"Luka," panggil Seravina. Suaranya rendah, bergema lembut di dinding marmer.

Luka tersentak, sedikit membungkuk untuk menutupi tonjolan di celananya yang sudah sangat jelas. "I-iya, Nona?"

Seravina memutar tubuhnya perlahan di dalam air, kini menghadap ke arah Luka. Ia menyandarkan kedua lengannya di pinggiran kolam, membiarkan sebagian payudaranya menyembul di permukaan air. Ia menatap Luka dengan tatapan sayu namun tajam, sebuah senyum tipis yang penuh kemenangan tersungging di bibirnya.

"Kau terlihat sangat tegang," gumam Seravina, nadanya terdengar seperti sedang mengejek namun juga membelai. "Apa uap di sini terlalu panas untukmu?"

Luka menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering kerontang. "Maafkan saya, Nona. Saya hanya... menjalankan tugas."

Seravina terkekeh rendah, suara yang membuat bulu kuduk Luka meremang.

"Mendekatlah," perintah Seravina singkat.

Seravina mengusap air yang membasahi bahunya, jari-jarinya menari lembut di atas kulitnya sendiri sebelum ia menopang dagu di pinggiran kolam. Ia menatap Luka yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya. Luka tampak gemetar, matanya tertuju pada lantai marmer, tak berani menatap langsung ke arah surga yang ada di depannya.

"Luka," panggil Seravina lagi, kali ini lebih lembut, hampir seperti bisikan iblis yang menggoda.

"Nona... saya..." Luka tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri menghantam dada dengan keras. Tonjolan di balik celananya sudah tidak bisa disembunyikan lagi, sangat jelas dan tegang.

Seravina sedikit bangkit dari air, membuat sebagian tubuh atasnya yang basah dan licin terlihat jelas di depan mata Luka. Tetesan air hangat mengalir perlahan di antara belahan dadanya, jatuh kembali ke kolam.

"Kau sudah mengeras sejak tadi, bukan?" Seravina tersenyum manis, namun matanya tetap dingin dan penuh kendali. "Aku bisa melihatnya dari sini. Begitu besar... begitu tegang."

Luka hanya bisa menunduk, napasnya terdengar semakin kasar. Ia merasa seperti seorang pendosa yang sedang diadili oleh tuhan yang cantik namun kejam.

"Katakan padaku, Luka..." Seravina mengulurkan tangannya yang basah, menyentuh dagu Luka dan memaksanya untuk mendongak, menatap langsung ke matanya. "Apa kau mau bermain?"

Dunia seolah berhenti berputar bagi Luka. Pertanyaan itu terdengar seperti pintu menuju kenikmatan sekaligus hukuman mati. Ia tahu siapa Seravina—wanita ini bukan sekadar cantik, ia adalah monster yang tadi baru saja memutilasi seorang pria.

Aroma tubuh Seravina dan pemandangan tubuh tanpa busana di depannya membuat logika Luka hancur berkeping-keping.

"Nona... saya tidak pantas..." jawab Luka dengan suara yang serak dan pecah.

Seravina terkekeh, suara tawa yang jernih namun membuat bulu kuduk berdiri. "Pantas atau tidak, akulah yang menentukan. Sekarang, lepaskan jasmu."

Di luar dugaan, Luka tidak membungkuk patuh. Selama bertahun-tahun menahan diri sebagai anjing yang setia, pertanyaan Seravina barusan menjadi pemantik yang meledakkan seluruh bendungan nafsunya.

Tanpa peringatan, Luka merangsek maju. Tangannya yang besar dan kasar menyambar tengkuk Seravina, menariknya mendekat hingga tubuh polos Seravina menghantam pinggiran marmer kolam.

Prak!

Luka langsung membungkam bibir merah Seravina dengan ciuman yang liar, kasar, dan penuh tuntutan. Tidak ada lagi rasa hormat. Yang ada hanyalah pria yang kelaparan. Tangannya yang satu lagi langsung masuk ke dalam air, meremas payudara Seravina dengan kuat hingga jemarinya tenggelam di antara daging yang kenyal dan licin.

Seravina tersentak. Namun, alih-alih berteriak atau mendorongnya, adrenalin justru meledak di pembuluh darah Seravina. Ia merasakan tantangan.

Seravina membalas ciuman itu dengan sama ganasnya. Lidahnya beradu dengan lidah Luka, memberikan kehangatan yang menyesatkan sementara ia mulai bergerak mundur di dalam air, memancing Luka untuk terus mengikutinya. Luka yang sudah buta oleh gairah merangkak masuk ke dalam kolam dengan pakaian lengkap, matanya hanya tertuju pada bibir dan tubuh Seravina.

Di balik percikan air dan ciuman yang memabukkan itu, jemari Seravina meraba dinding marmer di belakangnya—tepat di sela-sela lipatan handuk yang tersembunyi.

Jemarinya menyentuh logam dingin. Glock 17.

Klek.

Seravina melepaskan ciumannya dengan tiba-tiba, menyisakan benang saliva di antara bibir mereka. Ia tersenyum sangat manis—senyuman malaikat yang paling mematikan.

BANG!

Suara tembakan memekakkan telinga, bergema keras di dalam ruangan marmer yang tertutup.

"Argh!" Luka terlempar ke belakang, jatuh terduduk di dalam air panas. Bahu kirinya berlubang, darah segar menyembur keluar, mengubah air jernih di sekitar mereka menjadi kemerahan dalam sekejap.

Seravina tetap berdiri di tengah kolam, menodongkan pistolnya tepat ke arah wajah Luka dengan tangan yang sangat stabil. Dadanya naik turun karena napas yang memburu, air menetes dari tubuh polosnya yang kini terlihat seperti dewi perang.

"Kau bermain terlalu kasar," ucap Seravina dengan nada suara yang kembali dingin dan datar, seolah ciuman panas tadi tidak pernah terjadi. "Aku tidak suka."

Ia berjalan mendekat ke arah Luka yang sedang meringis kesakitan memegangi bahunya. Seravina menggunakan ujung laras pistolnya yang masih panas untuk mengelus pipi Luka.

"Itu peringatan manis untukmu. Obati lukamu... dan jangan biarkan setetes darah pun mengotori marmerku saat kau keluar nanti," bisik Seravina.

Luka menatap Seravina dengan napas tersengal, antara rasa sakit yang luar biasa dan pemujaan yang semakin gila. Dia baru saja ditembak, tapi melihat Seravina yang berdiri telanjang dengan senjata di tangan justru membuatnya merasa bahwa wanita ini adalah satu-satunya tuhan yang layak ia sembah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!