NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KISAH YANG BELUM USAI

Langit – langit berwarna putih. Suara mesin dan tetesan air. Bau yang berciri khas. Ruangan yang tidak kukenal. Aku baru saja terbangun dari mimpi panjang. Rasanya waktu telah lama berlalu. Aku tidak tau pasti, mungkin hanya firasatku. Satu hal yang pasti adalah aku masih belum sehat. Kepalaku terasa sedikit pusing. Sekilas ada bayang – bayang ketika aku mencoba melihat sekitar. Begitu pula dengan badanku, sulit rasanya untuk digerakkan. Khususnya tangan kiriku, untuk menggerakkan jari saja aku tidak bisa. Rasanya seperti ada yang menahan tanganku. Kucoba pastikan dengan memaksakan leherku untuk menengok. Ada seseorang yang sedang merebahkan kepalanya. Dia menindih tanganku. Aku tidak tau dia siapa. Wajahnya tidak menghadap kearahku. Aku hanya bisa melihat rambutnya yang begitu lebat. Aku – dia terbangun. Padahal aku hanya ingin melepaskan tanganku dari tindihan kepalanya. Aku tidak bermaksud mengganggu tidurnya.

“Kamu bangun!” Ternyata orang yang menindih tanganku adalah Bang Nanang. “Kenapa mukamu begitu?” Aku ingin menjawab dengan candaan. Hanya saja mulutku tidak bisa mengeluarkan suara. Padahal aku sudah memaksa tenggorokan agar bekerjasama dengan pita suara untuk bergerak, tapi aku tetap kesulitan untuk bicara. Aku mengubah jawaban menjadi sebuah senyuman. “Kalau begitu aku panggil dokter dulu.”

Sepertinya aku masih diberikan kesempatan. Aku dibawa ke rumah sakit terdekat. Aku tidak tau siapa yang membawaku. Satu – satunya orang yang terpikirkan olehku adalah Awan. Dia orang terakhir yang kuingat datang untuk menyelamatkanku. Tapi, dia tidak terlihat diruangan. Hanya ada Bang Nanang. Aku masih sedikit bingung dengan situasi yang ada. Kemana yang lain? Terus, kenapa Bang Nanang bisa ikut terlibat? Jujur aku tidak terpikirkan apapun. Aku hanya bisa berterimakasih padanya karena bersedia menemaniku yang tidak sadarkan diri.

Bang Nanang kembali bersama dokter. Aku diperiksa lebih jauh. Sambil memeriksa, dokter juga memberikan informasi padaku. Banyak masukan dan nasehat yang diberikan. Perhatianku terfokus pada penjelasannya soal seberapa lama aku terbaring. Ternyata aku tidak sadarkan diri selama seminggu. Aku memang merasa waktu telah lama berlalu, tapi tidak kusangka akan selama itu. Dokter juga menjelaskan berbagai macam hal terkait obat - obatan, hanya saja aku kurang mengerti detailnya. Intinya aku perlu meminum obat dan harus tetap dirawat inap selama beberapa hari dirumah sakit untuk bisa kembali pulih. Setelah menutup dengan kata, “semoga cepat sembuh,” dokter pun pergi.

Aku ditinggal berdua dengan Bang Nanang. Banyak pertanyaan yang ingin kuajukan. Dalam keadaan kepala yang masih puyeng, kucoba memilah mana yang lebih penting untuk diajukan. Kucoba membuka pembicaraan. “Boleh nanya?” Aku akhirnya bisa bicara dengan normal. Bang Nanang mempersilahkanku untuk bertanya. “Bang Nanang sendiri?” Aku tidak melihat siapapun selain dokter barusan yang datang. Aku penasaran kemana perginya Awan dan Clarissa. Aku juga penasaran apa yang terjadi pada Dimas setelah kejadian penculikan.

“Nggak. Kebetulan aja aku lagi gak sibuk sekarang. Sebelumnya ada Awan, cuma dia lagi keluar. Udah aku telpon kok. Terus, ada cewek juga kesini. Siapa gitu namanya. Dia juga sering jagain kamu.” Aku ingin berkomentar karena kupikir dia sudah selesai bicara, tapi kalimatku dipotong. Bang Nanang melanjutkan kata – katanya. “Terus! Ayahmu …, dia juga ada kesini. Barusan dia pergi.” Aku tersenyum. Sudah kuduga kalau Ayahku sangat perhatian. Aku hanya tidak menyadarinya. Aku baru saja dipaksa sadar akan hal itu. “Apa yang lucu?”

“Bang Nanang ternyata emang pengangguran ya.”

“Apa itu pikiran pertama yang keluar dari otakmu setelah gak sadar selama seminggu?” Bang Nanang menatapku sinis. Aku mengiyakan pertanyaan darinya. Itu membuat dia semakin menunjukkan muka kesal. “Dengar ya! Aku sengaja luangin waktu buat kamu. Bukan berarti aku pengangguran. Aku cuma baik dalam membagi waktu. Aku bisa misahin waktu berdasarkan kepentingannya. Apa kamu ngerti?”

“Iya, aku benar - benar berterimakasih.” Padahal kami baru saja bertemu beberapa hari yang lalu. Pertemuanku dengannya juga sangat singkat. Tapi, dia bersedia meluangkan waktunya untuk menungguku sadar. Apalagi sampai seminggu. Tidak ada ungkapan yang lebih baik daripada kata terimakasih. Aku menunjukkan senyuman terbaik yang bisa kulakukan.

“Kenapa jadi serius sih.” Muka Bang Nanang terlihat malu. Aku sebenarnya juga malu untuk mengatakannya. Itu seperti reflek menepuk tangan ketika mendengar suara nyamuk ditelinga.

Awalnya aku ingin bertanya detail dari kejadian yang menimpaku. Hanya saja aku urungkan. Kemungkinan Bang Nanang tidak terlalu mengerti, atau bahkan tidak tau sama sekali. Aku pikir lebih baik bertanya langsung pada orang – orang yang terlibat setelah mereka datang. Selama menunggu, waktu kuhabiskan membicarakan berbagai hal bersama Bang Nanang, mulai dari hal penting, informasi yang kulewatkan selama seminggu, sampai dengan pembicaraan tidak jelas. Sebenarnya daripada berbicara, lebih tepat kalau disebut komunikasi satu arah. Bang Nanang terlalu banyak cerita. Aku hanya bisa menanggapi. Aku tidak punya cerita yang bisa dikisahkan padanya.

Aku mendengar suara pintu. Berdasarkan suara kaki, ada lebih dari satu orang yang datang. Kain menjadi penghalang ketika aku ingin mengetahui siapa orang yang baru saja tiba. Aku hanya bisa menunggu sampai dia masuk ke dalam bilikku. Orang pertama yang kulihat adalah Clarissa. Dia tampak terkejut. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Dia hanya diam menatapku. Matanya yang normal terlihat mulai berair. Dia menghampiriku. Kedua tangannya memegang tangan kiriku. Kepalanya menunduk seolah – olah menyembunyikan ekpresinya. “Makasih. Makasih. Makasih.” Meski dia sudah berusaha keras untuk tidak menunjukkan kesedihan, tapi dari suara Clarissa terdengar jelas kalau dia sedang tangis. “A – aku gak tau lagi harus ngomong apa. Kamu bilang jangan nyalahin diri sendiri. Kamu bilang jangan liat sesuatu dari sisi negatifnya. Kamu juga bilang, selama aku bahagia kamu juga bahagia. Tapi, aku gak bisa. Aku gak bisa pura – pura gak tau. Nyatanya semua masalahmu terjadi gara – gara aku. Kamu terus – terusan terluka. Kamu bahkan hampir kehilangan nyawa. Sekali lagi …, gara – gara aku …, kamu menderita.”

Clarissa mengungkapkan semua perasaan yang ada dihati kecilnya. Perasaan yang selalu dia tahan selama aku tidak sadarkan diri. Tidak pernah terpikirkan dalam benakku, ada seseorang yang begitu terikat olehku. Disaat aku berpikir kalau hanya kebahagianlah yang bisa terbagi, dia merasakan jauh lebih dari itu. Rasa sakit yang aku rasakan, juga dia terima. Perasaan yang coba kutahan sendiri, telah ditampung bersama. Meski pada dasarnya manusia tidak bisa saling mengerti, selama manusia masih memiliki kepedulian, maka hal tersebut bisa terwujud.

“Bohong kalau aku bilang aku gak pernah nyalahin kamu. Waktu aku dikurung, aku kesal sama semua orang. Aku nyalahin orang lain atas apa yang menimpaku. Aku ngerasa, kalau cuma aku yang menderita.” Aku mengatakan kalimat tersebut sambil mengingat kejadian yang terjadi. Kalau dipikir – pikir, aku terlihat sangat buruk saat itu. Membuatku tersenyum sendiri ketika mengingatnya. “Ini kedengarannya aneh. Tapi, dibalik kejadian itu aku sadar. Aku berharap sama orang lain, aku berharap padamu. Aku berharap kalau kamu akan datang buat nyelamatin aku. Perasaan berharap itu yang buat aku bisa bertahan. Aku bisa bertahan salah satunya karena aku tau kamu akan datang. Kepedulian yang kamu berikan dan aku rasakan, membuat kita bisa kembali bertemu. Sekali lagi, kamu nyelamatin aku.”

Clarissa mengangkat kepalanya. Dia akhirnya menunjukkan mukanya. Terlihat masih ada air yang tersisa di kedua matanya. Kutunjukkan senyuman padanya karena dia tidak mengatakan apapun. Awan, yang dari tadi berdiri di belakang Clarissa, mendekat kearahku. Ketika aku ingin menegurnya, dia memukul pelan bahuku. “Syukurlah kamu masih hidup.”

“Makasih udah nyelamatin aku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!