Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Kegelapan Lahir di Tengah Metropolitan
Sementara langit di atas Ciampea terbelah oleh petir yang melahirkan sang titisan cahaya, pemandangan serupa namun dengan atmosfer yang jauh lebih pekat terjadi di jantung metropolitan Jakarta. Di sebuah griya tawang mewah yang bertengger di puncak gedung pencakar langit milik PT Aksara Murni, keheningan malam dicabik oleh jeritan yang tidak terdengar seperti rintihan kesakitan, melainkan seperti raungan kemarahan.
Wijaya Aksara berdiri di balik jendela kaca antipeluru setinggi langit-langit, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai berkedip akibat gangguan daya. Tubuhnya yang tinggi tegap dibalut setelan jas pesanan khusus yang harganya setara dengan sepuluh rumah di pedesaan. Sebagai pemilik perusahaan asuransi terbesar di Pulau Jawa, Wijaya adalah simbol keamanan dan kepercayaan bagi publik. Namun, di balik senyum korporatnya, ia adalah arsitek dari labirin bisnis haram yang membentang dari perdagangan manusia hingga jalur distribusi narkotika lintas negara.
Di atas ranjang medis yang didatangkan khusus dari Jerman, istrinya, Alexa Kejora, sedang berjuang. Alexa bukan sekadar putri pewaris PT Sriwijaya Kejora yang menguasai ribuan hektar tambang batu bara. Ia adalah tangan besi yang lebih dingin dari suaminya.
Kehamilan Alexa adalah masa-masa paling berdarah dalam sejarah organisasi mereka. Pada trimester pertama, di saat ibu-ibu lain mengidam makanan manis atau buah asam, Alexa justru mengidamkan aroma darah dan rasa kuasa. Ia memaksa Wijaya untuk mengeksekusi tiga anggota dewan direksi mereka sendiri di hadapannya hanya karena mereka ketahuan memotong margin keuntungan perdagangan organ. Alexa menonton eksekusi itu sembari mengelus perutnya yang masih rata, seolah sedang memberikan pelajaran pertama tentang seleksi alam kepada janinnya.
Memasuki bulan keenam, kegilaannya semakin menjadi. Dengan perut yang mulai membuncit, ia mengenakan rompi antipeluru dan memimpin langsung penyerangan ke sebuah kantor polisi di pinggiran kota untuk membebaskan kurir narkoba mereka yang tertangkap. Baginya, adrenalin adalah nutrisi terbaik bagi calon ahli waris takhtanya.
"Jangan berani-berani mati sebelum anak ini melihat dunia yang akan ia injak, Alexa!" geram Wijaya sembari menggenggam gelas kristal berisi wiski mahal.
Alexa mencengkeram besi ranjang hingga jemarinya memutih. Wajahnya yang cantik nan angkuh tampak terdistorsi oleh kebencian yang mendalam. "Diam kau, Wijaya! Anak ini tidak akan mati. Dia sedang menendang rusukku seolah ingin segera menghancurkan semua orang!"
Tepat saat jarum jam menyentuh detik yang sama dengan kelahiran Jalaludin di Ciampea, langit Jakarta meledak. Petir raksasa menyambar penangkal petir di puncak gedung tersebut. Getarannya terasa hingga ke fondasi terdalam. Listrik di seluruh gedung padam seketika, namun ruangan itu tidak menjadi gelap.
Sebuah kilatan cahaya hitam kebiruan seolah tersedot masuk melalui ventilasi udara, berkumpul di titik tempat Alexa sedang mengejan hebat. Tidak ada bidan, tidak ada dokter yang berani mendekat kecuali tim medis pribadi yang sudah disumpah mati.
Ctar!
Sambaran petir berikutnya menghantam gardu utama gedung, memicu ledakan kecil di kejauhan. Di dalam kamar yang kini berbau ozon dan belerang itu, tangisan pertama sang bayi pecah. Namun, itu bukan tangisan bayi yang meminta perlindungan. Suaranya melengking, tajam, dan penuh dengan nada tuntutan yang membuat para perawat secara naluriah mundur selangkah dengan lutut gemetar.
Alexa jatuh terkulai, namun matanya tetap melotot tajam ke arah bayi yang baru saja keluar dari rahimnya. Bayi itu lahir dalam keadaan yang identik dengan Jalaludin: buta. Kelopak matanya tertutup rapat, rata seolah tidak ada bola mata di baliknya. Namun, berbeda dengan Jalal yang berpendar cahaya biru tenang, bayi ini diselimuti oleh aura hitam yang pekat, seolah ia adalah lubang hitam yang menyerap seluruh cahaya di ruangan itu.
Wijaya mendekat, wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini menunjukkan kilatan kegembiraan yang jahat. "Sempurna. Kelahiran yang sama dengan legenda yang pernah dibisikkan kakekmu, Alexa."
Ia mencoba meraih bayi itu, namun tepat sebelum kulitnya bersentuhan dengan tubuh sang bayi, sebuah loncatan listrik berwarna ungu gelap menyambar ujung jarinya. Wijaya tersentak, jarinya terasa terbakar dan mati rasa dalam sekejap.
"Dia memiliki pelindung," gumam Wijaya sembari menatap jarinya yang menghitam. Bukannya marah, ia justru tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggema di ruangan yang sunyi itu, terdengar sangat ganjil di tengah badai yang masih mengamuk di luar.
"Lihat dia, Alexa. Dia buta, tapi dia bisa merasakan ketakutan di ruangan ini. Dia adalah kegelapan yang kita butuhkan untuk menguasai semua dimensi bisnis ini."
Alexa tersenyum tipis di tengah napasnya yang memburu. Kulitnya tampak pucat pasi, namun matanya memancarkan kepuasan yang murni. "Beri dia nama yang akan diingat sebagai akhir dari semua musuh kita. Dia bukan sekadar ahli waris Aksara atau Kejora."
"Dia adalah lawan dari segala yang dianggap suci," sahut Wijaya. Ia menatap bayi yang masih berpendar hitam itu.
"Namanya adalah Satya Aksara. Biarlah dunia mengenalnya sebagai kejujuran yang pahit, karena di bawah kakinya, kebenaran akan dikubur."
Di dalam tubuh bayi mungil itu, mengalir darah yang bergejolak. Jika Jalaludin mendapatkan warisan kesaktian dari Si Buta Dari Gua Hantu untuk melindungi, Satya lahir dari rahim yang telah dikotori oleh dosa dan ambisi tak terbatas. Keduanya lahir di detik yang sama, di bawah sumpah petir yang sama, namun dengan misi yang saling menghancurkan.
Satya yang buta itu menggerakkan tangannya ke udara, seolah sedang mencengkeram sesuatu yang tidak kasat mata. Di saat yang sama, jauh di pelosok Ciampea, Jalaludin bayi menggeliat dalam tidurnya. Sebuah benang takdir yang gaib telah terikat kuat di antara keduanya—sebuah jalinan yang akan menyeret mereka ke dalam pusaran pertarungan tiga dimensi yang belum pernah disaksikan oleh manusia modern.
Wijaya berjalan kembali ke jendela, menatap Jakarta yang gelap gulita. Ia tahu bahwa di suatu tempat, ada "cahaya" yang lahir untuk menentang "kegelapan" miliknya. Namun, dengan kekayaan tambang batu bara dan jaringan asuransi yang menggurita, ia bersumpah akan memastikan bahwa saat Satya dewasa nanti, tidak akan ada tempat bagi cahaya untuk bersembunyi.
"Malam ini, sejarah baru ditulis dengan tinta darah," bisik Wijaya pada kegelapan malam.
Di atas ranjang, Satya Aksara terdiam. Pendaran hitam di tubuhnya perlahan meredup, namun hawa dingin yang ditinggalkannya tetap membekas di ruangan itu, sebuah pertanda bahwa sang pemangsa kecil telah tiba di puncak rantai makanan metropolitan. Pertaruhan antara hitam dan putih, baik dan buruk, kini resmi dimulai di atas papan catur takdir yang sangat luas.