Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Cassia
“Apakah aku bos yang baik bagimu, Cass?” tanya Max, tiba-tiba.
“Kau adalah bos yang baik, Tuan. Kau dan Bryan adalah dua hal yang berbeda. Dia temanku, dan kau bosku.”
“Kau tak bisa bersikap santai padaku. Berbeda ketika kau dengan Bryan. Kau begitu …”
Cassia mendongak. “Tuan, bukan begitu. Aku bersikap sopan dan tak mungkin aku bisa bersikap santai padamu. Aku menghormatimu sebagai bosku.”
“Kau selalu menjauh dariku, Cass. Itu yang kulihat selama ini. Kau tak bisa bersikap santai padaku. Kau tak ingin terlalu dekat denganku. Apa kau takut padaku karena aku brengsek?”
“T-tidak, Tuan. Aku tak bermaksud seperti itu.”
Max menghela napas panjang. Dia berjalan ke arah sofa dan duduk dengan berat. Kepalanya tertunduk, kedua sikunya bertumpu pada lutut.
Cassia berjalan perlahan mendekat. Dia berhenti di samping sofa, agak menjaga jarak. “Tuan ... aku …”
Max mendongak. Wajah Cassia begitu dekat sekarang.
“Duduklah,” Max menepuk sofa di sampingnya. “Aku tidak ingin melihatmu berdiri seperti sedang bekerja. Ini bukan kantor.”
Cassia ragu sejenak, lalu duduk di ujung sofa, memberinya jarak yang cukup. Max tidak memaksanya untuk mendekat.
“Ceritakan tentang keluargamu. Aku hanya ingin tahu apakah ada orang yang bisa melindungimu di dalam keluargamu,” pinta Max.
Cassia terkejut. Dia cukup heran Max memikirkan hal ini. ‘Mungkin dia sedang jenuh saja dalam hidupnya. Dan mungkin … hanya ingin pengalihan sementara,’ batinnya.
“Kisah keluargaku tidak menarik, Tuan.”
“Panggil aku Max saja jika di luar kantor,” kata Maxz
Cassia terdiam sejenak. Jelas dia tak bisa melakukan itu karena terasa tak sopan. Tapi dia hanya bisa mengiyakannya saja.
“Baik, Tuan.”
“Lanjutkan ceritamu. Meskipun tak menarik—aku tetap ingin tahu.”
Cassia tak segera bicara. Dia menunduk sejenak, lalu matanya menerawang ke arah jendela kaca di mana dia bisa melihat pemandangan gemerlap gedung-gedung pencakar langit.
Max tetap menunggu. Dia melihat wajah Cassia dari samping. Mulai membayangkan kembali Cassia dalam gaun malam itu.
Lalu Max mengalihkan pandangannya. Dia tak boleh berpikir macam-macam pada sekretaris lugu-nya itu.
“Aku adalah anak haram ayahku,” kata Cassia memulai. Cerita itu dimulai dengan sesuatu yang buruk, dan Cassia tak mau menutupi itu.
Max kembali menoleh ke arahnya. Dia melihat ekspresi wajah Cassia yang biasa saja, tak mau menampakkan kesedihannya.
“Aku tak akan memaksamu bercerita jika—“
“Tak apa. Aku akan tetap bercerita. Kau bosku dan aku harap aku tak dipecat karena ini,” potong Cassia, suaranya pelan.
“Itu tak ada hubungannya dengan pekerjaanmu,” jawab Max.
Cassia menoleh pada Max dan tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Lalu Cassia kembali melihat ke arah luar jendela. “Ayahku sangat baik padaku. Tapi … tidak dengan keluarganya. Ibuku sudah meninggal dan keluarga ayahku menutupi asal usulku dari publik karena itu aib. Tapi … setidaknya, aku masih mendapatkan kasih sayang ayahku.” Cassia tersenyum.
“Aku mengerti,” kata Max. “Tak perlu bercerita lagi.”
Cassia mengangguk. Lalu ponselnya di atas meja makan berdering. Cassia segera beranjak dari sofa. “Permisi, aku akan angkat sebentar. Mungkin penting.”
Max mengangguk. Cassia berjalan dengan sopan melewati Max, menuju ke arah meja. Cassia melihat nama Bryan di layarnya.
Cassia melebarkan matanya. Dia tak boleh mengangkatnya karena bisa membuat Max berpikir yang tidak-tidak.
Max menoleh ke arah Cassia. Wanita itu hanya melihat layar ponselnya saja tanpa mengangkatnya.
“Cass, kenapa tak kau angkat?” tanya Max.
Cassia menoleh cepat pada Max. “Tidak, ini … tak penting. Ini … hanya sales mobil. Ayahku ingin aku membeli mobil agar tak naik kendaraan umum sendirian lagi jika mengunjunginya,” jawab Cassia sembarangan dan mematikan ponselnya.
“Owh … itu ide yang bagus. Ada banyak mobil perusahaan jika kau mau. Tak perlu membeli,” kata Max.
“Ah … iya iya … nanti akan kupikirkan,” jawab Cassia sedikit bingung.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭