NovelToon NovelToon
Mantan Suami Mengganggu Hidupku

Mantan Suami Mengganggu Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik Kelas / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elena Prasetyo

Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.

Pergilah kau, pergi dari hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Luna, tunggu!!" teriak Arya melihat Luna yang naik taksi. Padahal baru saja dia ingin mengambil mobil untuk mengantar istrinya itu.

"Kak Arya, biarkan saja Luna pergi. Kakiku masih sakit sekarang, ayo ke mobil kak Arya"

Arya masih melihat taksi yang dinaiki Luna dari kejauhan lalu mendesah pelan. Segera saja dia mengangkat tangan untuk menghentikan taksi lain.

"Kau naik taksi saja, aku masih ada urusan" ucapnya pada Marina.

"Apa? Tapi kak Arya, kakiku masih sakit. Kau juga berjanji akan mengajak membeli kue kesukaanku. Kak Arya!!!"

Percuma saja Marina berteriak memanggilnya, Arya sudah berjalan menjauh untuk mengambil mobil. Tanpa menunda dia pulang ke rumahnya. Disana Arya bertemu beberapa orang yang dia bayar untuk mengangkut semua barang.

"Bagaimana?" tanyanya pada seseorang yang memakai baju berbeda.

"Pak Arya, semua barang sudah dikemas dan akan segera dikirim ke gudang. Barang-barang Nyonya Luna ada yang masih ketinggalan. Apa dibuang saja?"

"Tidak. Simpan saja dengan barang lain" jawabnya lalu menatap ruangan kosong rumahnya dengan perasaan campur aduk.

"Baik. Surat putusan perceraian palsu yang Anda pesan akan segera dikirim ke Nyonya Luna. Apa Anda membutuhkan salinannya?"

"Tidak perlu"

"Baik. Lima hari lagi kita akan segera pergi dari negeri ini. Apa Anda benar-benar membiarkan Nyonya Luna tidak tahu sama sekali?"

"Lebih baik seperti ini. Biarkan dia membenciku. Ketika semua yang kulakukan gagal nanti, tidak akan ada lagi penyesalan untuk bercerai secara resmi."

"Tapi Tuan ..."

"Sudahlah, selesaikan semuanya! Aku akan kembali ke hotel"

"Baik"

Arya keluar dari rumahnya dan kembali ke hotel. Saat memegang ponsel, dia mencari chat istrinya. Tidak ada pesan baru disana. Yang terakhir ada hanya chat dari satu bulan lalu. Itupun isinya hanya hinaan dan cercaan. Kalau dia bertanya tentang keadaan Luna sekarang, apakah mungkin itu akan mengganggu rencananya?

Akhirnya Arya meletakkan ponsel di atas meja. Dia takut tidak bisa menahan diri untuk menghubungi istrinya.

"Maafkan aku sayang" ucapnya lalu duduk di belakang meja dan mengerjakan sesuatu dengan fokus.

Di sisi kota yang lain, Luna baru saja turun dari taksi. Ibunya berlari menghampiri dari dalam rumah.

"Kenapa berangkat sendiri ke rumah sakit? Bagaimana kalau ada apa-apa denganmu dalam perjalanan?"

"Aku tidak apa-apa" jawabnya.

"Jangan diulangi lagi! Makan dan istirahat yang cukup. Rawat dirimu dengan baik, jangan membuat orang tua khawatir setiap hari!"

"Maaf sudah membuat ayah dan ibu terganggu"

"Mana ada orang tua yang terganggu dengan kehadiran anaknya. Jangan berpikir macam-macam! Selesaikan proses perceraian dan mulai lagi hidupmu yang baru!"

Mendengar nasehat ayahnya, Luna tak bisa lagi membendung air mata. Dia menangis dalam pelukan ibunya.

Beberapa hari kemudian tiba-tiba ada dokumen datang ke rumah orang tua Luna untuknya. Dia membuka dokumen itu dan merasa lemas. Karena yang dia terima adalah surat cerai resmi dan selembar cek dengan jumlah uang yang lumayan. Tapi bagaimana bisa surat cerai itu terbit secepat ini? Bukankah dia baru setuju cerai kurang lebih sebulan lalu? Apakah Arya sebenarnya sudah mengurus cerai sejak lama? Hanya dia saja yang tidak tahu? Dan uang itu? Uang apa itu? Apa harta Gono gini? Bukankah Luna sudah bilang tidak mau apapun dari Arya?

"Tidak ada pengadilan tapi surat cerai sudah terbit? Apa-apaan ini?" tanya ayah Luna malam itu.

"Tidak tahu, mungkin Arya sebenarnya sudah mengurus perceraian kami sebelumnya"

"Tapi ini benar-benar keterlaluan. Dia bahkan tidak pernah muncul ke rumah untuk mengembalikan mu ke orang tua. Aku akan menghubunginya"

Ayah Luna mengambil ponsel dan mencoba menghubungi mantan menantunya. Tapi berapa kali ayah Luna menghubungi, mantan menantunya sama sekali tidak menjawab. Giliran Luna yang menelepon, juga tidak diangkat. Semua komunikasi benar-benar terputus.

"Sudah ayah. Dia pasti sudah memblokir aku. Toh surat cerai juga sudah terbit, jadi kami resmi berpisah. Tak perlu lagi dipermasalahkan" kata Luna menyerah.

Untuk apa dia terus berusaha menghubungi mantan suami yang tidak sabar ingin lepas darinya. Pasti sekarang Arya sedang bersenang-senang dengan Marina. Bahkan mereka berdua mungkin sedang merayakan hari ini.

"Lebih baik kita tak pernah bertemu lagi dengan anak itu, atau aku akan menancapkan tombak ke dadanya!" ancam ayah Luna penuh amarah.

Malam hari sebelum tidur, Luna kembali melihat surat cerai yang ada di meja riasnya. Dia mengambil surat itu dan membacanya untuk yang kesekian kalinya.

Bercerai karena terus bertikai, tak pernah merasakan kenyamanan dalam pernikahan.

Ternyata Arya tak pernah merasa nyaman saat menikah dengannya. Kalau begitu kenapa mereka menikah? Harus ya mereka tak menikah saja dulu.

Air mata kembali mengalir di pipi Luna. Dia menyembunyikan suara tangis dengan bantal sepanjang malam.

Beberapa bulan kemudian, perceraian tidak lagi menjadi sumber kesedihan bagi Luna. Hanya beberapa tetangga meminta kejelasan atas kehadirannya kembali di rumah orang tua, tanpa hadirnya suami. Tapi Luna tak lagi malu mengatakan dia telah resmi bercerai. Pagi ini, dia menemani ibunya berbelanja.

"Bu, aku ingin membeli minuman dulu" katanya lalu mengajak ibunya pergi ke jalan yang penuh dengan toko makanan dan minuman.

Setelah membeli minuman, Luna memperhatikan sebuah toko yang tutup.

"Toko apa itu?" tanyanya pada pegawai di toko minuman.

"Itu toko aksesoris. Sudah tutup satu bulan. Pemiliknya membuka di tempat lain"

Luna hanya mengangguk-angguk kemudian pulang ke rumah. Sepanjang hari, dia tidak bisa berhenti memikirkan toko yang ada di pinggir jalan itu. Setelah berhenti menjadi perawat dan menjalani peran sebagai istri rumah tangga, Luna tidak memiliki pemasukan sama sekali. Untuk kembali ke rumah sakit, Luna tidak merasa percaya diri lagi. Mungkin ini saatnya dia mencoba profesi lain.

Dia mengambil cek yang selalu tersimpan di dalam laci meja rias. Sebenarnya dia tak mau menggunakan uang Arya untuk hidup. Karena uang itu memang bukan miliknya. Tapi dia juga tidak bisa mengembalikan uang itu karena Arya menghilang begitu saja. Sudah enam bulan dia mencoba menghubungi dan hasilnya nihil.

"Masa bodoh" katanya lalu membawa cek itu ke bank dan mencairkannya.

Luna lalu menghubungi nomor pemilik toko dan mulai melakukan negoisasi harga. Untungnya harga yang diminta tidak terlalu tinggi, membuat Luna mampu membelinya.

Setelah merampungkan transaksi pembelian toko, Luna mulai merencanakan toko yang akan dia buka. Mulai dari barang yang akan dia jual, dekorasi juga peralatan yang harus dia beli untuk tokonya. Dan tiga bulan kemudian, akhirnya Luna membuka toko pertamanya. Sebuah toko alat tulis dan aksesoris. Setidaknya, kini Luna memiliki kesibukan untuk mengalihkan pikirannya dari perceraian. Semoga saja ini menjadi awal hidup yang baru untuknya.

1
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
heran aku dengan arya...thor jangan bagi mereka berbaik kembali... dia dah celup orang lain tu...
tahi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!